
"Biar aku menggendong Aksa, Sayang." Zean menghampiri Sally yang tengah bermain dengan anaknya ditemani Naya. Mereka sedang duduk nyaman di gazebo taman.
Ayah Aksa itu datang dengan tiga gelas jus jeruk dan sepiring camilan berada di satu nampan.
Naya mengambil lebih dulu, meneguk beberapa kali sampai dahaganya terasa hilang. "Kakak yang bikin ini?" Dia baru bertanya, padahal sudah hampir habis setengah gelas.
Zean duduk di samping Sally sambil mencolek pipi gembul anaknya. "Bukan, Bi Mur tadi yang buat."
"Mana ada, Nay, Kak Ze bikin jus jeruk." Sally menimpali sesukanya, membuat Zean cemberut.
"Ya, ya. Terkadang tidak semua hal bisa dikerjakan Tuan Muda Pratama." Naya meledek santai, lalu kembali minum.
"Cih! Bukankah kau juga sama, Nona Muda Pratama?" Sindiran Zean membuat Naya mencebik. Wanita itu menaruh gelas, lalu beranjak dari tempat.
"Mau ke mana?" Zean bertanya, merasa heran karena tiba-tiba sepupunya pergi.
"Pulang, Kak. Eza dari kemarin sama Papa. Ini weekend, biasanya dia ngehabisin waktu sama aku."
"Kenapa nggak ke sini aja?" Zean bertanya konyol.
Sally memukul lengan Zean membuat lelaki itu mengaduh.
"Kok mukul, sih, Sa?" Wajahnya yang tampan cemberut, justru membuat Sally gemas dan memukulnya lagi.
Pria itu bedecak. "Aksa, lihat mamamu, KDRT sama Papa." Zean mengadu pada bayi kecil yang sejak tadi hanya menggerak-gerakkan tangan sambil senyum-senyum lucu.
"Udahlah, Kak. Aku balik, ya." Naya beranjak, masuk ke rumah untuk berpamitan pada anggota keluarga yang lain.
Tinggal dua orang itu masih di gazebo menikmati hari yang cerah dipadu semilir angin menyejukkan raga. Sengaja bermain dengan Aksara untuk mengeratkan hubungan keduanya.
"Mau minum?" Zean menawari.
Sally menggeleng, lalu kembali sibuk pada anak di pangkuan. Dia harus memastikan Si Kecil tetap hangat atau tidak kepanasan.
Zean mengedarkan pandangan ke seluruh sisi taman, dedaunan hijau dipadu beberapa warna bunga yang menyegarkan mata. "Apa kita perlu beli rumah, Sa?"
Gadis itu memalingkan wajah, menatap Zean yang tengah memandang lurus ke depan. Tangannya meraba rahang tegas yang dimiliki sang suami, membuat lelaki itu mengarah padanya.
"Kakak pengen tinggal sendiri?"
Zean diam. Ia tak yakin. Banyak hal yang harus dipikirkan jika membawa keluarga kecilnya membangun keluarga sendiri di rumah baru. Waktunya tak banyak di rumah, takut jika Sally kesepian. Belum lagi jika Sally kuliah, mereka akan meninggalkan Aksara.
"Sayang, kamu mau kuliah tahun ini?" Zean tak lekas menjawab pertanyaan Sally, justru ganti pertanyaan sambil melirik ikat rambut yang mulai melorot. Jari-jarinya mengumpulkan surai panjang milik istrinya lalu mengikat rapi.
"Ehm, iya. Kalau Kakak ngizinin." Sally menjawab tanpa menoleh. Dia masih sibuk bermain dengan anaknya yang mulai menguap, membiarkan Zean menyelesaikan ikatan.
Zean menghela napas, mengusap kepala Sally beberapa kali. Dikecupnya pelan, lalu berkata, "Aku bingung harus menjawab apa. Pendaftaran kuliah tinggal sebentar lagi, Aksara masih butuh kamu. Apa iya kamu mau ninggalin dia?"
Sekilas Sally menatap sang suami, lalu beralih pada malaikat kecil yang sedang menikmati makanannya dan mulai menutup mata.
"Kalau gini, aku juga bingung, Kak."
Zean justru terkekeh karena merasa lucu dengan keteguhan Sally yang ikut goyah.
"Kok ketawa?" Alis Sally terangkat sebelah membuat Zean berhenti.
"Tinggal di rumah Pratama dulu aja kalau gitu, biar Aksa sama neneknya. Kamu juga tahu, setelah ini aku harus kembali ke Pratama Group. Kasihan Elo."
Sally mengangguk, tersenyum manis sambil memeluk erat anaknya.
__ADS_1
"Kapan pendarahanmu selesai?"
"Masih lama!" Intonasi yang terdengar berubah ketus, Sally sewot dengan ulah suaminya yang seolah tak tau waktu dan tempat.
"Berapa lama?"
"Tiga bulan," jawab Sally secara asal. Meskipun sudah selesai, tetapi Sally enggan mengaku.
Zean terhenyak, merasa tidak ingin percaya. "Lama sekali, kamu bohong padaku."
Segera lelaki itu mengeluarkan ponsel mencari hal itu lewat internet.
"Kamu membohongiku." Zean menatap tajam, membuat Sally terkikik sambil menutup mulut, takut jika tawanya lepas membangunkan Aksara.
"Udah, lagian udah punya anak masih mikir gituan. Urus dulu satu ini."
"Memangnya kenapa? Apa hubungannya? Itu kebutuhan kali, Sa."
Sally mencebik mendengar alasan Zean.
"Bukankah kau juga suka?" Zean tersenyum smirk usai mengatakan kalimat itu.
Sally memalingkan wajah. Dia takut jika Zean sampai melihat pipinya yang putih tengah bersemu merah karena malu.
Zean memeluk istrinya dari belakang, ikut mendekap Aksara dalam jangkauan.
"Dulu, berapa banyak wanita yang kamu tiduri, Kak?"
"Kenapa bertanya itu?" Zean sedikif kaget memdengar pertanyaan istrinya.
"Tidak apa, cuma ingin tahu saja."
Zean diam sesaat, lalu menimpali, "Apa kamu takut, aku kena penyakit? Tenang aja, aku bebas dari hal itu. Check up rutin dari dulu."
"Emm ... lupa. Tapi hampir semua kekasihku sepertinya." Ayah Aksa itu menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sally memutar kepala, menajamkan mata tidak suka. "Termasuk Alika?!"
Cup!
Bibirnya yang mengerucut sewot, lebih dulu dilahap habis suaminya.
Sally mengusap kasar bibirnya yang basah, menjauhkan diri dari Zean.
"Sepertinya Alika tidak termasuk. Dia dulu terlalu polos. Aku tak tega kayaknya." Bahu Zean naik ke atas seolah tak ingat sepenuhnya.
Sally beranjak, beringsut maju meninggalkan Zean. Kesal sendiri mendengar jawaban suaminya. Padahal, tidak ada yang menyuruhnya bertanya soal masa lalu tadi.
"Sa, mau ke mana?" Zean berteriak setengah lantang, lalu segera mengejar istrinya.
"Sa, kenapa marah? Tadi kamu nanya. Ya, aku jawab, gimana, sih."
"Pergi, Kak!"
"Lhoh, kok malah ngusir. Sa, maafkan aku."
Sally tidak peduli. Ia terus melenggang pergi masuk ke rumah.
"Sa, maafin dong." Zean terus bicara sedang Sally abai tak peduli.
__ADS_1
Mereka melewati ruang tengah. Membuat semua keluarga yang tengah berkumpul jadi saling memandang heran.
"Ada apa mereka?" Bu Lyra lebih dulu membuka suara.
"Paling juga cemburu, Tan." Dion menimpali sambil di posisi lesehan di lantai menikmati kacang kulit di atas meja.
.
Menidurkan Aksara di box bayi kamar sedang Zean tak berhenti ikut ke mana saja Sally berpindah. Sudah seperti anak ayam mengikuti induk membuat Sally jengah.
"Apa sih, Kak? Jauh-jauh, risih!" ketusnya sadis membuat Zean semakin tak bisa tenang.
Dipeluknya paksa tubuh sang istri. Tak peduli seberapa banyak ia meronta. "Aku akan melepaskanmu kalau cemburumu sudah hilang."
"Siapa cemburu?!" Masih terus meronta.
"Kamu cemburu dengan masa laluku, 'kan?"
"Konyol! Mana mungkin," kilahnya tak mau diam.
"Jangan kau kira aku bodoh, Sa. Sudah setahun aku menikah denganmu. Kau kira aku tak tahu dirimu yang suka menyembunyikan semuanya?"
Gadis itu mendongak. Tatapan mereka bertemu. Manik hitam bening itu menembus masuk ke dalam retina Sally. Membuat bulir kristal meleleh lebih dulu tanpa dipaksa.
"Maaf, Sa ...." Suara Zean lirih. Didekapnya semakin erat tubuh Sally yang mulai bergetar.
Ibu Aksa itu menggeleng, mengusap kasar wajah yang sempat basah. "Itu juga salahku, Kak. Tak seharusnya aku membahas masa lalu."
"Berjanjilah padaku tak akan kembali seperti dulu."
Zean memejamkan mata. Mengecup lama puncak kepala Sally. "Hanya dirimu. Kamu dan Aksara yang terpenting bagiku. Aku tak akan membagi cintaku, apalagi pada hal konyol semacam itu. Jangan membahasnya lagi jika kau tahu itu membuatmu sakit."
Kedua tangan seputih salju itu mengulur ke wajah Zean. Lelaki itu bergeming dan menutup mata menikmati sentuhan tangan istrinya.
"Aku mencintaimu, Kak. Aku mencintaimu ... Zean Aditya Pratama."
Zean menunduk. Memangkas habis jarak keduanya. Ciuman lembut mendarat berubah sesapan dan pagutan antara mereka. Menyalurkan hasrat, mencipta rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh. Mereguk nikmat dan manisnya cinta bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....