Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 29: Bukan Bucin tapi Risih


__ADS_3

Omongan Lisa menyadarkan Sally. Putri sulung Pak Tomi itu tidak berpikir demikian sejak tadi, padahal punya nomor sang suami. Gadis itu meminta maaf pada sahabatnya, lalu segera melakukan saran Lisa.


Panggilan terangkat setelah terdengar tiga kali nada sambung. Suara serak Zean menyapa dari seberang.


"Iya, tunggu di situ saja, Gadis Kecil. Aku turun." Jawaban Zean dari seberang sana. Hal itu bisa menjadi penghalang Sally untuk pergi.


"Gimana?" Lisa langsung bertanya. Dua tangan gadis itu terbiasa memegangi lengan Sally. Kelopak matanya berkedip teratur dengan binar antusias memancar dari wajah.


"Ada. Suruh tunggu di sini." Sally menjawab sesuai apa yang diminta suaminya. Tidak menambah atau mengurangi.


"Yah." Bahu Lisa merosot. Semangatnya menguap lantaran harus menunggu lagi. Namun, apa boleh buat? Dua resepsionis itu menahan mereka ke ruangan Zean.


Kesalahan Sally adalah tidak pernah ke kantor cabang. Alhasil, tidak ada yang mengenal dia di sana. Bu Anna hanya mengajaknya ke Birawan Group, tempat sang ayah menduduki jabatan selama ini, itu pun hanya untuk mengantar makan siang sesekali waktu kecil dan belum ada Dion. Namun, setelah kelahiran Dion, Sally lebih banyak dekat dengan sang nenek.


Beberapa menit berlalu, dua gadis itu tak kunjung melihat sosok yang ditunggu. Lisa mulai gelisah, mulutnya terus mengomel tanpa berpikir lelah, tidak peduli terus menjadi perhatian dua resepsionis tadi. Gadis bernama lengkap Monalisa Aprilia itu banyak sekali stok kosakata yang dimiliki, dia bicara segala hal. Mulai dari pelajaran sampai menggunjing karyawan yang lewat.


Lobby perusahaan memang biasa lengang, tetapi lantaran bertepatan jam istirahat, ada beberapa orang hilir mudik dengan tujuan masing-masing.

__ADS_1


"Lama, ya?" Zean muncul dan langsung merangkul Sally. Gadis itu terlonjak dan nyaris menjauh, tetapi Zean malah mendekap.


"Kak, apa, sih!" Sally menggeliat tak beraturan. Satu tangan berusaha menurunkan tangan Zean dari bahu, tetapi percuma. Tenaga suaminya seperti batu beton, terasa berat untuk dipindah.


"Sudah, diam! Kalian ke sini mau makan, kan?" Arah pandang Zean pindah pada Lisa yang sejak tadi ternanap. Gadis berambut pendek itu langsung mengangguk cepat.


"Iya, iya, Kakak Ganteng."


Bibir Zean menyulam senyum, membuat Lisa makin sesak napas. Dia harus segera mengalihkan pandangan atau akan kejang sebentar lagi.


Dua resepsionis yang tadi bersikap sinis, hanya bisa menganga dalam kebinggungan.


"Dia beneran istri Pak Dirut?" Satu resepsionis bertanya pada rekannya. Sungguh! Wanita itu tidak sampai pikirannya ke sana.


"Entah, aku juga penasaran. Pak Dirut masih muda dan tampan, tapi istrinya anak ingusan." Resepsionis satunya menimpali dan terus menancapkan pandangan pada Zean dan dua gadis yang mulai pergi.


"Kak!" Sally menyeru, menepis rangkulan sejak tadi. Kakinya melangkah sambil terseret, tidak nyaman dengan perlakuan Zean. "Lepas dulu!"

__ADS_1


Perintah Sally tidak berguna bagi Zean. Nyatanya, pria itu tetap merangkul dan makin merapatkan badan saat Sally menolak. Makin minta dilepas, Zean akan semakin memperlakukan lebih.


"Tunggu di sini, aku ambil mobil dulu." Pria dengan rambut hitam lebat itu memerintah, berdiri tegap, lalu mengusap kepala sang istri.


Lisa yang sejak tadi merasa hanya jadi obat nyamuk, langsung protes ketika Zean sudah sedikit jauh. "Kira-kira, dong, Sa, kalau mau uwu-uwuan. Aku jadi tumbal kebucinan kalian."


"Bucin apaan? Aku, tuh, juga risih diperlakukan kayak gitu." Mood Sally sepertinya suram. Bukannya malu atau bahagia mendapat perlakuan berbeda dari Zean, melainkan justru ingin mengamuk. Belum lagi, Lisa menambahi omongan tidak enak.


Selama di telepon, Zean tidak berkata apa pun. Namun, entah dapat angin dari mana pria itu bisa berubah demikian.


Kak Ze pasti sengaja, curi-curi kesempatan.


Dua tangan Sally mengepal di sisi rok kanan dan kiri.


.


.

__ADS_1


__ADS_2