
Usai makan malam penuh drama di warung tenda lesehan pilihan Sally. Dua manusia itu kembali ke vila. Jalanan sedikit menanjak, membuat beberapa kali Sally berhenti untuk mengatur napas.
“Capek lagi?” Zean menoleh ke samping dan melihat Sally mengangguk. “Makanya, sering olahraga,” lanjutnya melengkapi kalimat.
Sally mencebik saat mendengar omongan Zean. Namun, dia tidak bisa berkilah lantaran omongan pria itu tidak salah. Olahraga adalah hal yang jarang dilakukan gadis 19 tahun tersebut.
Zean masih setia menunggu Sally mengumpulkan tenaga. Tidak ada acara menawarkan diri menggendong sang istri. Pria itu bukan sosok romantis akut. Egonya masih sering menguasai sehingga tidak mudah Zean melakukan hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Kita duduk dulu, Gadis Kecil."
Satu batu besar yang kebetulan ada di tepi jalan menjadi pilihan Zean. Pria itu menggenggam tangan Sally selama melangkah. Mereka duduk bersisian dan saling berbagi tempat.
Kebisuan melanda. Sesekali Zean mengecek ponsel sembari menunggu Sally mengisi oksigen ke paru-paru. Tangannya terus menggenggam untuk menyalurkan kehangatan.
Udara menerpa dan sukses membuat Sally merinding. Tangannya tanpa sadar meremas telapak sang suami.
Zean menoleh. "Dingin?"
Sally mengangguk sambil tersenyum tipis. Bibir dan wajahnya tampak memucat saking rendahnya suhu yang ada.
Zean melepas genggaman, lalu menarik tubuh Sally ke pelukan agar bisa mengurangi rasa dingin yang makin menusuk tulang. Segelas jahe hangat yang mereka minum seolah tidak berguna. Nyatanya, mereka tetap menggigil.
“Kau masih lelah?” Zean bertanya dengan nada tenang.
Perempuan yang ada di pelukan itu mendongak dan menyatukan pandangan dengan sang suami. "Kenapa memangnya?"
"Ya, kita lanjut perjalanan kalau sudah kuat jalan lagi.
Sally tak menjawab. Dia justru merapatkan tubuh seakan enggan beranjak. Entah karena nyaman atau karena sekadar ingin menikmati suasana indah malam hari, Sally masih ingin tinggal.
“Malah diam. Kau mau kembali tidak”
“Di sini saja, Kak. Kakak enggak lihat, pemandangan di bawah itu?” Telunjuk Sally mengarah ke depan. "Bagus, kan, Kak? Lampu rumah-rumah penduduk jadi seperti bintang dari atas sini."
__ADS_1
Zean ikut mengarahkan pandangan ke mana Sally menunjuk. Dia terdiam tanpa menyahut pendapat istrinya. "Kau menyukai bintang, Sa?
Masih di pelukan hangat sang suami, Sally mengangguk pelan. “Aku suka. Meski mereka hanya benda kecil, tapi mampu bersinar dengan sendiri. Berbeda dengan bulan yang hanya memantulkan cahaya matahari."
Bibir Zean mengatup saat mendengar istrinya hendak bicara lagi.
“Aku belajar seperti mereka, Kak, tetap bersinar apa pun kondisinya. Sebanyak apa pun masalah yang datang, aku ingin tetap tegar menghadapinya. Meski kadang, perjuanganku bertahan, enggak selalu terlihat oleh orang lain.”
Zean menatap Sally. Ada banyak hal yang ternyata pantas pria itu kagumi dari sosok istri kecilnya. Omongan ibu mertua memang benar, adakalanya Sally memang terlihat lebih dewasa dari usianya. Zean kira, mungkin itu salah satu alasan sang mama, mengapa setuju saja saat Pak Bobi ingin menjodohkan dirinya.
“Sa, aku mencintaimu.” Kali kedua kata itu terlontar dari mulut Zean dalam kondisi sadar. Padahal, pria itu lebih banyak menyatakan cinta kala melakukan permainan ranjang.
Dua mata Sally mengerjap teratur saat memandang wajah Zean. Namun, lama-lama sudut bibirnya tertarik kanan kiri. Semburat kemerahan menjalar di pipinya yang memucat. Dia mengangguk. "Aku juga, Kak."
Pelukan Zean makin mengerat. Pria itu mendaratkan kecupan di puncak kepala sebagai rasa pelampiasan bahagia.
"Ayo, jalan lagi. Besok aku akan mengajakmu ke tempat lain."
Bahu Zean mngedik. “Besok kau akan tahu sendiri. Kita istirahat dulu malam ini.”
“Beneran istirahat, ya?” Sally memastikan.
“Iya. Tapi kalau kau ingin yang lain, aku juga tidak masalah.” Satu kerlingan genit berasal dari mata Zean, sehingga membuat istrinya memukul lengan.
Zean justru tergelak dan membiarkan sang istri melampiaskan pukulan. Setelah dirasa puas, tangan pria itu kembali meraih satu tangan Sally. Jemari mereka saling bertaut seperti tadi, lalu segera meneruskan perjalanan kembali.
***
Sally membuka koper saat sampai di kamar. Dia menyambar piyama polos dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Zean hanya duduk di ranjang dengan jemari yang masih sibuk pada ponsel. Mengingat tujuan utama dua insan itu ke puncak bukan perkara liburan, Zean tidak bisa lepas dari kabar pekerjaan. Dia masih terus menghubungi Elo untuk bertanya jadwal.
“Kak,” panggil Sally pada Zean yang tengah berdiri mondar-mandir di dekat jendela.
__ADS_1
Zean menutup ponsel lalu mengantonginya. Dia memutar badan dan mendekati Sally. “Sudah?” Pria itu bertanya sembari menelisik tubuh sang istri dari atas sampai bawah.
Sally yang merasa diperhatikan, mendadak ikut melihat penampilannya dari bawah sampai atas. Dia rasa tidak ada yang salah. Piyama lengan pendek dan celana panjang membalut tubuhnya dalam kondisi utuh. Tidak ada robekan atau kancing lepas yang mengundang perhatian. Namun, mengapa suaminya melihat dengan tatapan ameh seperti itu?
Perempuan berambut panjang itu memberanikan diri bertanya, “Ada yang salah, Kak?”
Zean makin mendekat tanpa menjawab. Satu tangan yang tadi tersimpan di kantong celana keluar, lalu menyelipkan untaian rambut Sally ke belakang telinga. “Kau cantik, Sa,” kata pria itu dengan nada syahdu.
Ucapan Zean membuat beku tubuh Sally. Pikiran perempuan itu mendadak makin tidak berfungsi seiring pertahanan hati yang roboh. Awalnya, Sally berniat tidak akan mencintai sang suami terlalu dalam. Akan tetapi, mengapa Zean sejak tadi sukses mengobrak abrik dunia Sally?
Satu buliran menetes di pipi mulus milik Sally. Sontak, hal itu membuat Zean terkejut. Tentu saja pria itu panik. Zean takut jika menyakiti Sally lagi.
“Sa, kenapa? Aku salah? Apa aku menyakitimu lagi?” Zean segera memeluk Sally dan berusaha meminta maaf jika telah melakukan kesalahan. “Maafkan aku, maafkan aku, Sa,” ucapnya berulang. Lagi dan lagi meski dia tidak tahu kesalahannya ada di mana.
Gadis SMA itu makin terisak. Hatinya benar-benar terenyuh kali ini. Dia tidak menyangka, jika dirinya yang keras kepala akan jatuh cinta pada pria yang sempat dibenci di awal-awal pernikahan.
"Jangan diam saja, Sa. Ada apa?" Zean masih berusaha mencari jawaban. Andai dia memiliki salah, dia pikir harus segera memperbaikinya.
Sally menggeleng, lalu menghapus pipi. “Terima kasih, ya, Kak. Kakak mau mencintai gadis kecil sepertiku. Padahal, bukankah banyak wanita di luar sana yang menyukaimu?”
Laki-laki itu menjauhkan Sally dari dadanya, lalu bertanya, “Dari mana kau tahu kalau banyak wanita yang menyukaiku?” Ekspresi serius terpancar dari Zean. Takut-takut, jika Sally pernah mendengar masa lalu tentang dirinya yang suka bermain-main wanita.
“Tentu saja aku tahu,” tutur Sally. “Wanita mana yang enggak terpikat dengan lelaki tampan seperti suamiku ini.” Tawa kecil menjadi penutup ucapan Sally.
Hati Zean bernapas lega mendengar jawaban Sally. Dia tidak berani membayangkan jika sang istri tahu masa lalunya dan mengadu pada Pak Bobi. Akan seperti apa nasib yang harus Zean lalui? Pasti sudah babak belur.
“Ketampanan ini, sudah ada yang memiliki. Jangan suka berpikir aneh-aneh.” Satu cubitan kecil mendarat di pipi Sally. Zean gemas sendiri melihat tingkah istrinya.
.
.
.
__ADS_1