
“El, apa aku ada jadwal penting besok?”
“Tidak, Tuan muda. Tapi hanya ada undangan makan malam dari Tuan Keenan, jam tujuh di restoran Bintang. Apa Anda ingin hadir?”
Tampak Zean berpikir sejenak, mengingat hari ini hari wisuda istrinya dan ia tidak bisa hadir siang tadi.
“Bagaimana jika kau saja yang menggantikan aku?”
Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu mengembuskan napas sejenak. “Baiklah … sesuai permintaan anda, Tuan.”
Zean menepuk pundak sepupunya, ia sadar terlalu merepotkan laki-laki yang telah menemaninya sejak kecil. “Terima kasih banyak, El.”
Elo hanya tersenyum, mau tak mau ia hanya bisa menyenangkan hati adiknya. Banyak berkorban untuk Zean adalah hal yang sudah biasa.
Berjalan kembali ke Pratama Group, setelah usai membahas proyek dengan klien di salah satu restaurant tadi. Hari-hari yang begitu sibuk, sampai tak terasa sudah hampir tiga minggu tidak bertemu dengan istrinya.
“Aku ingin pulang lebih awal, El. Kau bisa mengurusnya?” Masih terus berbincang, sambil menunggu pintu lift terbuka.
“Tidak untuk hari ini, Tuan. Tuan besar sudah bilang untuk menyelesaikan urusan hari ini jika Anda ingin free besok.”
Zean hanya mendengus kasar, ia berdecak sebal dengan perintah ayahnya. Pusing, sejak kembali ke perusahaan keluarga, berasa pekerjaan tak ada habisnya.
Bahkan menguras waktu dan tenaganya, dia jarang berkomunikasi dengan Sally. Karena terlalu lelah, jarang sekali berbalas pesan. Hanya bisa bercanda saat hendak tidur, itu saja hanya beberapa menit. Lebih banyak Zean ketiduran lebih dulu saat melakukan panggilan atau video call.
Jam menunjuk pukul tujuh malam. Zean dan Elo segera berkemas, bersiap pulang untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. “El, aku akan ke rumah istriku. Terima kasih sudah bersedia menghandle urusan besok. Aku rasa, hari ini hari terakhir pekerjaan di kantor yang menumpuk. Besok kau sudah bisa lebih santai meski tidak ada aku.”
Elo hanya mengangguk, membenarkan perkataan Zean. Tak sia-sia, adik sepupunya itu kembali di waktu yang tepat. Pekerjaan yang serasa tak akan selesai sebelum tahun baru, sekarang sudah beres. Tinggal menikmati waktu libur tahun baru saja. Uhuy … Elo berasa ingin bersorak riang saat itu juga.
Keluar dari lift, dan menjejakkan kaki di lantai dasar. Melewati lobby perusahaan yang sudah mulai sepi, karena memang jam kerja normal hanya sampai jam lima sore. Kalau molor yah … paling hanya sampai jam enam atau setengah tujuh.
Kedua bersaudara itu berpisah di parkiran. Segera melaju dengan mobil dan tujuan masing-masing. Kembali ke apartemen untuk seorang Delon Bagaskara, dan tujuan ke kota A untuk Zean.
Masih dengan tenang, bahkan lupa mengecek ponsel. Karena Zean pikir, pasti Sally tengah di rumah. Mungkin istrinya sedang makan-makan merayakan kelulusan dengan keluarga, jadi dia berniat memberi kejutan.
Melewati toko bunga, Zean tersenyum tipis. Ia berbelok, dan memarkirkan kendaraan sejenak.
“Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Seorang wanita cantik, dan manis menyapa. Mungkin dia Florist di toko tersebut.
__ADS_1
Zean hanya mengangguk, lalu melangkahkan kaki masuk untuk melihat-lihat sejenak. “Carikan saya bunga yang cocok untuk istri saya.”
Wanita itu mengangguk, lalu memberikan pilihan. “Apa … Anda ingin Mawar merah, Tuan? Mawar merah dikatakan sebagai simbol dari cinta sejati serta kesetiaan.”
Melangkah lagi menuju bunga lain. “Atau ini, Tuan … bunga Anyelir. Ada berbagai macam warna, dari merah muda, putih, merah tua, dan kuning. Anyelir merah muda dapat mewakili cinta serta kekaguman untuk pasangan
Anda. Anyelir putih mewakili kemurnian dan keberuntungan. Anyelir merah tua mewakili cinta yang mendalam untuk orang terkasih.”
“Lalu, untuk apa yang kuning?” Zean bertanya, karena tak mendapat penjabaran dari bunga Anyelir kuning.
Florist itu masih dengan sabar dan telaten menanggapi Zean, lalu menjawab, “Untuk Anyelir kuning, saya tidak menyarankan. Karena … bunga ini melambangkan kekecewaan.”
Zean hanya mengangguk, lalu ia berjalan di beberapa sisi. Langkahnya berhenti di salah satu bunga yang memiliki enam helai mahkota, daunnya berbentuk lonjong dan memanjang. Bagian ujungnya sedikit meruncing dan tumpul, berwarna hijau kebiruan dan memiliki lapisan lilin. Warna bunganya juga beragam. Antara merah, putih, ungu, jingga, kuning dan masih ada yang lain.
“Kalau ini bunga apa namanya?” Tangannya mengambil satu tangkai, lalu menunjukkan pada penjual bunga yang masih menemaninya.
Florist itu mendekat, kembali menjelaskan. “Ini bunga Tulip, Tuan. Tulip ini, dianggap dapat mewakili perasaan cinta yang dapat mengakar dalam serta abadi untuk seseorang.”
Mendengar jawaban si penjual bunga, Zean tersenyum cerah. “Aku ambil ini, tolong rangkaikan yang cantik.”
“Baik, Tuan. Silahkan ditunggu sebentar.”
Melajukan mobil menuju kota A. Rasanya tak sabar bertemu dengan gadis pujaan. Gadis yang selalu membuatnya semakin hari semakin tahu apa itu cinta. Menghilangkan lelah, merasakan nyaman, ketenangan dan keyakinan, bahwa semua hal yang dijalani dengan sebuah kerelaaan akan memiliki arti tersendiri bagi yang menjalani.
***
Mobil warna putih memasuki gerbang. Seperti biasa, pak Im menyapa dengan ramah. Pria penjaga gerbang itu bahkan ikut lari menghampiri sang pemilik mobil, menyapa pada lelaki yang sudah lama tak terlihat batang hidungnya di kediaman Birawan.
“Selamat malam, Tuan muda.” Tepat saat Zean menutup pintu, lalu menoleh pada orang yang tengah menyapa ramah.
Menantu keluarga Birawan itu tersenyum manis, mungkin sama manisnya dengan yang sering ia tunjukkan pada Sally. Membuat pak Im tertegun sejenak, seakan memastikan jika tidak sedang bermimpi.
Laki-laki yang pak Im lihat minim ekspresi itu, tiba-tiba mau tersenyum. Hah? Beliau tak salah lihat, ‘kan?
Zean memang memiliki wajah sekilas yang ramah, tapi ia tak pernah tersenyum semanis barusan. Mungkin karena efek kebahagiaannya, jadi bisa bersikap manis begitu.
Tanpa bicara dan berkata, ia lalu masuk ke rumah Sally. Bi Mur menyambut seperti biasa, menawarkan minum dan meminta Zean duduk dulu.
__ADS_1
Tak sabar, ia menolak tawaran bi Mur. Segera bergegas ke lantai dua, di mana kamar Sally berada. Tapi, langkah kakinya terhenti saat adik ipar menyapa.
“Kak Zean!” Pemuda itu mendekat.
“Nanti saja ngobrolnya, Kakak mau menemui kakakmu.” Mengabaikan Dion, lalu segera menaiki tangga.
“Tunggu, Kak!” Langkah Zean terhenti lagi, dengan malas kemudian ia memutar badan.
“Apa lagi? Sudah kubilang, nanti saja, ‘kan?”
Cepat-cepat Dion menggeleng, kembali maju beberapa langkah menghampiri kakak iparnya. “Bukankah kak Sally menemui Kakak? Kenapa Kak Ze justru kemari?”
Tak mampu memahami perkataan Dion, alis Zean terangkat sebelah, membuat beberapa lipatan kecil di dahi. “Maksudmu?” Ia bertanya.
Dion juga ikut bingung, melihat ekspresi Zean yang seperti tidak nyambung dengan arah pembicaraannya.
“Kak Sally tadi siang dijemput dua orang pria di gedung tempat sekolahnya menyelenggarakan wisuda, Kak. Kak Sally bilang, mereka adalah utusan Kakak. Kedua pria itu juga bilang kalau Kakak ingin memberi kejutan, sebagai ganti ketidakhadiran Kak Ze tadi siang.”
Brugh!
Rangkaian bunga Tulip yang Zean bawa tadi langsung jatuh ke lantai, dengan gugup dan panik ia segera meraih ponsel. Melihat semua panggilan dari Sally, banyak pesan, dan satu buah pesan anonim membuat ia segera pergi dari kediaman Birawan saat itu juga.
Tak peduli dengan teriakan Dion, ia segera melajukan mobil dengan tergesa. Pak Im ikut dibuat bingung, bahkan masih terbengong ketika mobil Zean sudah pergi jauh.
Ada apa sebenarnya? Dion yang tak mendapat jawaban dari kakak iparnya, segera berlari dan memberi kabar pada kedua orang tuanya yang tak sempat melihat kedatangan Zean.
Tentu saja ia ikut panik, melihat Zean yang begitu terburu bahkan ekspresi mukanya sudah tak bisa ia artikan. Antara marah, takut, dan khawatir menjadi satu. Membuat ia hanya bisa mematung saat mobil itu pergi meninggalkan kediamannya tadi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambungg….