
Hari berlalu, jam terus berputar. Mentari bertengger cantik di angkasa, awan-awan putih seperti kapas mengumpul di salah satu titik, mencipta keindahan yang tak terbantahkan atas kreasi Yang Maha Kuasa.
Ujian try out pertama selesai hari Jumat, besoknya bertepatan akhir pekan, sehingga Sally bisa menikmati waktu libur untuk istirahat. Gadis SMA itu masih bergelung di balik selimut, padahal cahaya matahari sudah masuk ke penjuru ruangan lantaran tirai yang menggantung di jendela sudah tersingkap lebar. Namun, gadis itu sengaja bermalas-malasan.
Kenop pintu berputar, lalu disusul derit dan kemunculan seseorang. Kemudian, terdengar tertutup kembali. Meski mendengar itu, Sally tak kunjung ingin bangun. Dia sudah bisa menebak siapa yang masuk.
Zean berdiri di depan ranjang sambil berkacak pinggang. Pangkal rambut dan kausnya basah oleh keringat. Mata hitamnya sengaja membidik tubuh Sally yang masih setia dengan dunia mimpi.
“Bangun!” Zean berucap diikuti gerakan tangan dengan tangkas menarik selimut. Seseorang yang tadi malas bangun, langsung tersentak.
“Kak Ze!” Sally langsung terduduk dengan rambut berantakan. Wajah bantalnya terlihat menggemaskan di mata Zean.
Sadar, Ze. Dia masih bocah!
“Aku nggak sekolah. Jangan usil, deh! Balikin selimutnya!” Mata kecokelatan milik Sally menatap sengit pada Zean. Masih pagi, tetapi pria satu itu sudah mengajak ribut.
Zean menyeringai. “Bangun! Sekali-kali bangun lebih awal. Anak gadis, jangan malas-malas.”
“Aku nggak malas, tau! Cuma nikmatin wak—”
“Kalau bukan malas, apa namanya? Tiap hari kau bangun, tidak lebih dulu dariku.” Senyum meledek muncul lagi di bibir Zean. Pria itu benar-benar suka mengusili atau memang sifatnya sering membuat orang ingin marah.
Sally mendelik, mengangkat dagu seolah menantang. Dia memang tidak mau kalah, lantas kembali menyerang, “Itu Kakak yang terlalu pagi waktu bangun. Pakai olahraga segala, kalau aku, kan, yang penting tepat waktu. Tidak sampai terlambat.”
Zean berdecak, menggelengkan kepala. Kemudian, satu tangannya menekan kepala Sally. “Dasar, keras kepala.” Dia melangkah pergi usai mengembalikan selimut, mengambil baju di ruang ganti, lalu masuk kamar mandi.
Sementara itu, Sally memilih tidak peduli. Pertikaian dengan Zean bukan hanya sekali dua kali, tetapi hampir setiap hari dan waktu. Bahkan, sampai sekarang pun masih terus terjadi sejak mereka satu kamar.
Status sama-sama anak sulung, sepertinya membuat Zean maupun Sally memiliki jiwa memimpin dan tidak mau kalah. Apalagi Zean, tidak ada di kamus kehidupannya jika dia kalah dengan seseorang, kecuali orang tua.
Usai merapikan selimut dan bantal, gadis itu meninggalkan pembaringan dan beranjak ke luar. Rasa hangat merayap ke tubuh saat dia memijak lantai balkon. Cahaya matahari bersinar terang sampai memantul dari kaca jendela.
“Cerah banget hari ini.” Ralling balkon dipegangi Sally. Dia mengangkat wajah untuk melihat pemandangan di langit. Taburan bintang malam nyatanya sudah berganti awan dan langit biru yang mendominasi, sesekali terasa semilir angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Dia memejam untuk menikmati suasana, tidak biasanya matahari sehangat itu.
Belum seberapa lama menikmati keadaan, tiba-tiba sesuatu menutup kepalanya. Kemudian, disusul suara seseorang. “Udah melek? Keringkan rambutku.”
Aroma wangi sabun dan shampo langsung menguar saat suara Zean berhenti. Sally membuka mata dan melihat suaminya sudah berjalan menuju kursi. Dia berdecak, wajah yang awalnya senyum-senyum bahagia, kini berubah cemberut.
“Buruan sini! Mau ribut lagi!”
Perkataan konyol macam apa itu? Apa dia kira aku nggak bosen ribut terus?
Meski hati menggerutu tidak terima, Sally tetap berjalan ke arah suaminya. Mana mungkin dia melawan. Semenyebalkan apa pun Zean, Sally selalu berusaha patuh. Dia memegang nasihat Nenek dan Bu Anna: jika istri, sudah seharusnya menuruti suami selama dalam kebaikan.
“Turun, Kak!” pinta Sally dengan nada ketus.
Suaminya justru pura-pura tidak peka. “Kenapa?”
__ADS_1
“Kalau kayak gitu, gimana mau ngeringin rambut?”
“Berdiri sini, sampingku. Ribet amat!” Bukan Zean kalau mudah menuruti permintaan orang. Bagi pria itu, harus ada alur berputar-putar dulu untuk mengusili sang istri, baru mengabulkan.
“Ogah! Kakiku pegal kalau berdiri gitu.”
“Belum dicoba, sudah bicara terus. Coba dulu, Gadis Kecil.” Kerlingan mata sengaja diberikan. Perlakuan itu membuat Sally mendengkus kasar. Akan tetapi, hanya bisa pasrah, dia malas meladeni Zean lagi.
Suami aneh! Ingin kujambak rambutmu.
Zean melirik ke atas. Kemudian, mendapati Sally dengan wajah cemberut. Gadis itu sedang bad mood, selain terlihat dari ekspresi wajah, juga dari gerakan mengeringkan rambut secara asal.
Hati Zean berdecak. Tiba-tiba dia berdiri, memegang bahu, lalu menarik Sally untuk duduk. “Duduk sini!”
Tanpa bisa menolak, Sally sudah mendarat di kursi, sementara Zean duduk di lantai. Pria itu tidak peduli jika pakaian yang baru diganti kotor atau tidak. Ketika melihat istrinya berwajah masam, Zean merasa risih.
Beberapa menit keduanya saling diam, tidak ada obrolan. Zean menikmati setiap usapan dan pijatan kecil dari tangan istrinya. Sampai-sampai tanpa sadar jika dua tangannya menumpu paha Sally yang masih terlapisi piyama.
“Kau mau pulang?” Zean bertanya sambil memejam.
Gerakan tangan Sally sempat terhenti sebentar. Kemudian, dia bertanya, “Kakak pulang lagi?”
“Hm. Kalau kau mau.”
“Mama nyuruh pulang?” Gadis itu menunduk bertepatan dengan Zean yang mendongak.
Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu. Keheningan kembali melanda beberapa detik, sementara tangan Zean refleks menarik tengkuk Sally dan berakhir dengan pertemuan bibir.
Aaa … ciuman pertamaku!
Ingin sekali Sally berteriak, tetapi kepalang malu. Akhirnya, dia hanya mengangkat kaki dan menenggelamkan wajah di antara dua lutut.
Zean mengernyit. Detik berikutnya dia terhenyak saat mendengar isakan. Buru-buru dia berdiri dan menangkup lengan istrinya. “Hei, Gadis Kecil, kenapa?”
Kepanikan Zean tak membuat Sally lekas menjawab. Dia malu dan ingin marah karena merasa dirugikan. Ciuman pertamanya diambil orang secara tiba-tiba tanpa perasaan.
“Sa, ada apa? Aku menyakitimu?”
Sally memberanikan diri mengangkat wajah, lalu memasang tampang bengis. “Kenapa Kakak ngambil ciuman pertamaku?”
Semburan kata dari Sally membuat Zean bernapas lega. Setidaknya dia memang tidak menyakiti sang istri. Justru merasa bangga dan beruntung menjadi yang pertama.
“Aku khilaf.” Pria berkaus abu-abu itu menjawab asal tanpa dosa sambil menahan senyum. Dia khawatir jika tertawa, sang istri makin menangis.
Tingkah Zean benar-benar membuat Sally kesal setengah hidup. Dia mendorong dada bidang pria itu, lalu kembali ke kamar dan berakhir mendaratkan diri di ranjang dengan wajah terbenam di bantal.
“Kenapa justru marah? Lagi pula itu sah-sah saja, kita suami istri. Apa masalahnya, sih, Sa?” Bukan meminta maaf dan menghibur, Zean justru terus berceloteh sesuai pemikirannya. Pria itu memang tidak peka atau bagaimana, Sally sendiri tidak bisa memahami.
__ADS_1
“Enak aja ngomong gitu!” Sally langsung mengubah posisi. Dia duduk dengan memelototi Zean. “Semua yang ada di tubuhku masih suci tau, Kak! Sengaja aku jaga! Kamu main serobot aja.” Emosi Sally meluap-luap, sudah seperti gadis perawan yang tengah dilecehkan.
Helaan napas pelan keluar dari mulut Zean. Pria itu justru mendekat.
“Ma–mau apa?” Sally menjawab tergagap, tubuhnya refleks bergerak mundur.
“Mau dirimu. Agar tidak suci lagi.”
Jawaban Zean membuat Sally melotot, diiringi gerakan makin mundur sampai menabrak sandaran ranjang. Tubuhnya yang sintal mulai gemetar, takut jika Zean melakukan hal tak senonoh padanya.
Satu kaki ditarik Zean, membuat gadis itu berteriak kesetanan.
“Diem! Kau sebenarnya mau pulang tidak? Mama menunggu.”
“Le-lepasin dulu.” Sally tergugu-gugu setengah panik.
Zean tersenyum miring, membuat Sally makin takut.
Laki-laki gila, apa yang akan dia lakukan.
Zean makin dekat, membuat Sally memejam lantaran takut. Gadis itu bahkan menggeleng, memohon dan berkata ‘jangan’ sampai membuat Zean ingin tertawa lepas.
“Mandi sana!”
Tidak ada yang terjadi, Sally membuka mata pelan. Ternyata Zean sudah duduk manis bersandar di sebelahnya. Senyuman menyebalkan itu masih terpampang jelas, membuat Sally bergidik ngeri.
“Buruan mandi. Malah ngelamun, atau mau yang lain?” Kedua alis Zean naik turun, membuat Sally memukul wajah tampan itu dengan bantal. Tidak ingin peduli Zean mengaduh, Sally segera berlari ke kamar mandi sebelum pikiran suaminya berubah.
Masih dengan tawa kecil keluar dari bibir, Zean turun dan merapikan tempat tidur. Dia menuju ruang ganti untuk bersiap sebelum hari makin siang.
Bayang-bayang Sally terlintas, pria itu tersenyum. Hatinya menghangat ketika ingat bisa bercanda seperti tadi dengan sang istri.
Perjalanan dan tujuan menikah mungkin sebentar lagi tercapai, membahagiakan kedua orang tua yang selalu diutamakan. Zean sampai harus merelakan semua kesenangan, demi menikah dengan pilihan ayahnya.
Gadis itu, makin hari makin membuatku tertantang.
.
.
.
Bersambung …
Iklan:
Jangan lupa tekan love dan like setelah baca.kelihatannya sepele cuma like sama tap lope aja, tapi sangat berarti untuk penulis, apalagi untuk yang masih belajar kayak aku. hehe.
__ADS_1
Berasa, ada yang nyemangati.
salam cinta, carangeo, lope, lope.