
Malam terenggut pagi. Langit gelap berubah cerah lantaran sinar mentari yang menerangi bumi. Sepoi angin menghantarkan rasa sejuk, menggoyangkan dedaunan yang masih dibasahi embun.
Kaki jenjang Sally keluar dari kamar mandi. Tubuh yang masih berbalut handuk itu menguarkan aroma wangi akibat sabun yang dipakai. Gadis SMA itu mengukir senyum terbaik kala memandangi wajahnya sepintas di depan cermin. Kemudian, dia segera berganti seragam di ruang ganti.
Rapi dengan seragam sekolah, Sally keluar dan duduk di kursi meja rias. Dia menarik gulungan rambut untuk lebih mudah disisir. Tangan putihnya menyatukan rambut yang tergerai, menarik ke sisi kiri dan sampai di depan dada.
Gadis itu memulai kegiatannya berhias. Ujian try out pertama membuatnya semangat menjalani hari. Meski kemarin-kemarin Sally sempat tidak terima dengan pernikahannya, tetapi akhirnya tidak ada jalan selain berdamai dengan keadaan.
Dia pikir, biarlah kebahagiaan keluarga yang utama. Perkara menghadapi Zean yang menyebalkan, Sally rasa masih kuat untuk itu.
Rambut bergelombang itu dikembalikan ke balik punggung. Satu jepit kecil sengaja Sally sematkan di belakang telinga kanan dan kiri. Sapuan bedak tak lupa ikut diaplikasikan, liptint merah muda membasahi bibirnya yang sudah berwarna meski tanpa pewarna.
Sally sengaja berhias hari ini. Entah alasan seperti apa yang mendorongnya tampil beda. Semua kegiatan itu membuat dia lupa sejenak akan ketidakhadiran Zean di sisinya sejak kemarin malam.
Masih teringat jika kemarin dia bisa menguasai ranjangnya sendiri sejak menikah. Sang suami tidak pulang dan tidak pula memberi kabar. Panggilan tak terjawab menumpuk, tetapi ketika nomor Ze dihubungi, kembali sudah tidak aktif.
Bayang-bayang semalam segera ditepis Sally. Gadis dengan mata cokelat tua seperti rambutnya itu menarik napas dalam, lalu mengeluarkan karbondioksida lewat bibir.
“Semangat, Sa!” Dia bermonolog di depan cermin. Kemudian, berdiri meninggalkan kamar.
Sepatu kets-nya memijak tangga dengan entakan riang. Bibir mungil Sally turut bersenandung pelan meski hanya dia yang bisa mendengar. Namun, semua pergerakan bibir dan kakinya berhenti ketika kedua mata menatap meja makan. Sally bisa melihat pria muda berbalut jas hitam sudah duduk tenang dan mengobrol dengan ibunya.
“Sarapan, Kak.” Dion membuyarkan pandangan Sally. Pemuda itu kebetulan melintas di depan tangga dan mendapati kakaknya sedang melongo tanpa suara.
Omongan Dion tidak perlu ditanggapi. Toh, anak itu sudah melangkah lebih dulu ke meja makan meninggalkan Sally.
“Sa, sarapan sini.” Bu Anna menyambut putrinya dengan senyum ceria, sementara pria yang ada di hadapan beliau enggan menoleh.
Ketika kursi berderit lantaran ditarik Sally, pria itu baru menoleh. Pupil mata Zean refleks melebar melihat istri kecilnya. Dandanan Sally mengingatkan Zean saat hari lamaran dulu. Gadis itu tidak seperti anak sekolahan lagi, tetapi sudah menjelma jadi wanita dewasa.
“Ehem! Ada yang terpesona.” Lagi-lagi Dion mengganggu aktivitas orang. Zean yang mendengarnya langsung melengos, sementara Sally ikut menahan senyum. Jantung keduanya berdebar. Zean ingin megumpat dengan kondisi yang dialami.
S i a l! Bisa-bisanya aku deg-degan gini.
“Dion!” Bu Anna menegur putra bungsunya. “Jangan gitu, nggak sopan sama kakak iparmu.”
__ADS_1
Tanggapan Dion hanya berupa cengiran lebar pada sang mama. “Maaf, Mi. Habisnya malah pada diem-dieman, nanti makanan keburu nggak enak. Kan, sayang.”
“Hush! Kamu ini.” Bu Anna menggeleng mendengar jawaban putranya. Dion terlalu berbeda dengan Sally. Pemuda itu lebih mirip seperti Pak Tomi, sangat ramah sampai-sampai sering sekali menggoda kakaknya.
“Makan yang banyak, Sa. Kamu hari ini uji coba ujian, kan?”
“Iya, Mi.” Tangan Sally terulur ke depan, menerima piring yang sudah diisi makanan oleh ibunya. Sementara itu, Zean di sebelah hanya diam dan terus sibuk mengunyah makanan tanpa ingin berkata.
***
Mobil Zean berhenti di depan pintu gerbang sekolah sang istri. Sally melepas sabuk pengaman dan bergegas turun. Tubuhnya bergeser sedikit, tangan kiri memegangi ransel, sementara kanan sudah ingin mendorong pintu. Namun, pergerakannya berhenti lantaran Zean mencekal.
Gadis itu memutar badan, mata cokelatnya tertumbuk dengan mata Zean. Sally bingung, biasanya tidak mendapat perlakuan seperti itu dari sang suami.
“Kenapa?” Sally bertanya dengan nada linglung, pandangannya bergulir dari wajah Zean turun ke tangan yang masih dicekal. “Aku telat kalau gini.” Gadis itu menambahi.
“Pulang sekolah tunggu aku.” Setelah sekian detik bibirnya terkatup rapat, akhirnya suara keluar juga dari mulut Zean.
Sally mengangguk, menanggapi perintah suaminya. Sepanjang jalan tidak ada obrolan, meski ingin sekali dia bertanya soal kabar kemarin. Namun, rasa gengsi tetap merajai hati, sehingga tidak ada yang keluar dari mulut.
“Belajar yang rajin dan segera selesaikan sekolahmu.”
Omongan Zean seperti tidak masuk ke telinga, terbukti dengan kondisi Sally yang masih menatap linglung tanpa berkedip. Pria itu terkikik lucu, lalu mengusak rambut istri kecilnya.
“Kurang?”
“Ah!” Sally mendorong tubuh Zean. Dia buru-buru keluar sebelum salah tingkah dan akan dijaili suaminya makin parah.
Sungguh kejadian yang baru saja terjadi, membuat Sally seolah kehilangan nyawa dari raga. Kesadarannya terbang bebas ke awang-awang dan enggan kembali.
“Sally!” Lengkingan nada tinggi yang sangat Sally kenali menghentikan kakinya yang sudah menapaki lantai koridor kelas. Gadis berambut panjang itu memutar badan ke belakang dan mendapati Lisa berlari ke arahnya.
“Tungguin!”
“Iya, ini juga berhenti.”
__ADS_1
Lisa menggamit tangan sahabatnya. Kebiasaan gadis berambut pendek itu selalu bergelayut manja meski sesama perempuan.
“Gimana? Udah belajar?”
“Dikit.”
Jawaban Sally membuat Lisa mencebik. Dia hafal tentang seberapa banyak materi yang dia sendiri dan Sally kuasai.
“Nggak pa-pa, deh. Masih uji coba. Masih ada waktu buat belajar lebih.”
“Um.” Hanya itu jawaban yang diberikan Sally.
“Kaku banget, sih, Sa, kamu hari ini. Masih pagi, lho. Semangat kayak aku, dong.”
Cecaran kalimat dari Lisa hanya ditanggapi Sally dengan senyum canggung. Dia tidak mungkin mengaku pada sahabatnya jika pikiran yang dimiliki masih setengah sadar akan kelakuan Zean. Bisa-bisa, Lisa heboh dan kejang-kejang. Mengingat gadis itu begitu memuja putra tunggal keluarga Pratama tersebut.
“Aku cuma agak gugup. Deg-degan aku.” Sally meringis, menunjukkan barisan gigi yang rapi. Raut wajahnya bersemu merah dan terkesah aneh bagi Lisa.
“Gitu aja gugup. Kalau di dekat Kakak Ganteng, enggak, deh, kayaknya.”
Omongan Lisa membuat pipi Sally makin panas. Istri Zean itu hanya bisa melengos dan segera masuk kelas sesuai nomor urut ujiannya.
“Udah, duduk di bangku kamu sana, gih! Terus belajar lag biar nggak remidi.”
Lisa berdecak dengan dua bola mata yang berputar-putar, merasa malas jika sahabatnya mulai menjelma jadi manusia bijak. Dia sadar jika kadang pemikiran Sally di atas gadis-gadis seumurannya, wajar saja mendiang nenek Sally tidak ragu menikahkan muda.
“Iya, Bawel.”
.
.
.
________
__ADS_1
Follow instagram aku, yuk, Kak. Kita ngobrol-ngobrol, @ukiii__21.