
Kafe Tum-tum menjadi tempat tujuan dua gadis yang sebentar lagi melepas atribut sekolah mereka. Menikmati sisa kebersamaan untuk memulai awal kehidupan baru. Meski Sally dan Lisa belum memutuskan untuk kuliah di mana, yang jelas … mereka sebisa mungkin akan tetap bersama.
Alunan musik syahdu mengalun membisik telinga seperti biasa. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol di kafe yang telah menjadi langganan anak muda tersebut.
Memilih duduk di salah satu sudut kafe, menikmati jus jeruk dan tiramissu cake kesukaan keduanya. Tak berhenti bertanya, sejak mobil navy miliknya keluar dar parkiran sekolah. Lisa, masih tak percaya dengan jawaban singkat Sally soal kepergiannya. Semakin kepo, ia memilih mengajak istri Zean itu menghabiskan waktu di kafe yang sudah terasa lama tak mereka datangi karena sibuk persiapan ujian kemarin.
Rambut keduanya melambai seiring terpaan kipas angin di dinding, sinar matahari yang terik terlihat menyilaukan mata jika memandang ke luar ke arah jalan. Masih fokus Lisa menatap Sally. Ada yang berbeda dari sahabatnya.
“Sa, sepertinya … ada yang aneh sama kamu?”
Gadis yang tengah menyedot jus jeruk itu mendongakkan wajah, mengalihkan pandangan dari gelas menatap manik cokelat Lisa.
“Kenapa?” Heran, baru kali itu Lisa tampak serius. Jarang-jarang sekali.
“Kamu … habis ….” Sepertinya tak sanggup gadis berambut pendek itu bicara, meski sudah begitu dekat dengan Sally. Ada kalanya ia tak berani mencampuri urusan Sally.
Telunjuknya menunjuk pada leher sebelah kiri, pertanda lanjutan dari pertanyaan yang tak sampai ia lontarkan. Sally reflek merapatkan kerah kemeja sekolahnya, lalu mengurai rambutnya ke depan menutup dada.
Merasa malu, Sally jadi memandang ke segala arah menghindari kontak mata dengan Lisa. Meski Lisa sahabat satu-satunya yang tahu tentang pernikahan dirinya, tetap saja ia tak mau terlalu mengumbar hubungannya dengan Zean.
“Maaf, ya. Kalau nggak nyaman sama pertanyaanku. Hehehe ….” Sally menoleh, lalu menggeleng.
Gadis itu semakin canggung saja, tapi mau bagaimana lagi. Kelakuan Zean tak bisa ditutupi.
“Enak ya, Sa?” tanya Lisa lagi.
“Hah?” Mendadak Sally gelagapan. “Ngelakuin itu, dengan laki-laki sesempurna kakak ganteng.” Semakin menjadi saja omongan Lisa. Membuat Sally kehilangan muka, ingin melemparkan diri di kawah gunung berapi.
“Ngomong apa sih, Lisa. Kenapa kamu jadi mesum begitu?” Sedikit mendengus, dengan kasar ia memotong kue dengan garpunya asal.
Lisa justru semakin penasaran, tak tanggung-tanggung. Ia bertanya lagi, “Sejak kapan kalian mulai melakukan itu?”
“Berapa kali dalam sehari atau semalam? Hiihihi ….”
“Apa … kalian juga pakai tutorial-tutorial dari video-video yang sedang viral begitu, Sa?”
“Ah, mungkin tidak. Ku rasa kakak ganteng pasti lebih jago daripada video viral. Hmm ….” Netra gadis itu berputar ke atas, seakan sedang membayangkan saja.
Sally segera mencengkeram dagu Lisa, memasukkan potongan kue pada mulut Lisa yang sudah terbuka. Gadis itu sampai terbatuk-batuk, gara-gara ulah Sally yang mengagetkan.
“Apaan sih, Sa ….” Ia melotot, wajahnya yang cantik tampak lucu dengan bibir yang manyun.
__ADS_1
“Makanya jangan aneh-aneh.” Sally menyodorkan jus jeruk milik Lisa.
Omongan Sally membuat Lisa semakin mengerucutkan bibir. Menerima gelas, kemudian mencibir, “Gitu aja nggak boleh, Sa. Kau kira aku bocah, belum boleh tahu soal adegan dewasa. Udah sering kali, Sa?”
“Hah?” Mata Sally membola, syok dengan ucapan Lisa.
“Sejak kapan kau mesum begitu? Aku kenapa tidak pernah tahu.” Meminum jus jeruknya sampai habis, seakan tidak terima dengan pengakuan yang dibuat Lisa.
“Sejak … aku suka nonton drama romantis. Hihihi ….” Gadis itu menutup mulutnya, menunjukkan ekspresi senyum laknat malu-malu.
Mendengar jawaban Lisa, Sally hanya menepuk jidatnya berulang kali. Dikira sahabatnya ini polos, tapi otaknya sudah teracuni dengan hal-hal yang bahkan Sally sendiri belum pernah melihatnya.
“Jangan diterusin ah, Lis. Bahaya tauk.”
Gadis itu mencebik, meremehkan Sally. Padahal, ia juga baru sekali menonton, kenapa ekspresi sahabatnya itu seakan menghakimi seorang pecandu video aneh semacam itu. Lisa geleng-geleng kepala.
“Oiya, gimana kabar kak Leon?” Kembali meneruskan melahap kue yang masih tersisa.
“Haaah … dia tak ada kabar. Setelah kejadian itu, seakan menjauh saja.”
Merasa bersalah, tak seharusnya Sally menyeret Leon pada masalah rumah tangganya. “Sampaikan maafku padanya ya, Lis. Aku kehilangan nomornya, karena kak Ze sudah menghapusnya jauh-jauh hari.”
Lisa mengangguk, ia paham dengan apa yang dirasakan Sally. Tak mau menyalahkan Zean juga, karena memang pertengkaran antara sepupu dan suami sahabatnya terjadi karena kesalah pahaman antar semua pihak. Sally, Zean, Leon, dan Lisa.
Sally menghela, semua perkataan Lisa benar. Tak seharusnya juga dia keluar bersama lelaki yang jelas-jelas menyukainya. Ditambah lagi, saat itu Zean tak mengerti tentang perasaannya. Menjadikan semakin rumit, menuduh Sally lebih memilih Leon daripada Zean.
“Hah, yang lalu biar berlalu. Yang penting kalian sudah baikan. Justru bentar lagi sepertinya tanda-tanda nih.”
“Tanda-tanda apa?” Sally bertanya, sambil tangannya melambai pada seorang pegawai kafe untuk memesan kembali minuman.
“Tanda-tanda, kalau aku bentar lagi dapat ponakan.” Tersenyum manis, sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Sally hanya menggeleng, pertanda tak setuju. “Aku belum pengen hamil, masih mau kuliah dulu. Jangan ngaco,” terangnya.
Monalisa Aprilia itu menyedot minumnya, lalu berkata, “Nggak ada yang salah kali, Sa. Punya anak tapi masih kuliah. Siapa yang ngelarang.”
Sally terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang salah dengan omongan Lisa, tapi … dia masih belum siap rasanya. Menjadi seorang ibu, tentu saja itu bukan hal mudah. Meski bu Anna sering mengakui jika Sally lebih dewasa dari usia aslinya, tetap saja, gadis itu belum berpikir jauh sampai hal itu.
Pun demikian, ia belum sempat bicara dengan Zean soal hal itu. Tentang pendapat Zean mengenai anak, dan jika ia ingin menunda kehadiran seorang anak. Apakah Zean mau? Entahlah … Sally akan menghubungi suaminya nanti malam.
***
__ADS_1
Makan malam dengan anggota lengkap keluarga Pratama, Zean bermaksud menyampaikan ide yang disarankan Elo. Melirik sang ayah berulang kali, tampak menunggu waktu yang pas.
“Ada apa, Ze?” Belum sempat bersuara, pak Bobi sudah peka lebih dulu dengan gelagat anak tunggalnya.
Bu Lyra ikut menoleh pada sang anak, tampak Zean mencoba mengulum senyum sebelum menjawab. “Minggu depan adalah waktu peninjauan proyek pembangunan hotel Green Tulip di kawasan puncak, Pa.”
Pak Bobi mengangguk. “Bukankah itu urusanmu dan Elo? Aku sudah memasrahkannya pada kakakmu dua minggu lalu.”
Zean mengangguk, lalu meraih gelas berisi air minum yang ada di depannya. “Bolehkan aku kembali sedikit telat beberapa hari kemudian setelah peninjauan, Pa.” Alis pak Bobi sudah naik sebelah, seolah mulai memberi tanda penolakan. “Aku ingin mengajak Sally liburan.” Putra Pratama itu tersenyum, lalu melirik sang ibunda seolah meminta dukungan.
Bu Lyra mengelus lengan pak Bobi, lalu berkata, “Berikan waktu pada Ze, Pa. Papa tahu sendiri, mereka berdua baru baikan.”
Pak Bobi bergeming, belum mau menjawab. Membuat Zean merasa deg-degan saja. “Tiga hari, maksimal tiga hari. Setelah itu kau harus kembali. Elo sudah terlalu lama sendiri, dia pasti juga lelah.”
“Siap, Pa. Aku akan kembali dalam waktu tiga hari setelah peninjauan proyek.” Ia lalu berdiri, bergegas meninggalkan meja makan.
“Ze, mau ke mana?” Bu Lyra berteriak, tapi sang anak sudah hampir mencapai tangga.
“Mau ngasih kabar ke gadis kecil, Ma!” teriak Zean dari arah tangga.
Pak Bobi hanya geleng-geleng kepala, melihat kelakuan darah dagingnya. "Itu hasil didikan Mama, sudah sebesar itu masih saja manja."
"Anak Papa juga kali, Pa." Wanita cantik paruh baya itu ikut sewot, mendengar ucapan suaminya.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
__ADS_1
. Bersambug ….