
Kamar inap sudah dipenuhi anggota keluarga, terlihat semua orang dengan wajah serius masing-masing. Naya datang dengan Eza, pemandangan mengerikan terlihat oleh mata hitam bening yang dimiliki.
Ada apa ini?
Kedua orang tua Sally ada di sana, om Bobi dan tante Lyra pula, Elo dan Alika, dan tentu sang ayah turut hadir. Karena beliau lebih dulu datang daripada dia yang tadi memilih pulang dulu mengambil Eza sebelum berangkat ke kota A.
Masuk dengan langkah pelan, Eza menghambur ke pelukan pak Bobi. Diusapnya rambut hitam bocah itu, ia meringis dengan deretan gigi susu yang masih rapi.
Naya tak peduli, memilih diam dan berjalan menghampiri Sally. “Selamat ya, Sa.”
“Makasih ….”
“Boleh aku menggendong bayimu?” Sally mengangguk, lalu memberikan bayi mungil yang ada di pelukannya.
“Lucu sekali dia, Sa. Siapa namanya?” Melirik sekilas pada Sally, lalu kembali memandangi bayi yang tengah lelap tertidur itu.
“Bintang Aksara Pratama.”
“Nama yang bagus. Pandai sekali ibumu memilihkan nama, Nak. ” Naya memuji, semakin gemas dengan nyawa yang didekapnya itu.
“Nama itu dari ayahnya.”
“Eh?” Naya mengerjap, “ayahnya?” Sally mengangguk. Tidak ada kebohongan dari gerakan kepala yang diberikan.
“Maksudnya kak Ze?” Ibu satu anak itu memastikan.
Sally justru terkekeh, merasa lucu mendengar pertanyaan Naya. “Tentu saja dia, siapa lagi ayahnya.”
Cepat sekali kakak. Seolah sudah punya firasat kalau anaknya mau lahir. Tapi aku penasaran bagaimana dia berkabar.
“Ehm … memangnya kak Ze sudah pulang, Sa?” tanya Naya lirih, takut-takut jika menyakiti hati Sally.
Gadis itu menggeleng, sorot mata berbinar tadi meredup. “Tidak … tapi ngasih namanya lewat surat itu.” Gerakan kepalanya mengarah pada nakas.
Naya melangkahkan kaki, diambilnya secarik kertas yang ada di sana.
Manik mata indah itu melotot, usai membaca deretan huruf yang digores oleh tangan kakaknya. Ingin meremas kertas itu seketika, tak habis pikir dengan jalan pikiran Zean.
“Kakak ….” Ia bahkan mengusap wajahnya yang cantik usai meletakkan kertas itu kembali. Semua orang ikut menyaksikan dengan kebisuan.
“Aku nggak papa, kok. Aku percaya sama kakak, entah apa alasan yang mendasari semua keputusan yang dibuat, aku akan menunggunya.”
“Sa ….” Ingin sekali Naya mengungkap jika dia yang telah mengantar kepergian Zean, tapi takut dengan semua anggota keluarga di sana yang sudah pasang tampang garang.
“Nggak papa, masih ada banyak orang yang menemaniku dengan Aksa.” Diusapnya tangan yang masih tertutup blazer itu, Naya hanya bisa menampakkan senyum dan mengangguk, memberi dukungan dengan semua yang dikatakan istri dari kakak sepupunya.
“Om ….” Delon memecah keheningan.
Pak Bobi yang sejak tadi diam memangku Eza mengangkat wajah. “Kenapa, El?”
“Seriusan mau berhenti nyari Ze?”
Menghirup napas panjang, lalu mengangguk. “Aku tak bisa untuk tidak menuruti kemauan menantuku.” Semua orang melirik pak Bobi. Bahkan adiknya yang sejak datang tak banyak bicara.
__ADS_1
Elo menanggapi dengan anggukan pula, ditolehnya wanita di samping yang mengusap lembut lengan seolah membisik melalui gerakan untuk sabar.
Bukan tidak ada maksud Elo bertanya hal demikian, karena memang ada tujuan. Sudah lelah rasanya menggantikan posisi Zean, membuat ia bingung harus menghandle perusahaan sebesar Pratama Group.
Jika diawal hilangnya Zean masih ada pak Bobi yang membantu, tapi hanya bertahan satu minggu. Hari-hari berikutnya ia sendiri, karena pak Bobi lebih memilih fokus menemani bu Lyra yang masih sering bersedih tiba-tiba.
“Om … sebenarnya ….” Kembali elo ingin menyampaikan suara, semua orang masih bergeming. Membisu dengan posisi yang masih sama.
“Kenap, El?” Bu Lyra menyahut lebih dulu.
“Se—“
“Kakak!” Dion mengacau datang tiba-tiba, bahkan membuat Aksa ikut kaget lantaran ia nyaris membanting pintu.
“Dion!” Pak Tomi dan bu Anna kompak menyeru anak bungsunya, sedang Sally hanya melotot dengan mata cokelat yang dimiliki.
“Sorry … aku buru-buru kemari, gara-gara di rumah nggak ada orang.”
Tak peduli didengar atau tidak, ia segera menghambur Sally. Memeluk hangat perempuan yang lebih tua tiga tahun darinya itu.
“Maaf ….” imbuhnya lagi di pelukan Sally, membuat gadis itu hanya mengangguk pasrah.
“Ke sini naik apa?”
“Diantar Mang Jono,” jawabnya pada pertanyaan Sally.
“Bukannya mang Jono waktunya pulang?” Bu Anna menimpali.
Kedua orang tuanya hanya menghembus napas berat. “Kenapa nggak ke sini besok aja, agak sorean. Ini udah malam, besok kamu sekolah. Nanti mami dan Papi juga nggak pulang, siapa mau nganter?”
Bu Anna mencerca dengan segala perkataan, membuat pemuda yang baru saja genap 16 tahun kemarin lusa itu mendengus, merasa malas mendengar celotehan ibunya. “Naik taksi, Mi. Atau pulang pakai mobil Papi aku,” jawabnya penuh percaya diri.
“Ngaco!” Satu jitakan mendarat berasal dari Sally. “Kamu nggak punya izin mengemudi.”
“Hehehe ….” Bukan merasa bersalah, justru nyengir bagai kuda. “Aku mau lihat keponakanku saja.”
Melangkah maju mendekati Naya, mengintip makhluk kecil yang sejak keluar dari perut lebih memilih banyak tidur, sekalipun orang-orang ramai menyambutnya.
“Woaah … dia tampan sepertiku,” decaknya kagum.
Semua orang melotot, seolah tidak terima. “Kenapa?” tanyanya polos, tidak ada rasa canggung pada orang-orang dewasa yang ada di ruangan itu.
Satu tepukan dari Naya mengalihkan perhatian. Dilihatnya ibu Eza itu menggeleng dan tersenyum, “Dia mirip kak Ze. Tidak ada yang mirip denganmu.”
Dion mencebik, memutar bola mata ke atas dengan malas.
Kembali mundur, dan ikut duduk di tempat Sally.
“El, kau mau bilang apa tadi?” Pak Bobi kembali bicara.
Seolah tersadar dan mendapat jalan, Elo kembali melanjutkan bicara. “Begini Om, sebenarnya ….” Menoleh pada Alika lagi, wanita itu mengangguk memberi support.
“Sebenarnya … aku ingin minta izin cuti.”
__ADS_1
Kening pak Bobi berkerut, tumben sekali keponakannya itu minta cuti. Padahal sebelumnya tidak pernah. “Kenapa? Bukankah kau tahu, saat ini perusahaan tak ada yang menghandle kecuali dirimu.”
“Eee … ya, itu benar.” Dia jadi bingung. Kondisi yang dihadapi memang tidak tepat, mengingat posisi Zean tak ada yang menempati.
“Tuan ….” Alika maju selangkah, meninggalkan Elo yang kesusahan untuk menyampaikan maksud.
“Tuan, berikan cuti pada Elo sepekan. Jika tidak memungkinkan, mungkin tiga hari cukup. Kami akan menikah tiga minggu lagi.”
Om Andra tersedak minuman dari botol air mineral, mendengar jika keponakan kakaknya itu akan menikah. “Anda serius, Nona?” Seolah tak terima, jika Alika masuk menjadi bagian dari mereka.
Meski kesalahanpahaman kemarin bukan sepenuhnya salah Alika, tapi om Andra menganggap kalau bukan karena Elo yang mencintai wanita itu semua tidak akan terjadi.
“Opa ….” Eza datang menghampiri, meninggalkan pak Bobi yang masih linglung.
“Saya serius, Tuan Andra.” Elo menyahut, membuat orang saling pandang bergantian. Bahkan Sally dan Naya ikut kehilangan kesadaran beberapa detik.
“Pa … malah ngelamun, ponakan mama minta cuti.” Menepuk pelan paha sang suami, membuat semua orang tersadar.
“Kak Dira tahu soal ini?”
“Tahu, semua keluarga Bagaskara tahu. Aku belum sempat ngasih kabar, karena juga baru bisa ketemu sama Om Bobi, Tan.”
Bu Lyra manggut-manggut, om Andra pula.
“Kapan-kapan kami ke rumah, mau tahu sampai mana persiapan pernikahan kalian.”
“Ma … papa belum ngasih izin cuti, kenapa seolah sudah setuju saja.” Elo hanya menghela mendengar kalimat pak Bobi, meminta cuti sudah seolah meminta restu.
“Pa … jangan konyol, Elo sudah bekerja di keluarga Pratama dari dulu. Kalau bukan karena rasa sayangnya sama Zean, tentu sudah kembali ke perusahaan kakak."
“Huh!”
“Ya … ambillah cutimu sepekan atau berapa, biarkan aku yang menghandle perusahaan sementara waktu itu. Syukur-syukur Zean sudah kembali sebelum pernikahanmu itu tiba.”
Semua orang kembali menunduk pilu, menyayangkan keputusan sepihak yang dibuat oleh Zean.
Kak … ingin rasanya aku menyeretmu kembali kalau begini. Tidak peduli, aku nanti akan menelepon dan merayumu agar kembali ke kota. Enak saja membuat semua orang susah.
Naya bergumam-gumam dengan hatinya, ide cemerlang harus segera didapatkan agar Zean cepat pulang.
.
,
.
.
.
.
. Bersambung….
__ADS_1