
Kisah anak kedua Zean dan Sally.
Yuk mampir, Kak.
Aku kasih cuplikan bab 1
***
“Bukankah Dito punya anak seumuran Hira, Ze?”
Zean yang sejak tadi emosi mulai mengendurkan urat kala mendengar sepupunya mulai memberi saran. Seharian pria itu mondar mandir di rumah hanya untuk mencari jalan keluar. Namun, sepertinya dia sedang buntu hingga harus mencari sepupunya. “Benar, anak tertuanya dua tahun lebih tua dari Hira.” Dia menjawab dengan lesu.
“Bicara pada Dito untuk menolongmu dalam masalah ini. Ambil putranya agar mau jadi menantumu.”
“Apa? Om Elo jangan sembarangan bicara!” Sahutan dari satu perempuan langsung menyela obrolan dua pria dewasa di ruang keluarga tersebut.
“Hira! Siapa menyuruhmu bersikap tidak sopan? Duduk!” Emosi Zean tak jadi padam lantaran tingkah anak bungsunya kembali memantik api. Pria bermata hitam bening itu menatap putrinya dengan wajah sangar.
“Ra, duduk, Nak. Tunggu Papa dan Om Elo selesai bicara.” Sally menarik lengan Hira agar kembali duduk. Ibu dua anak itu sebenarnya ikut syok, tetapi tetap berusaha tenang daripada memperkeruh keadaan.
“Ma, tapi ini enggak lucu. Aku cintanya dengan Dipta, bukan anak Om Dito.”
“Dek.” Aksara ikut menenangkan. Sebagai anak tertua, dia turut prihatin atas apa yang menimpa hubungan Hira dan calon adik iparnya yang entah ada di mana sekarang.
__ADS_1
Waktu tinggal menghitung hari menuju resepsi, tetapi mendadak keluarga Pratama mendengar kabar pembatalan pernikahan sepihak tanpa alasan jelas. Zean sebagai kepala keluarga murka tanpa mau berusaha mencari jawaban yang sesungguhnya. Pikiran pria itu langsung kalut dan bingung menghadapi semua hal yang sudah tersusun. Apalagi, menghadapi Pak Bobi nanti.
“Abang juga mau kayak Om Elo? Menjodohkan aku dengan anak sopir Papa? Iya, Bang?” Suara perempuan 22 tahun itu bergetar. Hira masih merasa sakit atas kepergian tunangannya, tetapi justru keluarga memojokkan untuk tetap menikah dengan pria yang tak pernah kenal dekat sebelumnya.
“Ra, Abang enggak mau ngomong apa pun, tapi jangan menyela Papa bicara.” Aksa mengakhiri kalimat dengan merengkuh tubuh Hira. Dia berusaha memahami apa yang sang adik rasakan. Namun, sekeras apa pun Aksara, tidak akan pernah menang melawan sang ayah.
Pemandangan dua saudara itu membuat Sally terenyuh. Dia mendekat dan mengusap lengan putrinya. Sementara itu, Zean masih sibuk menata pikiran.
“Jadi bagaimana, Ze?”
“El.” Punggung Zean menegak. Dia yang sejak tadi bersandar sambil memijat dua sudut matanya kini menatap pada kakak sepupu dengan wajah kuyu. “Kau lihat sendiri Hira. Ini cukup membuatku bingung.”
Elo ikut membuang napas. Dia rela datang buru-buru ketika Aksara menelepon setengah jam lalu hanya demi mengetahui kegalauan hati Zean. Sebagai orang terdekat selama puluhan tahun, Elo tidak akan tinggal diam jika terjadi apa-apa pada sepupunya. Hubungan mereka sudah layaknya tulang dan daging. Saling menyatu.
Kesekian kalinya Zean membuang napas dari bibir. Dia sampai mengusap wajah karena frustrasi. “Sa, kemari.”
Sally yang sejak tadi mendengarkan sambil menenangkan Hira, berdiri meninggalkan sofa. Dia mendekat pada sang suami. Tatapannya menurun kala tangan Zean menyentuh telapak tangannya. Pria itu berkata, “Kau setuju, Sa?”
Bibir Sally terlipat. Dia memutar setengah kepala melihat putrinya yang ada di pelukan anak tertua, lalu menarik napas sebelum diembuskan pelan. “Kak, apa ini enggak berlebihan?”
Zean menggeleng. “Demi nama baik keluarga Pratama, Sa. Kau tahu kalau Papa memarahiku.”
Sally makin bimbang. Ingatannya berputar kembali mengulang memori saat-saat ayah mertua menghajar sang suami tanpa ampun di masa lalu. Dia tahu jika keluarga Pratama sangat kuat memegang aturan. Ibu dua anak itu menatap penuh wajah suaminya. “Kalau Kak Ze merasa ini yang terbaik, lakukan saja.”
__ADS_1
“Ma ….” Hira menjauh dari dekapan Aksara. Dia yang mendengar keputusan Sally makin terpuruk dan hilang harapan begitu saja. Perempuan itu tahu jika sang mama bagian terpenting dalam hal Zean mengambil keputusan. Namun, jika saat ini Sally mendukung, sudah tidak ada lagi hal yang bisa diharapkan.
“Ra, kali ini Papa minta kau menurut.” Zean yang menjawab putrinya. Dia hafal jika Sally tidak akan tega melihat rengekan anak-anak sekalipun Aksara dan Hira bukan anak kecil lagi.
“Aku enggak mau, Pa. Enggak!”
“Papa tidak terima penolakan sekarang. Selama ini, keinginanmu selalu terwujud dan kau bebas dari tekanan tidak seperti abangmu. Kali ini, Papa harus melakukannya demi nama baik keluarga!”
Atap rumah seolah runtuh dan menimbun tubuh Hira seiring remuknya hati. Dia yang masih syok atas kepergian tunangannya, sekarang harus menerima keputusan dari sang ayah tanpa bisa menolak sedikit pun. Tubuhnya ambruk ke sofa bersamaan mata yang terpejam perlahan.
“Dek, bangun!” Tepukan pelan mendarat di pipi Hira, tetapi Aksa tidak melihat respons. “Ma, Hira pingsan.” Dia segera berdiri dan menggendong Hira menuju kamar terdekat.
Sally yang sejak tadi ada di dekat suaminya buru-buru mengikuti, sementara Zean kembali menabrakkan punggung di sandaran sofa.
“Apa keluargaku harus terkena masalah lagi, El? Tidak cukupkan saat Aksara kecil?”
Lampu gantung di ruang keluarga menjadi titik Zean memandang. Di usia yang tidak lagi muda, pria itu berharap bisa menikmati hidup tenang dengan Sally dan dua anaknya. Namun, namanya hidup, tidak ada yang mulus tanpa cobaan.
“Aku bersamamu, Ze. Jangan risaukan ini. Kalau kau setuju, bicara pada Dito dulu.”
Bersambung ....
Baca lanjutannya klik profilku, cari judul "Pernikahan Nona Muda"
__ADS_1
Makasih ❤️