
“Sa, di-dia ….”
“Sudahlah, Kak.” Sally bertambah malas melihat suaminya yang ragu-ragu menjawab pertanyaan. Gadis itu memilih menggeser tubuh dan merebahkan diri di sisi ranjang bagian lain.
Zean termenung sejenak, lantas mengusap wajah dengan kasar sembari membuang napas besar. Dia mulai naik, lalu duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Pria itu menarik napas dalam lagi, sementara mata terpejam beberapa saat. Hatinya ikut bertanya, haruskah sekarang mengungkap segalanya? Entah, Zean tidak yakin. Akan tetapi, akan sampai kapan dia harus dimusuhi oleh istrinya sendiri? Zean rasa tak sanggup.
“Sa, apa kau ingin tahu tentang aku? Apa kita tidak bisa menjalani pernikahan ini tanpa membahas kehidupanku?”
Sally bergeming. Dia membiarkan suaminya berbicara sesuka hati. Hati sudah lelah, bahkan dia tak tahu mau dibawa ke mana rumah tangganya saat ini. Zean terlalu banyak teka-teki, membuat Sally semakin terasa jauh darinya.
“Tidurlah, Kak. Aku enggak akan memaksamu kalau memang kamu berat mengatakan kebenarannya.” Gadis itu mencoba memejamkan mata, mencoba menghilangkan semua hal buruk yang pernah terekam di otaknya. Dia berharap, saat terbangun besok, harinya telah berganti menjadi hari yang baru tanpa sebuah luka.
“Sa, aku akan mengatakannya sekarang.” Zean berucap setelah berhasil meyakinkan diri.
Sally tetap bergeming dan masih setia memunggungi. Dia mencoba memejamkan mata terus, tetapi tidak bisa. Membuat ia bisa mendengar jelas setiap kata yang diucap Zean.
“Perempuan yang ada di rumah itu bukan istri ataupun mantan istriku, dia adikku dari Om Andra.”
Sally masih terdiam, mendengarkan penjelasan suaminya.
“Om Andra adalah adik dari Papa. Dan Eza, adalah anak dari Naya dengan suaminya. Hanya saja …." Zean menggantung omongan. "Naya dipaksa berpisah oleh Om Andra dengan alasan kalau suaminya tidak cukup kuat untuk melawan orang-orang yang tidak disukai Om Andra. Apa kau percaya denganku, Sa?”
Diam, lagi-lagi Sally hanya diam.
“Huh! Sudahlah, sepertinya kau memang tidak mau mendengar penjelasanku.” Lelaki itu beranjak pergi, membiarkan istrinya menenangkan diri. Setidaknya, dia sudah tahu di mana Sally, dengan segala kondisinya.
Kaki Zean sudah menggantung hendak meninggalkan pembaringan, tetapi terhenti.
“Kak, mau ke mana?” Sally menarik ujung kaus yang dipakai Zean, membuat si pemilik menoleh ke belakang.
“Aku sudah bilang padamu, kalau Naya bukan istriku. Dia adik sepupuku dari garis keturunan papa, dan bocah kecil itu bukan anakku. Dia kehilangan sosok ayah sehingga aku yang memintanya untuk menganggap diriku sebagai daddynya. Jika kau tak percaya, kau bisa kembali ke kediaman Pratama. Tanyakan pada papa dan mama.” Zean berdiri, hendak membenarkan tali sepatu.
Sally bangun dari posisinya, merangkak mendekat ke posisi suaminya. “Apa semua yang kau katakan benar?”
Menoleh ke arah istrinya. “Tsk! Sesulit itukah kau percaya padaku, Sa?” Zean melengos, ia lalu menyambar jaket yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
“Aku pulang, kau mau pulang atau masih di sini?”
Tak ada jawaban, Zean seakan lupa jika istrinya keras kepala. Tak menunggu jawaban, ia lalu beranjak menuju pintu.
Sally setengah berlari ke arah Zean, memeluk lelaki yang memiliki tinggi lebih dari satu setengah hasta darinya itu. Air mata tak tertahan, ia menumpahkan segala rasa sakit dan kecewa selama ini di balik punggung suaminya.
Zean menghela, isakan Sally membuatnya sakit. Dengan pelan ia membuka tautan tangan Sally, lalu memutar tubuh.
“Menangislah, aku tak akan melarangmu. Kali ini aku juga tak akan merayumu untuk tidak marah padaku.”
Zean mendekap tubuh Sally yang semakin bergetar, ia hanya bisa mengelus kepala istrinya.
“Maafkan aku, jika selama ini banyak hal yang tidak aku ceritakan padamu. Aku tidak ingin membebanimu dengan urusanku, kau sudah cukup lelah dengan pernikahan yang merebut masa mudamu. Maafkan aku.”
Sally semakin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya semakin dalam di dada bidang suaminya.
Sampai akhirnya ia lega, lalu memberanikan diri melihat Zean.
Laki-laki itu tersenyum manis seperti biasa, wajahnya yang tegas dan terkesan ramah. Mengingatkan Sally dengan kerinduannya selama beberapa hari ini. Gadis itu berjinjit dari posisi, mencoba mengecup bibir suaminya.
Manik hitam Zean membola, ia seakan tak percaya. “Kau sudah berani sekarang denganku, hmm?”
“Kau payah!” Zean mengejek, membuat Sally mengernyit.
“Ciumanmu itu payah. Dasar Gadis kecil.”
Mendengar cibiran keluar dari mulut Zean, membuat gadis SMA itu mengerucutkan bibir dan melepaskan tautan tangan dari leher suaminya.
Zean gemas, ia segera menarik tubuh Sally yang sudah berputar hendak meninggalkan dirinya. Tanpa permisi, ia menyambar bibir sang istri dengan penuh hasrat.
Sally membelalakkan mata, terlihat jelas wajah Zean di depan wajahnya. Perlahan ia mulai mengikuti alur suaminya. Ikut memejamkan mata, berharap mendapat kenikmatan yang sama.
Sesapan itu membuat erangan beberapa kali dari bibir Sally. Membuat Zean ingin menghentikan waktu, tak ingin mengakhiri permainannya. Mereguk rasa nikmat, memberi kelembutan untuk meluluhkan hati gadis kecilnya, menyalurkan rindu yang telah membuat dirinya gila selama masa penyembuhan kakinya yang cedera.
Pagutannya terlepas, namun itu menjalar ke bawah menuju leher istrinya. Menyesapnya pelan, sampai tanpa Sally sadari sudah meninggalkan bekas di sana. Gadis itu seakan kehilangan kesadaran, ia bahkan tak sadar sudah merebahkan diri di ranjang. Kapan dia berpindah tempat? Kapan Zean menggendongnya? Ia tak tahu.
Ciuman ketiga dari suaminya membuat ia lupa segalanya. Lupa jika baru kemarin ia terluka dengan kesalahpahaman yang dibuat dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
“Sa … aku mulai mencintaimu.” Bisikan lirih terdengar di telinga Sally. Gadis itu mengerjap-ngerjap, mengumpulkan nyawa. Berharap, jika saat ini ia sedang tidak berhalusinasi.
“Ka-Kakak bilang apa?” Gadis itu mungkin setengah sadar, ia masih mengerjap-ngerjapkan mata di bawah kukungan suaminya.
Zean mendaratkan ciuman lembut di bibir merah muda yang selalu membuatnya terbuai, lalu berkata, “Aku mulai mencintaimu. A-K-U M-E-N-C-I-N-T-A-I-M-U.” Ia bahkan mengeja kata-katanya untuk memperjelas ungkapan rasa.
Blush!
Wajah putih itu memerah, untuk pertama kalinya Zean mengungkapkan perasaannya. Selama ini, ia tak pernah berharap jika sang suami yang kadang slengekan tidak jelas itu bisa memiliki perasaan cinta juga.
“Hei, kenapa kau diam? Kau tidak mau membalas pernyataanku.” Ia protes, karena sejak tadi Sally malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Gadis itu mulai menurunkan kedua telapak tangan yang menutup hampir seluruh wajah, menutup hidung dan mulut sambil menatap intens ke arah Zean, yang juga masih setia menatapnya.
Matanya menyipit, pertanda ia tersenyum lalu mengangguk.
Melihat respon Sally. Zean menarik kedua tangan istrinya, masih menopang tubuhnya dengan satu tangan, ia berkata,” Katakan, katakan apa jawabanmu.”
Tersipu-sipu, ia tak berani menatap Zean. Mengalihkan pandangan ke segala arah, pokoknya tidak menatap kedua netra bening yang Zean miliki. “A-aku, aku juga mencintai Kakak.” Tangannya menarik-narik kaos bagian perut Zean. Membuat Zean gemas.
Deretan gigi putih terlihat di wajah Tuan Muda Pratama itu beberapa detik, sebelum akhirnya ia dengan antusias mengecup setiap sisi wajah gadis kecilnya. Hatinya berbunga, seakan ada kupu-kupu ikut terbang dari perut menuju dada. Bahagia tak terlukis, mengalahkan memenangkan undian mungkin. Padahal, ia sudah pernah menjalin asmara dengan beberapa wanita sebelum Sally, tapi tidak sebahagia itu.
Mungkin, karena ia merasa menang. Mendapatkan hati istrinya, yang berkepala keras seperti batu.
“Kak, sudah. Jangan menciumku terus.”
.
.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1
Maacih kakak sudah mau membaca. jangan lupa like, komen dan hadiahnya. Dukungan kakak adalah smangat untuk aku. 😘