
Akhir pekan tiba, semua berkumpul di rumah keluarga Birawan. Kecuali Naya, malah anaknya yang senantiasa mengintili bu Lyra semenjak di rumah sakit lalu.
Semua antusias saling berebut menggendong Aksa, bahkan kadang seolah lupa dengan ibunya. Sally hanya membisu, membiarkan siapa saja yang memang ingin menemani putranya. Mereka bersemangat, dan justru meminta Sally untuk istirahat saja. Padahal, harusnya bayi lebih sering dengan ibunya untuk meningkatkan bonding satu sama lain.
“Sa … mau makan sekarang?” Bu Anna mengagetkan Sally yang sejak tadi melamun.
“Nanti, Mi. Barengan aja.” Hanya bisa mengangguk, lalu kembali ke dapur membantu bi Mur menyiapkan makan siang. Aksa sedang digendong bu Lyra, dan pak Bobi di sampingnya memangku Eza.
Sejenak Alika melirik pada Sally, lalu memberikan Elis pada Elo yang tengah ngobrol asik dengan om Andra dan pak Tomi. Mantan kekasih Zean itu mendekat, memegang lembut tangan Sally.
“Apa kamu butuh teman bercerita?” ucapnya penuh dengan kelembutan.
Manik cokelat yang Sally miliki melirik sekilas, lalu menatap penuh kedua bola mata Alika yang memandang teduh. Sorot keibuan ada di sana, yah … mungkin karena Alika sudah pengalaman.
Gadis itu hanya menggeleng, bahkan ia sendiri tak sadar dengan apa yang sedang dirasa. Rasanya aneh, semua orang ramai berkumpul dan menemani, tapi hatinya terasa kosong.
Di palung hati terdalam, tidak bisa memungkiri jika bayangan Zean selalu berputar di lamunan. Berharap waktu segera berlalu dengan cepat, agar suaminya segera pulang. Dulu, ia pikir jika anaknya lahir, akan mampu mengikis rindu yang makin menggebu. Tapi nyatanya tidak, setiap melihat wajah mungil bayi itu, justru semakin menumpuk benih rindu semakin membuncah.
“Kamu rindu suamimu, ya? Aku tahu rasanya melahirkan tanpa hadirnya ayah dari anak kita. Sorot matamu tidak bisa berbohong, Sa.”
Kembali menoleh pada Alika, kemudian hanya bisa tertunduk sedih. Jika bisa, Sally lebih memilih bersama Zean meski belum hadir buah cinta mereka. Zean selalu memahami dengan kedewasaan yang dimiliki, menuruti semua kemauan Sally.
“Ajari aku, bagaimana melewati masa-masa seperti ini.” Alika tersenyum mendengar pernyataan Sally, wanita itu merasa diakui teman oleh istri sang mantan.
“Kamu bisa menghubungiku kapan saja kamu mau, aku hanya menjaga toko kue. Tidak terlalu sibuk seperti pekerja kantoran,” tawarnya dengan senang hati, lalu disambut senyum kecil dari Sally.
***
Jalanan padat membuat perjalanan terasa lebih lama, jam sudah menunjuk waktu menjelang sore. Naya terjebak macet sejak ikut membaur masuk di tengah keramaian, dengan sabar sedikit sebal tetap harus sampai tujuan.
Semakin sore, ibu Eza itu akhirnya sampai di tempat persembunyian kakak sepupu. Sejak kemarin sudah mencoba merayu via panggilan dan pesan, tapi tidak menggoyahkan pendirian seorang Zean Aditya Pratama. Terpaksa, ia harus ke vila demi tujuan yang harus tercapai dengan paripurna.
Tiba di depan vila, terlihat pak Jang tengah mencuci mobil. Berhenti sejenak memperhatikan mobil yang terparkir, lalu segera mencuci tangan yang penuh busa itu dengan air bersih dan menghampiri wanita yang baru turun dari mobil.
“Nona ….” Naya tersenyum.
“Rajin banget, Pak,” pujinya sambil membenarkan rambut.
“Ah, tidak, Non. Kebetulan udah dua minggu berdebu, nggak dicuci. Kemarin sempat buat nganter tuan muda kontrol, jadi sekalian hari ini dibersihkan.”
“Pak Jang … makasih banyak udah bantuin kami, ya. Mau ngurus kak Ze dengan telaten.”
Beliau menggeleng. “Tidak, Nona. Saya ada yang menemani juga senang. Semenjak tuan muda di sini, saya jadi ada teman ngobrol.”
Pak Jang yang memang tinggal sendirian merasa lebih hidup dengan hadirnya Zean sebagai tempat berbagi. Meski hanya menjadi pendengar keluh kesah, tetap beliau senang. Ditinggal istrinya pergi dari dunia, dua tahun lalu. Membuat ia merasa sunyi, sehari-hari hanya mengurus vila. Kesibukan itu kadang terasa membosankan.
__ADS_1
“Gimana kondisi kakak, Pak?”
“Tuan muda baik. Perkembangan kesembuhan patah tulangnya melesat lebih cepat dari perkiraan, begitulah kata dokter. Minggu depan katanya gips sudah bisa dilepas, hanya saja masih perlu dilanjutkan dengan fisioterapi sampai benar-benar pulih.”
Naya hanya mengangguk beberapa kali, lalu berniat melangkahkan kaki masuk. Duduk di sofa melepas penat, perjalanan yang memang membuat seluruh otot tubuh terasa kaku. Ia patahkan leher ke kanan dan kiri bergantian.
“Teh hijau, Nona. Spesial dari perkebunan yang ada di belakang vila.” Secangkir teh terhidang di meja depan Naya. Baru kali ini dia mendengar kalau di belakang ada perkebunan.
“Seriusan di belakang vila ini ada kebun teh, Pak? Kok baru dengar. Aku mau lihat, Pak Jang.” Ia gegas beranjak, membayangkan hamparan kebun yang menghijau bisa memberi ketenangan tersendiri.
“Eh, itu Nona. Bukan tepat di belakang vila ini. Mungkin dari sini tiga puluh menit. Dulu tuan muda pernah ke sana.”
“Oh, gitu, ya. Kirain di belakang.” Kembali ia mendaratkan diri di sofa, lalu menyesap teh yang terlihat sudah mulai menghangat.
“Kakak mana, Pak? Apa dia tidur?”
“Tuan muda sedang ke danau, Nona,” terang pak Jang, masih tenang dengan posisi di hadapan Naya.
“Danau?” Diletakkan cangkir yang habis separuh isinya, mengamati pak Jang meminta jawaban.
“Iya, Nona. Tidak jauh dari kebun teh itu, ada danau di sana. Saya tadi yang mengantar. Katanya akhir-akhir ini lebih senang ke sana. Apalagi sore hari begini.”
“Udah lama belum, Pak?”
“Setengah jam lalu, Non.”
“Baik, Nona.”
***
Setelah perjalanan penuh rasa kagum yang sejenak melupakan Naya dengan tujuan, akhirnya sampai di danau tempat Zean melepas rindu.
Turun dengan segera, Naya dibuat kagum lagi dengan pemandangan di depan mata. Senja mulai datang menyapa, mencipta sinar jingga yang memantul di atas air danau yang tenang. Wanita satu anak itu berjalan mendekat, bahkan sempat mengabadikan gambar sebelum akhirnya melihat seseorang yang tengah duduk bersandar di sebuah bangku.
Berjalan perlahan, dipastikannya lelaki yang tengah memandang lurus ke depan itu benar-benar kakaknya. Langkah kaki nyaris tak terdengar, Naya semakin maju.
Diturunkannya tangan di pundak sebelah kanan Zean, membuat lelaki itu reflek menoleh.
“Nay ….” Wanita itu tersenyum.
“Cantik banget di sini.” Ia ikut duduk, menikmati suasana senja bersama sang kakak.
Orang berlalu lalang saling memandang, mungkin bagi mereka Zean dan Naya pasangan yang serasi. Lelaki tampan dan perempuan cantik, saling menyempurnakan.
“Kau suka?” Naya mengangguk.
__ADS_1
“Segeralah cari pasangan lagi, bawa ke sini. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri.” Zean tersenyum manis, senyuman yang biasa ia tampakkan di hadapan Sally.
Wanita itu kembali melengos, memutar mata sebal jika mendengar Zean membahas soal pasangan. Hatinya belum bisa move on dari ayah Eza. Bagaimana mau mencari yang baru.
“Tanganmu sudah sembuh, Kak?”
Omongan Naya mengalihkan perhatian Zean, lelaki itu melihat sejenak tangan kiri yang masih mengantung di gendongan. Mengangkat wajah menatap Naya, lalu mengangguk. “Minggu depan sudah bisa kembali ke dokter untuk melepas gipsnya.”
“Lalu pulang?” sela Naya.
“Entah.” Zean mengedikkan bahu. Pertanda dia tidak yakin dengan keputusan apa yang harus diambil.
“Jangan konyol, Kak. Anakmu sudah lahir, dan kau tak ingin melihatnya?”
Mulai terjadi ketegangan di antara dua makhluk itu. “Kemari sama siapa?” Zean alihkan pembicaraan, tidak ingin membahas hal itu.
“Pak Jang. Dia menunggu di mobil.”
“Ayo, pulang.” Berdiri, bergegas meninggalkan Naya yang masih duduk dengan nyawa setengah melayang.
“Lhoh, kok. Aku baru sampek, Kak,” ujarnya setengah lari, sambil menyusul Zean yang sudah pergi.
“Bukannya kau kemari menjemputku?”
Wanita itu mengangguk, dua detik kemudian ia berbinar cerah. “Wah … itu artinya Kakak akan pulang ke kota?”
“Tidak, siapa bilang? Aku akan pulang ke vila. Sebentar lagi malam.”
Tak sampai untuk menggapai pikiran Zean, Naya tidak pernah bisa memberi pengaruh pada keputusan kakaknya itu. Dari dulu, Zean memang terkadang memiliki ego setinggi gunung. Tapi sedetik kemudian bisa juga menjadi pria penurut.
Sudah biasa, jika mendapati sifat Zean yang gampang berubah-ubah.
“Kita pulang, ya, Kak.” Naya terus merayu sepanjang jalan, sedang Zean hanya membisu tak acuh.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambungg….