Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 55: Perjalanan


__ADS_3

Alarm dari ponsel berbunyi. Zean meraba-raba meja kecil yang ada di samping tempatnya tidur. Pria itu menyipitkan mata untuk melihat angka di layar berukuran lima inci tersebut.


“Baru jam enam.” Zean bergumam sambil mengucek mata. Satu tangannya mengembalikan ponsel, lalu memalingkan wajah kala sudah sadar sepenuhnya. Dilihatnya Sally masih lelap di alam mimpi, membuat garis bibir Zean melengkung layaknya bulan sabit.


Pria itu mendekap, lalu berbisik. “Gadis Kecil, bangun. Sudah pagi.” Pertama kalinya dalam perjalanan pernikahan mereka, Zean membangunkan sang istri. Biasanya, pria itu akan membiarkan Sally bangun sesuka


hati.


Udara sejuk khas pegunungan membuat Sally enggan melakukan hal yang diperintahkan Zean. Perempuan itu hanya menggeliat dan menarik selimutnya lebih ke atas sampai menutup leher.


Zean yang melihat kelakuan istrinya berdecak. Kemudian, pria itu kembali menggoyang badan Sally dan terus membangunkan. Kicauan burung dan cerahnya sinar mentari membuat Zean berpikir akan sayang jika melewatkan momen seindah itu.


“Sa, kau bilang ingin melihat matahari terbit? Kenapa susah sekali bangun? Di luar sangat cerah.”


Tanggapan Sally hanya gumaman malas. Perempuan itu benar-benar tidak ingin menyudahi semua mimpinya.


Zean yang mulai lelah dan gemas akan kelakuan sang istri, mulai bersikap jail. Dia sengaja menekan tubuh Sally kuat-kuat agar gadis itu tidak bisa bernapas.


“Kak Ze, lepas!” Awal-awal Sally hanya menggeliat. Akan tetapi, akhirnya gadis itu bangun dan memukuli Zean.


Pria yang jadi pelaku utama tersenyum senang melihat iris kecokelatan milik sang istri. Dia memberi kecupan singkat. “Kau bilang ingin lihat matahari terbit di puncak? Ayo, bangun.”


Perempuan dengan wajah bantal itu masih cemberut. Namun, suaminya tidak menanggapi dan makin senang melihat tampilannya demikian. Sally memilih bangun. Dia duduk dan merentangkan tangan ke udara lalu bergerak kanan dan kiri bergantian.


“Badanku pegal semua gara-gara Kakak.” Gadis itu mengomel-ngomel sembari mencari pakaiannya, sementara Zean yang menyangga satu kepala tertawa kecil sambil mengusili.


“Berhenti menyentuhku, Kak. Kamu bilang mau lihat pemandangan. Pakai bajumu.”


“Harusnya yang bilang seperti itu aku, Gadis Kecil.”


Sally memutar matanya malas menanggapi Zean. Akan tetapi, tangannya masih bergerak aktif memakai pakaian dengan benar. Setelah usai, dia turun dari ranjang dan menuju pintu balkon tanpa alas kaki.


Hawa  dingin sempat menusuk kulit saat kaki mulusnya memijak lantai. Namun, hal itu makin membuatnya sadar dan seluruh kantuk hilang.


Zean membuntuti. Pria itu hanya memakai celana piyamanya tanpa atasan. Sampai balkon, dia memeluk istrinya dari belakang.


“Bagus, Kak.” Tanpa menoleh, Sally bicara. Tatapan matanya lurus ke depan menikmati sang surya bertengger cantik di langit.


Kecupan mendarat di pipi. Zean berbisik, “Aku tidak salah mengganggu tidurmu, kan?”


Sally membisu. Dia terus menikmati hangat sinar mentari sambil menumpu lengan sang suami. Dua insan itu membiarkan hawa dingin bercampur rasa hangat menerpa kulit bersamaan bunga-bunga cinta makin bersemi di hati.

__ADS_1


***


Matahari mulai merangkak naik saat dua insan keluar dari vila dan bersiap pergi sesuai omongan Zean kemarin malam. Sally berhenti melangkah saat melihat satu motor trail sudah teparkir di halaman. Zean lekas mengambil satu helm dan menyerahkan pada Sally.


Gadis itu diam. Dia seolah masih berada di pusaran kebingungan melihat apa yang didapat saat ini. Alhasil, tingkahnya itu mengundang Zean bicara. “Pakai.”


“Ini motor siapa, Kak?”


“Motor oranglah. Yang jelas bukan punyaku.”


“Kakak dapat dari mana?”


Zean mengganjur napas sambil melangkah maju. Dia membuka pengait helm, lalu memakaian penutup kepala itu pada sang istri. “Apa pertanyaanmu itu penting? Ayo, naik.”


“Tunggu!” Satu tangan Sally mencekal lengan suaminya. “Kakak bisa naik ini?”


Zean tertawa melihat tingkah Sally. Dia memutar badan, lalu menangkup bahu sang istri dengan dua tangannya. “Bisa, Sayang. Jangan takut dan jangan khawatir. Aku tidak akan membawamu kecelakaan.”


Bibir Sally mengatup. Dua matanya masih mengerjap lamban seolah tidak akan yakin meski Zean bilang bisa mengendarai. Pikiran Sally sudah berputar liar dan memikirkan hal yang bukan-bukan.


“Sudah, ayo! Nanti makin panas.”


Mau tidak mau, Sally menurut. Dia naik perlahan sambil berpegangan bahu sang suami. Setelah bokongnya mendarat sempurna, Zean menarik tangan Sally untuk melingkar di pinggang.


Tiga puluh menit mereka lewati dengan menyusuri jalanan sambil melihat pemandangan. Sally langsung lupa akan rasa takut ketika keindahan tersuguh di depan mata. Sesekali dia melepas pegangan dan mengambil foto memakai ponselnya.


Tepat ketika masih sibuk membidik objek sana sini, motor berhenti. Gadis itu terperanjat. “Kak, kenapa?”


“Turun, sudah sampai.”


Pandangan Sally bergeser sedikit ke arah kiri. Dia berdecak melihat hamparan kebun teh yang tampak hijau. “Ini sungguh luar biasa.”


“Ayo berkeliling, Gadis Kecil.”


Perempuan sembilan belas tahun itu turun dengan semangat. Dia menggandeng tangan Zean dan bersiap memasuki kawasan perkebunan. Sesekali meminta difoto saat sudah berada di tengah-tengah pohon teh. Senyum Sally tak pernah surut dan terus mengembang hingga membuat Zean tertular.


Dua manusia itu mulai lelah setelah berputar sana dan sini. Zean mengajak sang istri beristirahat di warung terdekat. Sebotol air mineral langsung habis dalam beberapa kali tegukan.


“Mau makan?” Zean bertanya pada istrinya yang masih mengatur napas.


“Boleh, Kak.”

__ADS_1


“Tunggu di sini, aku akan memesan.”


Sally mengangguk dan kembali minum. Rasanya seluruh tubuh seperti kehilangan cairan hanya untuk berjalan-jalan. Dari tempatnya duduk, dia melihat Zean mendekati pemilik warung.


“Kak Ze, mi instant pakai telur.”


Zean menoleh, lalu tampak berbincang lagi pada pemilik warung. Tidak berselang lama, pria itu datang menghampiri. “Kau bilang apa?”


“Aku mau makan mi instant dengan telur, Kak.”


Dua mata Zean mendelik. Ada lagi permintaan aneh sang istri. “Ulangi lagi.”


Sally meringis saat mendapat tatapan tajam dari Zean. Akan tetapi, keinginannya mencapai level akut. Alhasil, gadis itu berusaha merayu. “Iya, Kak. Itu enak. Pesankan aku itu. Aku mohon.” Dua telapak tangan Sally bertemu, lantas terangkat sebatas hidung. Mata perempuan itu berkedip-kedip cepat secara sengaja.


“Tidak. Pesan yang lain.”


“Please, Kak. Aku mohon, suamiku.”


Kalah! Zean akhirnya tidak bisa menolak kemauan Sally. Pria itu membuang napasnya dari bibir, lalu kembali ke pemilik warung dan memesan permintaan istrinya.


Tidak berselang lama. Dua mangkuk mi instant sampai di hadapan mereka. Sally langsung sigap menikmati, sementara Zean masih melakukan banyak pertimbangan untuk memakannya.


“Serius ini dimakan?”


Sally nyaris tertawa dan tersedak mendengar gumaman suaminya. Gadis itu mengaduk mi milik Zean dengan sumpitnya. “Iya, Kak. Boleh makan ini, tapi jangan banyak-banyak dan terlalu sering.”


“Aku tidak pernah makan seperti ini.”


Sally berdecak. “Itu karena Kakak pilih-pilih makanan.”


“Bukan pilih-pilih, aku sayang kesehatan.”


Sally menghela napas. Dia tidak mungkin membuang waktu untuk berdebat. Gadis itu meraih sumpit baru, lalu memaksa Zean memegangnya. “Coba dulu. Nanti kalau tahu rasanya, ketagihan.”


.


.


.


Follow instagram uki, ya: ukiii__21

__ADS_1


info update, visual Kak Ze, ada di sana semua.


__ADS_2