Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 32: Kau mengkhawatirkanku?


__ADS_3

Jantung Sally seolah berhenti berdetak mendengar ancaman Zean. Meski sangat risih dan tidak terbiasa dapat pelukan dari pria, dia masih berusaha tenang. Gadis itu takut Zean tiba-tiba melakukan hal aneh jika dia melawan. Kesucian adalah hal berharga yang sangat Sally jaga sampai saat ini. Gadis itu tidak ada pikiran untuk memberikan pada siapa pun, termasuk suami sendiri.


Pria dengan rambut legam itu tersenyum tipis sambil memejam. Aroma shampo dari rambut Sally seolah mengantar senyawa relaksasi hingga membuatnya nyaman. Zean tidak merasa aneh dengan sikap Sally yang banyak diam.


Keheningan menyelimuti dua insan yang masih di tempat tidur tersebut. Sally yang masih setia tengkurap, mulai merasa mati rasa bagian tangan. Dada yang tertindih, makin sesak seolah tidak ada lagi oksigen masuk ke


paru-paru.


“Gadis Kecil, kau masih bernapas, kan?” Zean mulai menyadari apa yang dilakukan. Dia sedikit melonggarkan peluk. “Sa, “ ulangnya sekali lagi lantaran tidak ada tanggapan.


“Aku sesak, Kak.” Setelah mengumpulkan keberanian, Sally menjawab dengan terbata. Dia gelagapan seperti ikan kehabisan air.


“Astaga, Sa.” Zean membalik tubuh Sally. Dia sangga kepala dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menyibak rambut sang istri yang menutupi wajah. “Kenapa diam saja dari tadi?”


Mana mungkin aku berani bicara kalau kamu menakutkan begitu?


“Gadis Kecil, aku bicara padamu.”


Sally tersadar. Alih-alih berkata jujur, dia justru menggeleng seolah menjawab baik-baik saja.


Gelagat istrinya tidak membuat Zean puas. Dia rapatkan badan dan mengamati paras Sally lebih intens.


Mendapat tatapan demikian, jantung Sally mulai berdebar kencang. Tenggorokannya seperti tercekik hingga membuatnya sulit bicara. Kasur di bawah tubuh turut mencengkeram badan, menjadikannya kesulitan pergi.


“Ka–Kak.”

__ADS_1


Kecupan mendarat di dahi Sally. Gadis itu tidak bisa melanjutkan bicara. Dia justru memejam saat gerakan Zean turun ke hidung hingga merasakan embusan napas dari pria itu.


Terjadi jeda sebentar setelah memberi kecupan singkat di dahi dan hidung Sally. Zean mengangkat kepala dan memperhatikan istrinya untuk kesekian. Dia berikan senyum manis saat Sally membuka mata.


Layaknya sihir mengandung mantra, sikap hangat Zean mampu menghipnotis Sally. Gadis itu refleks kembali memejam saat Zean mendekatkan wajah dan memangkas jarak. Bibir keduanya bertemu. Sally yang tidak sadar hanya menurut setiap kali Zean memberi sesapan.


Beberapa menit berlalu masih dengan posisi yang sama, Zean menarik kepala. Dia pandangi wajah Sally yang memerah. “Kau lupa bernapas?”


Sally membuang muka. Dia rasa sudah tidak pantas lagi wajahnya ditunjukkan di hadapan Zean. Harga dirinya luruh begitu saja.


“Tidak masalah. Lama-lama kau akan lihai,” kata Zean sembari mengusap bibir istrinya. Dia pandangi wajah dan semua  keindahan di paras gadis belia itu.


Ketukan pintu mengagetkan Zean dan Sally. Pria itu terdiam sekejap hanya untuk memastikan telinga tidak salah mendengar. Namun, ternyata memang ada orang di luar.


“Kak, turun.”


“Turun, Kak.” Dua tangan Sally berusaha mendorong badan Zean. Dia lantas bangun untuk membuka pintu. Namun, sebelum beranjak, Sally menyempatkan diri merapikan rambutnya yang berantakan seperti usai diamuk badai.


Kaki jenjang gadis itu memijak lantai. Sally rasakan sensasi dingin lantaran tidak memakai alas kaki. Dia buka pintu perlahan, lalu didapatinya Bi Mur dengan wajah ragu-ragu.


“Nona, Nyonya dan Tuan sudah menunggu di bawah untuk makan malam. Maaf, Bibi mengganggu.”


Senyum tersulam di bibir Sally. Dia mengangguk. “Enggak pa-pa, Bi. Aku akan turun sebentar lagi.”


“Baik.”

__ADS_1


Bi Mur kembali  turun setelah menyampaikan perintah majikan, sementara Sally kembali mendekati ranjang di mana Zean sudah sibuk dengan ponsel. Dia mendekat dan berhenti di samping tempat tidur dalam kondisi berdiri. “Kak, makan malam dulu.”


Tidak ada jawaban. Pria 26 tahun itu begitu serius sampai tidak mendengar.


“Ditunggu Mami dan Papi, Kak. Ayo, turun!”


Zean bergerak. Tanpa menjawab, dia tinggalkan pembaringan dan segera menuju ruang makan. Sampai di sana, ternyata semua orang telah berkumpul.


“Ze, kamu sudah pulang?” Suara Pak Tomi menyambut kedatangan menantunya yang hendak duduk.


“Sudah, Pi. Sejam lalu sepertinya.”


Pemimpin keluarga Birawan itu mengangguk. “Tadi Sally menanyakanmu.”


Zean kembali menoleh pada ayah mertua, lalu pindah pada istrinya yang ada di sebelah. “Aku sudah menjelaskan pada Sally kenapa pulang telat, Pi.”


Jawaban Zean membuat Pak Tomi dan Bu Anna lega. Tidak ada pertanyaan lagi setelahnya. Mereka mulai makan dengan tenang.


Usai makan malam, Sally kembali ke kamar. Dia masih ada tugas yang belum diselesaikan. Sebelum mata mengantuk dan ingin segera tidur, semua itu harus beres agar tidak menimbulkan kekacauan esok hari.


“Apa kau memang mengkhawatirkanku tadi?”


Suara Zean mengalihkan fokus Sally. Gadis yang sudah duduk tenang di kursi meja belajar tu menghentikan tangan sejenak. Dia tekan pulpen ke kertas dengan sedikit kuat. Tanpa menoleh, Sally menjawab sinis, “Aku hanya bertanya pada Papi, mana mungkin khawatir?”


“Benarkah?” Zean menyunggingkan senyum miring. “Katakan saja kalau kau mulai khawatir dan peduli padaku. Mungkin saja kepedulianmu sebentar lagi berubah menjadi cinta.” Zean mendekat, lalu membungkuk dan mendekatkan bibir ke telinga sang istri. “Bukankah begitu, Gadis Kecil?”

__ADS_1


.


.


__ADS_2