
“Kau tidak nyaman, Sa?”
Sally hanya melirik lelaki di samping kanannya. Dia tidak menjawab. Entah mengapa demikian. Gadis itu terbangun dari tidur sudah membisu seakan kedua bibir mungilnya terkena lem lengket dan sulit terbuka. Hanya kata ‘hmm’ dan gerakan kepala menggeleng serta mengangguk yang diberikan saat Zean bertanya.
“Kau marah padaku, Sa?” Lagi. Zean tidak mau menyerah. Dia masih terus bertanya meski tak mendapat jawaban dari pertanyaan yang pertama.
“Maaf, kalau aku menyakitimu.” Ucapan masih dilanjutkan lagi dari Zean hingga membuat orang di sebelah kiri yang mendengarnya jadi risih.
“Apa, sih, Kak? Badanku sakit semua, aku lagi males ngomong. Enggak usah mikir aneh-aneh,” kata Sally dengan nada ketus.
Akan tetapi, kesewotan Sally hanya dapat respons cengiran lebar dari Zean.
“Tidurlah lagi kalau begitu. Nanti ketika sampai rumah, aku akan membangunkanmu. Kalau tidak bangun, ya ... Aku gendong." Zean menjawab dengan senyum merekah.
Bagai baru saja memenangkan lotre, begitulah Zean sejak bangun tidur siang tadi. Dia akan tersenyum cerah bagai mentari pagi setiap melihat keberadaan Sally. Ah, sepertinya dia ingin melakukan permainan itu terus agar mood-nya selalu baik.
Berbeda dari Zean yang makin bersemangat, sementara Sally malas menanggapi. Daripada mendengar ocehan Zean terus menerus, Sally akhirnya memilih tidur.
Jalanan sedikit padat meski tidak sampai macet parah seperti weekend. Suara pengamen jalanan sesekali terdengar saat beberapa kali berhenti di lampu merah. Pedagang asongan, penjual koran, bahkan peminta-minta masih terlihat di antara lalu lalang kendaraan.
Lantaran tidak bisa tidur, Sally membuka mata kembali dan mengedarkan pandangan. Hatinya terenyuh saat kedua mata cokelatnya melihat dua orang anak kecil seumuran anak SD kelas empat duduk di trotoar jalan. Di depannya ada kotak kecil, serta potongan kardus bertuliskan ‘sol sepatu’. Jemari Sally refleks menyentuh jendela pintu mobil. Dia merasa ingin berada di antara anak-anak itu.
“Gadis kecil, ada apa?” Zean bertanya kala menyadari ada yang menarik perhatian istrinya. Namun, tidak ada jawaban karena Sally mengabaikan.
Zean menepikan mobil, lalu ikut mencodongkan diri pada posisi istrinya. “Ada apa?” tanyanya lagi.
Sally memutar tubuh dan secara refleks wajahnya bertabrakan dengan Zean. Dia tertegun, tetapi Zean justru tersenyum.
“Ada apa?” tanya Zean lagi tanpa mau memundurkan wajah.
Aroma mint tercium dari napas lelaki pemilik mata hitam itu membuat Sally menggeleng dan memundurkan wajah.
“Kenapa?” Pertanyaan aneh dari Zean, membuat Sally mendorong suaminya sendiri.
“Tempat umum, Kak. Jangan dekat-dekat.”
__ADS_1
Zean justru tergelak melihat istrinya yang masih sering gugup jika didekati. Lucu, membuat dia gemas dan ingin memakannya saja.
“Ada apa sampai-sampai kamu mengabaikanku?”
Sally membenarkan posisi duduknya, lalu menjawab, “Enggak ada apa-apa, Kak. Hanya saja tadi lihat dua orang anak kecil sibuk mencari pelanggan untuk jasa sol sepatunya.”
Zean manggut-manggut, lalu kembali menjalankan mobil. Dia sengaja tidak berkendara terlalu cepat karena jalanan mulai padat bertepatan dengan jam pulang para pekerja.
“Gadis kecil, kau tahu? Papa dulu juga mengalami seperti mereka.” Zean berkata tanpa menoleh pada Sally.
Gadis itu mencoba mencerna, tetapi tidak paham juga. “Maksud Kak Ze, Papa Bobi … pernah jadi tukang sol sepatu?”
Muka polos yang ditunjukkan Sally membuat Zean hanya menggeleng ringan dan tersenyum. Bagaimanapun juga, istrinya memang masih belia. Sifatnya masih polos, meski keras kepala.
“Akhp!” Sally terhenyak dan menutup mulut hampir tak percaya.
“Bukankah kau tahu kalau Papa bukan anak kandung nenekmu?”
“Um,” jawab Sally sambil mengangguk. “Nenek bilang, kalau Papa Bobi dulu diadopsi dari salah satu panti asuhan. Hanya itu yang aku tahu. Aku juga enggak terlalu paham karena dulu Papa sudah kuanggap pamanku sendiri meski sudah kembali ke kediaman Pratama.”
Sally mengangguk dan terus mendengar apa yang Zean ceritakan.
“Awalnya, Papa tidak mau kembali karena membenci Opa dan Oma. Tapi menjelang detik-detik Opa pergi, akhirnya kembali karena Nenek dan Papi Tomi yang memaksa. Aku tidak akan cerita terlalu banyak karena tidak sepenuhnya tahu. Lagi pula, Papa tidak terlalu suka kalau membahas masa lalu. Jadi, aku dan Mama tidak akan pernah bertanya kalau beliau tidak bercerita. Tapi, Sa, lama-kelamaan kau akan tahu keluarga Pratama seperti apa setelah tinggal di sana.”
Sally sedikit terkejut mendengar kisah kehidupan mertuanya. Seorang pemilik Pratama Group, ternyata dulu pernah menjadi anak yang terbuang. Kini dia tahu mengapa Pak Bobi terkadang sangat mudah marah jika Zean berbuat salah.
“Apa Kakak mau menikah denganku juga karena permintaan Papa?”
Zean menoleh, lalu mengacak rambut istrinya. “Tanpa kujawab, kau harusnya tahu.” Jawaban Zean akhiri dengan senyum.
Sally mencebik karena tak puas dengan jawaban Zean.
Akan tetapi, Zean tak menanggapi lebih dan kembali fokus pada jalanan kota yang sudah mulai gelap.
“Mau mampir makan? Kau baru makan tadi siang, kan?” Zean mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Sally memutar bola mata sejenak, lalu menjawab, “Enggak usah, Kak. Bentar lagi sampai rumah. Makan di rumah saja, Mami dan Papi pasti sudah menunggu.”
Zean mengangguk. Dia menuruti kemauan istrinya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil hitam milik Sally memasuki pelataran rumah.
Pak Im segera lari menghampiri orang yang masih di dalam mobil. Beliau ingin tahu juga kondisi anak majikannya yang sempat menghilang beberapa hari lalu.
“Nona ….” Pak Im berseru. “Non Sally baik-baik saja?” Tepat saat Sally baru menjejakkan satu kaki di tanah, Pak Im sudah memberi pertanyaan. Hal itu membuat Sally berhenti sejenak, lalu mendongak ke arah Pak Im dan mengangguk.
"Ke mana saja, Non Sally? Nyonya dan Tuan sibuk mencari Nona.” Pertanyaan masih berlanjut sampai-sampai Zean harus berdehem untuk mengentikan Pak Im.
Laki-laki yang sudah puluhan tahun mengais rezeki di kediaman Birawan itu diam dan menelan ludah susah payah saat melihat Zean berada di depan mobil menunggu Sally. Dia tak jadi bertanya dan menggeser badan memberi jalan untuk Sally.
Sally menutup mobil, lalu merapikan sweater rajut berkerah turtle yang kini dipakai. Akibat ulah Zean, dia harus mengenakan pakaian yang hampir menutup seluruh tubuh bagian atas. Celana jeans menghias kaki jenjangnya dengan flat shoes warna beige senada dengan atasan yang dipakai.
“Aku masuk dulu ya, Pak. Makasih udah khawatirin aku.” Gadis itu mengangguk, lalu segera menghampiri suaminya yang sudah mulai menggeram dari tadi.
***
“Sa, kamu pulang, Nak?” Bu Anna langsung memeluk Sally. Bahkan, tangisnya sudah tidak terbendung lagi mendapati putrinya kembali. Beliau lama tak mau melepaskan pelukan sampai Sally mengeluh sesak.
“Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” Bu Anna sibuk mencari luka atau apa pun itu dari tubuh putrinya hingga beliau menyadari sesuatu.
“Kenapa pakaianmu begini? Kamu sakit, Sayang?” Punggung tangan sudah sibuk menempel di setiap wajah sang anak, Bu Anna memeriksa suhu tubuh dengan penuh kekhawatiran.
Mi, andai aku bisa mengeluh. Rasanya ingin berkata kalau tubuhku sakit semua.
Ingin sekali Sally menjawab begitu, tetapi tidak bisa. Dia pasti akan diledek adiknya habis-habisan. Saat ini, yang bisa dia lakukan hanya menggeleng pelan sambil mencoba tersenyum kikuk.
“Sudahlah, Mi. Ajak mereka makan, Bi Mur sepertinya juga sudah selesai menyiapkan makan malam.” Pak Tomi akhirnya bicara kala melihat ekspresi tak nyaman dari anaknya.
Sally mengangguk lagi, lalu mengikuti ibu dan ayahnya ke meja makan. Sesekali dia menoleh pada lelaki di belakang yang sedang berjalan santai tanpa dosa.
Sorot mata Sally seakan mengumpati Zean. Karena ulah yang lelaki itu perbuat, membuat dirinya jadi canggung di tengah keluarganya sendiri.
.
__ADS_1
.