
udah pada baca bab 16 belum? kemarin bab curhat aku revisi jadi bab kisah mereka. cus baca dulu ya sblum bab ini. biar nyambung.
Happy reading.... π€.
***
Setelah berhasil melewati diskusi yang lumayan pelik dengan kedua mertua Sally, akhirnya keluarga Birawan sukses meyakinkan kedua besan mereka. Sebenarnya bu Anna tak tega untuk membawa Sally kembali ke kediaman Birawan. Mengingat, jika bu Lyra juga akan merasa kesepian tak ada teman. Tapi mau bagaimanapun juga, kondisi mental Sally lebih penting. Apalagi demi calon cucu mereka.
Berpamitan dengan kedua mertua dengan haru, Sally mau tak mau harus meninggalkan tempat yang terasa menyesakkan dada. Ingin sekali tinggal, karena bu Lyra juga memperlakukan ia dengan sangat baik. Tapi kembali lagi, ia tak ingin terus terbayang oleh Zean.
"Ma ... jaga kesehatan, ya. Nanti habis lahiran, kalau udah pulih aku bakal sering-sering ke sini lagi." Isak tangisnya ikut tak berhenti, ia berucap dengan sesenggukan. Bu Lyra sudah tak mampu bicara, beliau hanya terus menangis.
Pak Bobi hanya tertunduk sedih, meski beliau tidak terlalu banyak bicara, tapi menyayangi Sally melebihi anak sendiri. Dulu ia susah payah meminta Tomi merelakan Sally untuk dibawa ke keluarga Pratama, tapi tak menyangka jika ia tidak bisa menjaga menantunya ini.
"Pa ... jangan marah-marah lagi. Maafkan kakak, ya." Air mata pak Bobi tak bisa tertahan lagi, hatinya terenyuh mendengar Sally yang masih mau peduli dengan Zean, sampai harus mewakilkan diri meminta maaf. Padahal sudah jelas jika suaminya begitu bejad, menyakiti berulang tapi tak membuat Sally memiliki dendam.
"Kenapa kau berkata begitu, Sa. Apa kau tak marah padanya? Bahkan papamu ini sudah muak dengan dirinya yang terlalu sembrono. Maafkan papa jadi ikut menyakitimu." Direngkuhnya tubuh menantu satu-satunya itu, Sally semakin menangis.
"Aku sakit hati, Pa. Marah dan kecewa, tapi tak bisa membencinya. Aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan anak papa. Jika dia ingin kembali pada wanita itu, aku tak apa. Biarkan dia datang dengan membawa gugatan padaku. Aku tak akan menolak dan membenci."
Pak Bobi melepas pelukan, kedua tangan mencengkeram bahu Sally. "Tidak! Papa akan membunuhnya jika sampai menceraikanmu, dan kembali pada mantan kekasihnya itu. Biarkan dia sekarang pergi dan menyesali perbuatannya, sampai benar-benar sadar. Papa dan mamamu terlalu memanjakannya dari dulu."
Gadis itu menggeleng. "Aku tidak ingin egois, Pa. Gadis kecil itu juga anak kak Zean, dia juga berhak memiliki kakak sebagai ayahnya."
"Tapi anak di perutmu juga anak Zean. Dia juga berhak." Nada bicara pak Bobi memang lembut, tapi penuh penegasan.
Sally menggeleng. Menarik napas pelan, dan membuang. "Aku bisa mengurus anak ini sendiri. Kehidupan Sally tidak pernah kekurangan, Pa. Dia akan baik-baik saja, semua kebutuhan akan terpenuhi."
"Papa tidak pernah setuju. Sampai kapan pun, cuma kamu menantu kami."
Menatap lekat pada ayah mertua, Sally tak bisa berucap. Bibirnya bergetar, tak sanggup bicara lagi. Ia hanya mengangguk ragu. "Doakan semua ada jalan terbaik, Pa. Jangan pernah memaksa kakak untuk kembali padaku, jika suatu saat ia memutuskan untuk memilih yang lain, Pa."
"Sa ...." Bu Lyra menggeleng. "Zean sangat mencintaimu, bagaimana bisa kamu berpikiran jika dia akan meninggalkanmu? Mama yakin dia akan kembali, dan pasti mencarimu. Kita tidak tahu di mana dia sekarang, mungkin di rumah sakit. Kau lihat sendiri papamu kemarin malam lepas kendali, sampai membuat anaknya babak belur."
Bu Anna ikut menghampiri, mengusap lembut punggung Sally. "Semua mendukung hubungan kalian. Jangan pesimis, mami yakin menantu mami bisa menyelesaikan ini semua. Memberi kepastian pada kita semua."
Melirik bu Anna sekilas, Sally mengangguk. Gadis itu bimbang dengan keadaan rumah tangga saat ini, sebelumnya tidak pernah terpikir jika akan begini.
Terlintas kembali ingatan di danau dulu, Zean pernah berkata soal dirinya yang dulu.
__ADS_1
"Sa β¦ kelak, jika ada sebuah keburukan dariku yang baru kau ketahui, akankah kau mau memaafkanku?β
Kata-kata itu masih teringat jelas, kembali ia menitikkan air mata. Semua orang memeluk bersamaan, saling memberi kekuatan pada semua hati yang sama-sama hancur.
"Kita berangkat sekarang, agar tidak kemalaman. Belum lagi sekitar jembatan kota masih macet kata papimu," ujar bu Anna.
"Ada apa memangnya?" Bu Lyra bertanya, lantaran memang tidak tahu soal berita di televisi.
"Ada kecelakaan kemarin malam katanya." Pak Tomi menjawab sekilas, dan diangguki kepala oleh bu Anna.
"Kecelakaan beruntun, tadi pagi aku lihat berita sama bi Minah. Sekarang masih macet mungkin karena tim evakuasi belum bisa nyelamatin mobil dan pengendara yang tercebur ke sungai," imbuh bu Anna lagi.
"Kemarin malam?" Bu Anna mengangguk.
Deg!
Entah kenapa hati bu Lyra tiba-tiba berdegup tidak enak saat mendengar hal itu. Pikirannya langsung tertuju pada sang anak yang kebetulan juga tak ada di rumah kemarin malam.
"Pa ... telepon Zean, Pa." Bu Lyra langsung khawatir, menggoyang cepat lengan pak Bobi.
Pak Bobi menatap istrinya segera. "Ada apa, Ma? Tenang? Kenapa tiba-tiba panik?"
"Hubungi Zean, Pa. Hubungi sekarang." Wanita itu tidak menjawab, justru memukul kasar dada bidang sang suami. Semua orang ikut bingung dengan perubahan bu Lyra.
"Mungkinkah, kakak ipar ...." Dion menyela, seolah paham dengan perubahan bu Lyra.
"Enggak!" Sally ikut histeris, ia menjauh dari kumpulan keluarga. Dengan gemetar segera mencari ponsel dari sling bag yang menggantung di pundak. Saking gemetarnya, ponsel itu jatuh ke lantai saat baru ketemu.
"Biar aku aja, Kak." Dion dengan sigap mengambil ponsel kakaknya, karena ia tahu Sally akan kesusahan kalau harus mengambil benda di bawah.
Beberapa kali ponsel menempel di telinga, tampak dahi Dion berkerut membentuk beberapa lipatan. Menambah kadar kekhawatiran semua orang, tapi ia terus mencoba.
"Di mana kak Zean menginap dua hari lalu, Om?" tanya Dion yang tak berhasil menghubungi ponsel Zean.
"Om Bobi tidak tahu."
"Ya Tuhan ...." Kembali menekan nama Zean dari ponsel, tetap tidak terhubung.
"Ponselnya mati. Tidak bisa dihubungi sama sekali."
__ADS_1
"Pa ... kita ke jembatan kota, lihat evakuasi itu. Melihat bangkai mobil yang kecelakaan kemarin." Otak cerdas Dion benar-benar bekerja, murid baru kelas satu SMA itu memang jauh berbeda dengan sang kakak.
"Kakak ikut." Sally segera mengusap kasar wajah yang tadi penuh air mata, menghentikan langkah ayah dan adik.
"Sa ... hari mulai gelap. Di rumah sama mami. Lihat kondisimu, kau membawa dua nyawa, Sa."
"Taββ
"Mamimu benar, Sa. Biar papa saja yang ikut, tolong temani mamamu di rumah. Papa janji akan mencari suamimu." Pak Bobi menyela, dan ikut membujuk, tak mungkin ia akan membiarkan menantu dan cucunya pergi ke tempat seperti itu.
Ketiganya berangkat dengan satu mobil, ingin mengetahui kebenaran dari dugaan mereka. Meski hati pak Bobi masih sangat kecewa dengan Zean, ia juga tak akan rela jika melihat menantunya merasakan hal yang tak bisa membuat ia tenang.
"Doakan yang terbaik." Bu Anna memeluk kedua perempuan yang masih tinggal di teras, melepas kepergian para lelaki mereka.
"Kita tunggu di dalam." Keduanya mengangguk, lalu ikut melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Like dan komen kakak. π
__ADS_1
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah ya. Aamiin.
Selamat menjalankan puasa bagi yang menjalankan. Selamat istirhat, besok sahor kak. π