Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 27: Hujan


__ADS_3

Mata Sally terus berkeliling menyusuri kamar Zean. Baru kali ini dia menginap. Kemarin-kemarin, pertama kali datang ke kediaman Pratama, gadis itu langsung meminta pulang lantaran besoknya sekolah dan suasana hati memburuk.


Gadis bekaus longgar itu naik ke ranjang, menyimpan kaki di bawah selimut, lalu satu tangan menarik ponsel dari atas nakas kecil samping tempat tidur. Berada di kamar besar sendirian, membuatnya bingung.


“Aku kirim pesan sama Lisa aja, deh.”


Pilihan Sally berakhir pada menu pesan di ponsel. Dia mengetik banyak kata, lalu dikirimkan ke sahabatnya. Tidak butuh waktu lama, balasan diterima. Dia senyum-senyum sendiri sambil terus mengetik sampai tanpa sadar sudah berapa lama seperti itu.


Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok jangkung dengan wajah datar seperti biasa. Sally menurunkan ponsel dari depan wajah, menatap suaminya yang berjalan ke mendekat.


“Kenapa belum tidur?” Zean bertanya sembari mendaratkan bokong ke tepi ranjang terdekat dengan sang istri. Satu tangannya terangkat untuk memberi cubitan kecil di pipi Sally.


Sally menepis cepat, senyum bahagianya lenyap berganti muka masam. “Apaan, sih, Kak? Aku nggak suka.” Dia beringsut mundur, menyampingkan badan untuk menaruh ponsel di atas nakas.


“Kak Delon sudah pulang?” Gadis itu mengubah posisi yang awalnya bersandar di kepala ranjang, ganti duduk tegak bersila menghadap Zean.


Mendengar nama pria lain disebut, wajah Zean memberengut. Dua mata beriris hitam itu memicing, menaruh curiga. “Untuk apa kau bertanya soal dia? Jangan bilang, kau menyukainya.”


Tatapan Sally membulat, bola matanya nyaris keluar dari rongga mendengar tuduhan sang suami. Dia melengos, malas bicara jika Zean sudah seperti itu.


“Hei, Gadis Kecil.” Tangan Zean pindah ke atas kepala. Dia memutar kepala Sally agar menghadap padanya. “Aku bertanya.”


“Pertanyaan Kak Ze aneh, tau, Kak. Bikin orang bad mood.”


Bukan menenangkan Sally, Zean justru menukikkan alis sebelah. “Memangnya di mana letak kesalahan pertanyaanku?”


Kaki Sally mengentak-entak di bawah selimut, hidungnya kembang kempis menahan geraman. Dia lelah menghadapi Zean. “Ya, salah, Kak. Aku tadi cuma nanya, tapi tahu-tahu dituduh. Yang benar saja.” Bibir merah muda seperti jambu itu mengereyot kanan kiri, bergumam sebal akibat ulah suaminya. Andai bisa jujur, Sally ingin meneriaki Zean karena terlalu menyebalkan jadi manusia.


“Oh.” Zean mengangguk-angguk sambil menahan senyum. Gadis di hadapannya sangat lucu. “Tadi dia bilang mau menginap, tidur di kamar tamu. Tapi waktu aku ke sini, dia masih ngobrol sama Papa.”


Bibir Sally terkunci. Dia sudah tidak selera meneruskan obrolan. Wajahnya terus berpaling, memandang lurus pintu kamar tanpa ingin menoleh ke arah Zean yang masih ada di samping.


“Tidur, sudah malam.” Zean berdiri, memutari ranjang untuk mengambil tempat kosong di sebelah Sally.


Sementara itu, istrinya mulai merebahkan badan perlahan. Dua mata kecokelatan miliknya memandangi langit-langit kamar yang didominasi cat putih. Dia berharap bisa segera tidur dan mimpi indah, tetapi sepertinya sulit.


“Kak.” Gadis itu memanggil pria di sebelahnya yang sudah memejam. Sebenarnya, dia tidak ingin menganggu, tetapi Sally bosan lantaran sulit untuk tidur.


“Kak,” panggil Sally sekali lagi.

__ADS_1


“Hm.” Zean hanya menjawab seadanya tanpa berniat membuka mata.


“Kak Ze.” Sally kembali memanggil lirih, dua tangannya menaikkan selimut sampai dagu.


“Tidur, Gadis Kecil.” Posisi tidur Zean yang awalnya telentang, kini berubah miring demi bisa memeluk Sally. Pria itu terus menyuruh istri kecilnya tidur tanpa bertanya ‘kenapa’ dan membuka mata. Dia memang lelah, perjalanan antar kota membuat otot kaku dan ingin segera beristirahat.


Melihat Zean terus memejam, Sally membuang tangan suaminya dari perut. Kemudian, dia menyibak selimut dan ingin turun.


Merasa terganggu pergerakan sang istri, Zean langsung duduk dan membuka mata pelan. “Mau ke mana?” Dia bertanya sambil menutup mulut karena menguap.


Kaki yang baru memijak lantai itu berhenti, menoleh ke arah Zean, Sally menjawab, “Matikan lampu, Kak.”


“Hm, ya, sudah. Segera tidur.” Tubuh kekar itu ambruk ke ranjang kembali. Zean tidak perlu menunggu Sally naik peraduan. Dia memilih menjelajah mimpi lebih dahulu.


***


Mentari siang bergeser makin turun, sore sebentar lagi menyapa. Sally berkemas untuk pulang ke kediaman Birawan. Waktu seharian penuh sudah dihabiskan bersama ibu mertua untuk bereksperimen membuat kue dengan resep baru. Bu Lyra bilang, resep itu hasil dari belajar bersama teman arisan.


Sementara itu, Zean justru sibuk rebahan tanpa niat membantu Sally. Dia membiarkan istri kecilnya kerepotan sendiri. Permainan games sedang menguasai perhatian Zean secara penuh, sampai tidak melihat sekitar.


Sally berdiri usai menutup koper. Dia membuang napas pelan dari mulut saat melihat suaminya. Gadis itu mengira jika Zean adalah pria yang selalu serius, tetapi nyatanya tidak. Pria itu menjelma menjadi bocah ketika berada di tengah keluarga.


Sadar jika tengah diamati, Zean melirik, lalu memutar badan. Satu jarinya mematikan ponsel, badan rebahannya berganti duduk. Telunjuknya membuat gerakan menekuk dan lurus bergantian, mengarah pada Sally. Dia tengah meminta sang istri untuk mendekat.


Meski malas, gadis itu akhirnya datang.  Dia menyingkap rok bunga-bunga agar tidak kusut, baru mendaratkan diri di ranjang secara perlahan dengan kaki masih menjuntai ke bawah.


“Pulang sekarang?” Wajah Zean berubah serius. Dua matanya menatap intens pada Sally.


Perbuatan Zean membuat Sally risih. Dia mengalihkan perhatian, lalu mengangguk. “Iya, Kak.”


Zean mengganjur napas. “Baiklah.” Tangan Zean menepuk kepala Sally, lalu beranjak dan menuju ruang ganti.


Tidak butuh waktu lama, sepupu Elo itu sudah keluar dengan celana panjang cokelat susu dipadu kemeja polos putih. Dia mendekati Sally sambil menggulung lengan kanan dan kiri.


Berbeda dengan Zean yang santai, Sally justru takjub pada penampilan sang suami. Tanpa dikagetkan, jantung Sally sudah berdebar-debar, wajahnya ikut memanas.


“Ada apa?”


Sally terhenyak. Dia segera mengalihkan perhatian ketika kepergok sang suami tengah mengagumi diam-diam.

__ADS_1


Ya, ampun, Sa, lagi-lagi bikin malu.


“Gadis Kecil?” Zean mengulang kembali pertanyaan. Pria itu selalu penasaran akan suatu hal sebelum dapat jawaban. Namun, karena malu, tentu Sally tak akan menjawab.


“Geleng-geleng terus.” Zean meledek. “Aku tahu, kau pasti sedang mengagumi suamimu yang tampan ini, kan?”


Ingin rasanya Sally berteriak dan mencari lubang semut untuk bersembunyi. Dia terlalu malu dan gengsi untuk mengakui. Apalagi pada sang suami yang suka sekali usil, pasti harga diri Sally makin hilang nantinya.


“Sudahlah, kau bisa mengagumiku kapan pun itu.”


Sally melotot kali ini. Dia lama-lama mual jika mendengar pria di depannya itu terlalu percaya diri.


“Ayo, turun! Sebelum hari petang.” Koper hitam berisi pakaiannya dan Sally, Zean tarik. Mereka harus segera berangkat agar tidak malam sampai di kota A.


Di lantai dasar, Zean tak mendapati ibu dan ayahnya. Pria itu mengernyit karena dua orang tuanya tidak terlihat. Dia menaikkan lengan, mengintip jam saat ini.


“Setengah tiga. Apa mungkin Mama dan Papa masih istirahat?” Pria itu bergumam sendiri, sementara Sally hanya mendengar di belakangnya.


“Tuan Muda.” Bi Minah menghampiri. “Mau pulang ke kediaman Birawan, Tuan?”


Zean dan Sally mengangguk. “Mama sama Papa ke mana, ya, Bi?”


“Mereka bilang keluar, Tuan. Hanya berpesan hati-hati jika belum kembali.”


Mengerti akan pesan ibu dan ayahnya, Zean mengangguk dan berpamitan pada Bi Minah.


Mobil melesat meninggalkan kediaman Pratama. Jalanan kompleks yang dipenuhi pohon besar membuat suasana teduh. Sally mengamati pemandangan luar dari kaca jendela, sementara Zean tetap fokus mengemudi.


Ketika sudah ikut bergabung dengan kendaraan lain di jalan utama kota beberapa menit, tiba-tiba hujan deras turun disertai petir yang saling bersahutan. Padahal, perjalanan masih jauh, belum ada separuh.


Khawatir akan kondisi berkendara di tengah cuaca buruk, Zean menepikan mobil dan mengajak Sally mencari hotel terdekat.


“Tapi, Kak.” Baru hendak menolak, suara petir kembali menggelagar dan membuat Sally kaget. Gadis itu refleks menghambur ke pelukan Zean.


“Tidak ada pilihan lain, hujan terlalu deras. Jalanan sampai tak terlihat, Sa.” Tanpa menunggu jawaban Sally, Zean melajukan mobil pelan. Dia mencari hotel terdekat untuk berjaga seandainya hujan tak reda sampai malam, sementara Sally hanya bisa pasrah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2