
Setengah jam sudah kedua orang yang tak sadarkan diri tadi dalam penanganan ahli medis. Zean tak bisa tenang, begitu pun dengan Naya. Mama dari Eza itu tak berhenti menangis, sama halnya dengan Zean.
Elo hanya mengembuskan napas kasar. Ia ikut kalut melihat hubungan keluarga Pratama bisa serumit itu karena harta. Tak ingin menyalahkan siapa pun. Karena memang ia sadar, jika Om Andra melakukan hal demikian lantaran sakit hati pada Pak Bobi. Lelaki yang tiba-tiba datang dan menggantikan posisinya menjadi direktur utama Pratama Group.
“Ze, kita temui dokter dulu untuk merawat lukamu. Adik ipar masih di dalam, kita belum tahu kapan dia keluar. Kau bisa titipkan pada Naya sebentar.”
Zean menggeleng. Tentu saja dia tidak mau. Suami mana yang bisa tenang dan memikirkan dirinya sendiri ketika istrinya entah sedang berjuang hidup atau mati di dalam ruang penanganan semacam itu.
“Pergilah, Kak. Aku akan memanggilmu jika Sally sudah keluar,” pinta Naya dengan sedikit terisak. Lalu mengusap kasar kedua pipi.
Zean menggeleng. Lagi-lagi ia tak mau. Tak peduli seberapa banyak luka memar di wajahnya. Ia hanya memikirkan Sally.
Sesaat kemudian, dokter yang menangani Sally keluar dari ruangan. Semua segera beranjak dan mendengar penjelasan.
“Lukanya sudah kami bersihkan dan dijahit. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Mohon untuk mengurus urusan administrasinya dulu sekarang.”
Elo dan Zean bernapas lega, tapi tidak dengan Naya. Dia masih harap-harap cemas dengan kondisi ayahnya. Entah butuh waktu berapa lama untuk mengangkat peluru yang bersarang di lengan Om Andra tadi.
“Nay, aku ke bagian administrasi dulu.” Zean berkata, lalu mendapat anggukan kepala dari adik sepupunya.
***
Hari sudah pagi dan semua orang berkumpul di kamar inap Sally. Keluarga Birawan sudah ada di sana. Elo memberi kabar segera saat mereka telah sampai di rumah sakit. Tak menunggu waktu lama, semua anggota keluarga segera bergegas setelah mendengar kabar itu. Begitu juga dengan Pak Bobi dan Bu Lyra. Tapi keduanya tak ada di ruangan Sally saat ini. Mereka bilang akan menemui Om Andra yang baru siuman setengah jam lalu.
Dokter dan perawat masuk sekadar mengecek kondisi pasien. Memastikan luka yang ditangani semalam tidak meradang.
“Dokter, kenapa istri saya belum sadar?” Zean yang bertanya tapi semua orang ikut menunggu jawaban.
Dokter itu menarik napas sejenak. “Pak, sebenarnya luka di bahu istri Anda tidak terlalu dalam. Tapi saya juga heran, kenapa dia bisa pingsan sampai pagi ini. Kami juga sudah melakukan transfusi darah untuk menggantikan darahnya yang hilang akibat luka kemarin. Tapi … sepertinya ada faktor lain yang membuat istri Anda pingsan lebih lama. Dan itu mungkin ….”
“Kenapa, Dok?” Lupa dengan etika kesopanan, Zean dengan lancang mencengkeram bahu dokter wanita itu.
“Ze, jaga tanganmu.” Elo segera menarik Zean, “maafkan adik saya, Dok,” katanya meminta maaf.
“Tidak masalah, Pak. Saya paham dengan kondisi sepupu Anda. Begini … saya akan melanjutkan pembicaraan tadi. Istri Pak Zean ini tidak apa-apa, lukanya juga tidak ada tanda-tanda infeksi. Tapi saya rasa, dia tengah hamil. Jadi dia terlalu lelah dan stres, membuat tubuhnya perlu lebih banyak istirahat.”
“Apa? Kak Sally hamil?” Pemuda yang akan masuk sekoah SMA itu berceletuk, membuat kedua orang tuanya melotot ke arahnya.
__ADS_1
Zean mundur beberapa langkah sampai menabrak Elo yang ada di belakangnya.
Entah ekspresi macam apa yang ditunjukkan Zean. Dia seperti orang kebingungan. Elo sendiri juga ikut tak paham melihat Zean seperti itu.
“Kau kenapa, Ze?”
Bukan menjawab pertanyaan Elo, laki-laki itu justru berbalik dan memeluk Elo lalu menangis. Membuat Elo semakin terlihat bodoh karena baru kali ini ia tak bisa mengerti adiknya.
“Tidakkah kau bahagia? Kenapa kau malah menangis?” Dia mencoba melepaskan pelukan Zean. Merasa geli juga dengan tatapan yang diterima semua orang yang ada di kamar. Apalagi dokter dan perawatnya.
“Ze, lepaskan aku. Aku masih normal.”
Dengan cepat Zean melepas pelukan, mengusap air mata. “Kenapa kau tak menolakku?” Tangannya mengibas jas yang ia kenakan sejak kemarin seakan membersihkan kotoran dan debu yang menempel.
Elo mencebik. Ingin sekali dia menendang adik sepupunya yang tak tahu diri itu.
“Dokter, lalu berapa lama waktu untuk putri saya istirahat? Dia sudah tidur sejak dini hari tadi, Dok.” Bu Anna ikut bertanya, khawatir juga dengan kondisi Sally.
Dokter itu lalu tersenyum, “Kita tunggu saja ya, Bu. Barangkali sebentar lagi sadar. Saya permisi dulu ingin memeriksa yang lain.”
“Sayang … kau bangun?” Zean antusias menghampiri istrinya, cepat-cepat ia mengecup seluruh wajah dan tangan Sally. Lupa jika banyak orang di ruangan.
“Aku kenapa, Kak? Kepalaku pusing, bahuku nyeri.”
Dokter segera datang, menghampiri Sally. “Rileks ya, Nona. Saya akan memeriksa Anda.”
Sally hanya mengangguk lemah, lalu sang dokter dengan segera mengecek kondisi pasien.
“Saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan ke obgyn setelah ini, ya, Pak.” Zean mengangguk. Binar bahagia tak surut dari wajahnya yang penuh memar sejak kemarin.
“Tunggu, Dokter! Kenapa saya harus ke obgyn?” cegah Sally saat melihat dokter dan perawat hendak keluar.
“Nona, dugaan sementara. Anda tengah hamil muda. Tapi hanya dugaan, karena saya hanya memeriksa jika denyut nadi anda meningkat 10-20 denyut per menit, sedang yang saya tahu ... wanita normal yang sedang tidak hamil memiliki denyut 60-80 per menit. Jadi, lebih tepatnya saya menyarankan untuk ke dokter kandungan.” Tersenyum kemudian pergi.
Sally tertegun. Ia jadi ingat jika sejak kemarin belum datang bulan. Gadis itu sibuk dengan Lisa membahas soal perpisahan sekolah, sampai lupa dengan hal penting tersebut.
“Kakak! Ini semua gara-gara kamu.” Gadis itu histeris. Dia belum bisa terima dengan kondisi yang dialaminya. Menyalahkan Zean karena gara-gara suaminya itu dia jadi berbadan dua.
__ADS_1
“Ya ampun, Sa. Kenapa kamu begitu? Dia itu anugerah buat kita. Lagian dokter itu tadi bilang hanya dugaan, kenapa harus semarah itu?” jawabnya enteng.
“Mi ….” Bu Anna datang memeluk Sally. Gadis itu terisak di perut ibunya yang tengah berdiri di dekatnya.
“Sally belum pengen jadi ibu, Mi. Nggak, Sally nggak mau.” Ia menggeleng cepat, tapi kemudian terhenti karena merasakan nyeri di bahu.
Mengelus rambut Sally bagian belakang, membiarkan anaknya menumpahkan segala kegelisahan. Bu Anna paham dengan kondisi Sally. Dia masih terlalu muda untuk mengandung dan kuliahnya saja belum dimulai. Tapi mau bagaimana lagi, tak ingin juga menyalahkan menantunya.
“Semua akan baik-baik saja, Sa. Ada suamimu, mertuamu, dan kami. Kami semua akan menemanimu. Tenanglah, jangan berpikir yang bukan-bukan.”
“Kamu adalah salah satu perempuan pilihan Tuhan untuk menerima anugerah terindah yang selalu diimpikan setiap pasangan suami istri. Semua akan baik-baik saja jika kamu menjalani dengan sebuah kerelaan. Akan ada saatnya bahagia. Bukankah kau sering beranggapan begitu? Kamu ingat ‘kan saat rela menerima pernikahanmu dengan Zean? Bukankah awalnya kamu hanya rela menerima perjodohan demi membuat keluarga kita bahagia? Tapi sekarang kau juga merasakan kebahagiaan itu.”
Gadis itu mengangkat wajah, sorot matanya menatap sang ibunda yang tengah tersenyum dengan tatapan meneduhkan.
“Terima kasih, Mi. Mami sudah mau mengurus Sally sampai detik ini. Sally akan berusaha mendengar omongan Mami. Menjaga dia sampai lahir.”
“Yes!” Zean merasa menang. Dalam hatinya bersorak riang. Tak menyangka jika baru saja ia berbaikan dengan Sally sekitar sebulan lalu, tapi sekarang membuahkan hasil. Ditambah lagi, melihat istrinya mau menerima kehadiran calon buah hati di dalam perutnya.
“Kakak jangan mendekat! Aku tidak mau dekat-dekat denganmu!” cegahnya sebelum Zean datang dan memeluk.
Langkah Zean tiba-tiba terhenti, ia menatap cengo. “Jangan bercanda, aku suamimu. Semalam kau masih menangisiku, sekarang kenapa jadi menolakku,” protesnya.
“Aku nggak peduli. Pokoknya nggak mau sama Kakak!” sergah Sally.
“Ze, mungkin ini faktor kehamilan. Turuti saja mau istrimu. Barangkali ngidamnya begitu.” Bu Anna berkata. Berusaha memberi pengertian.
“Apa? Tidak, tidak. Aku tidak percaya pada hal konyol seperti itu. Kau tidak merindukanku, Sa? Hampir tiga minggu kita tidak bertemu. Sekarang kau mencampakkan aku? Aku tidak mau.” Ia mengguyar rambutnya gusar.
Sally menggeleng, dengan cepat ia memeluk erat ibunya, membenamkan wajah menghindari Zean.
“Konyol! Aku akan mencari dokter kandungan sekarang. Meminta penjelasan padanya.”
Zean melenggang pergi begitu saja, bahkan sampai menabrak ayah dan ibunya yang baru datang. Membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
.
.
__ADS_1