Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 31: Lebih Baik Diam


__ADS_3

Sepanjang jalan pikiran Sally tidak bisa berhenti bekerja. Ucapan Zean terus terngiang di telinga. Belum menjalani apa yang dikatakan sang suami, tetapi Sally sudah cemas sendiri. Padahal, sudah suaminya katakan bahwa keluarga Pratama tak kalah baik dari Birawan.


Terlalu sibuk berpikir, Sally sampai tidak sadar sudah ada di kawasan kompleks perumahan tinggalnya. Kendaraan yang melaju dengan kecepatan rata-rata itu akhirnya berhenti dan masuk pelataran saat Pak Im membuka gerbang.


"Sore, Pak." Seprti biasa, sikap Sally selalu ramah dan hangat pada semua pekerja yang ada. Mungkin hanya pada Zean sikapnya sungguh menyebalkan.


"Saya kira Tuan Muda Zean, Non."


Sally menggeleng. Dia lantas masuk rumah dan segera menuju kamar setelah berpapasan dengan Bi Mur dan meminta disiapkan minuman. Seluruh seragamnya terlepas, lalu segera masuk kamar mandi untuk mendinginkan pikiran.


Selesai dengan urusan badan, Sally keluar kamar mandi dan hendak menuju ruang ganti. Namun, langkahnya terhenti saat pintu diketuk seseorang dari luar.


Kaki gadis itu mengayun santai menuju pintu. Satu tarikan berhasil membuka benda bercat putih itu. Dia mendapati Bi Mur membawa satu nampan berisi jus jeruk dan camilan.


"Pesanannya, Non." Wanita berkaus longgar dan celana kain sepanjang betis itu berkata ramah.


Sally segera mengambil alih nampan. "Aku bawa sendiri, Bi. Bibi bisa kembali."


"Baik, Nona."


Pintu kembali tertutup selepas kepergian Bi Mur. Sally menaruh nampan di meja belajar, lalu melanjutkan berganti pakaian.


Kaus merah muda dan longgar dipadu celana pendek sepaha menjadi pilihan Sally. Udara sore yang masih hangat menarik perhatiannya ke balkon. Sinar jingga dari arah barat membuat kulit yang tidak tertutup kain tersiram rasa hangat. Satu tangan terangkat hingga menimbulkan pantulan kala cincin yang ada di jari manisnya tertabrak cahaya.


Bayangan perseteruan waktu lalu di toko perhiasan kembali berputar di ingatan. Sally menghela napas. Dia kembali ke kamar untuk menikmati makanan yang sejak tadi belum tersentuh.


Di sisi lain, Zean masih sibuk mengurusi tumpukan dokumen. Dia sejak tadi menunggu kabar Sally, tetapi tak lekas ada tanda-tanda dihubungi.


Risau sendiri tanpa alasan yang jelas, pria 26 tahun itu bergegas membereskan semua urusan. Dia meninggalkan ruangan dan harus segera pulang.

__ADS_1


"Papi pulang sendiri?" Sally mengadang sang ayah yang kebetulan berpapasan dengannya di tangga. Pria itu pulang bekerja, sementara Sally hendak ke dapur mengembalikan piring dan gelas.


Pak Tomi menatap putrinya. "Iya. Kenapa?"


"Oh, aku kira sama Kak Ze, Pi."


"Ze?" Pak Tomi mengangkat alisnya saat menyebut nama mantunya.


Sally mengangguk.


"Bukankah sudah pulang? Itu mobil sudah di depan."


Sally mengganjur napas seolah orang yang memiliki beban hidup amat berat. "Itu aku tadi yang bawa, Pi."


"Oh, itu. Papi pulang sendiri, Sayang. Lagi pula, beda arah dengan suamimu."


Tak lagi melanjutkan obrolan, Sally membiarkan sang ayah pergi, sementara dirinya lekas melanjutkan langkah ke dapur.


"Eh, Nona. Ini cuma mau siapkan buat nanti malam, Non."


Sally manggut-manggut. Dia meletakkan gelas dan piring yang kotor ke kitchen sink. "Aku bantu, Bi."


"Jangan, Nona, tidak perlu. Ini tugas Bibi. Tidak enak juga pada Nyonya nanti."


"Sudah, enggak pa-pa, Bi. Mami enggak akan protes. Lagi pula, aku bisa juga, kok." Sally terus memaksa Bi Mur. Mau tidak mau, orang tua itu mengiyakan dan membagi tugas.


Ketika dua orang sibuk sendiri di dapur, pintu ruang tamu terbuka dan diikuti kemunculan sosok lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian kerja lengkap. Zean segera ke belakang karena merasa haus.


"Tuan Muda." Bi Mur bergegas mendekat. Dia yang biasa membukakan pintu dan menawari minum baru kali ini lalai melakukan tugas karenq asyik mengobrol. "Kenapa tidak memanggil Bibi kalau sudah pulang? Bibi siapkan minum apa?"

__ADS_1


Zean menggeleng. Dia hanya memandangi Sally yang sibuk menata piring dan bersikap tak acuh padanya. "Tidak perlu, Bi. Aku hanya akan minum. Bibi kembali saja. Tolong katakan padanya untuk ikut aku ke kamar."


Pandangan Bi Mur langsung pindah pada Sally sekejap, lantas kembali pada Zean lagi. Beliau mengangguk. "Baik, Tuan Muda."


Buru-buru Bi Mur mendekati Sally setelah Zean pindah tempat ke dekat dispenser. Wanita itu mengambil alih alat makan yang ada di tangan Sally. "Nona, ini sudah cukup. Biar Bibi lanjutkan. Non Sally sebaiknya menemani Tuan Muda Zean."


Tatapan Sally pindah pada pria yang masih duduk di kursi sambil meneguk air. "Bibi serius?"


"Iya, Nona."


"Baiklah. Aku pergi dulu." Gadis SMA itu meninggalkan tempat lalu menghampiri sang suami. "Apa, Kak?" Dia bertanya ketika sampai.


Melalui sudut mata, Zean melirik Sally. "Ayo, ke atas. Nanti turun lagi."


Malas berdebat, Sally menurut dan ke kamar. Dia tidak tahu akan ada apa sampai-sampai Zean mencarinya.


Kasur empuk menjadi tempat Sally duduk, sementara Zean sudah masuk kamar mandi. "Apa harus aku siapkan baju?" Gadis itu bergumam sambil menunduk.


Belum sempat Sally mewujudkan isi pikirannya, Zean ternyata sudah keluar kamar mandi. Dia melebarkan senyum penuh percaya diri meski hanya memakai handuk di pinggang. Kakinya melangkah mendekati Sally, lalu mengacak rambut. "Maaf, lupa tidak bawa baju ganti. Kau pasti malu?"


Sally melengos. Dia menghindari pemandangan yang ada di depan mata dan tidak merasa jika sikapnya justru membuat Zean gemas. Pria itu mencubut pipi, lalu menuju kamar ganti.


"Enggak lucu, Kak." Gadis itu membanting tubuh ke kasur. Dia rasa jantungnya mulai rusak karena berdebar terlalu kencang. "Argh, kenapa aku? Harus ke dokter segera sepertinya." Dua kaki Sally mengentak kasur naik turun. Dia menenggelamkan wajah ke bantal.


Lagi-lagi, tingkah Sally menarik perhatian Zean yang baru keluar. Dia mendapati istrinya bertingkah di atas ranjang, langsung tersenyum miring.


Kaki jenjangnya berjalan mengendap, Zean seperti maling beraksi. Ketika sampai tujuan, pria itu dengan cepat merobohkan badan dan memeluk Sally dari belakang. Sang istri ingin berontak, tetapi dekapan makin dieratkan. "Aku akan memakanmu kalau terus berontak."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2