Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 20


__ADS_3

“Tidak perlu dibahas, cari tahu soal hasil DNA itu. Dan satu lagi, cari di mana keberadaan Zean sekarang.”


“Memangnya ke mana Zean, Om?”


“Kau bodoh atau apa, Elo?” Pak Bobi emosi. “Kalau om tahu, buat apa minta kamu mencarinya. Jangan banyak tanya, kerahkan anak buahmu untuk mencari. Aku butuh istirahat, kepalaku pening. Pulanglah kalian.”


Sepasang manusia itu hanya mengangguk, meninggalkan ruangan dengan kebingungan. Elo menyesal telah membuat masalah.  Gara-gara ulahnya yang ceroboh membuat keluarga sepupunya jadi kacau.


“Aku bodoh banget ya, Al. Kenapa nggak nanya dulu ke kamu. Pasti Zean sudah habis di tangan ayahnya kemarin. Bodohnya lagi aku tidak tahu soal hal itu, karena sejak kemarin Zean memusuhiku.” Terus mengutuki diri sambil berjalan menuju keluar, tapi langkahnya terhenti ketika bu Lyra memanggil.


“Dari tadi?” tanya wanita itu, sambil memeluk anak dari sang kakak.


“Barusan, Tan.” Bu Lyra mengangguk. Kedua netra menatap Alika yang masih diam canggung seolah tahu dengan arti tatapan wanita di hadapannya.


“Kakak sehat?” tanyanya kembali mengarah pada Elo.


“Sehat, Tan. Aku juga belum pulang sih, tapi nggak ada kabar apa-apa kok. Mama dan papa pasti baik-baik aja.” Bu Lyra mengangguk, lalu  mengajak Elo ke ruang makan untuk makan sekalian, tapi laki-laki itu  menolak.


“Nggak papa, Zean dan Sally nggak di rumah. Tante kesepian kalau sama om kamu aja.” Kata-kata bu Lyra menyayat hati Alika dan Elo bersamaan, keduanya jadi merasa  semakin bersalah. Terutama Elo sendiri.


“Tan ….” Bu Lyra menatap. “Maafkan Elo, ya. Gara-gara Elo anak-anak Tante pergi dari rumah.”


Beliau menghela napas panjang, mungkin yang beliau kira adalah karena Elo yang memberitahu jika Elis anak Zean.


“Nggak papa, kamu nggak salah. Tapi Zean sendiri yang terlalu sembrono.”


“Tante, bukan itu maksudku.” Bingung, mendengar jawaban keponakannya. “Lalu?”


“Sebenarnya … Elis bukan anak Zean, Tan,” jawab Elo dengan ragu. Penuh sesal dalam setiap kata yang terlontar.


Bu Lyra menoleh kembali pada Alika, perempuan beranak satu itu mengangguk lesu. “Maaf Nyonya, karena Elo telah salah paham. Soal tes DNA itu, saya juga tidak tahu, jadi tidak menjelaskan semua segera.”


Tubuh bu Lyra yang baru pulih terasa oleng kembali, bahkan sampai berpegangan pada Elo yang masih setia di depannya. Kepalanya kembali cenut-cenut mendapat fakta mengejutkan.


“Tante Lyra!” Elo panik karena bu Lyra mulai hilang kesadaran.


Pak Bobi segera keluar dari ruangan, mendengar suara yang menyeru nama istrinya. “Ada apa ini?” Segera menarik tubuh bu Lyra, membawa ke kamar tamu yang terdekat dari posisi mereka.


Elo dengan sedikit berlari membuka pintu kamar, ikut masuk khawatir dengan kondisi sang bibi.


“Ma … Mama kenapa gini lagi, Ma ….” Pak Bobi semakin hancur, melihat kondisi istrinya semakin drop.


“Om … maaf, aku tadi bilang jika Elis bukan anak Zean.”


“Tinggalkan rumah ini!” Tak mau memperpanjang masalah, segera meminta kedua orang itu pergi sebelum semakin membuat pusing.


Langkah berat mengiringi kepergian keduanya, meninggalkan pak Bobi dengan segala kecemasan karena kondisi ibu Zean itu.

__ADS_1


***


Membelah jalanan kota yang semakin malam, Elo membuka suara. “Al … aku besok harus ke rumah adik ipar, menjelaskan semua ini. Apa kau bersedia ikut?” Menatap sendu pada wanita di samping ia duduk, Alika hanya mengangguk.


“Sabar … ini semua salah paham. Harusnya aku dulu segera menjawab pertanyaanmu usai aku mengatakan jika aku mantan kekasih adik sepupumu.”


Elo hanya kembali menghela. Tidak ada yang bisa ia salahkan kecuali dirinya sendiri. Otaknya yang dulu cerdas dalam segala hal, tapi tiba-tiba bodoh setelah mencintai wanita. Tak heran, jika Zean sering begitu setelah menikah. Ternyata ia sendiri merasakannya, bahkan lebih parah sampai membuat masalah sebesar itu.


“Aku nggak bisa bayangin, jika sampai keluargaku tahu. Pasti mama akan marah besar padaku,” katanya kembali dengan frustrasi.


Alika hanya diam, tak bisa menjawab. Ia juga tak terlalu paham dengan keluarga Bagaskara, karena belum pernah ke sana. Elo hanya bilang jika kedua orang tua mau saja menerima hadirnya meski sudah ada Elis.


Suasana kembali hening sepanjang perjalanan, Elis sudah lelap di pangkuan Alika sejak tadi. Turun dengan hati-hati, membungkuk sedikit untuk mengucap perpisahan pada kekasihnya.


“Makasih, segera pulang dan hati-hati. Besok pagi-pagi aku akan segera bersiap, aku titipkan Elis pada pekerjaku dulu saja.” Elo mengangguk. Kemudian ia segera kembali ke apartemen.


***


Perjalanan dua jam kurang akhirnya sampai di kediaman Birawan. Jam di tangan masih menunjuk pukul setengah tujuh. Dion baru saja hendak keluar dengan seragam lengkap. Pemuda itu berhenti, sejenak membiarkan Mang Jono menunggu.


“Tuan Muda … ada apa?” Sopir pribadi bu Anna itu memberanikan bertanya karena anak majikannya tidak ada tanda-tanda ingin berangkat.


“Sebentar, Mang,” ucapnya dan berlalu menghampiri mobil yang terparkir tak jauh dari ia berada.


Dua orang turun dari mobil, tampak Dion tak asing dengan wajah mereka. “Kak Elo?” sapanya lebih dulu.


“Hei … Di. Kau mau berangkat?” Mengangguk, membenarkan. “Ada apa pagi-pagi kemari?”


“Kak Sally?” Elo mengangguk.


“Ada di rumah, masih sarapan tadi.”


“Aku masuk kalau gitu, ya.” Tanpa berniat menjelaskan, Elo menggandeng tangan Alika meninggalkan Dion yang masih mematung.


“Kal El!” Langkah Elo tertahan, lalu menengok ke belakang. “Apa kak Zean sudah ketemu?”


Elo kembali tertunduk lesu, mengembus napas berat. Lalu menggeleng. “Kakak masih mencoba mencarinya.”


Dion mendesah kecewa, ia jadi ikut memikirkan nasib kehidupan kakak iparnya yang entah di mana sekarang. Tanpa sadar jika waktu semakin siang, segera menuju mobil dan berangkat ke sekolah.


Bi Mur mempersilakan duduk, menawarkan minum untuk kedua tamu. Segera undur diri dan memanggil Sally, memberitahu kedatangan Elo.


“Nona ….” Sally menghentikan suapan makan dari piring. “Kenapa, Bi?”


“Ada tamu untuk, Nona. Tuan Delon, Non.”


Semua orang saling pandang. Sally segera beranjak dan menemui kakak iparnya, berharap jika Elo membawa kabar baik tentang keberadaan Zean. Pak Tomi dan bu Anna kemudian ikut menyusul pula.

__ADS_1


Tepat sampai di dekat sofa, wajah Sally berubah pias saat melihat wanita yang menjadi ibu dari anak suaminya.


“Adik ipar ….” Elo tersenyum, dibalas dengan senyuman dari Sally kemudian ia duduk.


“Ada apa, Kak?”


Memandang Alika sejenak, wanita itu mengangguk. Sally semakin tak paham, hatinya  terasa semakin sesak. Pikiran buruk sudah di mana-mana, berharap ia kuat dan tidak sampai pingsan jika dapat kabar tidak menyenangkan.


“Begini ….” Sally menyibak rambut, agar mendengar jelas. “Sebenarnya, Zean bukan ayah dari Elis, Adik Ipar. Aku sudah salah paham waktu itu.”


Sally tergemap, dadanya tiba-tiba sesak. Persis seperti Bu Lyra yang sudah kaget mendengar jawaban itu kemarin malam. “Bi … aku minta air putih.” Sally berteriak lebih dulu, sebelum menjawab pernyataan Elo. Masih pagi, jantungnya diajak senam. Bahkan anak di dalam perut ikut menendang seolah tahu jika ibunya tengah terkejut.


Dengan tergopoh Bi Mur datang membawa minuman dan camilan untuk kedua tamu, tak lupa juga pesanan Sally. Gadis itu segera meminum pelan dan menghabiskan, agar sedikit tenang. Bu Anna ikut panik melihat kondisi Sally, sampai harus ikut berdiri menghampiri.


Tampak Sally gusar, mengusap perut yang masih terus protes. Elo dan Alika masih menunggu jawaban Sally. Mereka tahu jika kabar itu membuat semua orang terkejut. “Maksud Kakak bagaimana?” Akhirnya bicara.


“Ya … Elis bukan anak Zean, Sa. Tapi anak orang lain, jika kau tanya kenapa DNA itu bisa sama. Aku masih menunggu kabar dari rumah sakit hari ini. Sengaja aku membawa Alika, untuk meyakinkanmu dan keluarga jika perlu.”


“Benarkah, Nona?” Pak Tomi ikut bicara.


“Benar, Tuan. Selama ini Elo telah salah paham, saya juga baru tahu jika keduanya telah melakukan tes DNA.”


Sally menyandarkan diri di sofa, ia lemas mendadak. Bu Anna segera mengusap lembut pundak anaknya memastikan Sally baik-baik saja.


“Lalu di mana kakak, Mi? Di mana?” Gadis itu kembali menangis di pelukan ibunya, hati dan kepala telah dibuat pusing dan hancur sejak kemarin.


“Sa … aku masih mengerahkan semua anak buahku untuk mencari keberadaan suamimu. Aku mohon maaf atas kecerobohan yang kuperbuat. Aku tidak tahu jika sampai seperti ini, awalnya aku berpikir jika Zean tahu Elis anaknya, dia akan segera mendonorkan darah yang termasuk langka itu, tapi ternyata tetap tidak mau dan malah runyam.”


Pak Tomi mengembus napas berat, beliau ikut pening dengan masalah anak sulungnya. “Mi … bawa Sally istirahat aja dulu, Mi. Biar papi yang ngurus ini.”


Bu Anna segera membawa Sally istirahat, kondisi anaknya baru mulai stabil pagi tadi. Tapi baru bertahan berapa jam sudah terguncang lagi. Hatinya ikut sakit, seolah tidak terima dengan semua itu. Dengan hati-hati menapaki tangga, lalu membawa Sally ke kamar.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Like dan komen jangan lupa. Masalah mulai terpecah, udah mulai tenang?

__ADS_1


Lengkapin jempolnya di tiap bab, dari bab 1 season 1 jika belum lengkap ya. Biar naikin rating, agar banyak yang baca. Jadi smakin semangat buat lanjutin ceritanya. Hehehe…


Follow instagramku  @ukiii__21.


__ADS_2