
Sudah rapi dan wangi, Sally sibuk mengikat rambut yang sudah kering. Sekali dua kali melirik sang suami yang masih lelap di bawah selimut tebal bertelanjang dada. Wajahnya tiba-tiba merona, mengingat kegiatan malam yang masih tergambar jelas di cerebrum bagian lotus temporal miliknya.
Dengan cepat ia menggelengkan kepala, menarik napas dan membuangnya beberapa kali. Meraih foundation yang ia miliki, untuk mengoles pada jejak yang tertinggal di beberapa bagian leher.
“Huft!” Dia menghela. Seakan usahanya sia-sia, karena bekas itu terlalu menghitam. Entahlah … apa yang harus ia lakukan. Padahal, hari ini ia ada janji dengan Lisa akan bertemu di sekolah, meskipun tidak ada kegiatan. Hanya sekedar bertukar cerita mungkin, karena sudah seminggu mereka tidak bertemu.
Membersamai gadis cantik berambut pendek itu selama tiga tahun, memberi bekas tersendiri di hati seorang nona muda Birawan itu. Lagi-lagi dia menghela, seakan berat saja jika harus mengalami perpisahan dengan sahabat yang ia anggap sebagai saudara.
Lisa, gadis yang periang dengan segala kecentilannya. Tak pernah ia terlihat kesepian, meski dia anak tunggal, orang tuanya juga sering keluar kota. Sehingga, dia di rumah dengan beberapa asisten rumah tangga yang juga mengenal Sally dengan baik.
Semua hal yang mengelilingi hidup Sally benar-benar sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Seakan rasa syukur pun tak cukup untuk membalas semua itu. Gadis itu merasa bersalah, hanya karena sebuah pernikahan di usia muda, sempat ia membenci garis takdir kehidupan. Padahal, kedua orang tua juga sudah memberi pilihan. Menikah itu juga kemauan dirinya, tapi memang aneh. Dia baru kali itu membenci pilihannya sendiri.
Zean menggeliat, mungkin baru sadar jika sang surya sudah merayap masuk ke kamar. Meraba-raba sisi sebelahnya, tidak ada. Ia terperanjat, duduk dengan ekspresi bingung. Dan segera menoleh ke kanan dan kiri. Lalu bernapas lega.
“Kenapa sudah rapi begitu?” Ia bertanya, saat kedua netranya melihat Sally yang sudah rapi dengan setelan seragam sekolah.
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum. Ah, baru kali ini pagi harinya seorang tuan muda Pratama disambut senyuman manis dari gadis yang sudah berhasil ia kuasai dari kemarin.
Sally beranjak, ia lalu menghampiri ranjang. Duduk di depan sang suami dengan manis.
“Hari ini aku akan bertemu sahabatku, aku merindukannya. Jadi aku sudah mandi dari tadi, dan sudah rapi deh,” jawabnya dengan tambahan kerlingan mata.
Alis mata Zean naik sebelah, seakan tak percaya dengan kelakuan manis dari Sally pagi itu. “Ngapain sih, Sa, ke sekolah. Kalau Cuma pengen ketemu Lisa tinggal janjian aja di luar, ‘kan juga bisa.” Mengusap wajah, menghilangkan kantuk, lalu mematahkan leher ke kanan dan ke kiri.
“Capek ya, Kak?” Masih dengan seksama ia memperhatikan.
Zean menggeleng, sebagai jawaban. “Aku mandi dulu kalau gitu, kau bisa tinggalin aku sarapan. Nanti aku susul setelah selesai.” Sally hanya mengangguk.
Ia mengacak rambut istrinya, lalu beranjak dari posisi dengan enteng. Entah lupa atau memang sengaja, padahal tak ada sehelai pakaian yang menutup tubuh dari atas sampai bawah.
“KAKAAK!” Sally melempar bantal dari samping ia duduk, seakan tak terima dengan kelakuan Zean. Cepat-cepat menutup wajah, tak ingin melihat pemandangan yang bisa mengotori mata indahnya.
“Haha … kenapa? Bukankah kau suka dengan penampilanku yang begini? Kau lupa dengan kegi—“
“Pergi, Kak! Pergi!” Gadis itu sudah berbalik, membelakangi. Membuat Zean semakin tertawa lantang.
__ADS_1
***
Mobil melesat hampir dua jam perjalanan, tepat pukul sebelas pagi Zean baru memarkirkan mobil di parkiran gedung Pratama Group. Karena ia tidak bangun pagi-pagi seperti biasa, jadi, ketika hari sudah hampir setengah berlalu ia baru bisa menjejakkan kaki di sana.
Hari pertama ia kembali ke gedung itu, setelah hampir tiga bulan ditinggalkan. Semua pekerja yang melintas berpapasan dengannya tampak tersenyum ramah dan memberi salam.
Bukan tentang dia anak pemilik gedung itu, tapi karena memang Zean sangat berpengaruh dalam setiap gerakan Pratama Group. Gedung yang hampir bangkrut karena kesalahan pengelolaan akibat pemimpin sebelumnya, membuat ia ikut turun tangan membantu sang ayah.
Ketika usianya masih 21 tahun, di bangku kuliah semester enam. Ia terpaksa mengarahkan segala kecerdasan yang dimiliki pada perusahaan. Jika harusnya fokus dan sibuk soal skripsi, ia justru sibuk dengan banyak hal. Tentang kuliah yang tinggal selangkah lagi, tentang perusahaan yang menyita waktu ayahnya karena di ambang kebangkrutan. Membuat ia harus mau tak mau menjalani semua itu dengan sebuah kerelaan.
Untungnya, saat itu dia sudah putus dari namanya seorang kekasih, jadi … tidak menambah beban saja. Hubungan dengan beberapa wanita yang selalu ditentang oleh pak Bobi, membuat ia frustrasi jika ingin menjalin hubungan percintaan lagi. Zean tahu alasan sang ayah selalu tak mau menerima pacarnya, karena memang sudah ada Sally sebagai kandidat.
Tak ambil pusing karena perjodohan paksa dari sang ayah, ia memilih berpacaran diam-diam di belakang kedua orang tuanya. Ketika kekasihnya meminta untuk dilamar, ia akan pergi meninggalkan.
Sebelas dua belas dengan sang asisten, tukang bermain-main dengan wanita. Baginya, ia ingin bebas menikmati masa muda, sebelum terbelenggu dalam ikatan pernikahan yang ditentukan sang ayah. Lucu, saat awal ia mendengar akan menikah dengan gadis yang terpaut delapan tahun lebih muda. Terlihat jelas, saat ia sudah duduk di bangku SMA, calon istrinya masih SD. Hahaha … ia ingin menertawakan nasib kehidupan saat itu juga. Terlahir dari orang tua yang memiliki temperamen buruk, mendikte setiap pergerakan. Bahkan membuat Zean merasa hanya seorang pelayan yang harus mengabdi pada majikan.
Hatinya terkadang berontak, tapi tak memungkiri. Ia bisa secerdas dan sehebat itu juga karena didikkan keras dari sang ayah. Untungnya, Zean memiliki seorang ibu bak malaikat. Kedua sayapnya yang tak terlihat, mampu melindungi dari terpaan badai yang akan menumbangkan.
“Ku kira … Anda lupa jalan menuju Pratama Group, Tuan muda.” Elo menyapa, dengan tatapan sinis.
Sudah jangan ditanya, ingin sekali ia menghajar wajah tampan tanpa dosa yang tengah memasuki ruang Direktur itu.
Tak mengerti dengan maksud sang asisten, membuat Zean masih bergeming sambil menatap bergantian naik turun antara tangan dan wajah Elo.
Tak menyerah, Elo masih menunggu respon Zean. Membuat laki-laki berumur 26 tahun itu mau tak mau akhirnya menerima uluran tangan Elo, berjabat tangan dengan mantap.
“Selamat …” Zean mengernyit. “Selamat, telah berhasil membuat saya gila. Tuan besar seakan tidak mau tahu jika saya bekerja sendirian, tanpa dibantu dengan siapa pun. Tapi, tetap saja meminta saya menyelesaikan urusan semua ini sebelum akhir tahun ini.”
Zean tergelak, lalu memeluk kakak sepupunya. “Sorry … setelah ini aku akan menyelesaikannya.”
Elo mencebik, ia malas dengan Zean. Bilang jika akan menyelesaikan, tapi pasti dia akan terseret juga. Mana ada asisten leha-leha, sedang atasannya sibuk. Terdengar lucu, ‘kan?
Melepaskan pelukan, lalu duduk di kursi kebesaran yang telah lama ditinggalkan. “Sejauh mana proyek pembangunan hotel di kawasan puncak, El?”
Elo mendekat, ia lalu duduk di kursi tepat di depan meja Zean. “Semua berjalan lancar, Tuan. Hampir 93% selesai, mungkin … bulan ketiga tahun mendatang, sudah mulai beroprasi.”
__ADS_1
Hanya mengangguk, ternyata Elo memang tidak diragukan lagi. Sudah beberapa tahun ia menemani Zean, belum pernah laki-laki itu membuat kecewa suami dari Sally tersebut.
“Apa … Anda ingin menengok pembangunan, Tuan? Mungkin sekalian berlibur.”
Zean tertawa mendengar tawaran Elo, merasa lucu. Karena, tentu saja menjelang akhir tahun begini mana mungkin sang ayah mengizinkan dia libur.
“Apa kau ingin aku digantung di gerbang Pratama Group oleh ayahku sendiri, El? Saran macam apa yang kau berikan padaku.”
Elo hanya tersenyum miring, ternyata … jatuh cinta pada istri, membuat Zean sedikit bodoh. “Bukankah, Anda digantung jika menyakiti nona muda, Tuan?” Ia tersenyum mengejek, mengingat saat Zean dimarahi oleh kedua orang tuanya di ruang kerja akibat membentak sang istri sampai membuat gadis itu takut.
Zean mengangguk, ia membenarkan hal itu. Ancaman sang ayah masih terngiang jelas. “Lalu?”
“Jika Anda mau menengok pembangunan hotel, minta izin saja jika sekalian akan mengajak bulan madu istri Anda. Ku rasa … mungkin Tuan besar akan memberi izin jika menyangkut menantunya.”
“Brilliant.” Zean menjentikkan jari, pertanda ia kagum dengan ide yang diberikan asistennya.
Merasa lega, Elo bisa terbebas dari satu beban untuk meninjau proyek tersebut. Ia tinggal mengurusi sisa pekerjaan, yang bisa ia kerjakan di kantor saja. Raganya tak berdaya, jika melakukan perjalanan. Akibat lembur akhir-akhir ini, membuat ia tak ingin ke mana-mana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung …