Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 34: Bagaimana kalau Mati Bersama?


__ADS_3

Keluar dengan gagahnya, Zean melangkah ke belakang bersamaan turunnya tiga penjahat yang menguntit tadi. Masih dengan kondisi tenang, pria itu bertanya, "Apa yang kalian inginkan kali ini? Apa pria tua itu lagi yang mengirim kalian?"


Satu penjahat tertawa. Dia bertepuk tangan menanggapi ucapan Zean. Seringai keji tersemat di bibir pria berjaket kulit hitam itu. "Memang tidak salah kalau Pratama Group bisa sejaya itu, ternyata mereka memiliki Tuan Muda yang begitu cerdas."


Tatapan Zean menajam. Meski gestur tubuhnya menunjukkan ketenangan, pria itu sudah waspada tingkat tinggi.


"Bagaimana kalau kau menyerahkan diri dengan baik, lalu ikut kami negosiasi sendiri dengan Tuan daripada nyawamu melayang?"


Zean tersenyum miring. Lagi-lagi orang yang sama meminta nyawanya. Dia melangkah maju. "Lupakan mimpi kalian. Aku tidak sepengecut itu untuk menghadapi masalah."


Tendangan mengayun ke udara, Zean melakukan gerakan cukup cepat hingga membuat satu penjahat tak bisa mengelak dan ambruk ke tanah. Akan tetapi, tindakannya itu tentu saja mengundang kemarahan teman penjahat lain.


"Kurang ajar!" Perkelahian tak terelakkan. Satu penjahat maju dan tersusul temannya, bersama-sama menyerang Zean. Dua orang itu menyerang kanan dan kiri bergantian.


Satu tangkisan berhasil Zean lewati, tersusul pukulan lain dan masih bisa dihindari. Namun, menit yang terus berganti dan tenaga tidak sebanding, akhirnya Zean tersungkur ke tanah.


"Kakak!" Sally membekap mulut saat melihat langsung sang suami kalah. Dia menggeleng di persembunyian dengan air mata yang terus mengalir. "Kak Ze," rintihnya pelan menahan sesak yang menhunjam hati.

__ADS_1


Semua penjahat mendekat. Kemudian, dua orang dari mereka menarik tangan Zean kanan dan kiri hingga terlihat jelas wajah yang biasa tampan nan bersih itu, kini penuh lebam dan tetesan darah.


Sally menangis tergugu. Dia meremas ponsel yang ada di genggaman. Berulang kali dia mengirim pesan pada Elo agar sepupu suaminya itu segera sampai. Namun, sama sekali tak ada balasan.


"Kau menyerah, Tuan Muda Pratama?" Satu penjahat bertanya dengan angkuh. Bibirnya yang hitam karena terlalu sering menyesap rokok itu menyeringai licik. Wajah bengisnya terlihat begitu keji saat mencengkeram wajah Zean yang penuh luka.


Zean tersenyum miring. Meski kondisi telah babak belur, pria itu masih bisa menanggapi. "Tidak akan aku menyerah pada pria serakah seperti tuanmu itu."


"Wah, wah, ternyata kau arogan juga." Penjahat itu berdiri, lalu menyibak jaket kulit yang dipakai. Satu pistol berada di tangan dengan moncongnya mengarah ke wajah Zean. "Bagaimana kalau kita akhiri saja permainan ini sekarang?"


"Gadis bodoh! Kenapa kau keluar?" Zean masih sempat memarahi istrinya meski napas sudah tersengal.


Sally terisak makin dalam. Dia menggeleng sembari memeluk Zean.


Tiga penjahat itu menghampiri lagi. "Wah, ada gadis cantik. Oh, hampir saja aku lupa kalau Tuan Muda Pratama ini sudah menikah. Istrinya ternyata daun muda yang masih begitu segar."


Penjahat yang masih membawa pistol itu maju. Dia mendekat dan membungkuk sedikit. "Anak Cantik, bagaimana kalau kau ikut Paman? Paman akan mengajarimu hal menyenangkan."

__ADS_1


"Berani kau menyentuhnya, aku bunuh kalian!" Zean menepis kasar tangan penjahat di hadapannya yang ingin menyentuh Sally. Sesakit apa pun tubuhnya saat ini, pria itu tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada sang istri.


"Wow!" Penjahat itu berdiri tegap. "Sepertinya kau begitu mencintainya, sungguh kisah cinta yang mengharukan."


Ejekan penjahat itu disambut gelak tawa dua penjahat lain.


Zean menatap tajam. Dia benci diremehkan seperti saat ini. Namun, sayangnya tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Perlawan telah mencapai titik terakhir.


"Baiklah, aku akan berbaik hati padamu, Tuan Muda Pratama. Aku akan mengizinkan kau mati bersama gadis yang kau cintai ini." Pistol di tangan penjahat itu terangkat. Dia menarik pelatuk dan siap melesatkan peluru.


Dua mata pasangan suami istri itu sama-sama membeliak. Zean mendorong Sally dengan sekuat tenaga. "Menghindar!"


DOR!


.


.

__ADS_1


__ADS_2