
“Pagi, Nona.” Seorang perawat menyapa dengan senyum ramah, sambil membawa nampan berisi makanan.
“Pagi, Sus.” Gadis yang sudah tampak lebih segar itu membalas dengan tak kalah ramah.
Sally sudah sendiri, ia bangun sejak jam setengah lima pagi tadi.
Kedua mertua pamit pulang untuk mengambil pakaian ganti, karena kemarin terburu-buru tak sempat membawa.
“Bagaimana kondisi anda, Nona? Apa ada yang sakit?” Sally menggeleng, karena ia sudah tidak merasa apa pun. Pusing dan badan yang terasa lemas kemarin sudah hilang, mungkin karena efek tidur dari sore hingga pagi datang.
“Baiklah, saya rasa anda sudah tidak memerlukan cairan infus. Saya akan melepasnya.” Lagi-lagi Sally mengangguk dan hanya tersenyum, pertanda setuju.
Dengan telaten dan hati-hati, perawat mulai melepas jarum infus yang masih menancap di punggung tangan Sally. Menempel dan merekatkan kapas kecil, untuk menghentikan pendarahan bekas jarum.
“Suster, apa Suster tahu kondisi pasien di ruangan sebelah?” Sally bertanya, meski tak yakin jika perawat yang sedang menangani dirinya tahu kondisi sang suami.
“Maksud anda … pak Zean?” tanya suster.
“Benar, Sus.” Ekspresi penuh harap, memancar dari wajah istri tuan muda Pratama itu.
Perawat itu hanya tersenyum, lalu menghela. “Beliau belum siuman, Nona. Mungkin sore ini.”
Sally tertunduk lesu, berharap jika Zean sudah sadarkan diri. Tapi ternyata tidak, ia masih terbaring lemah memejamkan mata.
“Apa lukanya serius, Sus?”
Lagi-lagi perawat itu tersenyum sebelum menjawab, “ Sepertinya … anda perhatian sekali dengan pasien tersebut, Nona.” Tersenyum lagi.
Ah, Sally lupa bilang, jika dia istri pasien di sebelah. “Saya istrinya, Sus.”
“Akhp!” Menutup mulut karena terkejut. “Maafkan saya, Nona, jika telah lancang berbicara.”
Bagaimana tidak kaget, mengetahui pasien yang ia tangani saat ini masih berusia delapan belas tahun dari data yang ia baca, bahkan masih seorang pelajar yang baru selesai ujian. Tapi sudah bersuami.
“Tidak apa, Suster. Mungkin Suster terkejut karena saya yang masih terlalu muda ini sudah menikah.” Menunduk pilu, jika ia harus mengingat kenyataan di mana masa mudanya tidak seperti gadis lain.
Cepat-cepat perawat itu menggeleng, sebagai tanda ketidak setujuan. “Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak tahu. ”
Sally mengangkat wajah, lalu tersenyum simpul. Menghembuskan napas, lalu berkata, “ Bukan salah Suster, saya hanya mengungkap identitas saya saja. Agar Suster tidak heran saat saya bertanya terus tentang suami saya.”
Perawat itu mengangguk. "Apa … Nona mau melihatnya?”
“Apa boleh, Suster?” Sally memastikan.
__ADS_1
“Boleh, tapi Nona bisa menghabiskan sarapan ini dulu. Setelah itu silakan melihat suami anda. Tapi saya sarankan, anda tidak menunggunya terlalu lama. Karena kondisi anda belum pulih sepenuhnya.”
“Ah, baiklah ….”
Sally hanya bisa menyetujui perkataan perawat wanita itu saat ini, agar diberi kemudahan untuk bertemu sang suami. Rasa khawatir masih terus menari di hati dan pikiran, dari semalam ia sudah menahannya.
“Baiklah, Nona. Jika begitu, saya permisi.”
Sally mengangguk, dan berucap terima kasih sebelum perawat itu benar-benar pergi.
Dengan segera ia meraih nampan berisi makanan, mengisi perut untuk memberinya tenaga. Ia harus kuat, tubuhnya tidak bisa kalau harus terus-terusan disuruh berbaring di ranjang seharian. Sedangkan suaminya, sedang butuh perhatian.
.
Pintu ruangan Zean terbuka, Elo melangkah dengan santai. Akhir pekan kali ini tak ia gunakan untuk lembur seperti biasa. Ia memilih melihat kondisi adik sepupu, setelah mendapat kabar jika pak Bobi dan bu Lyra harus pulang sebentar.
“Hai, Tuan Muda ….”
Elo menyapa, meski tak mendapat respon dari pasien yang masih setia memejamkan mata. Seperti memang tak ada keinginan untuk bangun, bergerak saja tidak —tapi yang penting masih bernapas.
Sally membuka pintu dengan perlahan, langkahnya terhenti. Ia tersenyum ragu, kedua tangan dan jemarinya meremas ujung piyama. Elo datang mendekat, mempersilakan gadis itu mendatangi Zean. Dilihatnya tak ada pergerakan dari langkah kaki Sally, ia mendorong pelan dengan memegang kedua bahu gadis itu.
Mendudukkan Sally di kursi sebelah brankar, tangannya masih bertengger di bahu kanan dan kiri Sally. “Hei, Tuan Muda, jika kau masih saja mau tidur, kubawa istrimu kabur.”
“Hah! Dasar keras kepala. Masih saja dia tidur dari kemarin.” Mulai menggerutu. “Padahal dokter bilang dia tidak apa-apa. Hanya cedera sedikit di bagian kaki, tapi kenapa sudah seperti orang mati saja.”
“Akhp!” Sally menutup mulutnya sendiri, tersentak dengan omongan ngawur asisten suaminya. Berani sekali mengatai atasan seperti sedang memaki anak buah. Tidak … sepertinya Sally lupa siapa Delon. Laki-laki ini bahkan lebih aneh dari suaminya, tentu saja itu bukan sesuatu yang harusnya terdengar konyol.
“Adik ipar ….” Berganti pada lawan bicara. “Ze, mengalami cedera pada bagian kaki kiri, dokter bilang … dia tidak diizinkan melakukan aktivitas berat sepuluh hari ke depan. Jadi ….”
Sally masih menatap serius, menunggu kelanjutan kata yang akan diucapkan oleh Elo.
Menarik napas sebentar. “Jadi, aku harap kalian tidak melakukan aktivitas melelahkan malam hari dulu.”
Hah?! Sally mengerjap-ngerjap —bingung. Gadis itu tampak bodoh dengan mulut ternganga dan mata hampir keluar karena omongan Elo yang tidak jelas.
“Kenapa kau imut sekali, jika pasang tampang bingung seperti itu?” Elo terkekeh. Cepat-cepat Sally menampakkan ekspresi senetral mungkin.
“Kau tahu maksudku, ‘kan?” Sally menggeleng.
Elo menepuk jidatnya sendiri, sepolos apa sebenarnya gadis di hadapannya. Ia membungkukkan badan, lalu berbisik lirih. “Aktivitas malam yang melelahkan, kau tahu? Yaitu ….”
Sally masih membisu, kedua tangan saling bertautan. Kenapa ia jadi begitu? Bahkan Sally seakan tak mampu mengendalikan dirinya —Gugup.
__ADS_1
“Aktivitas bersatunya cinta kalian, untuk membentuk seorang penerus keluarga Pratama.”
Sally melengos, wajahnya sudah bersemu merah. Elo menegakkan tubuhnya, lalu bersandar di brankar menghadap Sally. “Kenapa kau memerah begitu? Kau malu? Apa pria gila ini belum melakukannya padamu?”
Mendengar Elo terus mencerca dengan pertanyaan semacam itu, membuat Sally semakin memerah seperti buah semangka. Tak tahan, ia sudah tak tahan mendengar celotehan Elo. Memilih untuk membenamkan wajah saja di samping Zean, tanpa menjawab.
“Hahahaha ….” Tertawa lepas. Ia puas bisa menggoda adik iparnya. Tak peduli jika dia akan mengadu apa pada Zean, tapi yang ia lihat, jelas Zean masih membatu di alam bawah sadar.
Terasa elusan lembut pada rambut kepala, Sally segera menepisnya. Takut jika Elo itu lebih gila, menggodanya terlalu jauh. Apa dia buta, jika Sally telah menikah dengan sodaranya.
“Kenapa kau menolakku?” Suara parau terkesan sedikit kesal tertangkap daun telinga.
Elo berhenti tertawa, ia lalu berbalik menghadap sumber suara. Cepat-cepat merubah ekspresi.
“Ah, Kak Ze. Kau bangun?” Sally langsung berjingkat dari posisi, dan menghambur memeluk suaminya. Zean meringis, merasa ngilu ketika beberapa lebam ditubuh tertekan dengan tubuh Sally.
Melihat hal itu, ingin sekali Elo menarik Sally. Namun sudah dicegah duluan oleh Zean.
Gadis itu menangis, tanpa berkata. Ia tumpahkan segala kecamuk rasa yang telah memenuhi rongga dada sejak kemarin. Rambut cokelat bergelombang yang terurai sampai mengenai wajah Zean. Lelaki itu menyibak perlahan dan mengelus punggung istrinya.
“Kenapa kau di sini? Tidak istirahat saja, hmm …?” Zean berkata lembut, ia tahu jika Sally sedang dalam perawatan. Melihat pakaian yang dikenakan gadis itu sama dengan pakaian yang tengah membalut tubuhnya.
Beberapa menit setelah tenang, Sally mengangkat tubuhnya. Dalam hati Zean, ia merasa lega.
“Aku sudah tidur semalaman, aku bosan di kamar sendiri,” cicitnya.
Zean menyelipkan rambut di belakang telinga Sally, lalu mencoba tersenyum. “Di mana mama dan papa?”
“Mereka bilang pulang sebentar, nanti akan ke sini lagi bareng sama mami dan papi.” Gadis itu masih menunduk lesu, sejak tadi tak mau membalas tatapan Zean.
Tatapan Zean beralih pada laki-laki yang masih setia berdiri tak jauh dari posisinya. “El, tinggalkan kami.” Elo melongo, ia merasa terbuang.
Mendengus kesal. ” Baiklah ….”
Ia lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut. Biarkan saja, dua orang yang sedang mulai jatuh cinta itu berkelana, yang terpenting gadis kecil itu tidak mengadu.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersambung….