
Sudah rapi kedua orang tua Zean, sesuai obrolan mereka kemarin malam. Pak Bobi dan istri, akan mengunjungi kediaman adiknya.
“Ma ….” Zean berdiri, menghampiri ibunya yang sudah cantik dengan blouse hitam dan celana panjang senada.
“Mama pergi dulu, ya. Mungkin sore atau malam baru pulang.”
Sally ikut berdiri, sejak tadi keduanya hanya bercengkrama di sofa depan TV. “Hati-hati Ma. Salam buat semua yang di sana.”
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu membelai lembut kepala menantunya, lalu beralih pada cucu yang masih nyaman di perut. “Jaga cucu mama, oke?” Sally tersenyum.
“Ayo, Ma.” Pak Bobi datang dari arah tangga.
Semua menuju depan rumah, mengantar kedua orang tua itu pergi.
“Kalian baik-baik di rumah,” kata Pak Bobi.
“Baik, Pa,” sahut keduanya serempak.
Mobil meninggalkan rumah Pratama, menuju ke kawasan di mana Andra Pratama tinggal. Rasa ingin ikut menyelimuti hati Zean sebenarnya, tapi tak bisa. Bayangan perkelahian itu masih tercetak jelas, sakit sampai ke ulu hati.
“Masuk, Sayang.” Sally mengangguk, lalu kembali ke dalam rumah.
“Istirahat di sini aja, aku mau bantuin bi Minah buat beresin kamar di bawah, kita nanti malam pindah aja. Biar enak kalau kamu pengen jalan-jalan karena nggak bisa tidur.”
Sally hanya mengangguk, tidak banyak bicara.
***
Tanggal merah dipakai Elo untuk mendatangi toko kue di mana Alika membuka usaha, mantan teman sekelasnya itu sukses membuat dunia Elo berubah. Bagai seorang ABG yang mulai merasa kasmaran, bangun tidur ia sudah senyum-senyum sendiri mengingat percakapannya dengan Alika di telepon kemarin.
Mobil keluar dari area apartemen ia tinggal, melesat menuju kawasan jalan X.
Disambut riang oleh Elis, membuat Elo semakin menyukai bocah cilik itu. Tidak masalah jika Alika bukan seorang gadis lagi, Elo sadar jika dirinya juga bukan laki-laki yang bersih tanpa noda.
“Bisa aku bantu, Al?” Tak tega melihat Alika tengah kerepotan membuat beberapa adonan sendirian. Padahal, hari-hari biasanya ia dibantu dua pegawai wanita, tapi entah kenapa hari ini Elo tidak mendapati mereka.
Wanita itu hanya tersenyum, lalu menggeleng. “Sepertinya bukan aku yang membutuhkanmu, tapi Elis.”
Menoleh pada gadis cilik yang sejak tadi berada pada gendongannya, gadis itu sibuk memakan kue sampai pipinya yang gembul belepotan dengan krim.
Elo terkekeh, segera ia mencari tisu untuk membersihkan wajah Elis. “Kamu cantik seperti mamamu.” Duduk di sofa menurunkan Elis sebentar. Menunduk dan mengusap wajah yang belepotan dengan tissue.
Elis menggeleng cepat. “Om El, Elis tidak seperti Mama.” Menggigit kuenya lagi.
Kedua sudut bibir Elo tertarik ke atas, mendengar omongan gadis kecil yang mirip boneka itu. “Mama selalu bilang, kalau Elis lebih cantik darinya. Jadi … jangan samakan Elis dengan Mama.”
Elo tertawa renyah, betapa pintar anak wanita gebetannya ini. Lucu dan menggemaskan, membuat yakin dan tak ingin berpikir ulang jika harus menjadi ayah tiri untuk Elis.
“El ….”
“Eh, kenapa Om Elo memanggil Elis sama seperti Om?” Bulu mata lentik itu naik turun, seiring kedipan mata yang dilakukan.
“Bukankah namamu Elis? Mengangguk cepat. “Om suka memanggilmu dengan panggilan itu?”
“Kenapa?” Gadis itu antusias.
__ADS_1
“Biar kita sama dan kompak.”
“Kenapa harus kompak?” Tak ada habisnya Elis berceloteh, anak-anak memang selalu ingin tahu.
“Gadis pintar … kita harus kompak, buat bahagiain mama kamu. Oke?”
“Eumm ….” Mencoba berpikir, mencerna omongan lelaki dewasa yang semakin hari semakin dekat dengannya.
“Elis bingung?” Bocah itu mengangguk.
“Gini, om Elo jelaskan.” Kedua tangannya meraih tubuh mungil bocah itu, mengangkat dan menaruh di pangkuan.
“Elis lihat deh, Mama.” Manik mata hitamnya mengarah pada titik di mana Elo menunjuk. “Mama ‘kan kasihan kalau capek-capek sendiri, jadi biar nggak capek-capek banget, kita harus buat mama bahagia. Elis sayang ‘kan sama mama?”Mengangguk cepat lagi.
“Om juga sayang sama mama dan Elis. Jadi kita harus kompak bahagiain mama. Oke?”
“Oke Om.” Jempol mungilnya terangkat tepat di depan wajah Elo. Deretan gigi terlihat dari senyumnya.
“El, aku sudah selesai.” Alika datang setelah menyelesaikan adonan kue miliknya, tinggal menunggu matang dari oven.
“Aku sampai lupa menawari kamu minum, El.” Menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel.
“Tidak masalah, aku bukan tamu di sini. Aku bisa mengambilnya sendiri.” Alika tersenyum.
“Kau libur hari ini?”
“Ini tanggal merah Alika. Apa kau lupa?”
“Oh ya ampun, aku bahkan sering tidak ingat soal kalender. Maklum, aku bukan orang penting,” kekehnya membuat Elo semakin terpesona dengan sikap lembut yang Alika miliki.
“Mama—“ Turun dari pangkuan teman ibunya.
“Iya, Sayang.” Menyibak poni yang nyaris menutup kedua mata anak lima tahun itu.
“Om Elo bilang—“
Oh, tidak. Apa yang akan dilakukan gadis kecil ini. Suara batin Elo ketir-ketir.
“Om El bilang apa?” Membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Elis.
“Om Elo bilang … aku sama cantiknya dengan Mama.”
Huft … lega.
Alika terkekeh, merasa lucu dengan anak kecil yang lahir dari rahimnya itu. “Tentu, bahkan kau lebih cantik dari mama,” bela Alika. Sedetik kemudian, tatapannya berpindah pada Elo yang tampak kikuk. Mengalihkan pandangan, pura-pura minum.
“Apa Mama menyukai Om Elo?”
“Eh, kenapa bertanya semacam itu, Nak?” Jadi salah tingkah keduanya.
“Aku menyukai Om Elo, jadi Mama harus menyukainya.”
Meraup kedua pipi putrinya, menyelipkan rambut yang menjuntai mengena ke pipi. “Tentu, apa saja yang Elis suka, mama juga suka.” Melirik Elo lagi, semakin laki-laki itu salah tingkah.
Tiba-tiba bunyi oven terdengar, pertanda adonan kue sudah siap untuk diangkat.
__ADS_1
Alika meninggalkan keduanya di sofa, lalu kembali ke pantry.
***
“Kak, aku bosen.” Sally mengeluh di dekapan Zean. Laki-laki yang sibuk dengan ponsel itu mengalihkan perhatian.
“Mau jalan-jalan?” tanyanya.
“Kemana?”
“Terserah.”
“Eum ….” Bibirnya mengatup rapat, guratan di dahi menampakkan keseriusan. “Kita ke tempat Lisa yuk, Kak.” Sally antusias, mengingat sudah lama ia tak bertemu sahabat waktu SMA itu.
Sejenak menimang permintaan sang istri, maju mundur untuk memenuhi. Mengingat, siapa Lisa. Membuat Zean berpikir jika harus mempertemukan antar keduanya.
“Kak ….” Mulai merajuk, bibirnya sudah manyun duluan.
Zean menghela napas lirih, melirik jam sejenak, masih pukul tiga sore. Kedua orang tua belum kembali, itu berarti akan pulang saat malam nanti.
“Nggak lama-lama ya ….” Akhirnya menyerah. “Ini udah sore, kita harus pulang sebelum mama dan papa pulang.”
Sally mengangguk, segera ia beranjak dan bersiap.
Mobil meninggalkan rumah Pratama, melesat ikut bergabung pada padatnya jalan raya. Tampak binar bahagia jelas terpancar dari wajah seputih salju itu, Zean hanya mengulum senyum.
“Kau suka?” Menoleh dan mengangguk.
“Kakak jarang di rumah, aku nyaris tak pernah melihat dunia luar.” Sederet kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Sally. Sejak hamil memang ia berasa seperti burung dalam sangkar. Tidak bisa dan tidak boleh kemana pun.
“Maaf, ya.” Tatapan mata hitam itu begitu teduh, Sally hanya bisa mengangguk dan memaklumi.
Ponsel bergetar, memecah keheningan. Sally melepas genggaman Zean. Mengecek pesan dari Lisa.
Teman SMA itu akhirnya kuliah di kampus yang sama dengan Leon, menjadikan dia lebih dekat dengan Sally. Hanya saja, Lisa tinggal di apartemen yang sama dengan Leon, membuat Zean tak pernah mengizinkan istrinya mengunjungi Lisa sendiri.
Terkadang terbesit keirian di hati Sally, ingin rasanya ikut kuliah seperti Lisa. Tapi mau bagaimana, kondisi tidak memungkinkan. Meski tidak pernah rewel, Zean terlalu posesif untuk membiarkan Sally beraktivitas.
.
.
.
.
.
.
.
. Bersambung….
Aku kok jadi ngerasa ini muter-muter. Hadeh … 🤧
__ADS_1
Langsung ke konflik aja kali ya, biar kagak panjang2 babnya.