
Zean terlonjak, kedua netranya membeliak tak percaya. Begitu juga dengan Elo. Karena memang tidak ada pemberitahuan dari pak Bobi mengenai ini. Dan posisi mereka pun masih sama, tidak ada acara menggantikan posisi pak Bobi sebagai Direktur utama.
Sally hanya terus menangis. Membuat Zean semakin bingung. Ia terdesak dalam situasi yang rumit. Apa yang harus dikatakan pada ayahnya jika ia menuruti permintaan pamannya? Laki-laki yang enam tahun lalu mengelola Pratama Group tapi membawa dalam ambang kebangkrutan.
“Cepat!” perintah Andra.
“Kau gila! Jika Pratama Group dalam kepimpinanmu lagi, tidak menjamin bahwa kau tidak akan membawanya pada kebangkrutan lagi. Aku tidak bisa.”
Omongan Zean membuat om Andra tertawa lepas. Keponakannya itu selalu saja menghalangi langkahnya untuk mendapatkan kembali harta peninggalan keluarga Pratama.
“Apakah itu berarti kau menukar kepemilikan Pratama Group dengan nyawa istrimu?” tanyanya remeh.
Zean semakin terkejut. Apakah pamannya itu akan nekad beneran? Akhirnya tak tahan, karena ia tentu tak bisa memilih. Tanpa ditanya, tentu saja akan lebih mementingkan Sally, daripada semua yang ia miliki.
Tangannya gemetar, ia menoleh pada Elo. Tatapan mereka sendu, Elo seakan ingin menerjang laki-laki yang masih saja mengancam sejak tadi. Tapi posisinya tidak menguntungkan, ia berdiri jauh dari Andra Pratama, bisa-bisa pisau itu sudah menghujam Sally lebih dulu sebelum kakinya sampai di dekat laki-laki tersebut.
Menghela napas lemah, mau tak mau ia hanya bisa menuruti kemauan adik dari pak Bobi itu. Seakan ingin menangis, karena merasa tak berguna untuk ayahnya. Lagi-lagi, ia tidak bisa membahagiakan kedua orang tua yang telah memanjakan dirinya sejak kecil.
Map itu segera direbut oleh orang yang tadi membawanya, menyerahkan pada om Andra. Tertawa puas dengan berkas yang beliau lihat, tapi ternyata tidak berhenti hanya sampai di situ.
“Berikan itu padanya.” Satu orang maju, memberikan sebuah benda ke tangan Zean.
Elo tak tahan, ia berkata lantang, “Apa lagi yang Anda inginkan, Tuan? Zean keponakan Anda.”
“Heh,” Andra menyeringai. “Kau keturunan keluarga Bagaskara, sama menyebalkannya dengan keponakanku satu ini. Tapi sayang, aku tidak ada urusan denganmu, jadi berhenti ikut campur!” Tatapannya tajam, penuh kebencian pada Elo.
Berpindah ke arah Zean lagi, lalu berkata, “Tembakkan benda itu di kepalamu, karena aku tak ingin mengotori tanganku!”
Semua terperanjat, hanya om Andra dan orang-orangnya saja yang tersenyum penuh kemenangan.
“Kenapa? Apa kau kurang dengan Pratama Group? Sehingga menginginkan nyawaku juga.” Tak terima dengan permintaan konyol itu.
__ADS_1
“Hahahaha …,” tawa om Andra lepas. “Tentu saja benar. Kau pikir aku ini memang bodoh? Dari dulu aku ingin membunuhmu. Kau penghalang dalam setiap langkahku. Ketika ayahmu yang bodoh itu sudah bisa kurayu, tapi ternyata kau berulang kali mengganggu dan menggagalkan semua. Kau pikir, aku tak tahu jika kau juga ingin membunuhku?”
“Heh.” Zean hanya tersenyum masam, ia menyadari jika memang perang antar saudara itu bukan main-main. Jika ayahnya akan mudah dirayu oleh om Andra dengan alasan hubungan darah, berbeda dengan Zean. Suami Sally itu tak terima jika om Andra kembali ke Pratama Group, setelah ulah beliau yang membuat Zean mati kepayahan di usianya 21 tahun dulu.
“Bagaimana bisa aku tak ingin membunuhmu? Aku dulu begitu menghormatimu, tapi kau terus mengganggu papa. Aku muak, ketika papa tidak bisa membalas semua perlakuanmu dengan alasan kau adiknya. Aku tak peduli. Kehilangan paman sepertimu, bukan sebuah penyesalan.”
Tak ada ekspresi kaget dari om Andra. Lelaki tua yang sama tampannya dengan ayah Zean itu justru semakin mendekap pundak Sally, membuat gadis itu mengerang kesakitan.
“Lakukan! Atau nyawa istrimu sebagai gantinya.” Gerakan tangan yang memegang sebuah pisau itu menunjuk pada benda yang masih dipegang Zean.
Semakin rumit, Zean tak perlu memilih untuk hal itu. Tentu saja dia lebih merelakan kehilangan nyawanya, daripada kehilangan Sally. Toh sama saja pada akhirnya, sang ayah akan membunuhnya jika sampai Sally kenapa-napa.
Tangannya gemetar mengangkat pistol yang sejak tadi ia terima, mengarahkan ke samping kepala.
“Jangan bodoh, Ze!” teriak Elo saat itu. Dia rela melakukan apa pun untuk Zean. Tapi kenapa adik sepupunya itu justru mudah menyerah.
Zean hanya menoleh sekilas, tersenyum paksa dan berkata, “Jaga Sally untukku, jika aku pergi.”
“TIDAK! Jangan Kak! Bukankah kau bilang mencintaiku? Kenapa kau harus merelakan nyawamu dan meninggalkan aku.” Gadis itu menggeleng cepat, deraian air mata tak pernah kering dari pipinya.
“Sa … maafkan aku. Maafkan aku jika selama ini tak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Aku terlalu egois, dan aku telah terlambat dalam mencintaimu. Hingga hari ini tiba, aku harus pergi merelakan cinta yang baru saja aku rasakan.”
Bagai beribu jarum menusuk hati, luka menganga yang tersiram air garam, perih dan sangat sakit. Terlalu sakit bagi kedua insan yang harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan dan tidak masuk akal itu.
Tak ada pilihan yang harus ia pilih rasanya, Zean mengangkat pistolnya kembali. Ia menarik napas dan memejamkan mata. Teriakan Elo dan Sally semakin membuatnya sakit. Berharap jika ia mati, tapi ada harapan hidup untuk orang-orang yang ia sayangi.
Satu tarikan pada pelatuk dan siap menghujam serta menembus kepala. Dan seketika terdengar keras bunyi tembakan memenuhi ruangan itu.
“KAKAK!”
Naya datang entah dari mana, tembakan itu justru melesat mengenai ayahnya sendiri. Membuat om Andra terjatuh, memegang lengan kanan yang mungkin terkena tembakan. Namun sialnya, saat itu juga tubuh Sally ikut ambruk, dengan luka sayatan di bahu sebelah kanan. Darah segar mengalir dan membasahi pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
Semua orang kembali berkelahi, Elo dan Zean tak peduli. Segera mendatangi Sally yang sudah bersimbah darah. Mungkin karena luka itu terlalu dalam sampai membuat gadis itu pingsan.
“Nay … kau menyakiti papa. Kau lebih memilih dia daripada ayah kandungmu sendiri.” Om Andra merasa sakit hati, dengan kesalahan yang diperbuat Naya. Karena anak perempuannya itu selalu menurut, berpisah dengan suaminya saja ia rela. Tapi tiba-tiba hari ini justru ia mencalakai ayahnya sendiri. Padahal, bukan begitu, semua hanya ketidaksengajaan. Karena kegugupan Naya, ia mengarahkan pistol itu ke sembarang arah.
“Jangan katakan itu, Pa. Kak Zean kakakku, bagaimana bisa aku membiarkan ia mati konyol. Apalagi itu mati karena paksaan dari Papa. Dia keluarga kita, Pa. Mau sampai kapan dendam Papa pada om Bobi?” Tangisnya pecah, hatinya selalu sakit saat melihat ayahnya tak berhenti dengan ambisi ingin memiliki harta keluarga.
Padahal, kalau dipikir, tidak sepenuhnya Andra Pratama ini tidak mendapat bagian. Lihat saja rumah mewah yang ia tempati, serta perusahaan cabang yang memang tidak sebesar Pratama Group. Itu semua sudah menjadi atas namanya. Mungkin jika ditotal, nilai kekayaannya sama dengan yang dimiliki pak Bobi. Hanya saja, ada sedikit kesalahannya saat mengelola, sehingga terlihat jauh berbeda dengan Pratama Group.
“Dia pengacau, Nay. Bagaimana bisa dia datang ke dalam keluarga Pratama dan tiba-tiba menjadi kakakku. Terlebih lagi, hal konyol itu. Dia harus menjadi pewaris utama dalam keluarga Pratama setelah oma dan opamu meninggal.”
Naya hanya bisa menangis, melihat darah itu juga mengalir dari lengan ayahnya. Piyama tidurnya sudah kotor dengan darah, ia berteriak histeris membuat orang-orang yang sibuk berkelahi itu berhenti.
Buru-buru membawa Sally dan om Andra ke rumah sakit. Tak peduli sudah jam berapa saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
…
Bersambung ….