Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 29


__ADS_3

Setelah menelepon pak Jang memastikan di mana Zean, Naya segera mengarahkan mobil menuju danau. Tempat yang selalu dikunjungi kakaknya tiap sore, tempat yang ia bilang membawa ketenangan.


Turun dari mobil, merapikan dress yang dipakai, Sally terpaksa memakai jaket yang dibawakan Naya. Rambut panjang yang belum dipotong selama hamil, sudah semakin memanjang menambah kesan ia makin dewasa.


Deg!


Jantungnya berdegup kencang, seiring langkah kaki berbalut flat shoes itu berhenti. Seorang lelaki yang ia kenal betul perawakannya, tengah duduk menyandarkan kepala. Naya mendekat, mengulas senyum sambil mengusap lembut kedua lengan Sally. Wanita satu anak itu memberi anggukan, sebagai dukungan untuk meyakinkan Sally.


Air mata seakan ingin tumpah, ingin lari dan memeluk lelaki yang selama ini membuatnya sesak tiap melihat wajah anaknya. Tepat berjarak tiga langkah dari bangku. Naya berhenti dan diikuti Sally.


“Dia mungkin tidur, tetaplah di sini. Jangan bersuara.” Naya berbisik ke telinga, lalu disetujui.


Memilih menghampiri Zean sendiri, duduk di samping kakaknya yang tengah memejamkan mata. Tangannya mengulur ke bahu, membangunkan Zean perlahan.


“Kak ….” Suara Naya lirih, takut jika membuat Zean terlonjak kaget dan mengetahui hadirnya Sally .


Perlahan manik mata hitam itu terbuka, ia menelengkan kepala ke samping. “Kamu, Nay. Ku kira sudah lupa denganku.” Kembali ia pada posisi semula, menengadah ke atas memejam mata kembali.


“Kak … pulang, ya. Maaf tidak datang dari kemarin-kemarin, maaf juga nggak nemenin Kakak ke dokter selama ini.”


Zean membisu, tapi telinga mendengar semua ucapan Naya. “Aku akan pulang, tapi mungkin tidak sekarang. Kau tidak lelah Nay, datang ke sini kalau cuma untuk merayuku.”


Terdengar helaan napas jengah dari Naya, lagi-lagi ia tak mampu menggoyahkan keputusan Zean. “Kenapa, sih, Kak. Nggak mau pulang? Kau tak rindu pada anak istrimu?” Meski ada Sally di sana, Naya tetap merasa sebal mendengar kalimat Zean.


“Kau tak paham dengan apa yang kurasakan, Nay.” Bicara santai dengan masih terus memejamkan mata, seolah tak terlalu menganggap Naya.


“Kau sakit hati dengan ayahmu sendiri?”


“Heh.” Zean tersenyum kecut. Membuka mata melirik pada Naya. “Mungkin,” lanjutnya.


Lelaki itu berdiri, maju beberapa langkah mendekat ke danau. Kedua tangan masuk ke saku celana, gips yang telah terlepas sudah tak menyulitkan dirinya. “Apa kau tak bosan Nay, hidup dalam tekanan keluarga Pratama?” Naya menunduk pilu, ikut menyita perhatian Sally. “Aku lelah Nay, usiaku mendekat 27 tahun, tapi seolah aku tak pernah bisa mewujudkan keinginanku sendiri. Bahkan seorang istri harus diatur pula.” Tatapan Zean berubah dingin, sedetik kemudian membuat Sally terkesiap dengan apa yang diucap Zean. Menerka-nerka, jika selama ini Zean tak pernah bahagia. Hanya saja lelaki itu begitu pandai menutupi.


“Apa kau menyesal Kak, menikah dengan Sally?” Naya memberanikan diri bertanya, sekalipun jika jawaban Zean akan menyakitkan Sally jika itu kata-kata yang tak seharusnya terlontar.


Terdengar kekehan menyedihkan dari Zean. “Tidak. Aku tak pernah menyesal menikahi gadis kecil sepertinya. Awal melihat dan bersamanya di hotel, justru membuatku tertawa. Semakin hari aku semakin tertantang untuk menumbangkan ego dan keras kepalanya itu.”


Tertawa lagi. “Aku bahkan tak pernah menyangka, duniaku akan diobrak-abrik dengan gadis seperti dia. Sekian banyak wanita di masa lalu, tidak ada yang bisa membuatku mengalah. Baru kali ini aku kalah, dengan segala rasa aku menuruti semua kemauannya tanpa kecuali. Bahkan aku rela mati, saat berhadapan dengan om Andra.”


Naya ikut tersenyum, semua perkataan Zean memang benar. “Kau terlihat begitu mencintainya, lalu kenapa tidak pulang, Kak?!” Nada bicaranya kembali kesal, “kau sama saja memiliki ego yang tinggi. Sama saja dengan istrimu.” Sally mendelik, sedang Naya hanya nyengir menanggapi tatapan tajam dari istri kakaknya.


“Haaahh … aku masih ingin di sini, Nay. Sebelum kembali dan mendapat tekanan dari papa. Tidak bisakah kau berhenti merayuku, Nay. Biarkan aku tenang.”


Sinar jingga memantul seperti biasa, semua orang di sekitar danau mengambil foto seperti biasa. Zean kembali tersenyum, mengingat dulu pernah melakukan hal yang sama seperti mereka.


“Biarkan dia menungguku, Nay. Aku akan di sini, di tempat senja menghilang sempurna, di tempat ini aku membuat kenangan dengannya.”

__ADS_1


Kata-kata itu terulang, membuat Sally paham, jika selama ini Zean sebenarnya memberi tahu keberadaannya di mana, lewat surat yang dulu dikirimkan. Hanya saja Sally yang tak pandai mencerna, sehingga ia hanya bisa pasrah menunggu.


Gadis itu maju, lebih mendekat ke arah suaminya. Berdiri beberapa langkah di belakang Zean, ikut menatap lurus danau yang masih tampak sama dengan pemandangan yang dulu.


“Lalu kapan kau ingin pulang, Kak?” Naya membuyarkan tatapan Zean. “Kau tak kasihan pada anakmu?” Benar benar kesal, karena dari kemarin Zean terus saja menolak ajakan pulang. Sampai dia stres susah tidur.


“Apa dia pria kecil yang harus dikasihani? Bukankah dia sekuat ibunya?”


“Ingin sekali aku memukulmu, Kak!” Naya sudah berapi-api, detik berikutnya ia malah pergi, meninggalkan Sally yang sejak tadi mematung di antara keduanya.


Zean hanya tertawa lucu, lalu berbalik karena mendengar langkah hentakan kaki. “Na—“


Deg!


Omongan terhenti. Matanya bersirobok dengan Sally, lelaki itu bergeming. Tubuhnya menegang. Dilihatnya sang istri tengah tersenyum dibalik tetesan air mata. Zean membisu, benar-benar tak tahu harus berbuat apa.


Menghambur ke pelukan Zean, suaminya masih tampak tak sadar. Bahkan membalas pelukan Sally saja tidak, mungkin saking kagetnya.


Tak ada ucapan apa pun dari keduanya selama beberapa menit. Hanya saling diam dengan kebisuan dan isakan tangis. Direngkuhnya tubuh Sally, mendekap erat seakan tak ingin kehilangan.


Air mata yang seolah jarang tumpah dari kedua mata Zean ikut luruh, bersamaan rasa rindu yang selama ini menggebu. Tak mampu berkata, hanya lewat pelukan yang semakin erat sebagai ganti dari setiap kata yang hilang.


“Aku mencintaimu, Sa. Mencintaimu, sangat. Jangan menangis jika di depanku. Aku tak kuat, Sa. Aku tak mampu. Bukankah sekarang kau sudah menjadi ibu? Kenapa kau cengeng? Kau tak malu pada Aksara? Jangan menangis, Sa. Jangan ….” Nada bicara Zean bergetar, Sally semakin meringsek memangkas jarak keduanya.


Air mata Zean semakin luruh, mendengar tangis pilu dari Sally. “Kau jahat, kenapa tak menemaniku di saat aku harus berjuang  antara hidup dan mati demi melahirkan anakmu? Kenapa?”


Sally memukul-mukul punggung Zean, lelaki itu diam dan hanya bisa menerimanya. “Maafkan aku, Sa. Maaf ….” Kata itu dibisikkan berulang kali, Naya yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menangis.


“Jika kau ingin marah, marahlah sepuasmu, Sa. Aku tak apa, asal tak kehilangan cintamu.”


Sally hanya menggeleng, tak berdaya.


“Aku juga tersiksa, Sa. Jauh darimu membuatku sesak. Rindu ini terlalu menyakitkan jika dirasa, tapi sebisa mungkin aku menepisnya. Biarkan ia melebur bersama kenangan kita yang pernah kacau, dan mari buat kenangan baru dengan hadirnya Aksara.”


Tangis yang tadi sempat mereda, kembali mengalir tak tertahankan. Entah sudah berapa lama dan berapa banyak pasang mata menyaksikan pertemuan mereka, keduanya tak peduli.


“Aku tak pernah bilang meninggalkanmu, Sa. Tidak. Kau tetap istriku, aku tetap akan bersamamu. Maafkan aku jika aku terlalu banyak membuat luka di hatimu, maafkan aku atas semua kebusukanku di masa lalu."


Gadis itu semakin menangis, menumpahkan kesal dan rindu yang telah tertahan beberapa waktu lalu.


"Aku mencoba berubah enam tahun lalu, Sa. Dan aku tak pernah meminta kembali dengan Alika meski ku tahu dia sekarang ada di hadapanku.”


“Jangan membahas wanita lain jika sedang bersamaku, Kak!” Ia menjauhkan diri, melepas paksa pelukan Zean karena kesal.


Diusapnya mata yang mulai sembab, hidung mancungnya jadi memerah karena kelamaan menangis. “Apa kau sekarang cemburuan?” Zean menyeringai menyebalkan, meski wajahnya tampak kacau setelah menangis.

__ADS_1


Gadis itu berkacak pinggang, sambil terus sesenggukan tapi berusaha memasang wajah garang. “Aku yang akan membunuhmu sendiri, jika kau sampai dekat wanita lain.”


Zean tertawa lirih di sela tatapan mata yang memerah, ia lalu memeluk Sally kembali. Puncak kepala dikecup lama, ada rasa hangat menjalar di tubuh keduanya.


“Aku mencintaimu. Hanya mencintai dirimu, wanita yang telah melahirkan anakku. Tak perlu meminta aku menjauh dari wanita lain. Tanpa kau lakukan itu, aku sudah melakukannya lebih dulu.”


“Aku mencintaimu, Sa. Sangat … sekarang dan selamanya.”


Kata-kata itu berakhir dengan ciuman lembut, memagut mesra bertukar rasa. Manyalurkan hasrat yang menyakitkan jiwa dan raga. Tak peduli dengan tatapan orang di sana, mereka hanya butuh menyalurkan selaksa rindu yang telah membuncah memenuhi dada selama ini.


Apa mereka benar-benar gila. Bisa-bisanya melakukan hal demikian.


Naya berbalik dan segera menuju mobil, ia yang tadi terharu jadi tidak peduli dengan kakak sepupu dan istrinya. Mengomel-ngomel kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Akhirnya ketemuuuu.... 😭😭


 Beri dukungannya. udah mau tamat nih.... 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2