
Warning!
Part ini mengandung kata kasar, jika tak cocok. bisa skip dan tinggalkan, ya...
Happy reading... 😉
***
Jabatan baru benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Seharian Zean fokus pada pekerjaan. Jemarinya tak henti menari ke sana ke sini menekan tombol huruf, angka dan tanda baca di keyboard laptop. Hembusan napas kasar terdengar dengan jumlah tak terhitung mungkin.
Elo sama sibuknya, kedua pria dewasa itu bahkan nyaris tak adu bicara sehari penuh. Jam menunjuk pukul lima sore, tanda waktu pulang bagi para pekerja.
Ponsel Elo bergetar, segera menerima panggilan setelah melihat nama yang tertulis di layar. “APA? Sekarang kau di mana?!” Manik mata cokelat itu membeliak kaget, seiring dengan terlonjaknya Zean dari duduk.
“Asisten gila! Apa yang kau lakukan?!” Zean ikut berteriak, tak terima dengan ulah Elo yang bisa saja membuat jantungnya copot, untung saja itu ciptaan Tuhan.
Elo tak acuh, dengan segera menyambar jas dan berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan, bahkan tanpa membereskan sisa pekerjaan yang tadi masih ia pindai.
“Hei … kau mau ke mana? Siapa yang mau membereskan pekerjaanmu?!” Suara Zean tak sampai, pasalnya Elo sudah menghilang setelah menutup pintu dengan membanting benda itu cukup keras.
“Sepupu sialan! Sejak kapan dia berani tak mengacuhkanku!” Zean terus mengumpat kesal. Dada bidangnya naik turun mengatur napas yang ikut memburu karena kaget sekaligus emosi.
Tak ambil pusing, ia segera ikut bergegas pulang. Hari ini jadwal Sally memeriksakan kandungan, tentu saja Zean tak mau kelewatan dengan kabar perkembangan bayinya. Menyambar kunci mobil, memakai jas dengan berjalan. Segera menutup ruangan.
Beberapa pekerja menyapa ramah seperti biasa, tapi Zean hanya diam tak merespon. Membiarkan para karyawan terheran, karena baru kali anak dari pemilik perusahaan itu bersikap tak peduli.
Mobil melesat meninggalkan gedung Pratama Group, Elo sudah tak meninggalkan jejak sama sekali. Zean masih bersungut, emosi hampir memuncak sampai ubun-ubun.
Jalanan macet menambah kesesakan di dada. Berulang kali mendengus kasar. Bayangan ucapan Sally tadi pagi terlintas, Zean tersenyum tipis. Lelaki itu selalu antusias dan senang, jika menyangkut calon buah hati.
Bunyi klakson terdengar bersahutan, ketika traffic light baru saja menyala hijau. “Cih! Apa mereka tidak bisa sabar. Baru juga lampu menyala, sudah buru-buru bagai ayam yang dikejar musang.”
Pengendara lain yang tak ada sangkut paut dengan urusan Zean, ikut dicemooh. Seketika gilanya kambuh, ikut membunyikan klakson meski tidak di lampu merah.
***
Elo tergesa menapaki lorong rumah sakit. Segera ia menghampiri kamar IGD berada. Tampak wanita pujaan hati sudah membenamkan wajah di antara dua lutut yang ditekuk, ia segera menariknya ke dalam pelukan. “Apa yang terjadi?”
Tangis Alika makin pecah, tubuhnya bergetar hebat seiring irama dada naik turun karena tangis sesenggukan.
“Al … tenanglah. Ada apa?” Kembali Elo bertanya, tapi Alika masih belum bisa menjawab.
Diam. Membiarkan Alika menangis dan meluapkan kesedihan di pelukannya, berharap setelah itu ia bisa mendapat penjelasan.
Alika mengangkat wajah, kedua tangan mengusap pipi yang penuh dengan air mata. Rambut panjang lurusnya ia rapikan sebentar, lalu menarik napas dalam.
Menghembuskan pelan, mulai berkata, “Elis … Elis, El.” Tak kuasa, air mata kembali luruh. Elo kembali memeluk, membelai lembut surai panjang berwarna hitam milik Alika.
“Tenangkan dirimu, aku nggak maksa kamu cerita sekarang.”
Wanita itu mengangguk, lama-lama mulai bisa mengontrol diri. “Elis tertabrak mobil sepulang sekolah El. Aku tadi telat menjemputnya.”
__ADS_1
Tubuh Elo menegang, merasa syok dengan fakta yang baru ia dapatkan. Pasalnya tadi ia hanya mendapat telepon, jika Elis kecelakaan, tapi tidak tahu kronologi kejadian.
“Tenang, doakan yang terbaik. Aku di sini.” Hanya bisa mengangguk. Elo lalu meraih tubuh Alika untuk diajak duduk di kursi tunggu.
“Duduk di situ, di lantai dingin. Tunggu penanganan dari dokter.”
Baru duduk mungkin sekitar satu menit, seorang suster keluar dengan wajah sedikit panik. “Keluarga Elis!” seru suster.
Elo dan Alika berdiri, menghampiri suster yang juga menghampiri mereka.
“Bagaimana, Sus? Gimana kondisi anak saya?” Semakin panik, Alika tak bisa tenang jika belum mendapat jawaban yang menurut dirinya baik.
“Nona … anak Anda mengalami pendarahan di kepala. Darah keluar terlalu banyak, kami membutuhkan pendonor untuk menolong nyawa anak Anda.”
“Segera lakukan Suster!” Elo menyahut lebih dulu.
“Maaf, Tuan. Golongan darah pasien ini termasuk langka, di rumah sakit kami sedang kosong untuk stok kantung darah dengan golongan O-.”
Alika terduduk lemas, membungkam mulut karena tangis histeris. Semakin kacau pikirannya, lalu harus ke mana ia mencari pertolongan.
“Al … tunggu di sini. Suster, saya akan segera mendapatkan pendonor. Tolong selamatkan pasien.” Segera meninggalkan Alika dan suster yang masih berada pada posisi mereka. Otak Alika jadi berpikir, ke mana Elo akan pergi? Mungkinkah menemui sepupunya? Karena memang Alika tahu, golongan darah yang dimiliki Zean sama dengan yang Elis miliki.
***
Keluar dari ruang poliklinik kandungan, wajah Zean dan Sally begitu bahagia. Tak sabar, menanti lahirnya buah cinta mereka.
“Sa … kenapa kamu nggak pengen tahu jenis kelamin anak kita?” Zean masih tak bisa terima, karena Sally meminta pada dokter yang menanganinya untuk tidak memberi tahu jenis kelamin bayi dalam perut itu. Dengan alasan, agar jadi kejutan katanya.
“Tapi Sa—“
“Ssttt ….” Telunjuk mungil sudah menempel di bibir Zean, pertanda agar laki-laki itu menghentikan bicara.
“Yang penting sehat, Kak. Dan aku senang menjalani kehamilan ini.” Tersenyum lebar, berharap sang suami luluh dan menurunkan ego, agar mau menerima keputusan.
“Huft!” Zean menghela napas, ia tahu jika tak akan menang. Masih ingat betul jika isrinya keras kepala seperti batu.
“Baiklah … kita pulang. Sudah malam.” Sally mengangguk.
Sampai di depan rumah sakit, sekelebat bayangan yang dikenal Zean melintas. “Elo!” Zean berteriak, menghentikan lelaki berjas hitam yang hendak masuk mobil.
Segera Elo berlari dan menghampiri Zean. Menarik lengan kiri, ingin membawa dia masuk. “Elo! Apa yang kau lakukan?” Zean mengelak. Segera membuang kasar cengkeraman Elo.
“Anakmu butuh dirimu untuk mendonorkan darah. Sekarang!” ucap Elo tak kalah lantang, seakan tak melihat jika Zean sedang bersama Sally.
Gadis itu terhenyak. “Kak El! Apa maksudmu?!”
“Sa … suamimu ini, punya anak dengan calon istriku.”
Sally semakin tak percaya, ia menggeleng cepat. “Bohong!”
“El! Kau gila! Dari mana kau tahu aku punya anak dengan Alika?”
__ADS_1
“Kau kira aku tak tahu, jika Alika adalah mantan kekasihmu?!” Zean tersentak, netra hitam yang ia miliki membulat sempurna. Melotot kaget.
“Dia memang mantanku, tapi bukan berarti anaknya adalah anakku!” Masih membela diri. Zean tak bisa tinggaal diam, bisa-bisa Sally salah paham.
“Jangan berkilah, Ze. Bukannya tidur dengan para wanitamu dulu adalah hal biasa. Kau kira aku lupa dengan masa lalumu.”
“Kau brengsek, El! Meski begitu, bukan berarti anaknya adalah hasil dariku.” Zean menendang kasar Elo, kakak sepupunya terhuyung mundur.
“Bedebah! Kau juga tak kalah brengseknya denganku. Kita sama! Aku cuma butuh kau mendonorkan darah untuk Elis. Setelah itu kau bisa lakukan tes DNA jika mau.”
Sally diam, air mata sudah turun sejak tadi. Ia menggeleng kepala, berharap jika yang ia dengar hanya mimpi.
Berjalan mundur perlahan, meninggalkan dua lelaki yang masih terus bersiteru. Zean menyadari hilangnya Sally, segera ia mengejar istrinya.
Bruk!
Tak peduli lagi, Zean meninggalkan Elo yang ambruk karena pukulan dan tendangan kasar darinya.
“ZEAN!!” Lelaki itu tak peduli.
Segera mencari keberadaan Sally, tapi tak ia dapati. Menuju jalan raya, ternyata Sally sudah mulai masuk ke dalam taksi.
“Shitt!”
Zean segera mengambil mobil, tampak Elo masih bersikeras menghampiri. “Bangsat! Gara-gara dirimu istriku salah paham.”
Bugh! Bugh! Bugh! Pukulan berulang Zean layangkan, tak peduli dengan siapa ia berkelahi.
“Ini salahmu! Tidak mau menolong Elis, dia butuh golongan darah O negatif, dan itu ada pada darah keluarga Pratama, ‘kan?”
“Aku tak peduli!”
“Ze! Bagaimanapun juga, Elis anakmu, ‘kan?”
Muak! Zean sungguh muak. Tapi dia tidak bisa menjawab, lantaran ia sendiri lupa jika pernah tidur dengan Alika. Karena saat menjalin hubungan dengan wanita itu, Zean juga merangkap tiga dengan perempuan lain.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ….
Selamat istirahat. Besok Sahor, Kak. 😁
__ADS_1