Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 22 : Maaf adalah Hal Langka


__ADS_3

Ruang kamar dengan temaram lampu tidur itu masih begitu sunyi. Zean masih ada di posisi memeluk, sementara istrinya mulai memberanikan diri mengusap punggung pria tersebut. Beberapa menit terlewat, tidak ada penjelasan dari Zean tentang sikapnya yang seperti butuh dukungan. Pria itu mungkin gengsi sehingga tidak mau bicara atau memang belum sepenuhnya percaya pada istri sendiri. Sally hanya bisa menerka.


Dengkuran halus didengar Sally. Gadis SMA itu memundurkan badan dan menengok ke bawah. Dia menghela napas ketika melihat Zean justru tertidur. Sejenak, gadis itu mengamati paras sang suami. Alis tebal, hidung mancung dipadu dengan bibir yang tipis. Tanpa sadar, Sally tersenyum.


Kamu memang tampan, tapi kenapa menyebalkan?


Sally membekap mulut ketika sadar telah bicara sembarangan. Sejak kapan dirinya mau berdamai dengan Zean? Mau setampan apa pun pria yang sedang tidur di dekapannya itu, Sally tidak ingin lengah. Tujuan pernikahan ini bukankah hanya untuk salng membahagiakan keluarga? Lantas, untuk apa saling mengagumi? Sally terus mengontrol pikiran agar tetap waras dan tidak terbuai akan situasi.


“Kak.”


Bahu kokoh Zean digoyangkan Sally secara sengaja. Dia pikir tidak akan bisa tidur jika posisi mereka seperti itu. Lagi pula, siapa mau membiarkan wajah lelaki menyentuh dadanya  sepanjang malam? Lama-lama, Sally merasa Zean mengambil keuntungan darinya.


“Kak Ze.” Sally kembali berusaha membangunkan Zean. Namun, pria itu sepertinya sudah terbang ke alam mimpi.


“Kakak.” Pipi mulus Zean ditepuk Sally, istrinya belum mau menyerah. “Aduh! Susah banget, sih, Kak, membangunkanmu.” Sally menggerutu habis-habisan karean mulai lelah membangunkan suaminya. Pria itu mungkin terlalu lelah atau nyaman sehingga tidak merasakan apa pun.


Perlahan-lahan, Sally menarik tangannya yang menjadi bantalan Zean, lalu mendorong kepala pria itu agar menjauh. Pergerakan itu mengundang Zean membuka mata. Dia mengerjap-ngerjap, lalu menyipitkan mata kala cahaya remang mengenai retina.


“Euh, Sa. Aku ketiduran.” Pria itu mendongak, mengumpulkan nyawa untuk melihat posisi Sally. Istrinya hanya mengangguk menanggapi.


“Sorry, ya.” Kembali Zean berkata. Sebuah kata langka terucap dari mulut Zean, yaitu: maaf.


“Kakak capek, ya? Tidur aja.”


“Kau tidak berniat menemaniku?”


Mata Sally membeliak mendengar perkataan Zean. Pria menyebalkan itu mendadak manja dan membuat mual. Ada angin apa sehingga bersikap demikian? Hal itu membuat Sally bertanya-tanya melalui ekspresinya.

__ADS_1


“Kenapa wajahmu? Kalau tidak mau, ya, sudah!” Zean berubah ketus kembali. Jelmaan manjanya lenyap dalam sekejap.


Apa-apaan, sih, dia ini. Aneh!


Sally sampai mendengkus beberapa kali menanggapi Zean, mengundang tanggapan suaminya lagi. “Kenapa lagi kau harus bersikap demikian?”


“Hah!” Gadis itu tersentak. “Enggak, aku cuma mau ganti baju dulu.” Cepat-cepat Sally meninggalkan Zean. Dia tidak ingin berdebat untuk saat ini. Ada kalanya dia bosan jika harus beradu argument terus menerus.


Sementara itu, Zean yang masih berada di ranjang menarik selimut. Dia merasa ingin istirahat lebih awal. Pikirannya tengah kalut sampai lupa menjemput sang istri.


Tidak selang lama, Sally kembali ke peraduan. Dia ikut menyusup ke dalam selimut bersama Zean. Pria di sebelahnya sudah memejamkan mata lagi, Sally tidak ingin mengganggu.


Dua orang itu sama-sama merebahkan diri menghadap langit-langit kamar, tidak seperti biasa yang suka memunggungi satu sama lain. Sesekali Sally melirik suaminya, paras rupawan itu terlihat lebih lelah dari hari kemarin.


“Kakak besok pulang?”


Sally mengangguk tanpa menoleh. “Aku bisa naik taksi atau numpang Lisa.”


“Kau tidak marah?”


“Untuk apa marah?” Sally menjawab santai.


Zean memiringkan badan, menopang kepala dengan satu tangan. “Bukankah kau tadi marah?”


Pertanyaan Zean mengundang Sally untuk menoleh padanya. “Aku enggak marah, cuma kesel sama Kak Ze. Mami dan Papi nggak pernah membentakku, tapi kenapa Kakak lakuin itu?


“Sorry, aku memang tidak terlalu pandai memahami wanita.” Kata maaf keluar lagi dari mulut Zean. Pria itu baru sadar jika Sally bukanlah Elo yang terlalu sering menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. Istrinya  hanya seorang gadis yang masih tergolong remaja, sementara Zean pria dewasa. Bukankah seharusnya yang lebih mengalah demi mengimbangi hubungan adalah Zean? Namun, karena pria itu tidak pernah mau mengalah dengan siapa pun keculai orang tua, dia sampai tidak bisa bersikap.

__ADS_1


Bukan soal Zean seorang pria yang tidak pernah menjalin hubungan dengan para gadis. Akan tetapi, sikapnya lebih banyak mendominasi dan nyaris tidak mau ditentang. Dalam kamus percintaan Zean, tidak ada istilah perempuan selalu benar, tetapi justru dia yang benar.


Kebisuan kembali melanda mereka. Sally tidak melanjutkan bicara atau menjawab permintaan maaf sang suami. Dia masih berusaha mencerna tentang sikap Zean yang sangat mudah berubah. Suaminya itu seperti tidak memiliki pegangan, sekejap-sekejap berganti entah ada atau tidak alasannya.


Kecupan di pipi memecah lamunan Sally. Mata gadis itu membulat sempurna seolah nyaris keluar dari rongganya. Jantung ikut berdebar hebat, desiran darah mengalir deras menghasilkan bibir yang terasa kebas. Dia hilang arah.


“Hei, kau lupa bernapas!” Zean mengguncang tubuh Sally yang masih tercenung. Pria itu merasa lucu dengan gadis kecil yang sudah dinikahi. Hanya sebuah kecupan singkat, tetapi respon Sally sampai demikian. Bagaimana jika Zean melakukan lebih? Ah, pikiran Zean mulai ke mana-mana.


Apa kau sepolos itu, Gadis Kecil?


Seringai licik terbit kembali di bibir Zean, sementara Sally langsung mendorong suaminya dan berbalik memunggungi.


“Ayo, tidur!” Zean berucap seiring tangan yang melingkar di perut. Hal itu membuat Sally makin sesak napas. Tubuhnya menegang beberapa saat sampai tanpa sadar jika yang memeluknya sudah terlelap lebih dulu.


“Kak.” Sally memberanikan diri memanggil. Namun, itu percuma. Tidak ada yang menyahut, hanya ada suara angin yang keluar dari pendingin ruangan.


“Kak Ze, jangan begini.”


Tidak ada respons sampai beberapa menit hingga akhirnya Sally berani memutar badan. Matanya menangkap pemandangan sang suami yang sudah lelap seiring napas keluar masuk secara teratur.


“Dia tidur lagi.”


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2