Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 30


__ADS_3

Setelah pamit pada pak Jang dan mengucap terima kasih, semua orang masuk mobil, termasuk Zean. Usaha Naya tidak sia-sia. Wanita itu rela membawa anak orang demi kesuksesan merayu kakaknya.


Naya mengambil alih kemudi, sementara Zean di belakang bersama Sally. Awalnya, Sally hendak duduk di depan menemani Naya, tetapi Zean mencegah.


“Kak, kasihan adikmu.” Sally terus membujuk Zean, sedangkan lelaki itu hanya melirik sekilas dan kembali melihat pemandangan luar.


“Sudahlah, Sa. Kamu enggak capek bicara pada manusia seperti dia.” Naya menjawab sinis sambil melirik Zean dari kaca spion yang menggantung di atasnya.


“Maksudmu, Nay?”  Zean menegakkan badan. Dia ikut memicingkan mata.


“Sudah, sudah. Kenapa justru berantem sendiri?” Sally yang paling muda justru bingung, kedua orang yang memiliki umur diatasnya malah saling serang.


“Ck! Kalau saja nggak sakit, ogah Kak aku jadi sopirmu.”


“Aku juga nggak minta!” ketus Zean, tanpa peduli.


Sally hanya menepuk kening, tak habis pikir. Kedua orang yang satu mobil dengannya berkelakuan seperti bocah, berebut posisi siapa yang jadi pemenang.  Tak peduli adalah pilihan terbaik. Ia memilih memosisikan duduk dengan nyaman, lalu memejamkan mata. Biarkan saja dua turunan keluarga Pratama itu saling bersiteru.


Baru beberapa menit kesadaran mulai hilang, terasa tubuhnya terhuyung ke samping. Dengan berat mata itu terbuka. Mengangkat wajah, lalu terlihat Zean yang tengah memeluk sambil tersenyum.


“Tidurlah ….” Sally diam, lalu kembali merebahkan kepala di dada bidang sang suami. Belaian lembut diberikan, membuat gadis itu semakin nyaman.


Namun tidak bertahan lama, manik indah itu terbuka kembali. Terasa nyeri di dada, terpaksa ia bangun. Bertanya pada Naya, di mana letak pompa ASI yang katanya dibawakan.


“Ada di paperbag bawah kamu, Sa,” jawabnya melalui tatapan dari kaca spion.


Zean hanya diam, memperhatikan Sally. Mungkin lelaki itu tak paham. “Sayang, kamu baik-baik saja?” Bertanya setengah panik. Tapi Sally hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Nggak usah lebay, Kak. Kayak gitu udah biasa.” Naya menyahut tanpa diminta, ada kejengkelan masih tersirat dari nada ia bicara.


Lelaki itu memandangi Sally yang mulai dengan aktivitas pentingnya, tidak ada Aksara. Membuat mama muda itu agak kesusahan. Jika biasanya jam-jam begini waktunya bayi mungil itu makan, hari ini terpaksa terlewat lantaran si ibu tidak di tempat.


“Apa itu sakit?” Zean bertanya dengan polos, mungkin pengetahuannya belum sampai situ sehingga ia tak tahu.


Sally menggeleng lagi. “Tidak, nanti juga baikan, Kak.”


Meski sempat bergidik ngeri karena ngilu, Zean mengamati seksama. Sempat meneguk saliva beberapa kali, terpaksa ia menahan diri. Sadar, jika itu bukan miliknya lagi. Tapi sudah beralih pada anaknya.


***


Hampir tengah malam mereka baru sampai, pak Im sampai terheran. Tanpa berani bertanya, beliau hanya melaksanakan tugas dan kembali ke tempat istirahat.


Pintu terbuka setelah beberapa kali bel ditekan, lampu ruang tamu yang tadi padam sudah menyala lagi. Terlihat bi Mur dengan wajah mengantuk setengah sadar.


“Bi … maaf, ya.” Sally masuk, diikuti Naya dan Zean di belakangnya.


“Tidak apa-apa, Nona.” Mengucek mata, kemudian mengedarkan pandangan.

__ADS_1


“Tuan Muda!” Bi Mur terhenyak, kesadaran yang tadi belum pulih langsung kembali. Mendekat pada Zean.


“Tuan … Anda, Anda sehat?” tanyanya tergagap.


Zean terkekeh. “Sehat, Bi. Jangan syok gitu,” lanjutnya lagi.


“Bibi hanya terharu Anda kembali, Tuan.” Jemarinya menyeka sudut mata, membuat ketiga orang itu tersenyum lembut bersamaan.


Terbiasa hadirnya Zean di rumah Birawan, membuat semua orang ikut pula menyayangi lelaki bergelar suami Sally itu. Bahkan, untuk kalangan bi Mur dan pak Im, semua sudah akrab dan saling berbaur. Pembawaan Zean yang ramah, memudahkan  orang dekat dengannya tanpa rasa sungkan yang berlebihan. Jika mungkin kebanyakan menantu orang kaya akan menjaga jarak pada orang yang dianggapnya asing, tidak untuk Zean.


Didikan bu Lyra sukses membuat lelaki itu memiliki pribadi ramah, dipadu didikan keras oleh sang ayah menjadikan dia lelaki yang pandai memosisikan diri beserta semua sifat yang dimiliki.


“Sudah, Bi. Semua sudah membaik.” Naya ikut bicara.


“Mau minum atau makan dulu, Tuan, Nona? Bibi siapkan sekarang.” Semua saling pandang, mereka baru sadar jika belum makan dari sore. Apalagi Sally dan Naya, dua perempuan itu dari siang belum mengisi perut, sampai lupa. Hanya makan camilan yang ada di mobil, tentu terasa kurang.


“Boleh, Bi. Aku laper.”  Sally menjawab.


“Baik, Nona.”


Semua ikut makan sejenak, mengisi perut sebelum berkelana ke alam mimpi. Diselingi obrolan tengah malam antara mereka, membuat ketegangan antara Zean dan Naya ikut lenyap.


***


“Aksa di mana, Sayang?” Bertanya dengan merebahkan diri. Merenggangkan otot-otot yang kaku.


“Paling di kamar mami, atau mama, Kak.” Tangannya mengambil beberapa pakaian, menyambar handuk ingin mandi. “Mau diambil aja? Biar ikut tidur di sini.” Menoleh pada suami.


Diliriknya sang istri yang tengah melangkah pergi. “Kau ingin mandi, Sa?” Langkah terhenti, menoleh pada yang bertanya lalu menjawab ‘ya’.


“Aku ikut.” Segera beranjak, meninggalkan tempat tidur yang terasa empuk.


“Jangan, Kak. Aku malu.” Didorongnya tubuh Zean. “Kenapa? Kita tak pernah mandi bersama.”


“Nggak ah, aku belum selesai masa nifas.”


“Ooohh ….” Zean menggaruk tengkuk, lalu mundur dan kembali merobohkan diri di kasur.


Lima belas menit Sally keluar, sudah rapi berganti piyama. Ia terpaksa membangunkan sang suami, karena posisi tidurnya saja tidak enak dilihat. Tangan telentang memenuhi tempat tidur, sedang kaki masih setengah menggantung. Wajahnya tetap tampan memesona, meski sempat cedera di bagian kepala akibat pukulan vas waktu lalu.


“Kak, mau mandi nggak?” Duduk, menggoyang badan Zean.


Mengerjapkan mata, sayup-sayup terdengar suara Sally. Lelaki itu mau tak mau bangun, dan bergegas mandi, tanpa menjawab.


***


Pagi menyapa, semua keluarga sudah mulai memenuhi meja makan. Naya datang terlambat, menyapa semua orang yang terlihat bingung.

__ADS_1


“Kapan kamu pulang, Nay?” Bu Anna bertanya, sambil menggendong Aksa.


“Tengah malam tadi, Tan.”


“Oh, berarti Sally juga udah pulang?” Naya mengangguk. “Mungkin masih tidur, Tan.”


“Memangnya kalian belanja apa? Sampai tengah malam baru sampai rumah?” Bu Lyra jadi ingat, jika kemarin keponakannya ini mengajak si menantu pergi dengan alasan membeli keperluan.


“Eee ….” Naya bingung, mau menjelaskan bagaimana. “I … itu, Tan. Seb—“


“Sebenarnya kami nggak belanja, Ma.” Sally sudah menyela, lalu menghampiri putranya. Mengambil alih menggendong Aksa.


Semua orang saling pandang, melihat ke arah Sally dan Naya bergantian. Semakin tak paham, karena omongan Sally menggantung tidak ada kejelasan.


“Mereka jemput aku, Ma.” Zean datang lebih dulu. Membuat semua menoleh ke arahnya.


Sekian detik beberapa orang terpaku. Mungkin sedang berpikir dan memastikan yang dilihat bukanlah halusinasi.  Hingga mereka baru sadar, setelah Zean menyalami keempat orang tuanya bergantian.


“Ma … Pa.”


Bu Lyra tak menjawab, langsung memeluk putra satu-satunya. Zean diam, membalas pelukan tanpa harus menangis lagi. “Aku kembali, Ma. Jangan menangis.”


“Bocah Nakal, dari mana saja kau sebenarnya?” Pak Bobi berdiri, ikut memeluk anak istrinya.


“Ze cuma istirahat buat memulihkan kondisi, Pa. Di rumah takut bikin repot, biarkan semua pada ngurus Aksa. Mencurahkan perhatian pada si kecil itu.”


“Kenapa bisa otakmu berpikir seperti itu?” Bu Lyra melepas pelukan, memukul kesal lalu menarik Zean untuk duduk.


Diam, Zean tak bisa menjelaskan. Hanya sebuah gelengan kepala yang diberikan. Pertanda semua tidak perlu dibahas lagi.


“Mari makan, kami bersyukur kau kembali, Ze.”


“Makasih, Pi.”


Semua makan, sesekali mengobrol menanyakan kondisi Zean. Tidak membahas hal banyak, Zean juga tak berniat menceritakan secara detail semua hal yang mendasari ia menghilang.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2