
Empat puluh menit untuk menempuh perjalanan menuju penghujung kota C. Masih dengan pakaian lengkap selepas bekerja, Naya melesatkan mobil dengan penuh rasa khawatir. Pamit pada sang ayah akan ada urusan, agar menemani Eza sebentar. Seperti yang Zean minta, ia tak memberi tahu siapa pun.
Bertanya pada resepsionis, lalu segera masuk di kamar yang ia dapat infonya dari resepsionis tadi. “Kakak!” Naya menyeru lantang, membuat seisi ruangan menoleh bahkan melotot tajam karena merasa terganggu.
“Maaf, maaf. Saya sedang cemas dengan kondisi kakak saya.” Kedua telapak tangan ia satukan menangkup di depan dada sambil mengangguk kecil beberapa kali.
Zean hanya mengusap kasar kening yang dibalut perban, mungkin Naya lupa jika ia tidak dirawat di kamar VIP yang dihuni hanya satu orang.
Berjalan tergesa menghampiri brankar paling ujung di mana Zean bersandar, kedua netranya jadi berembun melihat kondisi tragis yang dialami saudaranya itu.
Ingin memeluk tapi tentu tak bisa. Tubuh Zean penuh perban di mana-mana. Ia duduk di kursi samping Zean. Masih menatap lekat lelaki yang tampak tenang justru tengah tersenyum menyebalkan.
“Bagaimana bisa masih tersenyum seperti itu? Aku khawatir, Kak!” Perempuan beranak satu itu bicara dengan bersungut-sungut ingin memukul kakak sepupu yang sering bersikap konyol.
“Aku cuma sakit bukan mati. Ngapain sih, nangis gitu.” Tangan kanan yang baru dilepas dari infus itu mengacak rambut hitam lurus yang Naya miliki. Membuat pemiliknya semakin merengut masam. Tidak terima jika perhatiannya justru dikritik sedemikan.
“Huh!” Berdecak sebal. “Kakak pengen mati?!” sarkasnya penuh tekanan.
“Yah … jika itu terasa lebih baik, Nay. Aku kehilangan semua, untuk apa hidup. Semua keluarga membenciku.”
“Kakak ngomong apa?” Mata wanita itu membeliak semakin tidak suka, menatap tajam pada kakak sepupu yang bicara ngawur.
“Kau tidak tahu kabar itukah, Nay?” Nada bicara Zean kembali berat, kilasan perpisahannya dengan Sally tergambar jelas meski ia sudah koma selama dua minggu.
“Aku lebih memilih amnesia saja Nay, kalau bisa. Agar aku lupa semua kesalahanku dan tidak harus membenci diriku sendiri seperti ini.”
Naya ikut bingung, tapi sebentar ia perlu mencerna omongan Zean. “Kakak ngebahas apa, sih? Alika?” tanyanya to the point.
Zean menoleh, bahkan untuk mengangguk saja ia malas jika mendengar nama itu disebut.
“Elis bukan anak Kakak. Kabar itu terkuak dua hari setelah kamu ngilang, Kak. Aku tahu baru juga seminggu lalu, saat om Bobi minta papa buat bantuin nyari kamu. Semua orang khawatir degan kondisimu.”
Zean terkesiap bahkan kaget dengan kabar yang ia dengar. “Kamu serius, Nay?”
Naya menghela napas jengah membenarkan posisi rambut. “Iya, kata papa. Makanya semua orang mencarimu. Bahkan Sally nggak berhenti murung sampai kemarin. Aku belum tahu kabarnya hari ini, belum ketemu papa.”
“Haah ….” Zean mendesah berat, ia menyandarkan diri dan memejamkan mata sejenak. “Sekarang aku harus apa, Nay?”
Naya melotot, baru kali ini kakak sepupunya menjadi bodoh. “Ya pulanglah, apa benturan di kepala itu membuat Kakak bodoh? Kenapa masih bertanya.”
__ADS_1
Zean justru menggeleng pertanda tidak setuju. “Papa sudah mengusirku, bahkan tidak menganggap aku anaknya.”
“Kak, jangan ngaco! Itu semua karena salah paham. Sekarang udah jelas, kembali ke rumah. Temui istrimu, kau tidak kasihan? Sebentar lagi anakmu juga mau lahir.”
“Dia lahir tapi aku tetap tak bisa menggendongnya, Nay. Kau lihat keadaanku.” Sorot mata menyusuri tubuh dari atas sampai bawah, tangan kiri yang patah, kaki kiri yang cedera pula. Belum juga kesadaran yang sering terasa membuat ia bingung tiba-tiba.
“Hentikan pikiran anehmu itu! Kau pikir melahirkan tanpa pendampingan suami itu menyenangkan.” Naya terus protes karena memang ia pernah merasakan bagaimana melahirkan tanpa hadirnya seorang suami di sampingnya.
“Bawa aku ke vila di puncak, Nay. Biarkan aku melakukan penyembuhan di sana.”
“Tidak mau! Aku tidak akan menuruti ide gilamu itu, Kak! Bisa-bisa aku disalahkan semua orang karena menyembunyikanmu.” Tidak terima dengan keputusan Zean, bahkan suara yang keluar ikut melengking membuat Zean mendelik seolah meminta diam.
“Sebentar saja, setelah sembuh aku akan menemui Sally dan mama. Aku tidak ingin merepotkan mereka, biarkan perhatian mereka semua tertuju pada Sally. Kalau aku pulang sekarang, mama pasti akan sibuk mengurusiku. Belum lagi Sally pasti syok melihat kondisiku.”
Naya ikut pusing sampai harus memijat pelipis berulang untuk memahami maksud kakaknya. “Kakak tidak ingin ketemu istri dan anakmu, Kak?” tanyanya sekali lagi meyakinkan Zean sampai lelaki itu benar-benar yakin.
“Aku akan menemuinya jika sudah sembuh, Nay. Susah sekali ngomong sama kamu.” Zean mulai sebal, merasa arah pembicaraan dari tadi hanya berputar-putar. Padahal yang ia perlu hanya jawaban ‘iya’ dari Naya.
“Sebenarnya yang susah itu Kakak. Kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini. Kau pernah bilang jika Sally keras kepala, tapi kau sendiri tak sadar. Huh!” Saking sebalnya bahkan sudah beranjak dari kursi, ia bersedekap di depan Zean seolah ingin mengintimidasi.
“Kumohon, Nay. Kali ini saja ….” Sepertinya sifat bunglon yang dimiliki belum hilang, Zean cepat sekali merubah mood. Tampang menyebalkan tadi hilang sekarang berganti dengan ekspresi wajah memelas. Membuat Naya kembali hilang arah, ia mulai goyah.
“Jika kau ke sana, siapa yang akan mengurusmu?”
“Itu juga namanya menyusahkan orang lain, Kak,” protesnya kembali, lagi dan lagi. Tapi sepertinya tidak memberi pengaruh pada keputusan Zean.
“Beda. Kita menyewa bukan meminta pertolongan gratis. Berikan mereka upah selama mengurusku.” Naya hanya melongo mendengar jawaban Zean.
“Ayolah, Nay. Beberapa hari lagi mungkin aku bisa keluar dari sini, antarkan aku ke sana. Sementara ini beri kabar dulu pada pak Jang, agar beliau tidak kaget saat aku datang.”
“Kau membuatku pusing, Kak.” Masih tidak terima. Bahkan jika boleh memilih, Naya akan memilih bukan dia orang yang dihubungi Zean tadi. Permintaan itu terlalu di luar nalar. Bagaimana bisa saat semua orang mencarinya, tapi ia justru sengaja menghilang.
“Lalu bagaimana dengan semua keluarga yang mencarimu?”
Senyum mulai mengembang di bibir Zean, merasa Naya mulai setuju. “Aku akan mengirim surat untuk masing-masing keluarga. Memberi tahu agar berhenti mencariku, mengatakan aku baik-baik saja dan kembali saat waktunya tiba.” Ucapan Zean penuh keyakinan seolah semua permintaannya sudah tersusun dan direncanakan.
“Surat?” Zean mengangguk. “Tentu saja lewat surat, jika lewat media elektronik mereka akan mudah mencariku. Jika lewat surat, biarkan aku membayar orang untuk tidak mengatakan keberadaanku.”
“Kau kira keluarga Pratama semudah itu untuk kau ajak bermain, Kak?” Nada bicara Naya tak ada bagus-bagusnya sejak tadi membuat Zean mendesah frustrasi.
__ADS_1
“Ayolah … Nay. Urusan surat biar aku semua yang mengurusi agar tidak ketahuan. Kali ini aja, semua orang pasti akan memaklumi keputusanku.”
“Aku tidak!” Naya menyela cepat.
“Ck! Kau adik sepupu menyebalkan, seperti Elo. Sama saja.” Zean memalingkan wajah, menyandarkan kepala lalu memejamkan mata.
Menarik napas dalam, ia jadi tak tega melihat kekeuhnya kemauan Zean. “Aku turuti, tapi bela aku saat semua orang tahu jika aku yang mengantarkanmu ke vila.”
Lelaki dua puluh enam tahun itu bangun kembali, matanya berbinar cerah. “Benarkah?” Naya mengangguk. “Terima kasih banyak. Aku menyayangimu.” Merentangkan satu tangan kanan pertanda ingin dipeluk, Naya ragu melihat kondisi Zean.
“Kau tidak mau memelukku?” Zean tersadar.
“Eh, itu … aku takut menyakitimu.”
Tangan kanannya menarik tangan kiri Naya, perempuan itu oleng hampir jatuh menimpa Zean. Zean merengkuhnya dengan lembut, berbisik lirih karena haru. “Terima kasih, Nay. Kau adikku yang terbaik.”
Naya hanya mengusap lembut punggung Zean. Dekapan Naya membuktikan tubuh Zean terasa lebih kurus dari biasanya. Perempuan itu menitikkan air mata tanpa sadar, hatinya ikut pilu mengetahui segala hal yang selalu Zean alami semenjak ia dewasa.
Kakak sepupu satu-satunya itu penuh dengan tekanan hebat dari bangku SMA. Mulai dari tidak boleh berpacaran, sebisa mungkin harus pandai dalam segala bidang, belajar bisnis saat masih di bangku kuliah. Otaknya dengan keras harus bisa digunakan dalam dua hal berat sekaligus. Kampus dan perusahaan. Belum lagi ketegangan dalam menghadapi pamannya sendiri, yang tidak lain adalah papa Naya.
Melepas pelukan kemudian Naya pamit. “Aku pulang dulu, Kak. Apa nggak seharusnya kita pindah rumah sakit saja?” Zean menggeleng.
“Kata dokter aku bisa pulang beberapa hari lagi, jadi buat apa pindah. Aku baik-baik saja di sini.” Naya mengangguk.
“Oiya, Nay. Satu lagi, tolong urus tanda pengenal dan beberapa kartu debetku yang hilang. Aku memerlukannya. Belikan aku ponsel dan nomor baru jika semua urusan soal kartu selesai.”
“Haaah ….” Menghela panjang, “iya, tapi berarti aku besok tidak ke sini dulu.”
“Tidak masalah, aku akan menunggumu.”
Meninggalkan Zean dan pulang segera, mengingat ia telah meninggalkan anaknya cukup lama. Entah bagaimana bisa ia menyetujui ide aneh dari Zean. Berharap saja dia akan selamat dari amukan semua orang. Keluarga Pratama bukan keluarga yang kalem, tekanan di dalamnya terlalu kuat. Bahkan untuk dirinya yang seorang wanita.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung….