
Berjalan tergesa memasuki rumah keluarga Pratama. Tak peduli dengan perut membesar yang harusnya ia jaga dengan hati-hati. Rasa sakit membuat Sally lupa pada kondisi tubuh saat ini, ntah benar atau salah kabar itu, Sally selalu tak mau mendengar apa pun dari Zean jika sudah menyakitkan hati.
“Sa … ada apa?” Bu Lyra dan pak Bobi sedang berada di sofa tamu, langsung menghampiri menantu satu-satunya. Gadis itu hanya menggeleng, dan terus menangis.
“Bi … tolong bawakan air kemari!” Pak Bobi ikut berteriak, tentu saja beliau panik.
“Zean mana? Kenapa pulang sendiri?” Menggeleng lagi, meski yang bertanya ayah mertua.
Saling lirik, tuan dan nyonya Pratama itu tampak ikut bingung. Pak Bobi mengedikkan bahu, sedetik kemudian menuntun kedua perempuan itu untuk duduk di sofa.
Bi Minah datang dengan segelas air putih, ikut tertegun melihat istri tuan mudanya. Ingin bertanya kenapa, tapi tak berani. Pak Bobi sudah pasang wajah berang, dan beliau masih menunggu penjelasan dari si menantu.
“Minum, ya.” Segelas air bening dari gelas kaca diteguk habis oleh Sally. Beberapa kali mengatur napas, merilekskan diri karena perut sudah mulai terasa kram. Stress berlebih tak baik dengan kondisi diri dan anak yang ada di perut.
“Ma … apa kak Zean dulu tukang tidur dengan perempuan?”
Kata-kata Sally tak dimengeri bu Lyra, tapi begitu terasa menusuk hati.
“Sa … kamu bilang apa?”
“Kak Zean, Ma … apa dia dulu suka tidur dengan perempuan, terutama pacar-pacarnya?” Kembali bertanya, meski di sisa isak tangis, Sally mencoba bicara sejelas mungkin.
“Mama tidak tahu, Sa. Zean tidak pernah cerita jika pernah punya pacar. Ada apa sebenarnya?”
Kembali gadis itu menangis, bu Lyra segera memeluk bingung.
“Ma … kata kak Elo, Kakak punya anak dari mantan kekasihnya. Dan wanita itu adalah Alika, perempuan yang pernah dikenalkan saat makan malam beberapa hari lalu.”
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung kedua orang tua itu berdetak lebih kencang. Syok berat mendengar ucapan Sally. Anak? Bagaimana bisa, selama ini Zean tak pernah membicarakan soal wanita. Dan kenapa tiba-tiba ada anak. Bu Lyra ikut menangis, hatinya begitu ngilu.
“Pa ….”
“Papa perintahkan orang untuk mengurusi kasus ini. Tapi sebelumnya, di mana Zean?” Sally hanya menggeleng, ia tak sanggup bicara lagi.
Tepat pak Bobi hendak beranjak, pintu terbuka dan Zean masuk dengan tergesa. Peluh merembes membasahi kemeja serta hampir seluruh dahi, beberapa luka memar terlihat di berbagai sisi.
“Sa ….” Segera menghampiri sang istri yang ada di pelukan ibunya, tapi pak Bobi lebih dulu menarik dan mengajak
keluar.
“Kita ke rumah sakit, lakukan tes DNA.”
Deg!
__ADS_1
Zean ikut kaget, ternyata Sally sudah lebih dulu menceritakan hal itu. Padahal belum tentu benar, ia terlalu gegabah menanggapi omongan Elo.
“Pa … aku mau ketemu Sally, Pa. Lepasin Zean!” Sebisa mungkin Zean meronta, ia harus tahu kondisi Sally.
“Jangan harap bisa menyentuhnya, sebelum semua terbukti kau tidak bersalah.”
“Tapi, Pa. Dia istriku!”
Tak peduli, pak Bobi terus menyeret Zean sampai masuk ke mobil. Melempar tubuh anaknya ke kursi belakang dengan kasar, membuat Zean sampai meringis kesakitan.
“Pa … semua itu tidak benar. Jangan percaya begitu saja.” Masih terus menghalangi sang ayah, saat mobil mulai meninggalkan rumah.
“Papa memang tidak bisa percaya begitu saja. Maka lebih baik kita lakukan tes DNA sekarang. Kabar ini terlalu mengejutkan buat papa dan mama, Ze. Bisa-bisanya selama ini kau membohongi kami.”
Wajah Zean langsung pias, pak Bobi hanya melirik dari spion kecil yang menggantung di atas kemudi. “Jadi benar, selama ini kau menjalin hubungan dengan banyak perempuan. Bahkan sampai meniduri mereka.”
Zean langsung kicep, wajahnya menunduk lesu. Pak Bobi menghembus napas kasar. “Apa kau siap untuk mati, Ze?”
Deg!
Memberanikan mengangkat wajah. Ia hanya menatap wajah lelaki paruh baya yang selalu membimbingnya menjadi lebih hebat itu dari kursi belakang. Pak Bobi tak ingin menoleh sedikit pun, Zean tahu jika kesalahan terlalu fatal, ayahnya tentu tak akan memberi maaf.
“Aku tak ingin kehilangan anak istriku, Pa. Kali ini, tolong maafkan aku.”
“Ze … apa selama ini papa terlalu membebaskan dirimu, sampai tega membawa masalah besar begini. Jika sampai ini benar, apa yang akan kau lakukan untuk mengembalikan muka papa di hadapan keluarga Birawan.”
Diam. Zean tak bisa berkata-kata. Bahkan mungkin sampai kapan pun itu, ia tak bisa menebus jasa besar keluarga Birawan yang telah membesarkan sang ayah sampai bertemu dan kembali ke keluarga Pratama.
***
“Om ….” Tangan sudah terangkat sebelah, pertanda tak butuh sapaan atau penjelasan apa pun.
“Di mana ruangan bocah itu?”
“Baru dipindahkan di ruang inap, Om. Operasi baru saja selesai.”
“Bawa kami ke sana.”
Elo hanya mengangguk, lalu mengarahkan jalan. Tak ada sedikit saja rasa bersalah pada Zean, pikirannya mungkin sudah penuh dengan kehidupan Alika dan Elis, sehingga lupa jika selama ini ia seperti perangko dan amplop yang tak bisa dipisahkan.
Tiba di kamar VIP, tampak seorang anak kecil terbaring lemah lengkap dengan beberapa peralatan medis menempel di berbagai bagian tubuh. Alika tak ada, mungkin wanita itu pulang.
Namun bukan dia yang dibutuhkan pak Bobi dan Zean. Yang mereka butuhkan adalah, sample darah anak itu.
“Panggil dokter dan suster, sampaikan maksudku.” Elo mengangguk, lalu segera mencari dokter untuk menangani hal ini.
Waktu sekitar sepuluh menit untuk pengambilan sampel darah dari keduanya. Dokter dan perawat bergegas pergi.
“Kapan hasilnya kami ketahui?”
__ADS_1
“Pengujian DNA bisa diketahui sekitar 1-2 minggu, Tuan. Tapi kalau dalam keadaan darurat, 1-5 hari bisa.”
“Aku mau lusa selesai.” Jiwa mendikte pak Bobi keluar, ia tak peduli jika harus membeli rumah sakit itu agar memiliki kuasa di sana.
“Tapi, Tuan. Saat ini bagian forensik kami sangat sibuk, dan semua harus masuk sesuai urutan.”
“Aku tak peduli. Atau kau mau besok sudah tidak bekerja lagi di sini!” ucap pak Bobi penuh penekanan, kemudian ia berlalu begitu saja.
Dokter dan suster hanya menelan ludah kasar, gemetar-gemetar ngeri mendapat tatapan tajam menakutkan dari pak Bobi.
“Dok … bagaimana ini? Sepertinya beliau bukan orang sembarangan,” kata suster.
Dokter wanita itu menghela. “Mau tidak mau, turuti saja perintahnya.”
***
“Jangan kembali ke rumah, Ze. Sally pasti syok jika melihatmu. Biarkan dia tenang, kembalilah jika terbukti kau tidak bersalah.” Pak Bobi bicara di tengah perjalanan, membuat Zean semakin pusing dengan hal yang ia sendiri tak tahu benar atau salah.
“Tapi, Pa. Aku nggak mau dipisahkan.”
“Jangan egois. Kau kira papa tidak tahu betapa sama-sama kerasnya kalian berdua. Melihat kondisi Sally, apa mungkin ia mau menemuimu sekarang?”
Zean menunduk lesu, tak bisa menjawab dan berbuat apa pun.
“Ambil mobil dan beberapa pakaian, keluar dari keluarga Pratama malam ini. Tapi tetaplah bekerja, aku akan memanggilmu kembali jika hasil itu sudah di tanganku.”
“Pa ….”
“Tidak. Aku tak akan pernah menuruti maumu. Dan jangan coba-coba merayu mamamu untuk tetap tinggal.” Keputusan sudah bulat, dari dulu Zean tak pernah bisa melawan.
Tiba di rumah, dengan segera ia berjalan gontai. Mengambil pakaian di kamar lantai dua, karena di bawah sepertinya ada Sally dan mama.
Berhenti sejenak, ingin sekali ia memasuki kamar yang baru beberapa hari ia tempati dengan Sally. Tapi pak Bobi sudah berdiri tak jauh darinya. Mengawasi dan menunggu sampai ia keluar.
Tetesan air mata jatuh juga, segera mengusap dan berjalan meninggalkan kediaman Pratama.
.
.
.
.
.
.
. Bersambung….
__ADS_1
Like dan komen. siapkan hati setelah ini. hiks....
yang ngetik ikut baper.