Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 46


__ADS_3

Masih sibuk menciumi sang istri, ia seakan tak bosan dengan gadis yang baru saja membalas perasaannya. Sally hanya tergelak sejak tadi, menahan geli sambil memukul-mukul dada lelaki yang tidak mau melepaskan dirinya.


“Kak, sudah. Ampun,” rengeknya dengan napas yang ikut ngos-ngosan karena kehabisan tenaga untuk melawan.


Lelaki itu berhenti, menatap intens pada Sally. Senyum penuh arti tergambar jelas di wajahnya yang tampan. Ia bahkan tak berkedip, sibuk menyapu setiap inci wajah sang istri.


“Sa … maukah kau menyatukan cinta kita?” Pertanyaan lembut diiringi dengan senyum yang tak kalah manis. Senyuman yang selalu membuat Sally tersihir tanpa sebuah mantra.


Dia mengangguk tanpa bertanya maksud dari perkataan suaminya, membuat lelaki yang masih berada di atasnya itu tersenyum cerah.


“Kau tak takut?” tanyanya lagi.


Kali ini Sally mengernyit, dahinya berkerut membentuk beberapa guratan kecil. “Takut apa, Kak?”


Ekspresi heran Sally lagi-lagi membuat Zean gemas, ia tak peduli jika Sally tak paham dengan maksudnya. Memulai aksi, tanpa menjawab pertanyaan istrinya barusan.


Ia mulai mengecup kening Sally dengan lembut, turun pada kedua kelopak mata yang membuat Sally reflek memejamkan mata. Berlanjut pada kedua pipi yang mulus, menyapu bibir pink itu sekilas, dan dagunya.


Masih terus melakukan hal yang sama berulang kali, hingga napasnya lama-lama memburu. Sepertinya ia sudah terbakar api birahi yang ia nyalakan sendiri.


Menjalar ke telinga sebelah kiri, menggigit kecil membuat Sally memekik.


“Ssst ….” Telunjuknya menempel pada bibir Sally yang semakin memerah itu. Kemudian, dia berbisik, "Ayo bercinta, Gadis kecil.”


Ucapannya parau, mungkin karena sudah menahan gairah. Bagaimanapun juga, Zean lelaki normal. Beberapa bulan ia tidur di samping seorang gadis, tanpa bisa menyentuhnya. Berat bukan?


Nona muda Birawan itu membeku, mencoba menelaah kata-kata suaminya. Ia segera mendorong Zean, saat sudah paham dengan apa yang  dikatakan suaminya barusan.


“Aow … kenapa kau mendorongku?” Zean protes, hampir saja ia terjengkang. Sedangkan Sally sudah mundur dan menabrak kepala ranjang dengan menggeleng cepat.


“Jangan, Kak!” pintanya dengan tergemap.


Zean mencebik, ia berdecak sebal. “Kau bilang tidak takut, sekarang kau mendorongku hampir jatuh ke lantai. Dasar!”


Zean membuka jaketnya, lalu merebahkan diri di samping Sally yang masih meringsut takut.  Matanya terpejam, mengabaikan sang istri.


Hening, Sally masih berusaha mengatur napasnya. Ia menoleh ke arah Zean yang sejak tadi tidak membuka mata.


Tangannya mencoba menggoyangkan lengan suaminya, sambil berkata lirih. “Kakak marah?”


Tak ada jawaban, sepi. Sally tahu Zean pura-pura tidur, gadis itu bisa membedakan antara Zean yang benar-benar tidur atau hanya pura-pura.


“Kak,” panggilnya lagi.


“Hmm ….”


“Kakak marah?” Tak ada jawaban lagi.


Tak mau menyerah, ia mencoba mendekat. Lalu berbaring dan meletakkan kepala di atas dada sang suami. Degupan jantung itu terdengar, membuat Sally nyaman.


“Kakak marah? Aku minta maaf. Bukannya aku takut, tapi Kakak ingat, ‘kan? Dokter bilang Kakak tidak boleh melakukan aktivitas berat selama sepuluh hari ini.” Telunjuk dan jari tengahnya digunakan untuk bermain di atas dada Zean, dibuat seperti langkah kaki yang tengah berjalan maju mundur.


“Sshh … geli, Gadis kecil.” Ia mengenggam tangan Sally, menghentikan kelakuan gadis itu yang tengah bermain-main. “Tidurlah, sudah malam.”

__ADS_1


Sally mengerucutkan bibir, lalu mulai mengangkat kepalanya. Memutar bola mata dengan malas, lalu tidur menyamping menghadap Zean.


Masih tak terpejam, ia sibuk memperhatikan suaminya yang selalu dipanggil ‘om’ oleh Lisa saat awal-awal kabar pernikahan mereka.


Ia terkekeh, tertawa cekikikan ketika mengingat itu.


Kini, hubungannya mulai membaik. Apalagi ia tahu jika sang suami mencintainya. Keinginan menikah yang dulu hanya berlandas tentang membahagiakan keluarga, kini justru berganti rasa.


Tangannya mengulur mengelus pipi putih suaminya, lalu mendekatkan bibir dan mencium tanpa ragu. “Have a nice dream …," ucapnya sambil tersenyum.


“Mau menggodaku?” Laki-laki itu menoleh, ikut memiringkan tubuhnya yang tadi telentang, kini mereka saling berhadapan.


Sally mencubit lengan suaminya, tak peduli Zean memekik sakit. Ia tadi hanya bermaksud memberi ucapan selamat malam, kenapa jadi diasumsikan menggoda. Ck! Dasar lelaki.


***


Terbangun di pagi hari, disambut dengan senyum manis dari Zean yang ada di depannya. Baru kali ini, Zean sibuk menunggu Sally bangun, bahkan betah memandangi paras ciptaan Tuhan yang tergolong cantik tersebut.


“Selamat pagi, Sayang.” Satu kecupan ikut mendarat di bibir, saat ucapan selamat pagi itu terselesaikan.


“Kakak tumben masih di kasur? Bahkan menungguku bangun.” Gadis itu mengucek mata, meraih kesadaran sepenuhnya.


Zean masih sibuk memperhatikan sang istri, ia lalu ikut duduk setelah Sally.


“Kakak mau ke mana hari ini?” Bertanya, sambil menyelipkan rambut di belakang telinga.


“Ayo, pulang,” kata Zean. “Ikut aku ke rumah ya, kau pasti belum bertemu dengan mama dan papa, ‘kan? Aku ada urusan untuk kembali ke Pratama Group akhir tahun begini.”


Memandang suaminya sekilas, lalu memutar bola mata. Tampak ia sedang berpikir. “Tapi aku harus balik sekolah, Kak. Aku sudah bolos hampir seminggu ini.”


Zean menghela napas dalam, sebuah raut kecewa tampak menghias wajahnya. Ia tak bisa memaksa Sally, gadis itu memang masih berstatus sebagai pelajar. Dan Zean, harus kembali ke Pratama Group untuk menyelesaikan segala urusan yang telah ia tinggalkan pada Elo.


Kakak sepupunya itu sudah meraung-raung meminta Zean kembali, saat tahu jika Tirta Company sudah mendapatkan pengganti untuk posisi yang Zean duduki saat ini.


Terpaksa, Zean mau tak mau harus kembali dan berpisah jarak dengan sang istri.


“Peluk aku.” Zean sudah merentangkan kedua tangan, meminta Sally untuk memeluknya.


“Hah?” Sally bingung, ia tak paham dengan suaminya yang tiba-tiba minta dipeluk. Mendekat, lalu memeluk Zean tanpa bertanya.


“Tumben banget sih, Kak. Biasanya juga langsung meluk tanpa minta atau nanya. Berapa kali Kakak memelukku tanpa permisi, bahkan tak peduli jika aku marah-marah.” Pelajar kelas tiga SMA itu sibuk berceloteh, tanpa dipedulikan suaminya.


Tangannya sibuk mengelus rambut istrinya yang wangi, aroma shampoo yang lama-lama membuat Zean terbiasa menciumnya. Bahkan membuatnya tidak bisa tidur saat berada di kamar Sally sendiri.


“Kita akan berpisah lama. Aku pasti akan semakin merindukanmu.” Satu kecupan mendarat di puncak kepala.


Sally mencebik, ia lalu tertawa. “Geli, kenapa Kakak jadi lebay begitu.”


“Terserah, jika kau menganggapku lebay. Yang jelas, aku pasti akan merindukan kebersamaan kita.” Menghela sejenak. “Kau tahu, Gadis kecil? Saat aku tahu kau pergi dari kediaman Pratama tanpa bertemu denganku dulu, aku nyaris gila. Aku bahkan hampir menyakiti bi Minah, karena emosi.”


Sally mendongakkan wajah, “Kakak melakukan itu?” Zean menggeleng.


“Aku langsung pergi dari rumah, setelah berteriak-teriak di depan semua orang saat mau makan malam. Bahkan Eza, mungkin sudah takut denganku waktu itu. Mama melarangku pergi, dengan alasan aku belum sembuh. Aku tak peduli. Aku menyusuri sepanjang jalanan kota C lalu ke kota A. Beristirahat di rumah Birawan sebentar, tapi justru kesiangan. Itu pun aku baru sadar saat bi Mur bilang kalau sudah jam Sembilan.” Sally tergelak mendengar akhir kalimat dari Zean.

__ADS_1


“Kenapa kau tertawa?”


“Tidak, tidak. Aku membayangkan ekspresi Kakak saat tahu kesiangan dan buru-buru kembali ke kamar. Pasti lucu.” Tertawa lagi.


Zean mendengus, lalu hendak turun.


“Eh, apa sudah selesai ceritanya?” Ia meraih lengan suaminya.


“Aku malas, kau hanya menertawakan aku.”


Tangannya menarik Zean, membuat lelaki itu menghadapnya kembali. “Tidak, tidak, aku akan mendengarkannya sampai selesai. Ayo ceritakan lagi, aku juga ingin mendengar perjuangan suamiku yang sudah jatuh cinta denganku, ‘kan?” Sally mengerling genit.


Zean mencubit pipi istrinya seperti biasa, lalu mulai bercerita. “Aku ke rumah Lisa diantar mami, tapi ternyata kau tak ada. Kembali aku menyusuri jalanan, bahkan ke kantor Bank untuk mengecek lokasimu dari mutasi penarikan kartu ATM, tapi tidak ada.”


Sally manggut-manggut, membenarkan perkataan Zean. Karena ia tidak menggunakan kartu ATM yang diberikan Zean dari dulu, ia masih memegang uang tunai. “Lalu dari mana Kakak tahu aku di sini?”


“Dari Lisa. Gadis itu tahu kau di sini karena mendesak pada bocah tak tahu diri semalam itu untuk mengatakan di mana hotel kau menginap. Huh!” Membuang napas kasar, seolah membuang kekesalan, karena mengingat Leon.


“Aku yang mencegah kak Leon untuk tak mengatakannya, aku takut jika Lisa tahu, pasti akan memberitahukan itu pada keluarga atau Kakak. Ternyata benar, ‘kan?” Gadis itu melengos, lalu menatap sinis.


“Hei … kau tak suka aku menemukanmu? Kau lebih suka membuatku gila di jalanan?” Zean mendengus, tak terima dengan respon Sally.


Sally mencebikan bibir, lalu meremehkan Zean. “Mana aku tahu jika Kakak peduli denganku? Yang aku tahu Kakak sedang sibuk dengan anak dan istrimu itu.”


Tangannya mencubit pipi Sally lebih keras, membuat gadis itu mengaduh. “Kau bodoh! Kenapa tidak bertanya dulu mereka siapa?” Sally memukul lengan Zean yang tak berhenti mencubit kedua pipinya.


“Sakit, Kak.” Dia berucap sambil mengelus kedua pipi yang baru saja terlepas.


“Akan kuberi tahu ada yang lebih sakit.” Zean berbisik, membuat Sally menoleh dan memundurkan wajah.


Wajah Zean sudah senyum penuh arti, sambil menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Sally bergidik ngeri.


“Kakak! Jangan macam-macam. Kakimu belum sembuh, Kak!”


Tak peduli, Zean justru mendekat ke arah Sally. Membuat gadis itu mundur perlahan, dan perlahan.


.


.


.


.


.


. Bersambung…


Maaf ya, chapter ini panjang. Hadeehh…


Silahkan skip, jika tak suka ya, masih tahap mengurai perasaan Zean dan Sally sebentar. Setelah itu satu konflik lagi kalau jadi trus tamat.


Oiya, aku itu maju mundur mau nulis adegan 'itu-itu'. takut juga sih, hahaha...

__ADS_1


Ada masukan? tulis di komentar, enaknya gimana.


Makaciiihh... jangan lupa like nya. hehe...


__ADS_2