Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 59


__ADS_3

Ponsel Elo berdering ke sekian kali. Padahal, dia baru saja mulai terlelap setelah seharian tenaganya terkuras habis. Belum lagi memikirkan besok, yang harus mengurus semua pekerjaan sendiri lagi.


Dengan setengah sadar, ia menerima panggilan yang mengganggu.


“Ha—“


“El, aku butuh bantuanmu. Kumpulkan bawahanmu, dan segera susul aku ke lokasi yang aku tuju”.  Suara Zean memotong perkataan Elo lebih dulu. Bahkan, terdengar begitu  terburu entah dari seberang sebelah mana.


Elo terlonjak, kenapa adiknya yang tadi bahagia tiada tara sekarang jadi panik begitu.


“Zean! Tenang, bicara yang jelas!” Laki-laki itu ikut emosi, tidurnya terganggu lagi.  Selalu saja Zean membuat dia bingung.


“Bangsat! Kenapa kau jadi membentakku! Buruan lakuin apa yang aku perintahkan, Sally dalam bahaya.” Ia bahkan memukul kemudi, ingin menghajar kakak sepupunya saja saat itu juga.


“Kau di mana sekarang?” Tak peduli dengan umpatan Zean. Lebih baik Elo mengalah dan menjadi seseorang yang waras.


“Banyak tanya! Buruan siapin semua segera datang ke lokasi. Aku kirim lokasi setelah ini,” pungkasnya dan mematikan panggilan tanpa menunggu Elo bicara lagi.


Menendang selimut dari kasur, laki-laki itu jadi semakin emosi. Tapi, bagaimana pun juga, nyawa adik iparnya dalam bahaya.


“Apa lagi sekarang? Entah sebuah kesialan atau keberuntungan berhubungan dengan keluarga Pratama. Huh! Adik ipar … semoga kau baik-baik saja.” Ikut tak waras, Elo mengomel sendiri.


Segera ia menelepon anak buah, membagikan lokasi titik kumpul yang harus mereka datangi.


***


Tak peduli hari sudah semakin larut, Zean melesatkan mobil menuju ke tempat Sally berada. Jika ditanya ia tahu dari mana? Tentu saja ia tahu siapa di balik pesan anonim yang beberapa jam tadi ia terima.


Sampai di tempat tujuan, bangunan rumah mewah itu masih sama saja dengan yang dulu pernah ia datangi. Banyak penjaga di sana. Berjalan tergesa, seolah tak peduli dengan tatapan banyaknya orang berwajah sangar di depan rumah.


Melenggang masuk tanpa permisi, bahkan membuka pintu saja dengan menendang.


Tiga tepukan tangan menyambut kedatangannya, ruangan luas dengan sofa mewah ada di hadapan Zean berada. Lelaki paruh baya berwajah tampan duduk dengan tenang. Tatapannya tajam, senyuman sinis tersungging di kedua bibirnya.


“Lama tidak bertemu, keponakanku tercinta.” Senyumnya melebar, membuat Zean semakin geram.


“Apa lagi yang kau inginkan kali ini?!” Kedua tangan di samping tubuh mengepal sempurna, wajah tampan yang biasa terkesan ramah itu sudah tak terlihat lagi. Wajahnya bahkan memerah menahan amarah, rahangnya mengeras, tatapannya murka pada orang yang memanggilnya ‘keponakan tercinta’.


“Tenanglah … kau begitu cerdas memang. Tanpa tahu siapa yang mengirim pesan, tapi tiba-tiba kau datang ke sini. Apa kau rindu dengan pamanmu yang satu ini?”

__ADS_1


“Cih! Bahkan orang bodoh pun mungkin tahu jika itu darimu. Di kota ini siapa yang tidak tahu tentang kemelut keluarga Pratama? Aku malas berbasa-basi, kembalikan istriku!”


“Kenapa kau buru-buru sekali? Dia aman di sini, bahkan tidur dengan lelap.” Beranjak dari sofa mewah yang ia duduki, berdiri tegap di hadapan Zean. Senyuman itu tak surut dari bibirnya. Wajahnya yang sedikit mirip dengan pak Bobi semakin membuat Zean ingin membunuhnya saja.


“Kau gila! Dia tidak tahu apa-apa. Kenapa kau membawanya? Di mana dia? Di mana?!”Sudah muak, Zean maju menghampiri laki-laki yang berdiri di hadapannya. Satu pukulan melayang, membuat pamannya itu reflek menoleh karena pukulan.


Meringis menahan sakit sambil mengelus pipinya yang memar. Tidak melawan, sengaja agar Zean semakin geram.


Kerah kemejanya ikut dicengkeram, Zean sudah hilang kendali. Dua orang pengawal maju, menarik Zean dari posisi.


“Berikan hadiah pertemuan padanya!”


Mendengar titah dari orang yang membayarnya, para pengawal  berjumlah delapan orang itu maju mengelilingi Zean. Hanya bisa memasang posisi siaga, Zean tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kondisi yang sulit, tak mungkin ia lari dan tak akan menang jika melawan.


Dia bukan lelaki yang pandai bela diri, sehingga mampu untuk mempertahankan diri. Pukulan demi pukulan ia terima, meski awalnya ia masih bisa mengimbangi semua pergerakan lawan yang  terus menyerang dirinya. Tapi tetap saja, ia kalah tenaga. Ditambah lagi karena ia baru pulang bekerja, mengemudi ke kota A dua jam, kembali ke kota C dua jam lagi. Siapa yang sanggup? Fisiknya tidak sekuat Super Hero yang ada di film animasi yang sering ditontonnya  bersama Eza.


Jam di dinding berdenting sebanyak dua belas kali, pertanda tengah malam tiba. Elo masih belum menandakan kemunculannya, padahal Zean sudah tersungkur di lantai dan mulai melemah. Dengan paksa ia ditarik duduk.


Mendengar sedikit berisik di ruang tamu, gadis yang tengah tidur itu ingin keluar.


“Nona, apa ada yang Anda butuhkan?” Seorang pengawal yang tadi menjemputnya bertanya, seharian ia memang berjaga di depan pintu kamar yang ditempati Sally.


“Biar saya saja yang mengambilkan minum, Nona. Silahkan kembali ke kamar.” Sudah diduga, tentu tak akan bisa dia keluar. Sejak siang sudah curiga, kenapa tiba-tiba Zean membawanya ke rumah pamannya? Padahal tadi orang yang menjemputnya akan membawa ke restoran. Tiba-tiba berganti tujuan di tengah jalan. Bukan pula ke rumah Pratama di mana biasanya ia singgah. Ditambah lagi, pengawalan ketat yang seakan membuat dirinya bagai tawanan.


Saat ini hanya bisa mengangguk, menyetujui omongan pengawal itu.  Ketika lelaki itu pergi, Sally akan ikut pergi dan menuju ke sumber suara yang mengganggu tidurnya.


“KAKAK!” Ia menjerit seketika, melihat suaminya datang tapi dengan posisi yang sudah terduduk lemas.


Segera menghampiri Zean, tapi langkahnya sudah terhenti dan dicekal oleh pengawal yang tadi menjaga kamarnya.


“Om Andra, apa yang Anda lakukan? Bukankah dia keponakanmu? Kenapa seperti ini? Anda membohongiku!” Gadis itu menangis histeris. Hatinya sakit, lagi-lagi harus melihat perkelahian yang membuat suaminya terluka. Masalah seperti apa sebenarnya yang ada di keluarga Pratama? Dia tak tahu apa-apa, tapi selalu dibuat kaget dengan setiap peristiwa yang menyangkut keselamatan suaminya.


“Huh! keponakanku yang cantik. Kenapa kau keluar. Maafkan om mu ini yang berisik. Itu juga ulah suamimu, dia tidak jadi keponakan yang penurut.” Kembali wajah itu menyeringai, membuat Sally semakin tidak mengerti.


Padahal, saat awal ia datang, disambut hangat oleh lelaki yang bernama Andra Pratama itu. Bahkan ia sempat bertegur sapa dengan Naya dan Eza. Pakaian yang ia kenakan saja juga salah satu pakaian mewah pemberian beliau. Dan sekarang apa? Apa yang ia lihat membuatnya tak percaya.


“Untuk apa aku menuruti orang gila seperti dirimu. Hah?!” Omongan Zean membuat om Andra marah. Segera ia maju dan menghajar Zean sesuka hati.


Elo datang dengan beberapa anak buahnya, sempat syok dengan keadaan Zean. “Berhenti!”

__ADS_1


Kata-kata Elo menghentikan om Andra, laki-laki itu mendongak dan menatap nyalang pada Elo dan rombongannya.


Jika kau tanya apa yang terjadi selanjutnya, tentu saja aksi tendang-tendangan dan pukulan antar dua kubu itu. Ketika para orang-orang dari pihak om Andra kalah, lelaki yang merupakan adik dari pak Bobi Pratama itu mundur.  Menarik Sally dari tangan pengawal yang mencengkeram lengannya  dari tadi.


Isak tangis gadis itu menghentikan gerakan Zean. Semua hening. Takut-takut jika lelaki paruh baya itu nekad, karena sebilah pisau sudah berada di leher Sally.


“Lepaskan istriku!”  Zean maju beberapa langkah. Tapi, langkahnya terhenti.


“Tetap di posisimu, atau pisau ini melukai kulit istrimu yang mulus ini.”


Gadis itu semakin bergetar, air mata luruh tanpa mau berhenti. Jantungnya seakan diajak senam, debarnya mengalahkan saat bersama Zean.


Semakin Zean sakit melihat kondisi Sally. Istrinya tidak tahu apa-apa. Berpikir jika dirinya hanyalah kesialan bagi Sally, menikahinya bukan membuat bahagia justru membuatnya terus menangis.


Semua diam, Elo hanya bisa ikut geram di posisinya. Ingin melempar laki-laki tua tak tahu diri itu ke laut. Karena  hatinya ikut berdenyut sakit melihat Zean dan Sally.


“Berikan padanya.” Satu pengawal maju, membawa sebuah map menuju ke arah Zean berdiri.


Tangan kirinya menerima map berwarna biru tersebut, membuka dan membacanya. “Apa lagi ini?” tanyanya bingung.


“Tanda tangan di atas namamu!” perintah om Andra.


“Untuk apa? Aku tidak ada urusannya dengan Pratama Group,” elak Zean.


“Kau pikir pamanmu ini bodoh? Saat kau bekerja di perusahaan mertuamu, aku datang ke Pratama Group untuk merayu ayahmu. Tapi ternyata, kepemilikan  Pratama Group sudah berganti atas namamu, semenjak dirimu menikah!”


.


.


.


.


.


Bersambung….


Maacih kakak sudah mau membaca. jangan lupa like, komen dan hadiahnya. Dukungan kakak adalah smangat untuk aku. 😘

__ADS_1


Follow ig kang ketiknya @ukiii_21


__ADS_2