
“Rapi banget, Kak.”
Pemandangan pertama yang Sally lihat saat membuka mata. Zean sudah rapi dengan jas dan celana serba hitam, aroma parfum wangi dengan sensasi maskulin tercium, rambut tersisir rapi,dan sebuah dasi sudah bertengger tinggal dikaitkan.
Berjalan mendekat, lalu mengecup lembut kening Sally. “Aku lupa kasih tahu kamu. Hari ini hari pengalihan jabatan, papa mau istirahat katanya.”
Mencoba mencerna pembicaraan suaminya. “Maksud Kakak, papa mau pensiun kerja.” Zean mengangguk lalu duduk di samping Sally.
“Aku juga nggak nyangka, ini lebih jauh di awal dari perkiraan. Dulu, papa bilang masih beberapa tahun lagi. Tapi ntahlah, tiba-tiba beliau memajukan rencananya. Nggak berani tanya, nanti ribet.”
Sally terkikik, membuat Zean menoleh heran. “Kenapa?”
“Nggak papa kok, kadang aku lucu sama Kakak.” Alis Zean naik sebelah, “Kalau marah-marah aja terlihat nyeremin, tapi aslinya penakut juga. Aku sekarang tahu kelemahan Kakak,” ujarnya bangga sambil menjetikkan jari.
“Apa?”
“Papa.” Senyum kemenangan terlihat jelas, menatap lekat kedua netra hitam yang Zean miliki.
“Ish … kamu, ya.” Tangannya mengacak gemas rambut Sally. Keduanya tertawa.
“Ada Eza di rumah, kamu bisa main sama dia.”
Tangannya mengulur meraih dasi berwarna hitam, mulai mengaitkan perlahan. “Dia sendiri, Kak?”
“Iya, Naya mungkin nanti sore ke sini. Sekalian makan malam.” Sedikit menunduk, menelisik paras ayu yang tengah serius dengan gerakan tangan, sibuk membenahi dasi di leher.
“Makan malam?” Ia mendongak.
Cup!
Satu kecupan di bibir langsung menyambut. “Iya, nanti makan malam bareng. Aku ajak kamu keluar, ngerayain jabatan baru. Kalau hari ini lancar, doakan aja.”
“Siap Tuan muda ….” Meniru gaya bicara khas Elo yang pernah ia dengar ketika bersama Zean.
Laki-laki itu tergelak, lengkingan tawa terdengar di seluruh ruangan. Sally hanya ikut terkekeh, melihat senyum merekah sang suami.
“Makin gemes aku sama kamu, Sa.” Gadis itu mencebik.
“Nggak suka?” Sally menggeleng. “Lalu?”
Menepuk pelan dada Zean beberapa kali, setelah rapi dasi itu terkait. “Dulu aja, Kakak kesel mati-matian. Sekarang terang-terangan bilang gemes. Aneh tau Kak, geli aku.”
“Siapa kesal?” Gadis itu memicingkan mata. “Ya Ka—“
“Bukannya kamu?” Zean menolak cepat, membalikkan ucapan dengan nada mengejek.
“KAKAK ....” Satu pukulan kesal mendarat di dada. Tertawa lalu merengkuh tubuh Sally saat itu juga.
“Maafin aku ya, Sa. Kalau banyak bikin kamu makan ati. Aku terlalu telat menyadari perasaanku sendiri.” Satu, dua, tiga kecupan mendarat di puncak kepala gadis itu.
“Udah, ntar telat. Keluar gih, sarapan.”
“Kamu enggak?”
“Iya bentar lagi, mau ke kamar mandi dulu, Kak.”
__ADS_1
“Oke, aku tunggu di luar.” Sally mengangguk.
“Hati-hati, Sayang,” teriak Zean dari ambang pintu, lalu menghilang.
***
“Daddy!” Bocah kecil, dengan wajah putih karena bedak sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan.
Zean tersenyum, mencubit kecil pipi bocah laki-laki itu. “Kamu kangen sama daddy?”
“Um.” Anggukan kepala sebagai bukti setuju.
“Maaf ya, baru ketemu. Semalam daddy udah tidur.”
“It’s oke Dad, no problem.” Zean tersenyum, lalu meraih piring yang diisi makanan oleh bu Lyra.
“Makasih, Ma.”
“Sally mana?” Pertanyaan bu Lyra membuat pak Bobi ikut melirik anaknya.
“Masih mandi, Ma. Bentar lagi keluar.” Kedua orang tua itu hanya mengangguk. Lalu sarapan bersama.
Sally tiba dengan ceria, duduk di sebelah Zean dengan tenang.
“Kalian pindah kamar?” Pak Bobi bicara.
Sally mengangguk. “Takut Pa kalau di atas,” kata Zean.
“Kapan HPL kamu, Sa?”
“Makan yang banyak, nggak usah takut gendut.”
Uhuk … uhuk!
Sally tersedak jus jeruk yang baru ia minum beberapa teguk, mendengar pak Bobi berkata seperti itu. Heran, bahkan ayah mertua terasa lebih peka dari suami sendiri.
“Sayang, hati-hati.” Tepukan pelan, di punggung gadis itu. Zean sempat panik.
“Maafkan papamu, Sa.” Bu Lyra ikut menyalahkan sang suami. Pak Bobi diam, ekspresi datar persis seperti yang Zean miliki.
“Mommy, are you oke?” Eza ikut menyela. Semenjak kedatangan Sally di rumah kakeknya, Naya memberi arahan untuk menganggap Sally juga seperti ibu. Bocah kecil itu awalnya bingung, karena selama ini hanya Naya seorang yang menjadi ibu, dan Zean sebagai ayah. Tapi, lambat laun ia paham. Menuruti perintah Naya memanggil Sally dengan sebutan yang sama.
“Yah, mommy baik-baik aja kok.” Mukanya yang merah karena tersedak tadi, mencoba tersenyum manis di hadapan bocah tiga tahun itu.
“Papa cuma nggak pengen cucu pertama nanti kekurangan gizi,” lanjut pak Bobi, seolah tak peduli jika Sally syok dengan ucapan yang tadi.
“Pa … Sally tiap hari sama Mama, nggak bakalan kurang gizi. Jangan ngada-ngada, Pa.” Bukan Sally atau Zean, tapi justru bu Lyra yang sewot mendengar ocehan pak Bobi pagi hari.
“Ayo berangkat, Ze.” Mengabaikan istrinya, lalu beranjak dari meja makan. Ya ampun, padahal Zean baru memulai makan beberapa menit tadi. Putra Pratama itu hanya tepuk jidat, jika melihat kedua orang tua berselisih.
“Sayang, aku berangkat.” Satu kecupan mendarat di kening Sally, ganti ke Eza, lalu menghampiri ibunya.
“Ma … jangan merusak mood papa, bisa-bisa aku tidak jadi naik jabatan hari ini.” Wanita paruh baya itu sontak menarik telinga Zean—kesal. Pagi-pagi kedua lelaki di kehidupannya sama-sama menyebalkan.
“Kamu, ya! Memang benar-benar turunan Bobi Pratama.”
__ADS_1
“Ampun Ma … aku harus kerja, bisa didamprat papa kalau nggak berangkat juga.” Meringis menahan sakit, mengusap-usap telinga yang memerah dan terasa panas.
“Titip istriku.” Satu kecupan mendarat di pipi wanita itu lalu segera pergi. Beliau hanya mendengus menetralkan emosi.
Eza dan Sally hanya melongo, melihat tayangan live di depan mereka.
***
Menginjak gedung Pratama Group. Sapaan sopan datang dari berbagai pegawai mereka. Semua bagian dari gedung tersebut tahu, hari ini adalah hari pengalihan kekuasaan.
Elo hanya tersenyum melihat Zean di depan, tidak berniat menyapa saat itu juga. Nanti saja, sekalian usai pertemuan pikirnya.
Masuk ke ruangan, beberapa kali merapikan jas yang dipakai. Padahal, semua masih rapi. Mungkin ia sedikit gugup.
“Apa Anda gugup, Tuan?” Elo datang setelah membuka pintu, senyum bahagia tertoreh pada wajah tampan berkulit putih tersebut.
Zean berbalik badan, melihat Elo yang tengah berdiri tegap di belakangnya. Hanya bisa ikut terkekeh, berharap mereka bisa memahami perasaan mereka masing-masing. Sudah mengalahkan sesama pasangan saja.
“Doakan semua baik-baik saja,” kata Zean.
Mengangguk sekilas, lalu dengan konyol berkata, “Apa yang aku dapat jika doaku terkabul?”
“Memangnya kau kekurangan apa?” Zean menyahut dengan serius.
“Cinta!” ucapnya tegas, membuat Zean melongo.
“Kau serius ingin bersama Alika, El?” Terasa begitu ragu bibir yang dimiliki, jika menyebut nama wanita beranak satu itu.
“Yah, aku berharap begitu." Mengerjap beberapa kali, memastikan pendengaran Zean tidak rusak.
"Kau tahu, Ze. Dia satu-satunya gadis yang menolak aku dulu saat di kampus. Dia bilang, dia sudah menjalin hubungan dengan kakak tingkat kami saat itu.”
Deg!
Entah kenapa, tiba-tiba hati Zean berdetak lebih dari biasa setelah mendengar ungkapan Elo. Tenggorokan tercekat, bibir kelu, dan seolah udara di ruangannya menipis. Ia segera menggeleng mengusir pening yang menyerang kepalanya mendadak. Memilih abai, lalu kembali duduk di kursi kerja.
Tak ambil pusing dengan sikap Zean, Elo tak terlalu jelas melihat ekspresi sepupunya. Ia ikut duduk di meja kerja pula, mulai memindai beberapa file yang menjadi pekerjaan hari ini, sebelum rapat itu dimulai.
..
.
.
.
.
.
.
Bersambung…
Like + komen kakak.
__ADS_1
merambat menuju konflik aja ya. semoga masih mau menemani. 🤗🤗😘