
Jam terus berputar seiring hari yang silih berganti. Zean sudah menjalani rutinitas kembali menjadi pimpinan Pratama Group dengan dampingan Elo. Kesalahpahaman antar dua saudara itu akhirnya selesai. Mereka bisa mengerti keadaan masing-masing tanpa harus menyimpan dendam.
“Kau gugup, El?” Sambil berjalan menuju lift untuk turun, Zean bertanya pada sepupunya yang banyak diam beberapa hari terakhir. Hari terakhir di mana Elo bekerja sebelum cutinya dimulai, dia masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar bisa tenang selama istirahat.
Pria dengan jas abu-abu itu menoleh, lantas menjawab, “Sepertinya begitu, Ze.”
Zean terkekeh sendiri melihat tampang Elo tidak ada bagus-bagusnya. Pria yang biasa pandai menyihir wanita itu kini terlihat lesu dan tidak bercahaya.
Bahu Elo tertepuk oleh Zean hingga membuatnya mengangkat wajah. Adik sepupunya berkata, “Tenanglah, jangan khawatirkan apa pun. Semua keluarga besar merestuimu, apa yang membuatmu seperti ini?”
Elo menggeleng lemah. Bahkan, dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan hati dan pikirannya. Pria yang sebelumnya tidak pernah berkomitmen serius itu seperti mengalami demam panggung tiba-tiba.
Pintu lift terbuka dan sampai di lantai dasar. Dua pria yang memiliki pengaruh atas kemajuan Pratama Group itu berpisah di lobi. Elo bergegas ke parkiran, sementara Zean menuju mobil yang sudah menunggu sejak tadi.
“Jalan, Dito.” Zean memberi perintah pada sopir barunya. Beberapa minggu lalu, pria itu sengaja mencari sopir untuk dirinya karena tidak bisa mengemudi seperti dahulu. Patah tulang membuatnya sedikit trauma.
Pintu kediaman keluarga Pratama terbuka. Dito menghentikan mobil tepat di depan teras. Pria itu segera turun, lalu membukakan pintu untuk Zean.
“Terima kasih, Dit. Kau bisa pulang lebih awal.”
“Baik, Tuan.”
Tanpa menunggu Dito pergi, Zean lebih dahulu memasuki rumah. Dia sudah rindu pada keluarga kecilnya.
Kaki melangkah lebar menaiki tangga. Andai bisa, Zean ingin menghilang dan langsung ada di dekat Sally dan Aksara. Bayi mungil itu mampu mengubah seluruh dunia Zean yang awalnya begitu keras.
“Papa pulang.” Suara Zean memenuhi ruangan seiring pintu yang terdorong.
Sally yang kebetulan memakaikan baju pada Aksara, langsung menoleh dan tersenyum. Dia berdiri, lantas menerima kecupan di dahi.
Zean bergeser. Dia dekati putranya yang masih telentang di karpet. Mata bayi kecil itu terlihat begitu jernih seperti miliknya.
“Hai, Papa pulang.” Zean mendekat dan nyaris mencium anaknya. Akan tetapi, sudah ditarik lebih dahulu oleh Sally.
“Mandi, Kak,” kata Sally memberi peringatan. “Aksara sudah mandi, jangan mengotorinya.”
“Sayang, aku ….”
Dua mata Sally sudah memelotototi. Dia sampai berkacak pinggang dan siap adu mulut.
Melihat sikap istrinya tidak bersahabat, akhirnya Zean mengalah dan mundur. Dia tuju kamar mandi dengan membawa selembar handuk.
Tidak butuh berendam atau berlama-lama di kamar mandi, Zean keluar dengan badan segar dan wangi. Perpaduan aroma lemon dan tea tree menguar sampai memenuhi indra penciuman.
__ADS_1
Sally menoleh ke belakang dan dia dapat sang suami datang dengan hanya memakai handuk. Hal itu langsung membuatnya kembali berpaling dan pura-pura bermain bersama Aksara. Zean yang paham gelagat sang istri langsung tersenyum miring.
“Kau suka melihatku seperti ini, kan?” Zean mendekap Sally tanpa aba-aba. Istrinya sampai berjingkat lantaran kaget kulitnya tiba-tiba dingin.
“Le–lepas, Kak. Ganti baju sana.” Jantung Sally mulai tidak stabil. Bahkan dia tidak berani menoleh sedikit pun dan terus berpura-pura menimang Aksara.
Zean berulah. Dia eratkan pelukan dengan badan sedikit membungkuk. Dagunya mendarat di bahu, lalu mencium pipi Sally dari samping. “Kau sudah menjadi ibu, kenapa masih malu? Menggemaskan sekali.”
Sally membisu. Diam adalah hal terbaik saat ini daripada berakhir panjang urusan.
“Tidurkan Aksara dulu, aku akan memberimu pelayanan terbaik.”
Omongan Zean makin frontal tanpa saringan. Sally berusaha melepaskan diri dan mendorong sang suami sekenanya. “Buruan ganti baju, Kak, sebelum anakmu tidur. Kalau sudah tidur, aku enggak membolehkanmu mengganggunya.”
“Kenapa tidur? Ini masih sore.” Badan Zean menegak. Dia melipat lengan ke perut.
Sally menuju ranjang, lalu merebahkan putranya. Dia menjawab tanpa memandang wajah Zean. “Biasanya seperti itu. Selesai minum ASI, pasti kenyang dan mengantuk, bangun lagi nanti jam makan malam. Kakak, sih, enggak pernah pulang sore. Jadi enggak tahu.”
Penjelasan Sally seperti tamparan tak kasatmata bagi Zean. Selama kembali ke perusahaan, dia banyak lembur dan pulang larut.
Pria itu mendudukkan diri di sisi lain, lalu mengusap rambut Aksara. Dia berkata lirih, “Maafkan, Papa. Papa seperti ini untuk kalian.”
Sadar ada yang salah dengan ucapannya, Sally segera memeluk sang suami. “Kami tahu, kok, Kak. Maaf juga kalau kata-kata menyakitimu.”
Senyum Zean muncul seiring gelengan. Dia maklumi keluhan Sally karena itu nyata adanya. Seharusnya, Aksara bisa menerima banyak waktu darinya, tetapi lantaran bekerja, Zean sampai tidak terlalu tahu perkembangan
“Aku ambilkan baju, ya.”
“Tidak perlu, Sayang.” Zean menarik lengan Sally yang nyaris berdiri. “Aku sendiri yang akan ganti. Temani Aksara di sini.” Pria itu berdiri dan menuju kamar ganti.
Selesai memakai kaus dan celana pendek, Zean kembali ke tempat tidur dan menengok putranya yang muali merem sembari minum jatah makannnya. Dia tersenyum, lalu memijat bahu Sally.
Wanita yang tidur miring itu menoleh, lalu menghentikan tangan Zean. “Tiduran di sini, Kak.” Tempat tidur belakang Aksara ditepuk Sally untuk Zean.
Zean menurut dan menemani Sally rebahan. Aksa yang ada di tengah orang tuanya mulai terlelap.
“Aku tidak pernah menyangka akan punya bayi selucu dia.” Telunjuk Zean tidak tahan untuk tidak mencolek pipi gembul anaknya. Dia ulangi sampai beberapa kali.
“Kak!” Sally menahan gerakan Zean. “Nanti dia nangis. Biarkan tidur.”
“Tapi, Sa ….”
“Nanti juga bangun, Kak. Aku lelah.”
__ADS_1
Zean menurunkan tangan, lalu mengusap kepala sang istri. “Sa, maafkan aku kalau belum bisa menjadi suami terbaik untukmu.”
Sally terdiam. Dia siap mendengar ketika Zean mulai bicara serius.
“Dulu, aku sempat muak dengan semua ini, Sa. Kehidupanku seolah tidak lebih dari seorang pelayan bekerja pada majikan. Rutinitas hanya itu-itu saja.”
Dua mata Sally mengerjap lamban dan terus fokus menatap paras sang suami.
Zean berbaring, lalu menatap langit-langit kamar. Dia kembali bicara. “Sampai kau tiba, Sa. Kau hadir dalam kehidupanku dan berhasil mencipta warna dalam gelapnya ruang hatiku. Kau orang pertama yang sukses membuatku tersenyum geli dengan segala tingkah menyebalkanmu.”
Zean menoleh sedikit hanya untuk memastikan ekspresi sang istri. Dia tertawa pelan saat dapati wajah Sally mulai cemberut.
Wanita itu menukas, “Apa Kakak kira, kamu enggak menyebalkan, Kak?”
Zean terkikik lagi. “Aku memang sengaja begitu agar kau tidak jatuh cinta padaku, Sa. Tapi sepertinya itu karma, justru aku yang jatuh cinta padamu.”
Senyum kemenangan tercetak di bibir kemerahan Sally. Dia ganti mencibir, “Meski itu terlambat?”
Bukan marah atas sindiran istrinya, Zean justru terus tertawa. “Ya, meski terlambat. Tapi setidaknya kita tidak bercerai. Andai hal buruk itu terjadi, kisah kita akan berbeda dari ini.”
Sally bangkit dan membenahi bajunya. Dia pandangi wajah Zean dan Aksara bergantian.
Zean turut melakukan hal yang sama, lalu merapatkan badan pada Sally. “Kau pernah menyesal menikah denganku, Sa?”
Ditatapnya bola mata hitam bening itu dengan tatapan tenang, Sally menjawab tanpa beban, “Ya, Kak.”
Tubuh Zean berjingkat mendengar jawaban yang tidak ingin dia dengar. “Sa ….”
Wajah dengan rahang tegas itu dipenjarakan oleh dua telapak tangan Sally. Dia satukan kembali penglihatan dengan milik sang suami. “Itu dulu, Kak. Awal-awal kita menikah. Sekarang, aku justru merasa beruntung menikah denganmu. Kamu selalu menuruti kemauanku meski awalnya enggak ada cinta antara kita.”
Lega. Seperti itulah yang Zean rasakan saat mendengar jawaban lengkap Sally. Dia tidak bisa tenang jika ternyata selama ini Sally tidak bahagia bersamanya.
Tangan terulur ke depan, lantas menjangkau telapak tangan sang istri. Zean mengusapnya dengan lembut. “Temani aku, Sa. Temani aku sampai sisa usia kita. Sampai anak-anak kita besar dan bahkan sampai melihat cucu-cucu kita menikah kalau bisa.”
Sally mengangguk yakin. Dia rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hatinya dan hati Zean sama-sama sudah saling mencintai. "Ya, aku akan selalu bersamamu, Kak, untuk merajut asa meraih cita kita bersama. Mari bersama meredam rindu yang menjadikan kita candu untuk bertemu. Biarkan cinta selalu bersemayam di hati dan raga, menghilangkan luka yang pernah membekas, menggantikan semua dengan tawa dan canda."
Ditatapnya intens kedua bola mata indah yang dimiliki Sally, Zean maju mengecup bibir sekilas. "Terima kasih, Cinta."
Sally mengangguk dan tersenyum, memeluk hangat suaminya. "Terima kasih, sudah mau mencintai gadis kecil sepertiku."
.
.
__ADS_1
.
—TAMAT—