Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 39


__ADS_3

Mobil melaju membelah jalanan kota, jam menunjuk pukul 14.10. Terik mentari pasti menyengat kulit, terlihat begitu lengangnya trotroar saat itu. Pedagang pinggir jalan tampak menutup tempatnya berdagang sejenak, mungkin memang lebih enak untuk istirahat bagi mereka.


Lisa sudah terlelap sejak setengah jam lalu, setelah merasa kenyang karena makan siangnya. Leon masih fokus mengemudi, hatinya masih bertanya dengan banyaknya keluarga di rumah sakit. Dan yang paling penting, siapa lelaki yang sedang ia jenguk tadi.


Adiknya bilang jika akan menjenguk Sally, tapi kenapa justru yang terbaring sakit bukan gadis itu. Mungkinkah saudara Sally? Entahlah, Leon memang tak terlalu tahu banyak soal gadis yang ia suka tersebut.


Yang Leon tahu, jika Sally teman baik Lisa. Sering kemana-mana dengan adiknya. Anak salah satu pengusaha di kota A, pemilik jiwa mandiri dan tidak manja. Satu hal yang paling Leon suka, Sally tak pernah memanfaatkan kekayaan orang tua. Gadis itu merasa jika sama saja, terlahir dari orang kaya atau tak punya, baginya itulah takdir terbaik.


***


Perjalanan menyita waktu hampir dua jam lebih, macet seperti biasa. Dion segera menuju kamar. Remaja itu sepertinya sudah penat betulan.


Berteriak sesuka hati, meminta bi Mur membawakan minuman ke kamar.  Bu Anna dan pak Tomi hanya geleng kepala, melihat putra bungsunya itu.


“Maafin Dion ya, Bi.” Sally meletakkan gelas di meja dapur, setelah menghabiskan satu gelas penuh air putih dari galon.


“Eh, Non Sally.” Buru-buru bi Mur mendekat. “Nona tidak apa-apa?” Bi Mur bertanya tanpa menatap Sally. Beliau justru sibuk celingukan mengitari tubuh Sally, persis seperti Lisa yang baru pertama ketemu saat sampai di rumah sakit.


Sally menghela napas, ia lalu menghindar dari bi Mur. Menarik kursi lalu duduk. Duduk menyamping dan menopang dagu.


“Aku nggak papa, Bi.” Kembali menghela, “buktinya ini masih utuh kok,” terangnya lebih lanjut.


Bi Mur hanya manggut-manggut, dan terdengar beberapa kali berucap syukur.


Kembali Sally menarik napas dalam, lalu membuangnya pelan. “Tapi suamiku, Bi ….” Menunduk lesu, ia seakan tak sampai hati untuk melanjutkan bicara.


“Tuan muda kenapa, Nona?” Ekspresi wajah yang tadi sempat menunjuk kelegaan, kini berubah khawatir kembali. Beliau baru sadar, jika tak ada tanda-tanda kedatangan Zean barusan.


“Dia … mengalami cedera tulang pada kaki kirinya, Bi. Sekarang masih di rumah sakit, besok mungkin baru bisa pulang.” Tangannya yang tadi menopang dagu, kini beralih menopang kepala karena mungkin terasa berat.


“Ya ampun, Non. Bibi turut berduka, ya ….” Wanita yang sudah mengabdi puluhan tahun di kediaman Birawan itu mendekat, lalu memeluk nona muda di rumah tersebut untuk menjadi sandaran bagi jiwa Sally yang mungkin memang sedang rapuh.


Hatinya ikut sakit, setiap melihat gadis yang ia asuh sejak kecil sampai menginjak dewasa itu terang-terangan menunjukkan raut kesedihan.


Sejak kecil Sally jarang bersedih, memiliki sifat keras kepala, menjadikan dia  tidak cengeng seperti gadis umumnya. Hingga saat itu tiba, jiwa yang biasa kuat dan tegar, harus hancur saat neneknya meminta ia menikah dengan anak dari anak angkat neneknya. Berlari sejauh mungkin karena tak mau menerima kenyataan, tapi ternyata membawa ia pada rasa bersalah. Sang nenek pergi sebelum menarik kata-katanya, permintaan terakhir yang mengorbankan kehidupan cucunya.


Masih mengelus kepala Sally dengan lembut, kedua orang  di dapur itu dikagetkan dengan suara teriakan Dion yang berasal dari kamarnya. Kamar pemuda itu berada di bawah, sehingga teriakkan terdengar begitu keras.


“Ck! Dasar bocah itu!” Sally berdecak sebal, melihat kelakuan adiknya yang sedikit arogan.


“Maaf ya, Non. Bibi harus bikinkan minum sesuai pesenan tuan muda.” Sally mengangguk, lalu beranjak dari duduk. Memilih ke kamar, dan mengistirahatkan diri yang sudah kusut sejak insiden kemarin.


“Bisa nggak sih, nggak usah teriak-teriak,” ucap Sally sinis, mendapati sang adik di pintu kamar.

__ADS_1


Bocah lima belas tahun itu hanya berdecak sebal dan melengos, lalu masuk ke kamar tanpa permisi. Rasa malas menanggapi petuah sang kakak.


Huh!


Sally bersungut, ia lalu melenggang menuju atas untuk segera ke kamar.


Membuang tasnya begitu saja, melepas sepatu lalu menghempas tubuh di ranjang, ia tidur terlentang. Terasa begitu lapang tempat tidur beralas sprei baby pink itu.  Menikmati kenyamanan sejenak, setelah beberapa hari ia tak bisa tidur dengan baik. Menjaga Zean selama dua malam, dengan tidur hanya bersandar pada brankar, membuat punggungnya benar-benar mati rasa. Padahal, ada sofa di sana, tapi Sally tak mau. Zean meminta untuk pulang, dia menolak keras. Sampai suaminya berbagi tempat tidur, dia kekeuh menolak.


Lama-lama karena hanya mengusap sprei dengan tangan naik turun, membuat ia lama-lama terlelap.


Hingga tak terasa, ketukan pintu menyadarkan Sally. Ia lantas membuka mata.


Hah! Kenapa gelap begini.


Tak sadar, jika sudah tidur sejak sore. Bahkan ia melewatkan mengabari Zean jika sudah sampai rumah. Berjalan dengan merayap, mencari saklar lampu penerangan. Ketukan pintu kamar masih terdengar, ia buru-buru membuka.


“Kemana aja sih, Sa.” Bu Anna sudah di depan pintu, memegang ponsel yang masih menempel di pipi.


“Ketiduran, Mi.” Ia masih mengucek kedua mata, mengumpulkan nyawa dan menghilangkan sisa kantuk.


Terdengar bu Anna menghela napas, lalu menyodorkan ponsel pada anaknya. “Zean telepon, dia bilang kamu nggak angkat teleponnya dari tadi. Jadi telepon ke nomor mami.”


Sally masih mengerjap sedikit bingung, tapi menerima uluran ponsel itu juga. “Mati kali Mi ponselku, belum aku lihat. Masih di tas noh, barangnya.”


Bu Anna menghela lagi, “Yaudah buruan itu ngomong, udah dari tadi nungguin.”


Akhirnya bu Anna pergi, segera meninggalkan kamar anaknya.


“Halo, Kak. Maaf tadi ketiduran,” sapanya pada Zean.


“Kau pasti lelah, ya.” Terdengar sahutan itu dari kota seberang.


Ck! Kau itu nanya atau apa sih, sudah tau pakek ngomong gitu.


Ingin sekali Sally mengucap sederet kalimat itu, tapi tak tega. Ia hanya memutar-mutar mata karena malas. “Nggak juga kok, mungkin karena suasananya pas buat tidur.”


Tidak bohong sepenuhnya, karena memang cuaca yang terik selama perjalanan, tiba-tiba menjadi mendung sore tadi.


“Kakak di mana?” tanya Sally lagi.


“Di rumah sakit, menyebalkan sekali di sini. Aku tidak betah.” Mulai mengeluh, karena memang sejak kemarin lelaki itu sudah ingin pulang sejak siuman.


“Huft.” Gadis itu menghembuskan napas sejenak, mencoba merangkai kata yang bisa membuat suaminya mengerti dengan keinginannya yang melarang ia pulang sejak kemarin.

__ADS_1


“Sabar, ya. Besok ‘kan sudah boleh pulang. Nggak akan lama, ini aja udah jam ….” Ia mengalihkan ponsel sejenak di hadapannya, untuk melihat jam berapa.


“Ini udah jam setengah delapan, beberapa jam lagi pagi kok.”


“Beberapa jam lagi gimana?! Masih ada waktu 10 jam 15 menit untuk menuju jam 6 pagi!” Nada bicara tiba-tiba ketus, membuat bu Lyra dan pak Tomi yang ada di sofa ikut memandang putranya.


Astaga! Kenapa dia jadi emosi. Memang salahku di mana?


Sally merasa ada yang salah dengan kalimatnya tadi, dia lupa jika suaminya sedikit aneh. Sifatnya berubah-ubah seperti bunglon.


“Iya-iya, maaf.”


“Kenapa kau minta maaf?!” Memotong omongan lebih dulu, mendengar Sally tidak peka. Ah, padahal bukan kalimat itu yang Zean ingin dengar sejak tadi. Mungkin kalimat rindu, tapi dia terlalu gengsi untuk mengucapkan itu.


“Lalu bagaimana?!” Gadis itu sudah ikut sewot, ia tak tahan.


Peduli setan dengan segala kedewasaan yang ia latih sejak dulu, ia hanya gadis belia. Yang sebenarnya masih memiliki ego yang tinggi. Hanya saja, ia selalu mencoba tak memedulikan sikap labilnya, ia berjuang keras belajar untuk mengendalikan ego, mengimbangi sang suami yang kadang seperti bocah.


“Kenapa kau jadi membentakku?!”


Salah! Sungguh benar-benar salah, menghadapi  Zean saat ini. Laki-laki itu seakan amnesia saja. Padahal, biasanya ia akan bersikap lembut dan mau mengalah. Tapi kali ini tidak.


“Hah ….” Sally jengah, ia tak mau meladeni suaminya lagi.


“Aku mau mandi. Jangan lupa makan malam. Lekas tidur dan semoga cepat sembuh.”


Tiga kalimat ia ucap, sekaligus sebagai penutup pembicaraan mereka di telepon. Mematikan telepon tanpa minta persetujuan, lalu ke kamar mandi.


“Aarrgghh!” Zean murka dengan sikap Sally. Tak peduli dengan kehadiran orang tuanya, ia melempar ponsel itu ke lantai begitu saja.


Bu Lyra dan pak Bobi terperanjat, ayahnya sudah ikut emosi.


“Ze! Apa yang kamu lakukan?!” Pak Bobi sudah berdiri, ia sudah siap memberi pelajaran pada anaknya.


“Jangan, Pa. Zean sakit. Tahan emosi Papa.” Bu Lyra sudah menarik tangan suaminya, lalu segera menarik keluar.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung…


__ADS_2