
Alunan musik sudah tak terdengar, para penyanyi kafe beserta personil lainnya mulai mengemas segala alat musik yang mereka pakai untuk menyusun nada demi nada agar menjadi sebuah alunan merdu yang bisa didengar tadi.
Tiga orang barista kafe, sudah merapikan tempat mereka. Membersihkan, mengelap dan menata peralatan membuat kopi mereka yang sudah bersih.
Seorang gadis yang masih setia membenamkan wajahnya di antara kedua tangan yang saling bertumpu di atas meja. Rambut panjangnya menyebar, menutup tangan dan wajah yang masih enggan ia tampakkan.
Isak sesenggukan itu tak mereda, ice coffee yang ia pesan bahkan masih utuh di gelasnya. Seakan ia tak tahu keadaan sekitar, sampai akhirnya satu barista mendekat ke arahnya.
“Kak, mohon maaf, kami akan segera tutup,” ucap sang barista, dengan lembut dan tidak bermaksud mengagetkan pengunjungnya.
Gadis itu mengangkat wajah, mata sembab terlihat dari kedua matanya. Hidungnya yang mancung memerah pada ujungnya, serta bibir merah muda itu sudah semakin memerah.
“Iya, saya akan segera pergi.” Ia menyeka mata, seakan menghilangkan sisa air mata yang mungkin tertinggal di kedua pipi mulusnya.
Menyelipkan rambut di belakang telinga, meraih tas slempang dari atas meja. Lalu beranjak dari kursi yang sudah hampir tiga jam ia duduki.
Tak tahu harus ke mana, ia terlalu lelah jika harus kembali ke rumah. Ponselnya juga ikut kehabisan daya, sehingga tak bisa memberi kabar kepada keluarga.
Saat ia masih mematung di depan kafe, masih berpikir tentang langkah apa yang akan ia ambil. Satu suara menyapa.
“Sally ….”
Gadis dengan dress berwarna biru itu menoleh, mencari tahu siapa yang menyeru namanya.
“Kak Leon.”
Laki-laki itu mendekat, dengan tas ransel menggantung di tangan sebelah kiri.
“Kau ke kota ini lagi?” tanya Leon dengan rambut sedikit basah, mungkin karena ia tadi menerobos rintikan hujan.
Sally bergeming, ia hanya tersenyum sambil mengangguk. Sedang tak berselera untuk mengobrol, meski tak enak juga jika bersikap cuek pada sepupu sahabatnya.
Leon memperhatikan raut wajah Sally. Gadis yang ia cintai dalam hati itu tampak berbeda dari beberapa hari lalu. Maju mundur ingin bertanya. Tapi akhirnya bertanya juga.
“Kau baik-baik saja, Sa?” Sally menoleh, lalu mengangguk lagi.
Leon tersenyum, sambil menggaruk telinga. “Kau menunggu seseorang?” tanyanya lagi.
Tapi Sally hanya menggeleng, bibirnya masih kelu untuk menjawab.
“Eee ….” Leon bingung harus bersikap bagaimana, melihat tak ada tanggapan sama sekali dari gadis di depannya.
“Kakak kenapa bisa di sini?”
Tak disangka, gadis itu mulai membuka suara. Leon yang tadi sudah hampir menyerah dan hendak pergi, langkahnya seakan kembali tertahan.
Dengan senyum ramah ia menjawab,” Aku kuliah di kota ini, ku rasa Lisa kemarin sudah memberi tahu saat kita di rumah sakit.”
“Bukan itu yang aku maksud. Aku tahu kakak kuliah di kota ini, apa kampus kakak sekitar sini?” Sally memastikan. Kali ini ia sudah mau menghadap pada orang di sampingnya yang sejak tadi menghadap padanya.
Lelaki bermata biru itu baru paham dengan pertanyaan mantan adik kelasnya. Ia jadi tersenyum canggung, karena otaknya tiba-tiba jadi lola(loading lama ) begitu.
__ADS_1
“Kampusku mungkin sekitar lima belas menit dari sini, Sa. Tapi aku tinggal di daerah sini. Itu ….” Dia menunjuk ke seberang jalan.
“Apartemen itu?” Leon mengangguk.
“Kau mau mampir?”
Seakan lupa waktu sudah menunjuk pukul berapa, saking cintanya mungkin, Leon sampai menawarkan untuk Sally berkunjung.
Gadis itu kembali bergeming, ia hanya menatap lurus ke depan. Menikmati rintikan hujan yang masih senantiasa menetes.
“Maaf, aku tak bisa. Ini udah jam malam, Kak.”
Ucapan gadis itu menyadarkan Leon, betapa terlihat jelas perubahannya yang tiba-tiba menjadi bodoh saat berhadapan dengan gadis yang ia sukai.
“Ah, i-iya. Sorry ….” Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung harus mengobrol apalagi, ia hanya ikut bergeming di samping Sally, ikut menikmati tetesan air hujan.
“Apa kakak bisa membantuku?” kata Sally. Ia kembali menatap pada mantan kakak kelasnya lagi.
Dengan cepat Leon mengangguk, tanpa bertanya perihal bantuan yang bagaimana yang Sally butuhkan.
“Terima kasih ….” Sally mulai tersenyum.
Hati Leon semakin riang, terlihat dari senyum sumringah yang ia tampakkan. Mungkin, apa pun akan ia lakukan asal bisa membuat Sally semakin dekat dengannya. Meski ungkapan cinta yang masih senantiasa ia pendam, berpikir untuk menjalin pendekatan lebih dulu mungkin akan lebih baik.
“Antarkan aku cari penginapan di sekitar sini ya, Kak,” pinta Sally.
Gadis itu tak ada pikiran untuk pulang saat ini, ia hanya ingin menenangkan diri. Tak ingin terlihat kacau dan bersedih, di hadapan keluarganya.
“Baiklah, tak jauh dari sini ada hotel kok. Aku bisa mengantarmu ke sana. Tapi ….” Sedikit ragu, Leon untuk melanjutkan ucapannya.
“Kenapa, Kak?”
“Aku tidak bawa mobil. Jadi aku ambil mobil dulu, ya.”
“Tidak usah,” sahut Sally, menghentikan langkah Leon yang hendak meninggalkan dirinya menuju apartemen untuk mengambil mobil.
“Aku bawa mobil, kita bisa naik mobilku saja, Kak.”
Leon hanya menjawab ‘oh’ lalu mengangguk.
Sally melangkah, menerobos rintikan hujan itu. Mengikuti langkah Leon yang sudah ada di depannya. Segera menuju mobil dengan Leon yang mengambil alih kemudi.
Sepanjang jalan hanya terdiam, Sally tak banyak bicara. Yang ia pikirkan saat ini, hanyalah mencari tempat istirahat untuk membuat dirinya lebih tenang.
Panggilan ‘daddy’ dari anak kecil yang sedikit mirip dari Zean tadi sore masih terngiang di telinga, ditambah dengan senyum dan wajah penuh bahagia dari suaminya.
Tak percaya, jika beberapa hari lalu sang suami mencari dirinya. Menanyakan hadirnya. Namun, saat ia berusaha mengalahkan egonya untuk menemui lebih dulu, ia justru kecewa.
Omongan bu Anna dan bu Lyra yang bilang Zean tampak kacau tanpa kehadirannya seakan hanya sebuah bualan semata. Untuk mendamaikan kedua anaknya.
Tidak! Sally tidak ingin dibodohi lagi. Kali ini ia akan tetap teguh dengan pendiriannya. Mengabaikan Zean yang juga tengah mengabaikan dirinya. Tak peduli, Sally mencoba tak peduli dengan lelaki yang sudah menemaninya beberapa bulan ini.
__ADS_1
Luka di awal pernikahannya seakan kembali terbuka, mengeraskan tembok kebencian di hati gadis SMA itu.
Sampai saatnya mungkin, ia akan siap untuk menerima kenyataan. Berpisah dan merelakan suaminya dengan wanita dan anak kecil yang selalu memanggilnya daddy.
Air mata itu kembali menggenang di pelupuk mata, temaram lampu jalan itu terlihat kabur di penglihatan Sally. Leon memasuki area hotel. Memarkirkan mobil, lalu mematikan mesin.
Menoleh ke sebelah kiri, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Sally dengan wajah yang sudah tertutup dengan kedua telapak tangan.
Isakan itu terdengar samar. Membuat Leon bingung. Menarik napas dalam, mencoba mencari solusi.
“Sa … kita sudah sampai.”
Hening, tak ada jawaban. Kembali laki-laki itu mengulangi kata-katanya.
Sally mendongakkan wajah, ia segera mengusap kasar kedua pipi.
“Terima kasih ya, Kak. Kakak bisa pulang bawa mobilku saja, daripada naik taksi.” Masih menunduk tanpa memandang lawan bicara. Ia segera meraih tali tas slempangnya, bergegas turun setelah berkata-kata.
Tangan Leon mencekal tangan Sally. Menghentikan Sally yang sudah mulai membuka pintu mobil.
“Kau baik-baik saja, Sa?” Pertanyaan itu kembali meluncur dari bibir Leon. Tak percaya, jika Sally baik-baik saja seperti jawabannya di depan kafe tadi. Leon kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Menarik napas dalam, ia menegakkan duduknya. “Aku ada sedikit masalah dengan suamiku, Kak.”
Leon mematung, tubuhnya seakan beku saat itu juga. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba mengumpulkan nyawa. Tangan yang tadi mencengkal, ikut mengendur dan akhirnya terlepas.
“Su-suami?” ucap Leon tergugu-gugu.
Sally mengangguk, lalu menjawab,” Lelaki yang sakit waktu itu … suamiku, Kak.”
Bagai terseret ombak di lautan, Leon ikut terombang-ambing menuju palung terdalam. Hatinya seakan ikut mati. Napasnya ikut sesak. Bibirnya bergetar, tak bisa menjawab.
“Aku turun ya, Kak. Bawa saja mobilku, aku tidak ingin ke mana-mana, jadi ku rasa … Aku tidak membutuhkannya sementara.”
Tak menunggu jawaban laki-laki yang belum sadar itu, Sally turun dengan segera. Meninggalkan Leon, lalu masuk ke hotel untuk segera chek-in.
.
.
.
.
.
.bersambung….
Jangan lupa like nya kakak. Aku agak kesusahan di part ini. kalau ada
masukan, tolong tulis di komentar aja. Nanti aku revisi.
__ADS_1
Makaccihhh….