Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 43


__ADS_3

Tak sabar menanti waktunya pagi, Zean hanya bisa mondar-mondir di kamar sang istri. Sprei lembut yang sedang ia duduki, selimut tebal, dan aroma shampoo yang tertinggal di bantal itu seakan mengingatkan pada  sosok gadis yang tengah ia cari.


Tubuhnya lelah, matanya mengantuk tapi tak mau terpejam. Otaknya seakan tak berhenti berputar, menanyakan di mana istrinya.


Sekitar dua jam lalu, ia datang dan dibukakan pintu oleh bi Mur. Bi Mur yang masih terkantuk-kantuk itu sedikit kaget dengan kedatangan Zean. Tak peduli dengan ekspresi bi Mur, Zean langsung menanyakan keberadaan Sally. Apa sudah ada di rumah? Dan jawabannya tidak.


Ia semakin bingung, saat ia bertanya soal alamat Lisa dan dijawab dengan kata ‘tidak’ oleh bi Mur lagi. Bingung harus bagaimana, ingin sekali membangunkan kedua mertua. Tapi tak jadi.  Ia tak enak hati, jika tengah malam harus mengganggu istirahat kedua orang tua istrinya itu.


Memilih untuk beristirahat ke kamar, menunggu datangnya pagi, dan bertanya baik-baik pada bu Anna tentang kediaman sahabat istrinya. Tapi, bukan kenyamanan yang ia rasa saat telah berada di kamar, justru kebalikannya. Hingga tanpa sadar, akhirnya terlelap juga.


Waktu terus bergulir. Hingga sinar mentari masuk ke celah tirai yang tidak tertutup rapat. Zean berjingkat  dari tidur, rambut acak-acakan, dengan muka bantal, ia buru-buru turun.


Sepi, tak ada siapa pun. Meraih ponsel pada saku celana, tidak ada. Ah, dia lupa, jika ponselnya di kamar. Segera akan kembali ke kamar, tapi ia tak jadi. Memilih ke dapur untuk mengambil air, membasahi tenggorokan yang terasa kering.


“Tuan Muda, mau sarapan sekarang?” Bi Mur datang dengan tas belanjaan, penuh dengan lauk ikan dan sayuran.


Menghabiskan sisa air dari gelas yang ia ambil. Lalu berkata,” Tidak, Bi. Nanti aja bareng yang lainnya.”


Bi Mur sedikit tertegun, ia mungkin tak paham dengan maksud Zean menunggu yang lainnya. Padahal, di rumah sudah tidak ada siapa-siapa. Tinggal bu Anna saja yang mungkin masih bersiap di dalam kamar hendak pergi juga.


“Eee … Tuan, semua sudah sarapan tadi pagi. Sekarang rumah sudah sepi. Nyonya bilang, juga akan pergi hari ini. Tuan tidak tahu, jika sekarang sudah jam sembilan?”


Hah? Zean terperanjat. Tak sadar, jika ia sudah bangun kesiangan. Cepat-cepat menuju lantai atas, untuk menemui bu Anna sebelum beliau pergi.


Tepat ketika hendak menaiki tangga, sang mami sudah bersiap melangkah ke depan.


“Mami!” Ia berseru, lalu melangkah ke arah ibu mertua.


“Ze, kau sudah bangun?”


Zean meraih tangan sang ibu mertua, lalu menciumnya. “Mi, antarkan Ze ke rumah Lisa, Mi.”


“Kenapa?” Bu Anna bingung, ia tak tahu jika Zean pulang tanpa Sally. Bi Mur juga tak menyampaikan hal itu, mungkin karena usianya yang sudah mulai tua, jadi membuat beliau lupa.


“Mau cari Sally, Mi. Sally belum pulang.”


“Maksudnya belum pulang?”Mulai bingung. “Sally kemarin ke rumahmu, lalu kau di sini. Kalian tidak bertemu atau bagaimana? Apa tidak pulang ke sini sama istrimu?”

__ADS_1


Zean menggeleng cepat, ia lalu menjelaskan semuanya. Bu Anna mulai panik, dan buru-buru mengajak Zean ke rumah Lisa.


****


Belum sempat mengetuk pintu, seseorang dari dalam sudah keluar lebih dulu.


“Lho, Tante Anna.” Lisa menyapa.


Gadis berambut pendek dengan kaos dan celana jeans itu sedikit kaget dengan kemunculan dua orang yang ia kenal di depan pintu.


“Sally di sini, Lis?” Langsung bertanya pada intinya.


“Enggak, Tan.” Gadis itu menggeleng. “ Ada apa sih, Tan, Kakak ganteng?” Masih tak paham dengan situasi apa yang ia hadapi.


Zean menjambak rambutnya frustrasi, wajah tampannya sudah terlihat kusut. Tawa yang sempat berbinar kemarin sirna kembali. Ia ingin menjerit jika bisa, dengan segala kondisi yang semakin kacau. Pikirannya sudah bisa menerka, jika sang istri sengaja menghilang untuk melupakan dirinya.


“Kami pamit kalau gitu ya, Lis.” Bu Anna bergegas mengajak menantunya pergi, melihat Zean sudah semakin murung. Sampai lupa menjelaskan dan menjawab pertanyaan Lisa.


Mobil kembali melaju ke kediaman Birawan untuk mengantar bu Anna pulang. Zean hanya terdiam, ia semakin tak mengerti, harus ke mana mencari Sally .


“Ze, sedikit tenangkan dirimu ya, Nak.” Bu Anna membuka suara.


“Mi, maafkan Zean yang belum bisa menjaga anak Mami, ya.”


Ucapan laki-laki 26 tahun itu begitu pilu, bu Anna sampai tak tega mendengarnya.


Ia mengelus lengan sebelah kiri menantunya, memberi kekuatan pada laki-laki yang kacau hampir seminggu ini.


“Tenanglah.” Masih tetap mengelus lengan menantunya. “ Mami tidak tahu selama ini hubungan kalian seperti apa. Tapi mami harap, apa pun yang terjadi, mami nggak ingin menyalahkan salah satu dari kalian.”


Menarik napas dalam, lalu membuangnya. “Bukan mami dan papi tak peduli, kami memang sengaja tak mau mengurusi urusan kalian. Pernikahan ini pernikahan kalian,kami sebagai orang tua hanya bisa menasehati jika memang kalian menceritakan masalah atau hal apa pun pada kami.”


Zean menghela, memejamkan mata beberapa detik. Menoleh pada ibu mertua lalu mengangguk.


***


Mobil sampai di depan rumah keluarga Birawan, bu Anna segera turun tapi tidak diikuti Zean. Laki-laki itu berpamitan akan kembali mencari Sally. Seakan lupa segalanya, bahkan ia belum makan dan mandi sejak kemarin malam.

__ADS_1


Pikirannya buntu, kacau dan rumit bagai benang kusut yang sulit terurai. Melajukan mobil entah ke mana, yang penting ia akan berusaha.


Matahari mulai meninggi tak ia perhatikan, jam sudah menunjuk pukul berapa ia tak peduli. Sampai akhirnya perut yang terasa perih, menghentikan dirinya untuk tidak melanjutkan perjalanan dulu.


Menepikan mobil dan memasuki area restoran, ia segera memesan makanan sebagai asupan. Tapi sayang, hampir setengah jam makanan tersaji,  tak ada perubahan. Porsi


makanan masih utuh, hanya mungkin bentuknya saja yang sudah tidak karuan karena terlalu lama Zean aduk-aduk tidak jelas.


Jus jeruk di depannya semakin mengingatkan dirinya pada sang istri, kembali ia menjambak rambutnya frustrasi.


Andai waktu terulang, mungkin ia akan menahan diri. Tak ingin berkata kasar lagi, ingin mencoba selalu memahami. Ia sadar, jika Sally bukanlah gadis seusia dirinya. Gadis itu sudah terlalu berat berjuang dengan pernikahan yang merenggut masa mudanya.


Sebagai suami, Zean justru semakin memperparah keadaan. Meninggikan ego, meluapkan amarah dan menuruti gengsi karena tak mau mengakui jika ia mulai jatuh hati pada istrinya.


Bodoh! Dia begitu bodoh saat telat mengakui perasaannya. Ketika sang istri sudah menghilang dengan berbagai alasan yang ia sendiri tak tahu, ia baru merasa sakit yang teramat dalam.


Tak henti ia menyalahkan dirinya. Tak henti ia memaki kebodohannya. Jika bisa menangis, mungkin ia sudah menangis sejak tadi. Tapi tidak, air mata itu seakan tertahan di pelupuk mata.


Sampai akhirnya otaknya kembali bisa untuk berpikir, segera ia menyuap beberapa sendok makanan, menenggak habis jus jeruk, lalu beranjak pergi menuju suatu tempat di mana ia bisa mencari petunjuk dengan keberadaan Sally.


.


.


.


.


.


.


Bersambung….


Jangan lupa like, masukin paporit biar dapat notif saat


novel ini update yak.

__ADS_1


Dukunganmu, semangat buat othor amatir kayak aku. Ehhehehe….


__ADS_2