Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 21 : Ada yang Berbeda


__ADS_3

Usai makan malam, kedua insan penghuni kamar kembali. Mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Sally di meja belajar tengah serius mengerjakan tugas sedangkan Zean berada di sofa bed sambil memangku laptop.


Pekerjaan yang menumpuk tak bisa selesai sampai jam pulang. Alhasil, Zean membawa sisanya. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, tetapi kedua mata sesekali melirik Sally.


Gadis berambut panjang itu tak menoleh sedikit pun sejak tadi, Zean sampai berdehem untuk memancing perhatian. Akan tetapi, nihil. Istri kecilnya tetap abai.


Jarum jam terus berputar. Udara sejuk dari pendingin ruangan terasa dingin seperti sikap mereka. Saling tak acuh dan enggan memulai pembicaraan, sibuk mempertahankan ego.


Zean menarik laptop dari pangkuan, kakinya diturunkan untuk memijak lantai. Dia mendekat ke arah Sally. Pelajar SMA itu memicing dengan ekor matanya tanpa ingin menoleh ketika mendengar gesekan kaki dengan lantai.


“Kau marah denganku, Gadis Kecil?”


Tak ada jawaban. Pria dua puluh enam tahun itu bicara satu arah. Sally seolah tak mendengar dan tidak melihat.


“Sa,” panggil Zean lagi. Kemudian, dia bersandar. Tubuhnya yang tinggi ditopang dengan dua tangan mengarah ke belakang sambil mencengkeram sisi meja.


Tetap hening. Bibir Sally seolah sulit untuk dibuka. Apalagi mengeluarkan suara, mungkin harus membayar dulu. Hal itu membuat Zean lelah, tetapi kali ini dia mengalah. Ingatannya kembali ke rumah saat Pak Bobi dan Bu Lyra meminta dia tetap akur, tidak boleh menyakiti.


Ide jail mendadak muncul. Tangan Zean merambat pelan ke lampu belajar dan menekan tombol on-off bergantian.


Sally mendongak, dua mata cokelatnya memelototi Zean. Pria itu justru tersenyum miring.


“Pergi!”


Zean bergeming, tetap melakukan hal konyol semacam itu. Kesabaran Sally mulai habis, dia menutup buku dan berdiri.


Suaminya segera menarik tangan ketika melihat Sally berbalik hendak meninggalkan.


“Lepas!”


“Kau marah denganku?”


“Untuk apa?”


“Karena aku tidak menjemputmu tadi?”


Istri Zean itu mendecih. Dia menyentak tangan sang suami dengan cukup kasar. Kemudian, gadis itu melenggang ke balkon. Zean tak ambil lama dalam berpikir, dia ikut menyusul istri kecilnya ke tempat tersebut.


“Sa ….”


Sally menatap lurus ke depan tanpa peduli. Desau angin menyibak rambutnya yang panjang, kulit putih menurun dari Bu Anna terlihat lebih berseri. Bulu matanya lentik jika dilihat dari samping. Pahatan wajah yang sempurna.


Usia masih belia, tetapi kecantikan Sally terpancar seiring kedewasaan diri yang Bu Anna ajarkan.


“Sa ….” Kembali Zean memanggil. Si pemilik nama enggan untuk menyahut.

__ADS_1


“Sa.” Tangan Zean merambat ke pagar balkon untuk sampai ke tangan Sally. Gadis itu langsung menepis kasar dan kembali masuk.


Zean mendengkus, tetapi mengikuti ke mana Sally pergi. Usai menutup pintu balkon, Tuan Muda Pratama itu menuju ranjang di mana istrinya berada.


Anak pertama keluarga Birawan itu tidur memunggungi Zean. Entah dia benar mengantuk atau hanya sekadar menghindari sang suami.


Zean ikut mendaratkan diri ke kasur. Dia duduk di tepian ranjang sambil memandangi punggung Sally.


“Gadis Kecil, aku minta maaf. Tadi itu lupa karena pekerjaan tiba-tiba banyak.”


Wow, ada angin apa tiba-tiba bisa minta maaf.


Tetap hening karena Sally hanya menimpali lewat ungkapan hati. Seberapa keras Zean menjelaskan, akan dirasa percuma karena istrinya terkesan sangat keras kepala.


Zean hendak mendekat lebih pada Sally, tetapi ponsel yang masih tergeletak di sofa bed bersama laptop itu berdering. Dia segera mendatangi.


Sally masih terdiam. Dia mengintip dari balik selimut. Bisa dia lihat dengan jelas ketika Zean menerima panggilan dengan wajah begitu serius.


Dahi pria itu kadang mengerut, alisnya naik turun dan sesekali sudut mata Zean pijat. Pria itu berjalan mondar-mandir sambil berulang kali mengusap wajahnya yang tampan. Semua pergerakan itu membuat Sally penasaran.


Ada apa kira-kira?


Hati kecil bersemayam di dada Sally bergejolak, dia mengalami tingkat kepo level akut. Sangat ingin tahu.


Beberapa menit terlewat, tetapi Zean masih sibuk mendengarkan orang bicara. Dia sampai duduk di sofa karena mungkin lelah mondar-mandir tidak jelas.


Kata-kata itu yang terakhir Zean ucap sebelum panggilan ditutup. Ponselnya lalu diletakkan ke sofa dengan sedikit gerakan membanting.


Pria bernama lengkap Zean Aditya Pratama itu mendesah berat, seberat beban yang harus dia pikul. Sandaran sofa jadi tumpuan punggungnya yang lebar sekarang. Mata hitamnya menatap langit-langit kamar seperti menerawang jauh mencari sesuatu.


Kondisi demikian berlangsung cukup lama, Sally masih setia mengintip.


Kenapa dia lesu begitu?


Sejak tadi Sally terus bergumam dalam hati. Makin Zean diam, makin dia penasaran.


Ketika sang suami sudah duduk tegak, Sally kelabakan dan pura-pura menutup mata. Zean tak sengaja melihat itu refleks tersenyum miring.


Diam-diam kau perhatian padaku juga.


Dia kembali mendekat ke ranjang. Makin dekat langkah kaki Zean, makin berdegup hati Sally.


Kenapa ke sini lagi? Apa tadi melihatku?


Selang beberapa menit tak ada lagi suara entakan kaki, Sally mencoba mengintip perlahan.

__ADS_1


“Yak!”


Istri Zean itu tersentak dan langsung mundur ketika melihat sang suami berjongkok dengan muka berada di dekat wajahnya nyaris tanpa cela.


Si Biang Usil tertawa senang. Dia lalu ikut naik ke ranjang. Istrinya melotot kesal sambil meremass piyama yang dia pakai di bagian dada. Jantungnya berdegup kencang akibat kejailan Zean.


“Kaget, ya?”


Sally mendengkus lalu berbalik badan. Dia kembali memunggungi.


Zean yang melihat itu mengembuskan napas berat lagi. Dia lalu merebahkan badan dan tidur dengan posisi menyamping sambil menopang kepala.


“Besok aku pulang ke rumah keluarga Pratama. Ada urusan sebentar.”


Pria dua puluh enam tahun itu berkata pada Sally meski sepertinya tidak dipedulikan.


“Kau bisa pulang naik taksi dulu. Pagi aku antar.”


Sally memasang telinga, tetapi enggan menyahut.


Beberapa detik lalu berubah menjadi menit, suasana mendadak hening. Sally bergerak pelan, ingin memutar diri ke belakang untuk melihat Zean.


Ketika sudah saling berhadapan, Sally bisa melihat mata Zean tengah terpejam. Dia tetap diam dan sibuk memperhatikan wajah suaminya.


Zean bergerak maju dan memeluk tiba-tiba, membuat Sally tak sempat berbalik atau pergi.


“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya sedikit menghardik.


“Sebentar saja, Gadis Kecil.”


Ada yang berbeda dari suara Zean, Sally menangkap nada sendu dari setiap kata yang terucap. Merasa iba, dia akhirnya membiarkan sang suami memeluk.


“Ada masalah di rumah Pratama?”


Zean bergeming ketika Sally bertanya. Dia hanya membenamkan wajah ke dada tanpa niat menjawab.


“Kak!”


Gelengan kepala diberikan oleh Tuan Muda Pratama itu. “Tidak ada. Hanya masalah kecil,” jawabnya kemudian.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2