Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 15


__ADS_3

Dua hari terlewat sudah. Hari ini harusnya hasil uji itu keluar. Selama dua hari, Zean harus tetap fokus pada pekerjaan,  atau akan bertambah runyam jika terjadi sesuatu dengan Pratama Group.


Terjadi perang dingin antara Elo dan Zean sejak saat itu. Lelaki keturunan keluarga Bagaskara itu akan bicara jika ada pekerjaan atau jadwal meeting mengingatkan Zean, begitu sebaliknya. Zean sibuk dengan urusannya sendiri.


Pesan masuk membuat ponsel bergetar, segera Zean melepas kacamata yang sejak pagi bertengger di pangkal hidung. Membuka ponsel, dan membaca. Ternyata berisi soal hal yang ia tunggu dari kemarin.


Menyelesaikan sisa pekerjaan, merapikan meja dan bergegas pulang. Langkahnya terhenti di depan meja Elo, kakak sepupunya itu hanya melirik dengan malas.


“Aku tak pernah menyangka, kau akan berkhianat denganku demi seorang wanita.” Sindiran sinis dari Zean hanya sekian detik menarik perhatian Elo, putra bungsu keluarga Bagaskara itu hanya menganggap angin kebetulan lewat dan berlalu.


Melanjutkan langkah setelah berucap, sungguh hatiny kesal  dan berdebar saat ini. Harap-harap cemas dengan hasil yang ada. Ia tak akan tahu langkah apa selanjutnya jika terbukti bersalah.


“Semoga tidak.” Kata-kata itu sudah ia gumamkan berulang kali, dari ruang kerja sampai menuju rumah keluarga Pratama.


Pintu gerbang terbuka, mobil berwarna putih milik Zean segera masuk dan parkir di halaman tak jauh dari teras. Tampak mobil ayah dan ibu parkir seperti biasa, dan satu lagi. Keluarga Birawan pasti di dalam.


Sesuai dugaan, netra hitam bening yang Zean miliki menangkap sosok kedua mertua dan adik iparnya sudah duduk di sofa, Sally berada di antara ayah dan ibu dengan wajah tertunduk sedih.


Pak Bobi menatap tajam, wajahnya sudah memerah menahan amarah.


“Pa—“


“Buka!” Sapaan dari Zean sudah dipotong lebih dulu, membuat lelaki itu dengan gemetar membuka amplop di atas meja.


Masih dengan posisi berdiri, sambil terus mengatur napas. Berharap jika semua baik-baik saja. Tangannya semakin bergetar, mata membeliak seketika membaca hasil tes DNA.


Pak Bobi berdiri seketika, merebut paksa kertas itu. “Pergi! Kemasi barangmu dan tinggalkan keluarga Pratama sekarang dan sampai seterusnya!”


Bruk!


Seketika Zean bersimpuh di kaki lelaki yang telah membesarkannya, menangis saat itu juga meminta pengampunan.


“Pa … maafkan Zean. Itu tidak benar, aku tak percaya. Semua itu salah, Pa.”


“Papa juga berharap jika semua itu salah, Ze. Tapi bukti menyatakan semua.” Nada suara pak Bobi ikut bergetar, terasa begitu sakit hati lelaki paruh baya itu.


“Bohong, Pa. Itu tidak benar.” Zean semakin menangis, mengencangkan pelukan di kaki pak Bobi.


“Bagaimana kau yakin jika itu salah? Papa tanya sama kamu, apa kau tak pernah tidur dengan wanita itu?”


Zean membisu, bibirnya kelu tak bisa menjawab.  “Jawab!”

__ADS_1


Menggeleng cepat, Zean tak mampu menjawab. “Aku lupa, Pa. Hubunganku dengan Alika sudah berlalu enam tahun lalu.”


Bruk!


Kaki beliau yang jenjang menendang Zean saat itu juga. “Lepas! Kau bukan anakku lagi!” Suara pak Bobi makin meninggi, seiring isak tangis pecah dari ketiga wanita yang ada di sana. Pak Tomi segera memeluk anak dan istri secara bersamaan. Sedang bu Lyra sudah semakin terisak tak karuan.


“Pa … biarkan aku sekali lagi melakukan tes DNA lagi. Bisa saja itu salah.”


“Tidak! Apa kau pikir papamu ini mudah diajak untuk bermain-main? Papa kecewa sama kamu, Ze! Bisa-bisanya kau membuat luka mendalam di hati kami. Pergi, dan tinggalkan semua ini, termasuk istrimu.”


“Enggak!” Zean mencoba berdiri, ingin menghampiri Sally yang terus menangis tapi sudah dihalangi lebih dulu.


Bruk!


Tubuh Zean terpental dari posisi semula, karena mendapat tendangan kasar dari ayahnya lagi. “Pergi, Ze! Kami tidak memiliki anak durhaka sepertimu! Segera hapus nama Pratama dari deretan namamu!”


Bugh! Kembali pukulan diterima, semakin lama semakin banyak. Zean tak bisa melawan, apa saja hukuman yang diberikan pak Bobi selalu tak bisa ia hindari.


“Harusnya, aku membiarkan dirimu mati di tanganmu sendiri saat di rumah Andra saat itu. Daripada harus menanggung malu karena ulahmu. Papa marah sama kamu, kecewa!”


PRANG!


“PAPA!”  Bu Lyra berdiri karena syok, sedetik kemudian langsung ambruk tak sadarkan diri. Bu Anna dengan sigap menangkap besannya, berteriak pada pak Bobi untuk menyudahi itu.


“Ma ….”


“Pergi! Jangan sentuh istriku!” Menatap Zean dengan berapi-api, sungguh pak Bobi tidak pernah semurka itu sebelumnya.


“Pergi! Atau kau kubunuh sekarang juga!” ucapnya kembali, sebelum menggendong bu Lyra pergi.


“Bob … tenanglah.” Pak Tomi beranjak dari duduk, melepas pelukan dari Sally sejenak.


Zean bingung, ingin sekali ia menghampiri ibu dan istrinya. Tapi terasa tak sanggup. Darah mengalir dari ujung kepala sebelah kiri, membuat ia tiba-tiba pusing.


“Kak, aku antar ke rumah sakit.” Dion bergegas menghampiri kakak ipar, menawarkan pertolongan. Sebisa mungkin Zean menggeleng. Berjalan dengan tertatih.


“Temani kakakmu, aku tak bisa menemani. Sampaikan maafku padanya.”


“Nggak, Kak Ze nggak mungkin nyetir kondisi seperti ini. Bahaya, Kak.”


“Aku tak apa, Di. Kembalilah.” Zean ngeyel akan ke rumah sakit sendiri, meski dengan kondisi babak belur saat itu.

__ADS_1


“Aku papah sampai mobil.”


****


Meninggalkan rumah Pratama dengan menahan sakit, air mata tak bisa berhenti untuk jatuh saat ia kembali mengingat hasil tes DNA dengan Elis menandakan positif.


Ini terlalu gila bagi Zean, setelah ia merasa sudah baik-baik saja meninggalkan masa lalu. Tapi ternyata fatal untuk kehidupan sekarang.


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, sambil terus menahan agar tetap sadar sampai rumah sakit.


Tepat melewati jembatan yang cukup panjang, tiba-tiba sorot lampu motor yang melawan arus menyilaukan mata. Zean kaget, reflek banting setir ke arah kanan.


BRAKK!


Mobil dari belakang yang tengah melesat begitu cepat, menabrak dengan kencang. Mobil Zean terpental menghancurkan pembatas jembatan. Sedang mobil yang menabrak berputar putar di tengah jalan menyebabkan kecelakaan beruntun.


Sa … maafkan aku. Inikah akhir kisah kita, Sa? Andai waktu terulang, aku akan memilih menunggumu tanpa bermain wanita sampai hari pernikahan kita tiba. Atau mungkin aku akan menolak perjodohan itu, agar tidak menyakitimu. Maafkan aku, Sa. Maaf.  Jaga anak kita, ku harap dia tak pernah membenciku sebagai ayahnya.


BYURR!!


Mobil masuk ke dalam sungai beserta pengemudinya. Orang-orang yang di atas jalan sudah ramai dan suara sirine mobil polisi terdengar.  Semua heboh, beberapa saksi mata ikut gemetar takut melihat insiden tragis saat itu. Satu mobil tenggelam, satu mobil rusak parah beserta pengemudi meninggal di tempat, dua mobil yang juga saling bertabrakan mengakibatkan pengendaranya luka parah dan tak sadarkan diri.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung ....


Like dan komen, gratis kak. Hehehe….


Mau komen apa? Yuk tulis, aku pengen baca isi hati pembaca. Wkwkwk….

__ADS_1


__ADS_2