Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2- Bab 5


__ADS_3

“Sayaangg ….” Baru menginjak ruang tamu, Zean sudah berteriak memanggil istrinya.


Tak ada jawaban, justru sang ibu yang mendatangi. Hanya bersedekap di depan dada, sambil menggelengkan kepala pertanda heran dengan kelakuan anaknya.


“Istrimu di kolam renang, kenapa kau seperti kehilangan dia saja. Bisa tidak datang dengan baik-baik?”


“Hehehe ….” Zean hanya nyengir dengan tampilan gigi putihnya, makin hari makin terlihat manja saja semenjak kembali ke rumah Pratama.


“Eza telepon,” kata Mama.


“Benarkah? Kenapa?”


Melonggarkan dasi, membuka jas dan meletakkan sembarang di sofa. Menggulung hem polos di bagian tangan kanan dan kiri, lalu hendak menghampiri sang istri.


“Kangen mungkin, tapi Naya belum bisa ke sini. Kamu mau ke sana, Ze?”


Langkahnya terhenti, dia ragu. Mengingat pertikaian selama ini dengan sang paman terasa masih nyata. Takut juga jika sampai mengganggu kondisi psikis Sally nanti.


“Aku tidak bisa ke sana, Ma.”


Bu Lyra hanya menghela, ia paham dengan perkataan Zean. “Mama tahu, biarkan mama dan papa saja yang ke sana kalau gitu. Nanti pulangnya biar Eza ikut.”


“Baiklah … Mama yang terbaik.” Satu kecupan mendarat di pipi wanita paruh baya itu, lalu meninggalkan ibunya dan menghampiri anak istri di samping rumah.


Terlihat Sally tengah merendamkan kaki di kolam, gadis dengan perut buncit itu sesekali mengelus lembut perutnya sambil bicara. Zean menatap dengan seulas senyum, semakin hari semakin jatuh cinta dengan makhluk satu itu.


Berjalan mendekat, tiba-tiba pandangan mata Sally menggelap. “Siapa?” Tangannya mencoba membuka deretan jari yang tengah bertengger menutup kedua mata.


“Kakak! Jangan main-main.” Tidak ada keraguan, sudah bisa memastikan jika orang jahil yang tengah menutup kedua matanya adalah sang suami. Penciuman yang dimiliki begitu peka, apalagi dengan aroma tubuh lelaki yang setiap malam tidur bersama.


Sinar jingga menerpa, terlihat kedua tangan Zean sudah terlepas. Laki-laki itu bersimpuh dengan dua lutut ditekuk sebagai tumpuan, memeluk Sally dari belakang.


Mencium dan menghirup aroma tubuh Sally seolah seperti  ganja, membuat candu penikmatnya. Tak peduli, dia sudah mandi atau belum, akan tetap suka.


“Kakak kok sudah pulang?”


Diam, masih sibuk dengan kelakuannya. Sally hanya menggeliat seperti cacing kepanasan. Tak berhenti, tangan ikut ke mana-mana. Membuat calon mama muda itu terpaksa menghempas paksa, ia jengah.


“Aku nanya, Kak.” Mundur dan menopang duduknya dengan dua tangan di belakang, membuat Zean menyampingkan badan.

__ADS_1


“Memangnya tidak boleh aku pulang? Ini udah jam lima, tuh lihat. Udah mau gelap juga.” Membuka sepatu dan kaos kaki yang masih terpasang. Lalu menggulung celana sebatas lutut, ikut merendamkan kaki ke kolam.


“Nyaman ya, Sa,” katanya, saat kedua kaki sudah ikut tenggelam di air kolam yang berwarna kebiruan.


“Hu’um,” jawab Sally. Satu tangannya sibuk membelai perut yang makin hari makin membesar.


Zean menatap Sally penuh binar bahagia, lelaki itu sangat senang sebentar lagi memiliki keturunan. Meskipun istrinya semakin ketus semenjak kehamilan, ia tetap berusaha memaklumi. Menganggap jika itu faktor hormon.


Tak masalah, yang terpenting tidak sampai kelewatan. Atau ngidam yang aneh-aneh. Hanya menjadi teman begadang saja, Zean rasa itu masih dalam batas wajar.


Langit yang tadi berwarna jingga sudah menggelap sepenuhnya, temaram lampu di setiap sisi ruang sudah menyala. Menggapai tangan istrinya dengan lembut, lalu menoleh. “Masuk, yuk. Nggak baik lama-lama di sini.”


“Gendong, Kak,” rengeknya manja.


“Eh?” Zean mengerjap, laki-laki yang sudah mulai berdiri itu seakan harus mencerna omongan Sally. Memperhatikan dengan seksama sebentar, ia menelan ludah kasar. Batinnya, mungkin sedang bertanya, Apa aku kuat? Melihat Sally sudah berubah tidak seperti dulu.


“Kok, diem.” Gadis itu mengerutkan kening, menyatukan alis. “Nggak mau, ya?” Tambah dengan ekspresi mengerucutkan bibir.


“Aku papah aja, ya.” Sally menggeleng, “aku kan, mintanya gendong. Bukan dipapah, Kakak.” Penekanan nada bicara pada kata ‘kakak’ yang diucap gadis itu.


Tampak ragu, tidak mungkin Zean memberi alasan takut tidak kuat. Gadis itu tentu akan meraung-raung karena tidak dituruti. Terbiasa dengan semua hal yang dikabulkan, membuat mindset yang dimiliki berubah jika semua yang ia ingin akan pasti didapatkan.


Mode tak baik mulai on, gadis itu dengan susah payah berdiri, lalu pergi meninggalkan Zean.


“Haisshh … tiap hari ngambek. Kalau kayak gitu kapan aku dapat jatah?” Membuang napas kasar, seolah ingin membuang kesialan.


“Sayang, tunggu!” Tak ada jawaban, Sally sudah mulai menapaki tangga.


Pak Bobi baru datang, melihat anak dan menantunya, beliau menghentikan langkah. Menyaksikan tingkah pasangan itu dari lantai bawah, sampai keduanya menghilang.


“Haah … apa memang begitu hubungan anak muda?” Beliau bergumam-gumam sedikit frustrasi. Mau sampai kapan bisa melihat keduanya sama-sama dewasa.  Ketika Zean dewasa, Sally seperti anak kecil. Jika Sally dewasa, Zean seperti bocah. Hanya bisa geleng-geleng kepala.


***


Makan malam tiba, pasangan muda itu masih sibuk dengan segala urusan berdua. Sang Mama hanya, melirik sekilas. Terlihat wajah menantunya yang ditekuk tak ada gairah.


“Sa … kau baik-baik saja, Nak?” Bu Lyra angkat bicara, sedang Pak Bobi masih seperti biasa, tidak terlalu banyak kata.


Mengganti pandangan ke arah Zean, laki-laki itu tertunduk lesu. Menghela napas lemah, beliau berkata, “Kalian sudah mau jadi orang tua, mau sampai kapan kucing-kucingan? Lupakan ego masing-masing. Tidak cukupkah semua cobaan di awal kalian menikah? Bukankah sudah saling cinta?”

__ADS_1


Hening, keduanya menatap lekat pada nyonya rumah itu, lalu saling melirik satu sama lain. Menghembuskan napas kasar, Sally seakan tak peduli.


Gadis itu benar-benar kembali pada dirinya seperti di awal pernikahan, mudah tersulut dengan amarah. Mengilas balik hubungan mereka, ketika ego menjulang tinggi, kerasnya hati dan kepala seolah hal yang paling harus dikedepankan.


Tak ada pembicaraan, masing-masing sibuk mengunyah memberi asupan pada badan. Dentingan garpu dan sendok beradu, ditambah dengan atmosfer aneh yang berada di sekitar kedua anak pemilik rumah.


“Papa dan Mama besok ke rumah Om Andra, kalian ikut?” Pak Bobi membuka suara, menjadikan pasangan yang masih tergolong baru itu mendongak dan reflek saling pandang seolah sedang berdiskusi melalui tatapan mata.


“Ze, kau mau ikut?” Papa Zean itu bertanya, karena beliau duga, anak lelakinya masih belum bisa memaafkan kesalahan sang adik.


Zean menggeleng, tanpa berkata. Gerakan kepala itu sudah bisa menjadi ungkapan untuk sang ayah, jika memang anak tunggalnya tidak semudah itu melupakan semua peristiwa yang mereka pernah lewati.


Hanya bisa memaklumi segala keputusan sang anak, pak Bobi tidak pernah memaksa Zean untuk satu pendapat dengannya. Bagaimanapun juga, beliau sadar jika Zean sudah berjuang selama beberapa tahun hanya untuk membantu mengembalikan kondisi Pratama Group seperti sekarang.


Tangan bu Lyra membelai lembut lengan sang suami, beliau hanya menoleh pada tatapan lembut ibu Zean tersebut. Memilih menyudahi pembicaraan, karena hanya memastikan apa yang diomongkan istrinya tadi memang benar.


“Eza merindukanmu ….” Zean mendongak, pun Sally. Gadis itu memang tidak tahu, karena sejak tadi Zean tidak sempat berbicara hal itu. Merutuki diri sendiri karena sibuk dengan kemauannya, ia jadi tidak tahu apa-apa. Sang mama, tentu saja tidak akan terlalu bicara.


“Enggak, Pa. Aku akan menghubungi lewat video call saja.”


“Terserah kalian,” jawab pak Bobi.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ….


like + komen 😘

__ADS_1


__ADS_2