
“Ze, kamu pulang?” Wajah bahagia Bu Lyra yang pertama kali dilihat Zean saat pintu terbuka. Sang mama begitu antusias menyambut. Beliau segera memeluk Zean, tetapi ketika pelukan terlepas, Bu Lyra menoleh kanan dan kiri mencari sesuatu.
Zean sadar dengan sikap Bu Lyra. Dia mendekap lengan ibunya, lalu mempertemukan pandangan. “Aku pulang sendiri, Ma.”
Rona bahagia yang terpancar dari wajah Bu Lyra turun beberapa persen saat menyadari jika sosok yang dicari tidak dibawa putranya. Bunga-bunga di hati yang mekar kembali menguncup. “Kenapa enggak sama Sally?”
Zean menggiring ibunya ke sofa usai menutup pintu. Pria dua puluh enam tahun itu merangkul pundak sambil terus tersenyum. “Dia sekolah, lagi pula aku pulang hanya ingin bicara dengan Papa sebentar.”
“Ada masalah?”
Pertanyaan Bu Lyra membuat Zean yang sudah duduk ingin melepas jas berhenti. Dia menggeleng sebagai jawaban.
Jawaban Zean cukup untuk menghentikan rasa keingintahuan sang mama. Bu Lyra membiarkan Zean duduk tenang, sementara beliau bilang ingin ke belakang mengambilkan minum. Namun, baru melangkah beberapa pijakan, anaknya meminta untuk kembali.
“Aku ingin mandi, Ma. Tidak usah dibuatkan minum.” Zean beranjak dari duduk, menyambar jas dan menghampiri sang mama. Kecupan singkat diberikan Zean ke pipi Bu Lyra, wanita itu mengusap lengan Zean baru mengangguk.
“Jangan lupa turun untuk makan malam.”
Zean yang sudah mulai menaiki tangga menoleh, mengucap kata ‘oke’ lalu kembali melangkah menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Zean buru-buru menghampiri ranjang. Dia mengempas tubuhnya yang lelah akibat pekerjaan dan perjalanan. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit ruangan sambil bergumam, “Gadis Kecil, apa kau bisa kubawa ke sini suatu saat nanti?”
Gumaman Zean membuatnya ingat akan tragedi jus jeruk beberapa waktu lalu. Sally memasuki kamarnya untuk pertama kali dalam keadaan murung setengah takut. Dia sadar jika terlalu keterlaluan dalam membentak sehingga merontokkan keberanian dari sang istri.
Zean mendesah berat; mengusap wajah hingga menyingkap rambut. Dia tidak menyangka jika ucapan sang ayah ternyata benar-benar diwujudkan perihal perjodohan. Lucunya lagi, harus menikahi Sally si kepala batu dan bermulut ketus.
“Bukankah hidupku ini begitu konyol?” Selarik senyum tergaris di bibir. Zean segera beranjak dari pembaringan untuk membersihkan diri. Kemarin, dia bilang pada Sally akan pulang malam, tetapi sekarang bertemu sang ayah saja belum. Zean tidak yakin urusannya akan selesai.
***
Jam weker yang ada di nakas kecil samping tempat tidur Sally menunjuk angka tujuh. Gadis itu berulang kali menengok ponsel dan membuka menu pesan. Kontak nomor Zean menjadi tujuannya berkirim kabar, tetapi baru mengetik sederet kalimat, dihapus lagi, tulis lagi, dan hapus lagi. Perasaan gengsi dan ragu melebur di hati Sally.
__ADS_1
Apa dia enggak bisa menghubungi sebentar? Memberi kabar sudah sampai apa belum?
Berulang kali Sally mendengkus. Dia mendadak kerepotan sendiri memikirkan pria yang selalu membuatnya ingin marah. Entah angin apa yang menghinggapinya tadi di sekolah sehingga bisa memikirkan Zean.
Akibat bosan menunggu kabar dari pria tidak berperasaan seperti Zean, Sally membanting ponselnya ke ranjang dan memilih turun. Dia meninggalkan kamar dan ikut bergabung bersama keluarga yang sedang berkumpul di sofa tengah bagian ruang televisi.
Bu Anna menyambut putrinya yang baru turun. Beliau meminta Sally duduk di sebelahnya. “Tumben turun, eggak belajar?”
Sally menoleh, lalu menggeleng pelan sambil mendekap bantal sofa. Bu Anna yang mendapat respons demikian mengulas senyum, lalu mengusap rambut putrinya penuh sayang.
“Bi Mur, tolong buatkan teh manisnya satu lagi buat Sally.” Nyonya Birawan itu berteriak dari tempat duduk.
Meski mendengar ibunya berteriak, Sally masih bergeming. Tatapan gadis itu tetap fokus pada layar televisi, tanpa ingin bicara apa pun. Mood-nya sedang tidak bagus, selera apa pun hilang.
“Kak Sally, kesepian, ya, nggak ada Kakak Ipar?” Dion menimpali. Pemuda yang sedang asyik bermain game dari ponsel itu sengaja menggoda. Padahal, wajah Sally sudah masam sejak turun, berani-beraninya dia berbuat nekad.
Lirikan tajam dari mata cokelat Sally tertuju pada Dion. Pemuda itu justru meringis tanpa dosa. Dia yang sedang duduk di sebelah sang ayah, merasa memiliki pendukung jika kakaknya menyerang.
“Sa, kamu kalau kesepian, Mami bisa temenin.”
“Engak, Mi. Jangan dengerin Dion.”
Adik ipar Zean itu tertawa. Kelakuannya mengundang bantal sofa yang dipeluk Sally melayang ke kepalanya. Namun, Dion dengan sigap menangkap.
“Eits, enggak kena!”
“Mi ….” Sally merajuk, wajahnya yang putih cemberut saat menoleh. Bu Anna menghela napas melihat kelakuan dua anaknya.
Pak Tomi yang sejak tadi diam sampai menepuk lengan Dion agar putranya berhenti. “Minta maaf pada kakakmu.”
“Apaan, sih, Pi? Aku cuma bercanda. Kak Sally aja yang enggak seru.”
__ADS_1
Bukan melakukan hal yang diperintah sang ayah, melainkan Dion justru pergi dari tempat. Dia menuju kamarnya sendiri yang ada di lantai bawah.
Bahu Sally dirangkul Bu Anna. Beliau menasihati, “Sudah, adikmu memang begitu. Jangan diambil hati.”
***
Panggilan untuk yang kelima kali tidak diangkat pemilik nomor. Zean sampai frustrasi menghadapinya. Pria itu berulang kali pindah posisi, mulai dari duduk di ranjang, berdiri, duduk di sofa, lalu pindah ke balkon. Namun, nyatanya tidak kunjung diangkat.
“Ke mana Gadis Kecil?”
Satu tangan Ze menyingkap rambutnya yang nyaris mengenai mata. Dia lupa kapan terakhir kali memangkasnya. Terlalu sibuk dengan pernikahan dan belajar hal baru di tempat kerja ayah mertua, Zean sampai lupa urusan pribadi.
“Apa dia sudah tidur? Apa aku terlalu larut menghubunginya?” Tatapan Zean menuju pada layar ponsel. Jam di wallpaper sudah memperlihatkan pukul 23.00 malam. Pria itu akhirnya hanya berkirim pesan, mengabarkan jika sudah sampai dan akan pulang besok.
Selepas menyampaikan maksud, Zean mematikan ponsel, lalu bergegas tidur lebih awal agar lelahnya segera hilang. Lagi pula, besok masih harus perjalanan jauh kembali.
Sementara itu, berbeda dengan Zean yang sudah mulai terlelap, Sally justru baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu baru selesai mencuci muka dan gosok gigi. Langkahnya menuju meja belajar, di mana ponsel berada.
“Kak Ze.” Sally bergumam ketika melihat daftar panggilan tak terjawab. Dia mencoba menghubungi balik nomor suaminya, tetapi sudah tidak aktif.
Akhirnya Sally menyerah. Dia lalu membuka pesan dan membaca isinya.
“Dia enggak pulang?” gumam Sally secara refleks. Tiba-tiba hatinya ikut resah, ada yang membuat kamarnya sepi.
Pikiran Sally jadi ke mana-mana. Dia bahkan tidak bisa memahami dirinya yang sejak sore berharap kabar Zean.
“Apa aku mulai rindu padanya? Ah, enggak mungkin. Inget, Sa, dia itu pria menyebalkan. Justru harusnya kamu senang enggak ada makhluk itu.”
.
.
__ADS_1
.