Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BonChap ZeSa - 2


__ADS_3

Karena aku masih kangen ZeSa, aku ngetik lagi. Jangan lupa lempar kopi atau bunga. Hehee….


Happy reading.


*


*


*


Hari keempat kelahiran Hira. Zean sekeluarga sudah kembali ke rumah. Rumah yang ia beli saat Aksara masih berusia dua tahun, dan istrinya masih kuliah semester empat. Dibantu bu Lyra dan bi Rum—pelayan rumah tangga pilihan pak Bobi, Sally bisa fokus kuliah sampai tuntas. Meski setelah lulus ia tak bekerja lantaran sudah hamil Hira, tak masalah. Toh dia tidak kekurangan apa pun selama ini.


Jangan tanya apa Zean melarang bekerja, tentu saja laki-laki itu menentang keras. Selama menikah, tak pernah sekalipun lelaki itu menolak keinginan Sally. Semua ia turuti, tapi tidak untuk urusan itu. Bahkan saat nyidam Hira yang tergolong lebih rewel dari Aksara, ia tak keberatan.


Sembilan bulan mengandung Hira, Sally sudah beberapa kali masuk rumah sakit. Lantaran istrinya terus merasakan mual tanpa mau makan, berat badan jalan di tempat, padahal dokter sudah memberi beberapa vitamin. Beruntung, kemarin ia bisa melahirkan normal dengan kondisi sama-sama sehat.


Masuk ke dalam rumah, Sally dibantu Zean hati-hati.  Hira digendong kakeknya—pak Tomi, sedang Aksara berada di gendongan pamannya—Dion.


Dito menyusul dan membawa barang-barang Sally, dibantu bi Rum yang menyambut mereka di ruang tamu.


“Mau ke kamar, Sayang?” Sally menggeleng. Ia lebih memilih duduk di sofa dan diikuti anggota keluarga lain.


“Aku ambilkan minum kalau gitu, ya.” Dia menganggguk.


“Tuan, biar saya saja.” Bi Rum segera menyusul Zean yang hendak ke dapur, menghentikan langkah kaki pemilik Pratama Group itu.


“Baiklah, Bi. Buatkan untuk mama, papa, dan lainnya, ya.”


“Baik, Tuan.”


Zean kembali ke sofa, ikut duduk di dekat istrinya. Pandangan mata menyapu semua orang di ruangan itu, melihat tawa renyah dari setiap bibir yang ada.


Merengkuh tubuh Sally ke pelukan, perempuan itu sampai ikut terhuyung dan jatuh di dada. "Makasih, Sayang."


“Makasih buat apa?” Sally mengangkat wajah, netra cokelatnya tertumbuk tepat di mata bening milik Zean, membuat lelaki itu mengurai senyuman lembut.


Sally justru ikut tersenyum, dia selalu tersihir dengan senyuman manis Zean. Dari dulu, sejak  awal-awal mereka baikan.


“Makasih udah jadi sumber kebahagiaanku sekarang.”


Senyuman semakin mengembang di wajah putih perempuan itu. Menginjak usia 23 tahun, Sally jadi terlihat semakin cantik dan dewasa. Membuat Zean semakin cinta, perhatian berlebih sampai terkesan posesif.


“Sama-sama.”


“Gitu doang?”


“Lalu?”


“Bonus.” Alis dimainkan naik turun, sambil tersenyum smirk.


Zean mengaduh dan melepas pelukan, mengusap perut yang tadi mendapat cubitan dari istrinya. Dia meringis karena perih, mengundang perhatian orang lain. Mereka yang tadi bicara pelan nyaris berbisik, sekarang jadi membuat heran semua keluarga.


“Papa!”

__ADS_1


Aksara mendatangi lebih dulu, turun dari pangkuan Dion dan berjalan menuju orang tuanya.


“Papa nggak papa, Nak.” Meraih tubuh anak itu dan memangku, “tadi ada semut merah nakal.” Zean berucap sambil melirik Sally. Perempuan itu membalas dengan lirikan sinis.


Bi Rum datang dengan tujuh gelas minuman, beberapa camilan dan buah.


Aksa paling antusias, bocah itu turun dari ayahnya dan menghampiri meja untuk mengambil makanan. Dia memang hobi makan apa saja, sampai membuat tubuhnya gembul.


“Kamu mau ini?” Dion berjongkok dan ikut bersimpuh di depan Aksara, ia memang semakin menyukai keponakan pertamanya itu.


“Um,” jawab Aksa dengan anggukan kepala.


Satu buah jeruk dikupas Dion dengan pelan-pelan, bocah itu terlihat meneteskan air liur saking pengennya. Membuat Dion tertawa lantang, lalu bu Lyra mendekat memberikan tisu.


“Buruan, Di. Dia udah nggak sabar.” Bu Anna mengalihkan perhatian, ia yang sejak tadi memperhatikan Hira, berganti menatap anak bungsu dan cucunya.


“Iya, Mi. Jangan kayak Aksa, nggak sabaran.”


Semua orang tertawa bersama.


Satu potong jeruk diterima bocah itu, ia melahap tanpa ragu jika saja rasanya masam.


“Enak, Sa?” Dion bertanya.


“Enak.” Makan dengan lahap, sambil belepotan. Dan terus menerima potongan buah yang sudah dibersihkan pamannya, sudah tak peduli dengan sekitar.


“Mau mandi, Sayang? Mumpung masih jam tiga. Biar Hira sama nenek kakeknya.” Zean bertanya pelan pada Sally.


Sally melotot, Zean tak peduli. Kedua orang tua dan mertua hanya mengangguk tak masalah, toh mereka juga tidak ke mana-mana. Hira sejak tadi juga diam. Meski orang sekitar berisik, tapi bayi kecil itu tetap anteng dalam gendongan kakeknya.


“Ayo!” Tangan Zean mengulur di depan Sally. Dengan malas menerima juga.


Menuju kamar di bawah, karena memang kamar di atas hanya ditempati beberapa bulan lalu sebelum perut membesar. Sally awalnya menolak untuk tidur di bawah, ia ingin tetap tidur di kamar atas seperti dulu saat hamil Aksara. Tentu saja Zean melarang, dulu ia tidak tahu jika di rumah Birawan istrinya tidur di kamarnya sendiri di lantai dua.


Masuk kamar dan mengambil handuk lebih dulu, menggulung lengan baju dan celana panjang yang dikenakan.


“Ayok, Sayang.”


“Seriusan harus dimandiin sama Kakak?”


“Lalu?”


“Eee … aku bisa sendiri.”


“Kamu akan kesusahan, badanmu belum pulih sepenuhnya.”


Sally bergeming, ia tak tahu harus jawab apa.


“Aku nggak ngapa-ngapain, serius.” Zean memasang wajah datar tanpa ekspresi, membuat Sally menatap gamang.


“Mau kugendong?”


“Eh, enggak. Aku bisa jalan sendiri.”

__ADS_1


“Makanya, ayo.” Zean terus memaksa, mungkin jengah karena sejak tadi Sally masih duduk santai di tepi ranjang.


Masuk kamar mandi dibantu Zean, ia jadi gugup. Mereka tidak pernah mandi bersama selama ini, dulu setelah kelahiran Aksara, bu Lyra dan bu Anna yang mengurusi Sally. Karena Zean belum kembali.


“Aku malu, Kak.” Sally memeluk dirinya sendiri, membuat Zean urung membuka pakaian istrinya.


“Aku sudah sering melihatnya. Apanya yang bikin malu. Udah punya dua anak kita ini, Sa ….”


“Tapi aku tidak pernah dimandikan olehmu.” Masih enggan melepas tautan tangan dari badan, membuat Zean mendengus.


“Apa aku harus tutup mata? Lalu bagaimana aku membantumu.”


“Aku mandi sendiri bisa.”


“Enggak! Aku nggak mau ninggalin kamu di kamar mandi.”


“Kenapa? Aku baik-baik aja.”


Zean tak menjawab, ia menggeser diri mulai menyalakan shower air hangat.  Air mengguyur keduanya, justru dia sendiri yang membuka kemeja lebih dulu, menyisakan celana panjang tergulung bagian bawah.


“Kakak ngapain?!” Sally panik.


“Nggak ngapa-ngapain, nggak enak bajuku basah, Sa. Buruan lepasin tanganmu, keburu Hira nangis.”


Sally bergeming.


“Dia belum minum ASI selama perjalanan, Sa.”


Sally tersadar, anaknya memang harus disusui. Dengan pelan ia menurunkan tangan yang sejak tadi saling menaut, membuka pakaian yang dikenakan satu per satu.


Tubuh Zean tiba-tiba menegang, ia tak pernah melihat tubuh istrinya jika tengah basah oleh tetesan air. Meneguk ludah kasar, segera ia menghalau hawa panas yang menjalar di sekujur tubuh. Entah panas karena air, atau hal lain.


“Kak!” Kedua tangan Sally menutup atas bawah bagian sensitif yang mengundang perhatian Zean.


“Eh, ya. Sorry, Sa. Aku jadi kagum begini. Kau terlihat ... seksi.”


Wajah Sally memerah, ia menunduk dan segera berbalik memunggungi Zean. Dengan telaten, membantu Sally membersihkan diri. Menggosok punggung dengan lembut, agar istrinya lebih nyaman.


Dua puluh menit akhirnya selesai, membungkus tubuh Sally dengan bathrobe, mengantar sampai pintu kamar mandi.


“Aku mandi dulu, ya.” Sally mengangguk, ia kemudian meninggalkan Zean.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2