Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Bab 57


__ADS_3

Liburan dan peninjauan proyek sudah selesai. Zean dan Sally kembali berpisah seperti sebelumnya. Terpaksa tidak bisa ikut sang suami karena Sally harus mengurus banyak hal soal kelulusannya.


Setelah melewati waktu berminggu-minggu untuk ujian-ujian menuju kelulusan, tibalah saatnya hari wisuda perpisahan sekolah. Kebaya modern merah maroon berbahan brokrat berkerah sabrina, menjadi pilihan Sally. Kemudian, dia memadukan atasan itu dengan kain jarik putih. Sandal heels berwarna senada dengan atasan menghias kakinya yang jenjang, didukung tatanan rambut tersanggul rapi. Semua itu menambah kesan elegan dan stylish.


Kulit putih yang kontras dengan warna pakaian yang dipilih, membuat Sally berdecak kagum dengan pantulan dirinya sendiri di cermin. Sang mami memilih MUA yang sama dengan saat pernikahannya dengan Zean. Namun, kali ini ada yang membuat dia terlihat berbeda, mungkin karena Sally pertama kali memakai kebaya. Dia ingat saat pernikahan dulu tidak memakai pakaian semacam  itu. Sally memakai gaun khusus untuk prosesi pernikahannya dengan Zean.


Lisa sudah menelepon beberapa kali, padahal Sally bilang jika sudah di jalan. Gadis berambut pendek itu pasti juga terlihat cantik memakai pakaian yang sama dengan Sally. Keduanya sengaja berseragam untuk mengenang kekompakan mereka.


Hari-hari berlalu, tetapi belum pernah membahas Lisa akan kuliah di mana. Apa pun keputusan Lisa, Sally akan mendukung. Meski sebenarnya dia berharap mereka tetap bersama. Mengingat Lisa adalah satu-satunya teman dekat di sekolah SMA itu.


Saat tiba di gedung, gadis bernama lengkap Monalisa Aprilia itu berteriak girang karena bisa lulus bersama Sally. Senyuman cerah tak terlewat dari wajahnya yang cantik dan terlihat dewasa setiap tidak memakai seragam sekolah.


“Udah mau mulai?” tanya Sally saat pelukan Lisa terlepas.


“Sebentar lagi,” sahut Lisa antusias, lalu menggandeng kembali temannya dan membawa ke tempat duduk tak jauh dari dirinya dan kedua orang tua.


Semua orang berkumpul, masing-masing memilih tempat duduk yang disediakan. Acara demi acara berlangsung dengan suka cita. Beberapa siswa sudah menerima penghargaan sesuai prestasi mereka. Semua tersenyum cerah, para orang tua tentu ikut bangga jika memiliki anak yang berprestasi.


“Andai kita bisa sehebat mereka ya, Sa?” Seakan baru menyadari kemalasannya, Lisa membuat Sally terkekeh.


Dua gadis itu memang tak sepandai teman-temannya yang sedang berjajar rapi di atas panggung untuk menerima penghargaan, mengingat mereka sering tidak fokus saat proses belajar. Apalagi Lisa, sering tertidur saat jam tambahan. Meski begitu, mereka tetap ikut bahagia.


Kedua orang tua mereka tak pernah menuntut untuk sepandai teman-temannya. Lisa anak tunggal, orang tua selalu memanjakan dia dengan segala kecukupan. Meski sering meninggalkannya seorang diri, tetapi mereka tetap memantau pergerakan Lisa.


Sedangkan Sally? Keluarga gadis itu memberikan kebebasan pada keturunan mereka. Satu hal yang terpenting, pokoknya tidak sampai mengecewakan atau sampai mencoreng nama keluarga. Hanya itu, membuat Sally, Dion, dan pak Tomi beruntung dilahirkan di keluarga Birawan. Keluarga yang tidak terlalu banyak tekanan.


“Kakak ganteng nggak ke sini, ya?” Lisa bertanya, setelah semua acara selesai dan sebagian orang mulai keluar gedung.


Sally hanya menggeleng, “Kak Ze sangat sibuk semenjak dia kembali ke Pratama Group.”

__ADS_1


Gadis berambut pendek itu hanya menganggukkan kepala beberapa kali. “Nggak papa, toh habis ini kalian bisa ketemu tiap hari, ‘kan? Udah nggak perlu jauh-jauhan ni, ciyeee ….”


Mendapat ledekan Lisa, Sally hanya mengulas senyum. Pipinya sedikit memerah, ia jadi tersipu setiap membicarakan suaminya yang tak bisa ia temui sejak hampir tiga minggu lalu. Bahkan akhir pekan pun, Zean tak bisa menemui Sally. Laki-laki itu benar-benar sibuk, sampai tak pulang dan memilih tidur di kantor belakangan ini. Padahal, dia bukan presdir. Tapi pekerjaannya sudah seperti menggantikan sang ayah saja.


“Kak, balik yuk.” Dion sudah tak sabar, melihat kakaknya terus asyik bercengkrama dengan Lisa sejak tadi.


“Nanti napa sih, Di,” cegah Lisa.


Pemuda tampan itu jengah, ia memasang tampang malas. Tahu jika sahabat kakaknya itu begitu cerewet, jadi malas untuk menanggapi.


“Yaudah, aku nunggu di mobil aja kalau gitu.” Tanpa berkata lagi, dia sudah melangkahkan kaki menuju ke parkiran, menghampiri kedua orang tua yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


“Nona Birawan ….” Dua orang menyapa ramah, membuat Sally dan Lisa kompak melihat siapa yang tengah memanggil.


Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam. Celana panjang hitam, hem hitam, jas hitam, bahkan kacamata yang menutup kedua pasang mata mereka juga hitam.


Lisa mencengkeram tangan Sally. Dia memasang tampang takut-takut dan bersiap berlari. Tak peduli jika kesulitan karena pakaian yang mereka kenakan. Atau mungkin lebih baik mereka berteriak sekarang saja? Pikiran Lisa sudah ke mana-mana.


“Kami utusan tuan muda Pratama, Nona.” Salah satu dari mereka menjawab, tanpa melepas kacamata.


“Maksud kalian … kak Ze? Suamiku?” Memastikan, pasalnya Zean tidak memberi kabar jika menyuruh orang untuk mendatanginya.


“Benar, Nona. Tuan muda meminta kami menjemput Anda, karena dia masih sibuk dengan klien dan meeting. Tuan muda berpesan, untuk mengantarkan Anda di sebuah restoran yang telah ia siapkan. Sepertinya ingin memberi kejutan.”


Sally masih tak percaya, gadis itu masih mencoba mencari kebenaran. “Apa benar?” Pertanyaan Sally mendapat anggukan kepala dari kedua orang di hadapannya yang tampak tenang dan begitu sopan.


“Aku telepon kak Ze dulu kalau gitu,” terangnya.


Lisa hanya diam, dia tak tahu soal apa pun. Gadis itu hanya memperhatikan setiap pergerakan Sally yang masih mencoba menghubungi Zean.

__ADS_1


Terlihat sudah tiga kali Sally menempelkan ponsel di telinga, tapi tidak ada jawaban. Mungkin pemilik nomor memang benar-benar sibuk, atau memang sengaja karena dua pria itu bilang akan memberi kejutan, jadi Zean menghindar?


Sally berdecak sebal, telepon tak diangkat juga.


“Nggak bisa ya, Sa?” Lisa bertanya, dan Sally menggelengkan kepala.


Dua pria itu saling pandang, salah satu dari mereka berkata, “Nona, sepertinya tuan muda masih begitu sibuk. Bagaimana kalau Anda ikut kami lebih dulu, dan pasti setelah kedatangan Anda di tempat yang dijanjikan, dia akan datang. Atau mungkin tuan muda sudah datang lebih dulu tanpa memberi tahu.”


Sally tampak berpikir, sebenarnya dia takut dan ragu. Ia menoleh pada Lisa, sahabatnya itu hanya memberi anggukan kepala agar Sally ikut.


“Bener juga, mungkin kakak ganteng sengaja nggak mau angkat telepon kamu, Sa. Biar jadi sureprise, ‘kan?”


Menatap bergantian, antara Lisa dan kedua pria yang katanya suruhan Zean. Ekspresi kedua utusan itu tampak tenang, membuat Lisa mungkin tak menaruh curiga layak seperti dirinya.


Dengan berat, akhirnya Sally mau ikut dengan kedua orang itu. Tapi sebelumnya, ia berpamitan pada kedua orang tua dan adiknya.


“Hati-hati ya, Sayang.” Bu Anna mencium pipi Sally, melepas kepergian putrinya untuk menenemui sang menantu.


Dengan masih memakai pakaian acara perpisahan, Sally akhirnya ikut ke mobil dua orang utusan itu. Meski masih terasa takut dan aneh, dia berusaha berpikir tenang. Akan mencoba menghubungi Zean sambil di jalan, pikirnya.


Hingga mobil hitam yang membawa dirinya melesat, membelah jalanan kota A, dan menuju kota C di mana Zean tinggal dan memesan restoran untuk membuat kejutan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2