Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 86: Berada di Tempat Berbeda


__ADS_3

"Tuan Muda." Pak Jang datang menyambut dengan tergesa. Beliau menghampiri Zean dan ingin membantu Naya. "Biar Bapak saja, Non."


"Tidak perlu, Pak. Minta tolong bawa pakaian Kakak saja yang masih di dalam mobil."


Pak Jang mengangguk. Dengan segera, pria tua itu menarik koper yang tidak terlalu besar dari bagasi. Kemudian, dia bergegas menyusul Naya yang mulai masuk ke dalam vila.


Zean sebenarnya sudah bisa berjalan seperti biasa. Dislokasi pada tulang kakinya sudah kembali normal. Hanya saja, gegar otak berat yang menimpa Zean masih sering memberi efek hilangnya keseimbangan. Tidak lucu bukan kalau pria seperti dirinya sampai jatuh terjungkal.


Perban di kepala Zean sudah dilepas dan menyisakan satu kasa yang terplester di sudut kepala bagian kiri guna menutup luka karena pecahan vas bunga waktu lalu.


"Tidur di bawah saja, ya, Kak." Naya memberi usul. Bukan tanpa alasan, janda muda itu berkata demikian. Dia ingin sepupinya aman.


Zean mengangguk. Dia pikir, nanti saja kalau sudah pulih bisa tidur di kamar atas yang dahulu ditempati bersama Sally.


"Nona, mau makan malam dulu?" Pak Jang bertanya sembari meletakkan koper di sudut kamar.


Zean mendongak ke atas untuk menatap Naya yang memandang Pak Jang. "Nay, apa kau bingung?"


Setelah melihat jam yang melingkar di tangan sebelah kiri, Naya menggeleng pada Zean. Dia berkata pada Pak Jang, "Aku pulang saja, Pak. Biar Kakak saja yang ikut makan malam. Ada anakku yang menunggu soalnya."


"Oh, Non Naya sudah punya anak, ya?" Pak Jang menggaruk tengkuk dan disambut kekehan kecil dari dua orang yang ada di depannya.


"Kak, aku pulang, ya. Jangan rewel di sini." Satu tangan Naya meraih tangan kanan Zean, lalu mencium pelan tanda pamit.


"Kau kira aku bocah?" Zean justru tidak terima atas perkataan sepupunya.


"Kakak, kan, terkadang memang seperti bocah. Kamu kira aku enggak tahu kalau kamu sering merajuk pada Tante Lyra, Kak?" Jawaban Naya seperti orang mengajak perang, tetapi Zean justru gemas melihatnya. Alhasil, pria itu mencubit pipi Naya seperti kebiasaan mencubit pipi Sally.


"Sudah sana pulang. Makasih, ya, sudah mau mengantarku. Aku berdoa semoga cepat dapat papa baru untuk Eza."


Naya menghentikan langkah. Dia berbalik dan melotot tidak suka. Sementara itu, Zean hanya tertawa geli. Meski sakit, pria berambut hitam itu masih suka menjadi orang menyebalkan.


Usai diantar Pak Jang sampai teras, Naya berpamitan dan segera meninggalkan vila. Waktu cukup lama untuk kembali ke tengah kota, tetapi dia beruntung bahwa besok akhir pekan. Jadi, dia tidak perlu ke kantor.


Gerbang menjulang tinggi terbuka. Mobil masuk ke kediaman mewah di mana Naya tinggal setelah berpisah dengan mantan suaminya. Sementara itu, rumah lain yang sempat dihuni dengan sang suami selama satu tahun dibiarkan kosong karena terlalu sepi jika hanya ada Eza dan dirinya beserta para pekerja yang menempati. Dia tidak ada tempat berbagi.


"Baru pulang, Nay?"—Om Andra sudah duduk di sofa ruang tamu menyambut putrinya—"dari mana saja sampai tengah malam begini? Apa ada masalah dengan keuangan perusahaan?"

__ADS_1


Naya mati kutu. Dia kehabisan ide untuk menjawab. Sudah seminggu ini sang ayah memperhatikan pergerakannya sampai mengundang curiga.


"Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan dari papa, kan?" tanya Om Andra lebih lanjut.


Naya semakin kicep. Bibirnya yang merah seolah terkena lem yang sangat lengket.


"Jawab, Nay!" Suara Andra Pratama mulai meninggi. Beliau sepertinya tidak peduli dengan waktu.


"Eeee ... itu, Pa." Jemari kedua tangan meremas ujung blezer yang Naya kenakan, sedang Om Andra masih setia menelisik setiap pergerakan. "Itu, dari pesta ulang tahun temanku SMA, Pa," jawab Naya secara asal. Dia berharap sang papa mau mengerti.


Om Andra berdiri sembari mengantongi kedua tangan di saku celana. Aura mendominasi terasa di sekitar tubuh pria itu, bahkan mungkin lebih menyeramkan dari paman Naya—Pak Bobi.


"Jangan berusaha menyembunyikan sesuatu dari ayahmu, Nay. Atau kau tau akibatnya." Dengan gaya arogan, Om Andra pergi meninggalkan putrinya yang masih mematung di tempat. Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuh Naya. Ujung blezer yang sejak tadi diremas kuat, ikut basah saking gugupnya.


Huuh! ini semua gara-gara kakak. Awas saja kau membuatku dapat hukuman dari Papa. Aku akan mengajukan usul untuk membunuhmu!


Selepas puas bermonolog dalam hati karena kesal, Naya bergegas menuju kamar dengan segera. Dia ingin embasuh badan dengan air hangat agar memberi ketenangan setelah tertekan.


***


Mentari menyapa dengan lembut. Tirai yang tidak tertutup sempurna membangunkan Sally karena terpaan cahaya. Gadis itu mengerjap sesaat, lalu perlahan bangun dan duduk sejenak.


Ibu hamil itu ganti mencuci muka dan mengeringkan dengan tisu. Dia mendesahh frustrasi.


Baru kali ini aku muntah, aneh sekali. Padahal sebentar lagi jadwalku melahirkan.


Tak ambil pusing, Sally segera bergegas keluar saat mendengar ketukan pintu. Dia melihat Dion dengan wajah tampan menyambut.


"Sarapan, Kak," kata Dion diikuti lengkungan senyum.


"Rapi banget kamu?"


Dion memperhatikan diri dari bawah ke atas, dengan bangga merapikan hem yang sedang dikenakan. "Mau kencan aku."


Sally melongo. Baru kali ini mendengar kata-kata yang dianggap horor olehnya jika keluar dari mulut Dion.


"Kak!" panggilnya.

__ADS_1


"Eh, i-iya."


"Kenapa bengong? Ditunggu Mami dan Papi di meja makan. Aku ke sini buat jemput Kakak, mau bantu turun tangga."


"Kata-kata kamu yang bikin Kakak tiba-tiba bengong, Di."


Dion mengernyit. "Kenapa?"


Sally menutup pintu dan berjalan pelan menuju tangga. "Sejak kapan kamu pacaran, Di?"


Dion tidak kunjung paham. Dia masih berpikir.


"Dion!" sentak Sally saat itu karena tak kunjung dapat jawaban.


"Eh, itu, anu. Sebenarnya aku enggak pacaran, tadi hanya iseng jawab asal-asalan saja, Kak. Enggak tahunya Kakak percaya aja. Serius banget."


Sally menghentikan langkah dan Dion mengikuti sambil menggandeng tangan menapaki tangga. Sejak perginya Zean, Sally memang susah diajak bercanda. Padahal, dahulu dia tak pernah seserius itu dengan adiknya. Tentu saja Dion merasa aneh dan belum terbiasa.


"Kakak sudah enggak bisa bercanda lagi sejak kakak iparmu pergi," kata Sally dengan wajah tertunduk lesu.


Cepat-cepat Dion mengalihkan perhatian agar tidak semakin membuat Sally teringat dengan Zean.


"Kakak enggak pa-pa, kok. Sudah enggak usah bingung gitu. Kakak sudah mulai terbiasa tanpa dia."


Dion mencoba tersenyum paksa. Hatinya ikut sedih saat melihat Sally yang terus pura-pura tegar. Padahal, masih sering pemuda itu lihat jika Sally sering melamun di balkon kamar. Dan hal itu terlihat dari bawah saat Dion pulang dari sekolah.


"Sabar, ya, Kak. Ayo, makan dulu."


Kedua saudara itu melanjutkan jalan menuju meja makan yang sudah ada Pak Tomi dan Bu Anna sejak tadi. Orang tua mereka tersenyum menyambut kedua anaknya yang sama-sama tak terasa sudah dewasa.


"Susu kamu, Sa." Satu gelas susu hamil disodorkan Bu Anna.


Akan tetapi, Sally justru menggeleng. "Jahe hangat dengan madu saja, Mi. Aku mual."


Ditariknya gelas itu lagi, Bu Anna segera meminta Bi Mur membuat minuman untuk Sally sambil menuangkan makanan sesuai yang diminta putrinya. Pak Tomi merasa ngilu melihat kondisi Sally. Aura menyedihkan itu sukses merenggut keceriaan sang putri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2