
Ponsel berdering ke sekian kali. Tapi diabaikan begitu saja oleh pemiliknya. Sudah lima hari berlalu, Sally tak mau menjawab telepon dari Zean. Tak sedikit pesan diterima, namun hanya dibaca saja tanpa membalas. Video call dan panggilan suara, juga diabaikan begitu saja tanpa mau menjawab.
Sally sedang malas. Moodnya anjlok begitu saja sejak lima hari kemarin. Tanpa tahu jika di rumah suaminya, laki-laki itu sudah murka. Mengobrak-abrik apa saja yang membuatnya lega. Ingin sekali ia segera menyusul sang istri ke
kota A. Tapi, tentu saja kedua orang tuanya sudah mewanti-wanti agar tidak kemana-mana.
Meminta Elo mengantar? Tidak bisa. Lelaki itu tengah sibuk dan stress dengan sederet angka laporan, dan berkas menggunung di meja minta diperiksa. Akhir tahun yang benar-benar menyiksa dari putra bungsu keluarga Bagaskara itu.
Tak terhitung sehari ini ia sudah mengumpat adik sepupunya itu berapa kali, sampai-sampai lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata. Wajah yang biasa dia gunakan untuk memikat wanita mana pun yang ia mau, jadi menurun pesonanya.
Pernikahan dadakan adiknya, insiden pengeroyokan tiba-tiba itu sukses berimbas pada kehidupan bebas seorang Delon Bagaskara. Hah … dia sangat lelah.
Seakan ia tak pernah keluar dari ruangan direktur oprasional gedung Pratama Group hampir seminggu ini. Om Bobi tak main-main, ia hanya menjanjikan bisa mendapat liburan sebulan penuh setelah tahun baru jika semua pekerjaan itu selesai tepat waktu. Gila! Benar-benar gila! Ayah dan anak sama saja.
Ponsel sudah berdering ke sekian kali, dengan ID pemanggil yang sama. Tak ambil pusing, ia memilih mematikan dan fokus kembali kerja.
Zean murka, sudah beberapa barang ia hancurkan. Bu Lyra dan pak Bobi justru mengurungnya di kamar, karena sejak kemarin ia nekad akan pergi ke kota A. Kamar yang biasanya rapi dan terasa lega itu sudah seperti kapal pecah terkena badai di lautan. Porak-poranda di setiap sisinya.
Kedua orang tua sudah menghubungi keluarga Sally. Tapi tak ada yang bisa merayu gadis itu. Semua anggota keluarga tahu, jika Sally begitu keras kepala. Jika tanpa kemauannya, tak akan ada yang bisa menggoyahkan tekadnya. Sudah mencoba menjemput sendiri, tapi gadis itu justru mengurung diri di kamar, kali ini benar-benar ia frustrasi. Sedang tak peduli dengan keluarga dan Zean.
Pintu kamar diketuk, Sally beranjak dari sofa dan meletakkan novel yang tengah ia nikmati. Karena sudah tak ada pelajaran, ia memilih kesibukan membaca cerita fiksi sebagai pengisi waktu luang sekaligus pengalih pikiran agar tak memikirkan Zean.
Terlihat wajah bu Anna sudah ditekuk dengan menggenggam ponsel di tangan, gadis itu tahu pasti penyebabnya.
“Mama Lyra lagi ya, Mi?” Bu Anna masuk, lalu duduk di ranjang putrinya. Menepuk sisi sebelahnya, pertanda untuk anaknya agar ikut duduk.
Duduk dengan mengangkat kaki, meraih bantal lalu memeluknya. Rambutnya semakin panjang, terurai bebas menyebar ke sisi kanan dan kiri.
Bu Anna mengelus kepala anaknya, lalu berkata lembut, “Pulang ya, Nak. Tengok suamimu.”
Masih bergeming, Sally hanya menatap sang ibunda sekejap lalu memalingkan wajah.
“Kasihan Zean, mamamu bilang dia benar-benar kacau. Nekad ingin kesini, sampai terpaksa dikurung di kamar. Papa dan mamamu tak bisa memberi izin pada suamimu, kakinya belum pulih sepenuhnya.” Dengan hati-hati, bu Anna memberi penjelasan. Berharap putrinya yang keras kepala itu sedikit mau mendengar.
“Aku bosan, Mi.” Ia lalu membuang bantal dari pangkuan, duduk dengan mengarahkan kedua tangan ke belakang sebagai tumpuan. “Bosan dengan kak Ze, yang belum bisa sepenuhnya mengerti posisiku. Aku lelah harus belajar memahaminya, sedang sifatnya selalu berubah-ubah.”
Gadis itu menoleh, menatap kedua manik mata ibunya, melanjutkan bicara, “Biarkan aku egois sekali saja, Mi. Aku sudah berjalan bersama dengannya beberapa bulan ini, tapi tak kunjung menemukan titik temu untuk saling berdamai dan memahami.”
Bu Anna menghela napas dalam, usahanya kali ini sepertinya memang masih sia-sia. Anaknya benar-benar tak bisa dirayu, entah harus bagaimana.
__ADS_1
“Kau yakin dengan keputusanmu, Nak?” Tak menjawab, Sally hanya mengangguk.
“Pikirkan baik-baik, mami tahu kalian menikah bukan karena cinta. Tapi paling tidak, jangan sampai ego dan sikap keras kepalamu membawa petaka pada orang lain. Mami tahu, kau sudah lebih dewasa daripada usiamu.”
Bu Anna meninggalkan kamar anaknya, tak ada yang bisa ia lakukan. Keluarga Birawan tak pernah memaksa pada keturunan-keturunannya, termasuk pak Tomi. Beliau hidup bebas semasa muda, kedua orang tuanya memberi kebebasan untuk memilih dan menjalani kehidupannya.
Sally memilih menuju pintu balkon, menatap ke depan lurus. Sinar matahari begitu cerah hari ini, sang surya sudah terasa menyengat kulit.
Cincin kecil melingkar mengeluarkan cahaya, rentetan berlian itu seakan tak pernah redup. Ia menatap nanar jauh ke depan, mengilas balik semua kenangan bersama sang suami. Beberapa waktu lalu hubungan mereka menghangat, namun kehangatan itu harus hilang karena keegoisannya saat ini.
Memejamkan mata, berusaha mencari kekuatan. Bayangan sang suami melintas sejenak, senyum manis dan tawa jenaka yang sering ia berikan terlihat jelas.
Haaah ….
Gadis itu tampak lelah, menghembuskan napas kasar. Lalu masuk dan ingin mandi.
Keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah segar, ia lantas mencari dress untuk ia kenakan. Berdandan rapi di depan cermin, menyisir rambut dengan perlahan. Menyelipkan jepit rambut di belakang telinga sebelah kiri, sesuai kesukaannya.
Ia meraih ponsel, memasukkannya pada tas slempang yang sudah ia sambar duluan, lalu bergegas turun.
Melangkah mantap, dan berpamitan pada ibunya yang tengah mengobrol dengan bi Mur di dapur.
Bu Anna dan bi Mur diam sejenak, memperhatikan penampilan Sally dari atas ke bawah dengan seksama.
“Kau mau ke mana, Sa?” Bu Anna bertanya.
“Mau jenguk kak Ze,” jawab Sally yakin dan tersenyum.
“Syukurlah … kamu nggak makan siang dulu?” Sally menggeleng. Padahal, sebentar lagi jam makan siang.
“Kalau gitu, biar diantar mang Jono ,ya?”
“Enggak, Mi. Mang Jono nanti harus jemput Dion, belum lagi kalau Mami mau ke mana-mana, gimana?” Gadis itu menolak, lantaran ia juga merasa kasihan jika harus melihat mang Jono —sopir pribadi kediaman Birawan―bolak balik antar kota.
“Kamu yakin bawa mobil sendiri? Kamu kuat?” Sally mengangguk, lalu berjanji akan hati-hati.
“Hati-hati, jangan lupa kabari jika sampai sana.” Kembali mengangguk, lalu mencium punggung tangan ibunya. Kemudian bergegas pergi.
***
__ADS_1
Tak menyangka, meski bukan akhir pekan, tiba-tiba jalanan macet. Ternyata, di perbatasan kota, tengah terjadi kecelakaan. Satu mobil dengan dua orang pengendara motor. Jalanan yang biasa lancar dan lengang di siang hari, harus antri dan berdesakkan.
Sally mencoba sabar, meski ia tak bisa memastikan kapan ia akan sampai di kediaman Pratama. Mengingat jarak antar kota itu tidak dekat, tapi ia hanya bisa menerima.
Sengaja tak mengabari kediaman Pratama, ia ingin berharap bisa memberi kejutan pada suaminya jika memang tengah dicari hadirnya.
Hingga tanpa terasa, matahari menuju senja. Sinar jingga menemani perjalanan Sally sepanjang memasuki
kota C. Masih sekitar empat puluh menit, ia masih sabar. Perjalanan berusaha ia nikmati, tak ingin terburu-buru agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tepat pukul setengah enam sore, mobil memasuki pelataran kediaman Pratama. Terlihat mobil pak Bobi sudah terparkir, menandakan beliau sudah pulang dari bekerja. Dan satu mobil tak ia kenal, mungkin punya kakak
sepupunya—Elo.
Ia masuk setelah dibukakan pintu oleh bi Minah, disambut hangat dan ditawari minum seperti biasa.
“Nggak usah, Bi. Mau ketemu kak Ze aja.”
“Oh, baik, Nona. Sepertinya sedang berkumpul di ruang tengah.”
“Bibi jangan bilang kalau aku ke sini ya, sengaja mau kasih kejutan.” Senyum ramah, menampakkan wajah imut dan cantiknya.
Bi Minah mengangguk, lalu tersenyum dan memberi jalan untuk Sally. Tak menunggu lama, gadis itu perlahan sampai di ruangan di mana semua berkumpul.
“Daddy ….” Seorang anak kecil yang baru berusaha bicara tampak merajuk manja pada Zean, sambil memanggil dengan panggilan ‘Daddy’.
.
.
.
.
.
.
Bersambung….
__ADS_1