Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 28


__ADS_3

Hampir sebulan sudah, sejak membujuk Zean kembali, tapi Naya masih pusing. Jika saja dia tidak merasa kasihan dengan semua keluarga besarnya, memilih tak peduli dengan Zean yang bebal.


Jam berdenting menunjuk istirahat makan siang, tapi tiba-tiba ia tidak nafsu makan. Laporan keuangan yang harusnya diperiksa masih menumpuk di depan mata. Sejak tadi jemarinya hanya memainkan pulpen berputar-putar mencari ide.


Kakak … kesabaranku habis.


Menyambar ponsel segera, menelepon seseorang yang bisa membantu. Wajahnya sejak pagi kusut, berubah cemerlang dengan sorot bahagia karena mendengar jawaban dari lawan bicara.


Nafsu makan yang hilang telah kembali, meninggalkan ruangan dan harus makan banyak untuk siap menghadapi keegoisan kakaknya yang menjulang tinggi tak tergapai.


“Nay ….” Om Andra menghentikan langkah putrinya, wanita satu anak itu menoleh dan berhenti.


Datang menghampiri. “Kusut banget mukamu. Ada masalah keuangan?”


Naya gelagapan, jangan sampai sebuah rahasia itu terbongkar. Ia ingat betul jika ayahnya bukan orang sembarangan, tidak mudah untuk dikelabui.


“Eee … enggak. Itu, Pa. Aku laper. Jadi bawaannya males.”


“Oh, yaudah makan.” Menengok jam yang melingkar di tangan, “keburu habis jam istirahatmu.”


Meninggalkan sang ayah, tanpa peduli lagi beliau curiga atau tidak. Bagi Naya, sekarang penting untuk isi asupan dulu, yang lain urus lagi belakangan.


***


Sally sedang asyik bercengkrama dengan Lisa, sahabatnya itu tidak berhenti gemas dengan keponakan baru yang lucu. Bahkan rela bolos kuliah, demi menengok Aksa yang baru lahir sekitar empat minggu. Rela menempuh perjalanan seorang diri, karena Leon yang biasanya menemani tidak bisa diganggu.


“Sa … habis ini mau kuliah di mana? Satu kampus aja, ya.” Gadis itu antusias, lantaran ingat jika Sally akan menyambung pendidikan setelah melahirkan.


“Emm … aku belum tahu. Coba deh, kalau kak Ze udah balik, aku nanya.”


Lisa mengikat rambutnya yang mulai memanjang, agar tidak mengganggu si Kecil yang tengah tiduran di kasur lantai kamar Sally. “Kapan kakak ganteng, pulang?”


“Entah, aku tidak tahu.” Sally mengangkat kedua bahu dan tangan bersamaan, raut sedih jika mengingat Zean berangsur hilang,  semenjak setiap hari diberi semangat oleh Alika.


Lisa tak meneruskan pertanyaan, ia kembali bermain dengan bayi yang hanya berkedip-kedip lucu sambil menggeliat sejak tadi. Terkadang senyum-senyum sendiri, membuat Lisa gemas ingin mencium bibirnya yang mungil. Tapi, tentu saja sudah diserang dengan ultimatum lebih dulu dari Sally, tidak boleh cium-cium sembarangan katanya.


“Lis ….” Gadis itu menoleh. “Kamu nginep, ‘kan, nanti?”


“Hah? Enggak. Aku balik,” jawabnya segera.


“Kenapa?”


“Ya balik, Sa. Nanti kak Leon nyariin aku.”


Sally hanya ber-oh ria, tapi kemudian merayu. “Nginep aja, tidur sini sama aku. Udah lama kita nggak cerita. Besok ada ujian?” Dia menggeleng. “Makanya, bolos sekali-kali.”

__ADS_1


“Ck! Sa … Sa, meski aku juga belum pinter. Tapi nggak ah, bolos banyak-banyak. Ini aja tadi udah bolos, apa iya harus nambah.”


“Hehehe … kali ini aja, kita udah lama nggak ketemu.”


Gadis cantik itu memutar mata ke kanan dan kiri, menimang permintaan Sally. “Coba deh, nanti aku kabarin kak Leon.”


“Baguusss …,” seru Sally penuh kemenangan, lalu memeluk Lisa dengan erat.


Sedetik kemudian, Aksa menangis. Segera Sally menggendongnya dan memberi ASI. “Kamu pinter banget, Bocah, tau aja mamamu sedang kangen-kangenan sama tante.” Lisa bahkan mengomel-ngomel, sambil bibirnya maju. Padahal, bayi mana paham urusan orang dewasa.


“Eh, nanti aku tinggal bentar, ya,” kata Sally setelah ingat sesuatu.


Lisa mengernyit, gadis itu tampak tidak terima. Tadi minta ditemani, malah mau ditinggal. “Mau ke mana?” Bertanya dengan nada sarkastik.


“Itu … nemenin adik sepupu kak Ze, nggak tahu katanya mau ngajakin belanja gitu.”


“Ah, aku pulang ajalah.”


“Lhoh, kok—“


Belum selesai ucapan Sally, Lisa sudah menyilangkan kedua tangan di depan dada. Seolah tidak menerima protes.


“Minggu depan aja, aku ke sini lagi. Sekarang aku balik dulu, ya. Lagian di sini rame, mertuamu aja masih di sini.”


“Yah … Lis. Besok ajalah.” Dia menggeleng. “Akhir pekan depan, aku sini lagi. Sekalian bawa mainan yang buaaanyaak.”


***


Jam belum menunjukkan waktu pulang, tapi Naya sudah merapikan meja. Ia izin pulang lebih dulu, ada saja alasan yang berhasil dibuat. Semakin merasa berdosa dengan ayahnya, jadi makin tak sabar untuk menyelesaikan urusan yang telah membelit jiwa siang dan malam.


Mobil meninggalkan parkiran, melesat jauh ke kota A. Ke mana lagi kalau bukan ke kediaman Birawan. Menjemput Sally untuk diajak bekerja sama.


Dua jam kurang lima belas menit, pak Im membukakan gerbang dan menyapa. Naya segera turun, dan berbasa-basi dengan anggota keluarga sejenak.


Bilang ingin mengajak Sally jalan-jalan membeli perlengkapan anaknya, sekalian mungkin Sally juga butuh sesuatu. Alasan yang tidak masuk akal memang, tapi bu Anna dan bu Lyra yang tak terlalu curiga hanya mengiyakan. Mereka dengan senang hati mengasuh cucunya, bahkan nyaris tak terjeda.


Meninggalkan kediaman Birawan bersama, seiring Lisa berada di depan mereka.


“Sa … maaf ya sebelumnya.” Naya mulai mengaku, di tengah perjalanan saat mobil berhenti karena lampu merah.


“Kenapa minta maaf?” tanya Sally heran.


“Sebenarnya, aku ingin mengajakmu ke puncak.”


“Hah?!” Sally terhenyak. Padahal tidak ada persiapan untuk ke puncak, bagaimana bisa Naya membawanya ke tempat dingin seperti itu.

__ADS_1


“Aku sediain jaket buat kamu di belakang. Baju dan celana panjang jika mau ganti. Pompa ASI juga ada, udah aku siapin kemarin. Sebenarnya aku ingin ngajak kamu itu lusa, tapi aku sudah tak tahan. Aku nggak bisa fokus kerja, Sa. Merasa bersalah pada semua. Terutama kasihan si Elo, sampai harus menunda pernikahannya. Maafin aku, ya.”


Tak bisa meluruskan pandangan ke depan lagi, Sally lebih memilih memutar badan menghadap Naya yang fokus mengemudi. Menambah kecepatan, agar tiba di tujuan tidak sampai petang.


“Kenapa harus bohong?”


“Aku tak bisa jujur, jika keluarga besar ada di rumahmu, Sa. Nanti akan kacau.”


Sally memutar otak, ia berpikir keras dengan setiap kata yang diucap Naya. “Maksudnya bagaimana?”


Ibu Eza itu menarik napas dalam, menyiapkan mental jika sampai Sally akan memakinya karena kesal. “Sebenarnya … aku yang membantu kak Ze bersembunyi, Sa.”


“APA!” Tepat sesuai dugaan, Sally syok bukan main. Naya sudah mengatur ritme jantung. Lalu mencoba menjelaskan.


“Maaf ya, Sa. Ini semua karena kemauan keras dari suamimu. Dia ditemukan warga di pinggiran kota C setelah hanyut di sungai. Koma dua minggu, lalu saat sadar, dia menelepon aku. Meminta mengurusinya sementara, dan mengantarkan ke vila. Dia bilang, tidak ingin menyusahkan keluarga karena kondisinya yang butuh perawatan. Jadi lebih memilih pergi dan menyewa orang untuk merawat.”


“Jika kau tanya bagaimana bisa dia berpikir begitu, aku juga tak tahu. Kau bisa tanyakan sendiri nanti, kalau bertemu.”


Menyandarkan kepala, Sally lemas mendadak. Segera meneguk air mineral yang tadi sempat mereka bawa. Ia harus segera berpikir jernih, dan memberi kabar pada orang rumah jika harus pulang telat.


“Jadi kau tahu waktu ada surat dari kakak?” Naya hanya bisa mengangguk. Tidak membantah.


“Bawa aku ke sana, aku ingin tahu separah apa kondisi kakak.”


Ekor mata Naya melirik Sally, menoleh lalu menjawab ‘ya’. Setidaknya, ia sudah berusaha mengambil jalan terakhir. Jalan satu-satunya dengan membawa orang yang dicinta. Menunggu reaksi Zean, apa masih tak luluh juga hatinya jika yang meminta kembali adalah Sally.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung….


__ADS_2