
"Tuan." Pak Jang datang menghampiri Zean yang sejak tadi hanya menatap pemandangan puncak dari area belakang vila. Dedaunan hijau, pepohonan membentang luas di pandangan. Di ujung penglihatan, perkebunan teh yang dahulu Zean kunjungi tampak kecil.
"Susunya, Tuan."
Zean tersenyum dan berterima kasih. Semenjak tangan kiri mengalami fraktur, dia rutin minum susu sehari tiga kali.
"Sudah sepuluh hari Anda di sini. Apa ada yang membuat tidak nyaman?" Pak Jang ikut mendekat. Dia menghampiri Zean yang sudah duduk dan mulai menghabiskan minuman.
"Duduklah, Pak Jang."
Beliau menurut, lalu mendudukkan diri tepat di kursi samping Zean dan berbatas meja bundar.
"Aku di sini begitu tenang, Pak. Dengan kondisi seperti ini, aku berharap untuk fokus pada kesembuhanku agar lebih cepat."
"Apa Anda tidak merindukan keluarga Pratama, Tuan? Terutama pada istri Anda?"
Zean menoleh dengan tatapan tidak biasa. Hal itu membuat Pak Jang menunduk takut. "Maaf, Tuan Muda."
Pandangan Zean kembali lurus ke depan. Kemudian, dia menghela napas panjang. Pria berkemeja teracota itu berdiri sembari melangkah beberapa kali.
Hati Zean tengah berkecamuk. Ingin rasanya pulang, tetapi tak sanggup. Dia tidak ingin membuat repot orang-orang. "Aku sangat merindukannya, Pak. Terutama anakku, apa dia sudah lahir sekarang? Apa dia tampan atau cantik? Aku bahkan belum tahu." Dia mendesahh frustrasi. "Naya belum memberiku kabar, dia juga belum ke sini sampai sekarang."
Pak Jang ikut berdiri di belakang Zean berjarak beberapa langkah. "Surat yang kemarin Anda tulis, sudah saya kirimkan melalui seseorang, Tuan. Kemungkinan hari ini sampai di tempat tujuan. Apa Anda menunggu balasannya, Tuan Muda?"
Zean menggeleng. Tanpa bicara lagi, dia masuk ke rumah dan hanya berkata akan istirahat di kamar. Sementata itu, Pak Jang sendiri tidak ingin memperjauh pembahasan jika orang yang diajak bicara sudah terlihat tak berminat.
Pria tua itu membereskan gelas yang sudah kosong. Beliau segera mencuci ke dapur. Tugas Pak Jang bukan mencampuri urusan Zean, dia hanya diminta Naya merawat sampai gips yang ada di tangan bisa dilepas.
Sa, aku merindukanmu.
Mata hitam bening itu tertutup beberapa detik. Hati Zean begitu sakit berjauhan dengan wanita yang dicinta. Akan tetapi, harus bagaimana? Dia tetap kekeuh untuk tidak pulang sementara karena tidak ingin menambah beban dan menjadi orang tak berguna dengan kondisinya yang sekarang.
Dituntut dan dididik keras menjadi seseorang yang harus serba bisa, membuat Zean tak terbiasa dengan diri yang harus merepotkan orang lain. Dia akan merasa menjadi sebuah beban keluarga jika terlalu membuat repot. Padahal, sang mama tidak pernah bilang demikian. Bu Lyra menyayangi Zean dan selalu menganggapnya seperti putra kecil yang kapan pun butuh bantuan, maka akan datang segera tanpa merasa terbebani. Namun, sayang, pikiran Zean tidak demikian. Dia memilih menghilang.
****
Usai berjalan-jalan di area taman, Sally tampak sedikit kelelahan. HPL yang tinggal menghitung hari, membuatnya semakin mudah lelah. Kakinya mulai bengkak, bahkan terkadang perempuan itj ngeri sendiri kala tidak sengaja mengamati.
Pak Im datang memanggil, lalu menghampiri Sally dengan sedikit berlari.
"Jalan saja, Pak. Jangan lari-lari," kata Sally yang melihat pak Im ngos-ngosan.
"Takut ditinggal, Nona." Pak Im yersenyum lebar dan sukses membuat Sally ikut terkikik.
"Ada apa, Pak?" Keringat di dahi diusap. Sally merasa semakin gerah dan ingin segera mandi.
"Oh, ini, Non. Pagi-pagi tadi ada yang titip surat. Katanya buat Nona." Amplop kecil berwarna baby pink disodorkan pada Sally, gadis itu tampak melihat dengan tatapan aneh.
"Surat, Pak?" Alis Sally sampai menaut. Dua mata cokelatnya melihat benda tipis itu di tangan pak Im.
__ADS_1
"Iya, Nona. Tapi sayang, tidak ada alamat dan nama pengirim."
Tangan putih Sally menyambut uluran tangan Pak Im yang dari tadi tidak berubah posisi. Gadis itu semakin mengernyit heran. Dibolak baliknya amplop kecil itu, depan belakang bergantian. "Aneh banget, zaman gini masih ada surat. Udah kayak zaman dulu saja."
Pak Im bahkan ikut tertawa geli mendengar anak majikan bicara seperti itu. "Nona, mungkin itu dari penggemar rahasia Anda, Non."
"Eh." Sally tertegun. "Mana mungkin ibu hamil punya penggemar, Pak. Lagian aku bukan janda, Pak Im jangan aneh-aneh."
Pria yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Birawan itu reflek menutup mulut. Dia segera meminta maaf karena merasa omongannya terlalu berani.
"Udah, Pak. Nggak pa-pa, aku masuk dulu, ya. Gerah, mau mandi. Makasih, ya, Pak."
"Sama-sama, Nona."
***
"Sa, sudah?" Bu Anna bertanya dari meja makan. Kursi sudah didudukki Pak Tomi dan Dion di samping sang ibu.
"Udah, Mi. Mau mandi dulu. Aku ditinggal saja enggak pa-pa," jawab Sally sedikit teriak, lantas segera menapaki tangga.
"Diantar Bi Mur ke kamar saja ya, makanan kamu?"
Langkah Sally terhenti. "Enggak, Mi."
Tiba di kamar dengan selamat, Sally duduk di sofabed sejenak. Dia mengelus perut yang semakin hari semakin besar. Tendangan yang tak kenal waktu, setiap usapan disambut bahagia dari nyawa yang ada di dalam sana. Sally selalu senang meski jauh dari Zean.
Kakak, kamu di mana? Kamu enggak ingin melihat hasil benih yang kamu tanam? Sebentar lagi dia lahir, kamu enggak ingin lihat dia perempuan atau laki-laki? Pulang, Kak, kalau kamu masih hidup. Aku merindukanmu.
Air hangat sudah memenuhi bak mandi, Sally sengaja menambah sabun aroma teraphy agar lebih rileks.
Dua puluh menit selesai. Sally segera berganti pakaian rapi dan berlanjuy menyisir rambut di depan cermin. Saat melihat segelas susu dan roti di nakas, dia tersenyum dan meminum dahulu sampai habis.
"Makasih, Mi." Susu kembali dihabiskan, lalu kembali beranjak dan mengikat rambut panjang yang dimiliki.
Sally ingin turun dan menemui keluarga. Namun, langkah kakinya terhenti, saat melihat amplop kecil di atas sofabed yang belum sempat dibaca tadi.
Lantaran sedikit penasaran, Sally duduk dan mulai membuka. Selembar kertas berwarna putih bersih dengan deretan huruf.
Gadis Kecil ....
Deg!
Jantung Sally berdegup kencang. Tangannya ikut bergetar sampai kertas itu bergoyang.
Tidak, maksudku Sayang. Sudah lama aku tidak memanggilmu seperti itu, kan?
Satu tetes air mata jatuh. Sepersekian detik terus diikuti dengan tetesan berikutnya.
Kau sehat, Sa? Tanpa menyebut siapa aku, pasti kau tahu siapa yang mengirim ini.
__ADS_1
Aku merindukanmu, Sa. Sangat merindukanmu. Apa kau membenciku karena masa lalu yang sudah kau ketahui?
Sally menggeleng dengan penuh deraian air mata seolah menjawab pertanyaan dari surat tak bersuara itu.
Maafkan aku, kalau tidak pernah memberi tahu kebusukanku dulu. Aku takut, Sa. Takut kau tidak menerima diriku lagi.
"Kakak ...." Air mata tak berhenti, Sally makin sesenggukan.
Apa kabar Si Kecil? Sudahkah dia lahir? Maafkan aku tidak bisa menemani kalian saat ini. Kondisiku tidak memungkinkan, Sa. Aku bersyukur masih hidup dan mendengar kabar kalau wanita itu tidak memiliki anak dariku.
"Pulang, Kak." Bagai luka tersiram air garam, hati Sally terasa begitu perih.
Jangan menangis, Sa. Jadilah wanita yang kuat seperti dulu. Dulu saat awal kau menikah denganku, hingga akhirnya kau bisa melewati semua itu.
Aku tidak meninggalkanmu, Sa. Setelah aku pulih, aku akan membawamu pergi bersamaku. Bersama anak kita. Tunggu aku, Sa. Dan lahirkan dia dengan selamat. Aku menemanimu di sini, di tempat senja menghilang sempurna, di saat kita mengabadikan kenangan bersama.
Sally menggeleng tak terima, ingin rasanya ia berteriak dan memanggil Zean kembali.
Sabar, Sa. Tidak akan lama. Aku juga tidak kuat menahan rindu yang terus menusuk jiwaku. Aku tidak sabar melihat wajahmu, wajah anak kita yang lucu. Berhentilah mencariku dan katakan pada semua orang kalau aku tidak mau dicari dan akan kembali saat waktunya tiba.
Berikan nama yang kutulis ini, satu di antaranya untuk anak kita. Sesuaikan saja dengan kondisi lahirnya lelaki atau perempuan.
Aku mencintaimu, Sa. Sangat. Tunggu aku dengan kesabaranmu. Maafkan aku yang egois, maaf.
Dariku, Suamimu yang selalu dan terus mencintaimu.
"KAKAK!" Tangis Sally pecah bersamaan selesainya membaca dua nama yang dituliskan Zean untuk anak mereka.
Pak Tomi yang hendak ke depan berangkat kerja, langsung berlari menuju kamar atas. Beliau mendobrak pintu kamar tanpa peduli dikunci atau tidak.
"Sally!" Bu Anna panik, saat melihat air ketuban mulai merembes di sepanjang kaki putrinya. Bahkan sudah nyaris sampai ke lantai.
"Pi, ke rumah sakit!"
Pak Tomi yang hendak bekerja jadi urung. Dengan segera, dia membawa sang anak ke rumah sakit terdekat. Siapa sangka, hari lahir yang mungkin masih lima hari lagi, tidak sesuai tanggal prediksi.
Bi Mur ikut heboh sampai teras. Dia segera berteriak pada Pak Im yang justru melongo melihat majikannya kalang kabut.
"Pi, lebih cepat!" Bu Anna semakin panik saat Sally terus meringis sakit sambil memegangi perutnya.
"Sakit, Mi. Aku takut."
"Sabar, Sa. Sabar, ya. Kamu pasti bisa."
"Pi, ayok, dong!" Bu Anna terus menyerang sang suami, padahal Pak Tomi sama paniknya.
"Mi, jangan buat Papi tambah panik. Sebentar lagi sampai."
.
__ADS_1
.