
Sofa empuk menjadi tempat Sally mengempaskan diri, sementara Zean sudah sibuk dengan pekerjaan kembali. Usai makan siang, Zean melarang Sally pulang. Dia membawa istrinya ke kantor.
Akan tetapi, alih-alih di kantor akan dapat suasana menyenangkan, justru sebaliknya, Sally hanya menjadi penonton kesibukan Zean. Saking sibuknya, jangankan menoleh, melirik istri kecilnya pun tidak dilakukan. Pria itu benar-benar serius jika menyangkut pekerjaan.
Beberapa kali Sally mendengkus, berdehem demi mendapat perhatian, tetapi tidak berguna. Dia mulai bosan, bahkan sampai pindah posisi jadi rebahan.
Ponsel di tangan Sally terus menyala sejak setengah jam lalu. Dia ikut menyibukkan diri dengan bermain media sosial, menonton drama, bermain games, dan hal lain yang bisa mengurangi kebosanannya. Ruang kerja sang suami tidak ada televisi layaknya di rumah, alhasil hanya bisa seperti itu sampai puluhan menit.
"Kak." Sally memanggil orang yang terus sibuk dengan laptop. Dia melirik sebentar, berharap dapat jawaban.
Akan tetapi, Zean sepertinya tidak mendengar. Gadis itu kembali memanggil lebih keras, "Kak Ze!"
Jemari Zean berhenti sekejap, kepalanya berputar sedikit. "Ada apa, Gadis Kecil?"
Sally mendengkus lagi, lalu memiringkan kepala. Bibir merah mudanya mengerucut sewot. "Aku pulang aja, ya?"
Alis Zean terangkat satu sisi. Dia memutar kursi dan menghadap penuh pada sang istri. Jari-jari yang sejak tadi lincah mengetik, pindah saling menaut di depan perut. "Kenapa? Aku sudah bilang memintamu di sini. Hanya tersisa sekitar dua jam lagi aku kerja."
Kalimat panjang lebar dari Zean mengundang dengkusan kasar untuk kesekian kali. Sally mengubah posisi duduk. Roknya sempat tersingkap, buru-buru dia membenahi.
Zean yang terus memperhatikan tersenyum miring. Ada saja tingkah istrinya. "Buat apa ditutup? Aku sudah pernah memegangnya."
Sally melotot mendengar perkataan Zean. Sebentar lagi, sikap menyebalkan pria itu pasti akan datang. "Apaan, sih, Kak!"
Zean tertawa kecil melihat ekspresi Sally. Dia menggeleng, lalu memutar kursi dan siap bekerja lagi.
Tahu jika suaminya akan mengabaikan lagi, Sally bergerak cepat. Dia beranjak dari duduk, lantas berjalan menuju ke meja Zean tanpa memakai sepatu.
Tangan seputih salju itu mendarat di bahu Zean, menjulur ke depan lalu melingkari leher. Entah dapat ilmu dari mana, Sally bisa melakukan hal semacam itu, padahal biasanya disentuh Zean pun langsung marah.
"Kau ingin menggodaku?" Suara serak Zean terdengar berat dibarengi dengan menghentikan aktivitas dari keyboard. Pria itu melirik ke bawah untuk melihat tangan istrinya.
__ADS_1
"Boleh, ya, Kak? Aku pinjam mobilnya, biar bisa pulang sendiri." Tidak mengindahkan pertanyaan Zean, Sally tetap membahas permintaannya tadi. Gadis itu benar-benar ingin segera pergi dari ruangan suaminya.
Zean menghela napas, meluruhkan tangan Sally dari bahu. Pria dengan mata bening sejernih air itu mendongak, lalu mencubit pipi. "Aku tidak lama."
Sally memberengut. Terlalu sulit merayu Zean. Dia lupa jika Zean memiliki sikap angin-angin. Sekejap baik sekejap menyebalkan.
"Pelit!" Bibir merah muda berlapis liptint itu mencetuskan satu kata dengan nada kesal. Dia memutar diri, lalu meninggalkan Zean dan kembali ke sofa.
Sementara itu, Zean hanya memandangi tubuh Sally dari belakang. Pria itu tersenyum tipis sambil menyangga dagu.
"Kau bisa mengemudi?" Zean berdiri, menarik laci dan mengambil kunci mobil. Mata pria itu mengarah pada Sally setelah apa yang dicari ketemu.
Wajah yang sempat muram, langsung berubah semringah. Mata Sally berbinar penuh harap. Dia mengangguk cepat. "Bisa, Kak."
Entakan kaki terdengar nyaring kala Zean meninggalkan meja kerja menghampiri Sally. Dia menyodorkan kunci dan hendak disambar istrinya. Akan tetapi, benda kecil itu ditarik lagi oleh Zean dan diangkat tinggi ke atas kepala.
Sally yang melihatnya sampai menengadah. "Kak!"
Kaki Sally mengentak lantai beberapa kali karena kesal, bibirnya mengerucut dengan mata memicing sinis. "Terserah, Kak Ze!"
Merasa lucu, Zean tertawa. Pria itu suka sekali mengusili Sally. Dia segera duduk di samping istrinya yang masih merajuk.
"Dengarkan aku."
"Hm." Sally menjawab singkat tanpa mau menoleh. Hatinya kesal dipermainkan oleh Zean.
"Gadis Kecil."
"Iya, dengar."
Zean menyunggingkan senyum, mengangkat satu kaki dan menumpu kaki lainnya. Dia bersandar nyaman. "Kau akan kuliah di kota C setelah ini."
__ADS_1
Kepala yang tadi menatap lurus jendela kaca gedung perusahaan, langsung menoleh ke samping di mana Zean baru selesai bicara. Sally memicingkan mata pertanda minta penjelasan.
"Kau lupa kalau kita di sini hanya sampai hari kelulusanmu?"
"Enggak. Kakak bercanda, kan?"
Zean menegakkan punggung, menepuk kepala Sally lalu menarik seuntai rambut sang istri. "Aku sudah bilang tadi akan bicara serius denganmu. Apa gunanya bohong?"
"Tapi, Kak ...."
"Gadis Kecil, dari dulu orang tua kita sudah membahas ini. Papi Tomi tidak masalah jika kau tinggal di kediaman Pratama. Karena sekarang sebentar lagi kau ujian, semua menundanya sampai hari kelulusan."
Sally ternanap. Dia tidak bisa menimpali perkatan Zean. Jiwanya terguncang, hati ingin berontak dan bilang tidak mau. "Kak Ze, aku ...." Ragu, Sally enggan mengatakan itu melihat wajah Zean. Dia bingung, mendadak takut jika harus berjauhan dengan keluarganya.
"Katakan!" Zean memerintah istrinya bicara. Dia tidak terlalu pandai menebak-nebak perkara wanita.
"Apa bisa aku tetap di sini bersama Mami dan Papi?"
Zean menggeleng lemah. Dia membuang napas. "Tidak. Kali ini permintaanmu tidak bisa dipenuhi. Pratama Group butuh aku. Dan kau sebagai istriku, harus ikut ke mana aku pergi."
Harapan Sally runtuh, hatinya tercabik mendengar penolakan. Bayangan terpisah dengan keluarga seperti siraman air garam di atas luka. Terasa perih.
Keheningan memeluk dua insan yang terpaut usia delapan tahun itu. Mereka sama-sama membisu. Hanya ada embusan napas dan suara udara dari pendingin ruangan.
"Jangan khawatirkan apa pun. Mama dan Papa juga menyayangimu di keluarga Pratama. Aku bicara ini dari sekarang agar kau tidak syok di kemudian hari."
Sally menoleh. Dia mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah, kau bisa pulang. Tapi janji jangan ugal-ugalan."
Pria itu menyerahkan kunci di samping Sally, mengusap rambut istrinya sebelum kembali ke meja kerja.
__ADS_1
Sally masih bergeming. Dia hanya melirik benda pemberian Zean. Kemauannya pulang terpenuhi, tetapi terselingi kabar kurang mengenakkan.