Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 10


__ADS_3

Tepat masuk di kamar mandi, Lisa dengan segera membasuh wajahnya. Menatap nanar pada cermin toilet, sedang Sally hanya menunggu gadis itu tenang.


“Sejak kapan kau menyukainya?” Tanpa bertanya, Sally sudah tahu apa yang membuat sahabatnya sampai kaget seperti tadi.


“Aku nggak tahu, mungkin sejak pertama kali melihatnya. Di pernikahanmu, Sa.”


Ibu hamil itu hanya menghela napas panjang. “Kau terlambat, Lisa. Dia sudah memiliki wanita idaman.” Gadis itu mengangguk, lalu memeluk Sally. “Aku tak apa, toh ini mungkin hanya cinta sesaat. Lambat laun pasti akan sirna, seiring kesibukan yang aku alami.”


“Aku akan membantu jika aku bisa.” Lisa menggeleng.


“Nggak! Aku nggak pengen ngerepotin kamu, kamu harus fokus pada calon keponakanku. Masih banyak lelaki yang tak kalah ganteng dengan kak Elo di kampusku.”


Sally terkekeh, dia baru ingat jika sahabatnya ini pengagum pria tampan.


“Baiklah, kita kembali kalau kamu baik-baik saja.”


Keduanya memilih kembali daripada mencurigakan, takut membuat keluarga juga khawatir.


“Sayang … kau tak apa? Kenapa lama sekali? Ada yang sakit?” Zean sudah menghampiri dengan langkah gusar, mencerca dengan berbagai pertanyaan. Membuat semua anggota makan malam itu tampak geleng kepala termasuk Naya pula.


“Kak! Jangan lebay deh. Malu dilihat orang.” Sally justru emosi, ia risih menjadi pusat perhatian.


“Memangnya kenapa? Peduli apa kita dengan mereka. Anggap saja mereka sesuatu yang tak kasat mata,” jawab Zean tak kalah sinis.


Lisa hanya terkikik mendengar jawaban Zean, semenjak kapan suami Sally itu menjadi begitu posesif. Terkadang iri juga, ingin segera cepat-cepat menikah. Ups!


“Bob, aku jadi ingin cepat istirahat seperti dirimu,” kata Pak Tomi.


Pak Bobi terkekeh, lalu menjawab, “Kau lebih muda dariku, tunggulah Dion dewasa.”


“Haah … Bocah ini masih kecil, butuh beberapa tahun lagi,” desahnya frustrasi.


“Tenang saja, Pi. Tidak perlu tunggu aku lulus kuliah, aku sudah bisa bekerja di Birawan Company. Seperti Kak Zean, tidak perlu nunggu lulus.”


“Baguuusss … kamu memang adik ipar yang cerdas. Tos!”


Semua orang tertawa, melihat keakraban kedua keluarga tersebut. Hingga tak sadar sudah berapa jam mereka duduk di meja restoran itu. Lalu lalang kendaraan masih terlihat ramai, tapi nampak sebagian pengunjung sudah bergegas pulang.


Bersiap kembali ke tempat masing-masing, semua memeluk hangat bergantian setiba di parkiran.


“Mami nggak nginep di rumah Papa?” Sally bertanya, tapi bu Anna menggeleng.

__ADS_1


“Mami dan Papi sudah check in hotel di area sini, besok saja ke rumah kalian.”


“Hati-hati ya, Mi.” Bu Anna mengacak rambut putrinya, lalu berpamitan pada yang lain.


“Sini Eza, Nay.” Zean meminta Eza untuk ia gendong, karena bocah kecil itu sudah terlelap sejak mereka menyantap hidangan penutup.


“Om Andra nginep di rumah, ‘kan?” tanya Zean.


“Nyari hotel sajalah, Ze. Biar Naya saja yang di sana,” jawabnya. Beliau ragu untuk kembali ke rumah itu, mungkin … takut teringat dengan kenangan pilu detik-detik ia keluar dari keluarga Pratama dulu.


“Kembalilah ….” Satu tepukan mantap dari sang kakak, membuat om Andra ragu menjawab.


Sejenak menatap kedua netra bening yang pak Bobi miliki, bu Lyra bergantian, sang keponakan, lalu mengangguk pelan. Ia tak bisa berkata untuk menolak lagi.


Memasuki mobil masing-masing, tak terkecuali Lisa dan Elo. Sudah cukup acara makan-makan tersebut, rutinitas akan kembali seperti biasa besok.


Mobil melesat meninggalkan restoran tadi, tiga mobil menuju ke kediaman Pratama, satu mobil ke hotel, satu lagi ke apartemen Leon, dan mobil Elo melesat ke kawasan jalan X mengantar Alika pulang.


***


“El, kenapa kau katakan kalau aku akan menjadi istrimu?” tanya Alika di tengah jalan.


Lelaki itu terkekeh. “Bukankah kau mencintaiku? Memangnya salah jika aku ingin menikahimu?” Menoleh pada wanita berambut panjang lurus di samping ia duduk. Binar bahagia tanpa keraguan terlihat jelas di kedua mata yang Elo miliki.


“Tenang saja, keluargaku sudah kuberi tahu tentang dirimu, mereka tidak masalah. Kau mungkin tak tahu diriku, Al. Tapi kuharap, kau tidak menolakku lagi kali ini.”


Wanita itu mendesah frustrasi, menarik napas dalam, mengembuskan pelan. Lalu kembali berkata, “El, sebenarnya … aku mantan dari Zean.”


Deg!


Mobil seketika berhenti saat itu juga. Elo harus menetralkan degup jantungnya yang seolah terkena pukulan godam mendadak.


“Kau bilang apa, Al?” tanyanya gusar, penuh penekanan.


“Ya … aku mantan kekasih Zean, enam tahun lalu. Senior yang kumaksud saat aku menolakmu adalah Zean.”


Hawa panas tiba-tiba menyergap tubuh Elo. Tangan mengepal kuat, rahangnya ikut mengeras, guratan otot tercetak jelas di wajah tampan itu, dan seluruh tangannya yang kekar. Tak memilih bertanya lagi, ia memilih melesatkan mobil saat itu juga.


Lebih cepat dari biasanya, Elo mengemudi di atas kecepatan rata-rata. Membuat Alika takut, sampai tak berani bicara lagi.


“Terima kasih,” katanya saat sampai di depan toko kue Alika.

__ADS_1


“Al ….” Tangannya meraih lengan wanita beranak satu itu. “Apa kau masih menyukai Zean?”


Perempuan itu justru tergelak, membuat Elo bingung.


“Tentu saja tidak. Hanya saja, aku takut jika Zean tidak bisa menerima hubungan kita. Dia begitu menyayangimu.”


“Kau ada masalah dengannya?”


Alika hanya tersenyum. “Sudah malam, aku harus pulang. Elis pasti menunggu sejak tadi. Para pekerjaku juga harus pulang. Mereka pasti lelah mengurus anakku.”


Terpaksa melepas lengan wanita yang ia puja, meski tak mendapat jawaban pasti.


Mengembuskan napas dengan berat. Lalu ia kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan kepalanya berputar, memikirkan hubungan masa lalu Alika dengan Zean.


Mengingat dengan jelas siapa sosok Zean saat dulu, tidak berbeda jauh dengannya.


“Alika … siapa Elis sebenarnya?”


Kata-kata itu meluncur begitu terus sepanjang perjalanan. Otaknya benar-benar kacau, menerka-nerka yang tidak-tidak. Bahkan berburuk sangka pada saudaranya sendiri.


“AARGHH!” Satu pukulan kasar mendarat pada setir mobil, tak henti-henti ia mengumpat.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Ehem … pasti pikiran netijen pada sama kayak yang dipikirin Elo. 😆😆


Kalau dugaannya benar, siap-siap potek berjamaah. 🤧

__ADS_1


Like + komen jan lupa. Gratiss kak.


__ADS_2