Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 20: Lupa


__ADS_3

“Ya, El.” Suara serak Zean menyapa orang yang ada di seberang melalui telepon. Pria yang baru sampai ruangan kerja itu mendaratkan tangan di bahu kursi karena hendak duduk.


“Lama sekali,” gerutu Elo, “aku dari tadi melakukan panggilan padamu.”


Zean berdecak, lantas mendudukkan diri di kursi kerja. “Kau tidak lihat jam? Sekarang waktunya aku di jalan setelah mengantar gadis kecil itu.”


“Ooh, aku lupa kalau sekarang sudah beda lagi tugasmu.”


Adik sepupu Elo itu mencebik. Dia malas menanggapi ocehan si asisten. Matanya berputar-putar seolah tak ingin mendengar lagi suara lawan bicaranya yang ada di seberang sana.


“Ada apa? Kalau hanya ingin menggodaku, aku tutup lagi.”


“Hah? Jangan. Ada info penting.”


“Apa?” Zean menyela cepat.


Elo berdehem berulang, seolah dia sedang mempersiapkan diri untuk latihan vocal. Zean mendengkus beberapa kali mendengar itu.


“Sudah cukup main-mainnya? Aku harus mulai bekerja.”


“Ya, ya. Aku serius.”


“Cepat!” bentak Zean.


“Begini, Tuan Muda.”


Zean pasang wajah serius. Dia paham ketika asisten pribadinya sudah menyapa demikian, itu berarti ada hal penting yang akan disampaikan.


“Kemarin aku lihat dia datang ke ruangan Tuan Besar, Tuan Muda. Mungkin sekitar jam makan siang.”


“APA?”


Belum selesai Elo menjelaskan, Zean lebih dulu memotong dengan nada tinggi. Elo sampai berjingkat dari posisi.


“Tolong tenangkan diri Anda, Tuan Muda.”


Helaan napas kasar, Zean keluarkan. Telinga dan hatinya mendadak panas mendengar kabar tersebut dari Elo.


“Lalu kau diam saja, El?”

__ADS_1


“Saya tak bisa bertindak jika ada Tuan Besar di sampingnya, Tuan Muda.” Elo menjawab setengah takut, berharap sepupunya mengerti posisi dan keberanian yang dia miliki.


Suami Sally itu memijit pangkal hidung sambil memejam. “Oke, tetap awasi semua. Tolong jaga papaku pula. Kau menggantikanku bukan hanya untuk menangani kegiatan yang kutinggalkan, Elo. Tetapi untuk yang lain juga. Termasuk ini.”


“Ba–baik, Tuan Muda. Saya mengerti.”


Sambungan berakhir tanpa ada solusi yang bisa ditemukan begitu saja. Semua butuh pertimbangan dan Zean tak suka hal gegabah. Pria keturunan Pak Bobi itu berpikir rinci atas semua peristiwa yang sudah dilewati ataupun belum.


“Apa aku harus pulang?”


Zean meluruhkan diri di kursi, mengempas punggungnya yang lebar lalu menengadah. Dia menerawang jauh, mengilas semua memori selama hidup.


Waktu bergulir dengan cepat. Zean seharian pusing sampai melewatkan makan siang. Otaknya bekerja keras, mengimbangi urusan kantor mertua dan keadaan orang tua di kota C. Meski berjauhan, Zean tak bisa lepas perhatian begitu saja pada Pak Bobi dan Bu Lyra. Tuan Muda Pratama itu selalu mewanti-wanti keselamatan sang ayah.


Mengelola perusahan besar keluarga bukan hal mustahil jika harus memiliki musuh di mana saja. Saingan, trik licik dan berbagai hal yang menyangkut bisnis adalah hal biasa.


Jam menunjuk pukul 15.00 waktunya Sally pulang. Zean sampai lupa mengabari karena terlalu sibuk sejak tadi. Pekerjaan tiba-tiba menumpuk usai istirahat. Padahal dia tak meninggalkan ruangan barang sedetik pun.


Ponselnya bergetar berulang kali, tetapi Zean megabaikan begitu saja. Si penelepon tidak menyerah, terus menghubungi sampai pemiliknya menjawab.


“Halo.” Zean menjawab tanpa menengok nama yang tertera di layar.


“Jemput aku nggak?”


Sahutan dari seberang membuat Zean refleks menegakkan punggung. Dia lalu menarik ponsel untuk melihat siapa yang menelepon.


Aduh! Aku lupa harus menjemput gadis kecil.


“Halo!” Intonasi dari seberang meninggi, Zean tahu Sally mulai emosi.


“Eum, ya, ya, Gadis Kecil. Aku berangkat sekarang.”


“Kamu belum berangkat dari tadi?”


“Belum.”


“Aku naik taksi!”


Zean menjauhkan ponsel, mendecih usai menerima kemarahan sang istri. Sejak awal dia tahu Sally membenci keberadaannya. Akan tetapi, Zean justru menyukai itu.

__ADS_1


Kesibukan karena bekerja membuat dia lupa mencari hiburan, otak di tempurung kepala itu selalu serius dalam menjalani hari-hari yang dilalui. Sampai pada akhirnya hadirlah Sally, gadis itu mencuri perhatian Zean untuk selalu menjaili.


Tanpa peduli, dia kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi sebelum jam pulang tiba.


***


Tiba di rumah, Sally langsung ke kamar usai dibukakan pintu oleh Bi Mur. Dia tak menanggapi atau menerima tawaran minum dari asisten rumah tangga keluarga Birawan itu.


Gadis sembilan belas tahun itu merasa dada dan kepala panas, makin hari Zean makin membuat kesabaran orang habis.


Pintu kamar dibanting cukup keras, Sally masuk dan melepas sepatu secara asal. Ransel di pundak ikut dia jatuhkan ke lantai. Tubuhnya yang sintal dia empaskan di ranjang berlapis sprei putih. Wajah cantiknya ikut ditenggelamkan ke bantal sebagai pelampiasan rasa sesak di dada. Air mata keluar sendiri tanpa diminta.


“Menyebalkan! Aku benci dia! Benci!” umpatnya di sela tangis.


Bayangan senyum miring dari bibir Zean melintas, membuat Sally ingin memukulnya jika ada di dekat posisi saat ini.


Entah sudah berapa lama, tenaga yang dikeluarkan Sally untuk menangis sepertinya habis dan mengakibatkan dia tertidur dengan pakaian seragam yang masih lengkap.


Zean turun dari mobil. Dia bergegas ke kamar dan hanya membawa segelas air putih yang tadi dia minta pada Bi Mur.


Pria berjas hitam itu membuka pintu seperti biasa. Dahinya mengernyit ketika melihat kondisi kamar berantakan. Sepatu kets putih sebelah kiri nyaris dia injak, satu lagi berada di sudut ruang, tas punggung tergeletak di lantai. Zean menggeleng melihat itu.


“Dasar!”


Gelas kaca yang tadi dibawa, Zean letakkan di atas nakas. Dia lalu memungut tas istrinya dan dipindahkan ke meja belajar.


Zean berkacak pinggang melihat posisi tidur Sally. “Tidur model apa gadis ini?”


Pria keturunan Pak Bobi itu melepas jas, menggulung kemejanya dan mendekat ke arah Sally. Tangan yang dipenuhi otot-otot itu membalikkan tubuh sang istri, lalu melepas ikat rambut.


“Apa kebiasanmu begini? Suka tidur tanpa ganti dulu? Jorok!”


Usai bergumam demikian, Zean meninggalkan Sally untuk membersihkan diri. Harinya panjang dan melelahkan tadi, berharap tidak akan ada hal menguras tenaga lagi setelah ini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2